Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 97 - Cerita Mereka



"Jadi, begitulah cerita tentangku Paman Guru Bing, Senior Tian." Yao Han menutup kalimatnya dengan tersenyum tipis.


Sebelumnya Bing Lizi meminta Yao Han bercerita terlebih dahulu. Yao Han bercerita cukup lama secara garis besar tetapi cukup lengkap. Sengaja dia lewatkan hal-hal kecil yang tidak penting. Tidak ada yang coba dia tutupi dari Bing Lizi dan Tian Jian karena mengetahui keduanya adalah orang baik dan bisa dipercaya.


Seringkali raut wajah terkejut ditunjukkan Bing Lizi dan Tian Jian, sampai-sampai hampir kesulitan menahan diri untuk tidak memotong cerita Yao Han. Namun setelah Yao Han menyelesaikan ceritanya, mereka berdua diam sambil menatap Yao Han dengan lekat.


Meirong dan Yutian, serta Bolang dalam wujud Serigala Malam hanya tersenyum dan tertawa dalam hati melihat dua orang itu terdiam terpana karena terlalu terkejut.


Andai bukan karena ketiganya sudah mengenal Yao Han terlebih dahulu, pasti mereka akan menunjukkan reaksi yang sama dan menganggap cerita Yao Han hanya khayalan semata.


"Xiao Han, aku pinjam tanganmu."


Yao Han mengulurkan tangan kanannya untuk diperiksa Bing Lizi dan tidak lama kemudian pria tua itu menghela napas panjang.


"Kau benar-benar memiliki lima akar roh murni. Ini... aku hanya bisa mengatakan bahwa kau adalah monster, Xiao Han."


Yao Han menggaruk pipi sambil tersenyum canggung, "Paman Guru Bing, kurasa cukup Guru Feng yang menyebutku monster, jangan anda juga."


"Kurasa tidak ada yang salah jika Saudara Feng menyebutmu demikian. Kalau kau monster kecil, maka Saudara Feng adalah monster besar. Kupikir sudah mengerikan ada kultivator dengan bakat luar biasa seperti Saudara Feng, ternyata dia memiliki murid dengan bakat kultivasi yang jauh lebih mengerikan darinya."


Jawaban Bing Lizi membuat Yao Han dan lainnya penasaran karena mengandung sesuatu yang tersembunyi, sehingga Yao Han menanyakannya.


"Hm? Padahal kau murid Saudara Feng, tetapi sepertinya kau tidak mengetahui beberapa hal lebih jauh tentangnya, ya."


"Aku tidak berani bertanya jika menyangkut hal pribadi, Paman Guru Bing, kecuali Guru Feng yang mengatakannya sendiri."


"Ya, aku cukup setuju denganmu. Dia itu bukan tipe orang yang mudah bercerita jika tidak ditanya. Hanya saja kebanyakan orang salah paham menganggap dirinya sulit diajak bicara. Namun sifatnya memang cukup sulit ditebak." Bing Lizi mengelus dagunya, "Gurumu itu... dia memiliki tiga akar roh murni."


"Tiga?!" Mata Yao Han sedikit melebar, tetapi dia tidak berseru kaget seperti Meirong, Yutian, dan Tian Jian.


"Ya, masing-masing akar roh yang dia miliki berunsur api, kayu, dan angin."


"Banyak yang menduga Senior Feng adalah jagoan kultivator terhebat saat ini, jadi itu dikarenakan bakat bawaannya. Tidak mengherankan beliau bisa menghentikan perang besar kultivator dua puluh tahun lalu hanya seorang diri." Meirong menanggapi.


"Perang? Tunggu dulu, ceritakan tentang ini." Bing Lizi dan Tian Jian tidak terlalu terkejut dengan perang karena hal tersebut bukanlah hal baru dalam dunia kultivator, tetapi karena Meirong menyinggung tentang Feng Xian yang berkaitan dengan perang, maka keduanya menjadi sangat penasaran.


Meirong kemudian yang bercerita selanjutnya. Diawali dengan cerita tentangnya dan Yutian, pertarungan mereka, perubahan wujud mereka, juga yang menyebabkan secara tidak langsung perang besar kultivator dua puluh tahun lalu, keterlibatan Feng Xian dalam perang, serta kehidupan baru mereka di Pulau Bulan Bintang sampai akhirnya menjadi menjadikan Yao Han sebagai murid bersama.


Reaksi Bing Lizi dan Tian Jian bisa dikatakan hampir sama, tetapi ada beberapa hal yang membuat mereka berpikiran berbeda.


Salah satu yang mengejutkan Bing Lizi adalah Feng Xian yang turun tangan langsung menghentikan perang dua puluh tahun lalu. Sementara Tian Jian memikirkan tentang Sekte Pedang Abadi yang menjadi penyebab utama perseteruan Meirong dan Yutian, serta perang kultivator dua puluh tahun lalu.


"Mungkin kedengarannya aneh, tetapi aku sangat mendukung tindakan Saudara She. Semisal kau tidak membunuhnya atau aku mengetahuinya lebih awal, maka aku sendiri yang akan membunuh sampah itu. Saudari Hong, apa yang membuatmu mau bertunangan dengan orang seperti itu?"


Dalam cerita Meirong juga dijelaskan penyebab dirinya dan Yutian berperang, yaitu terbunuhnya tunangan Meirong ditangan Yutian. Pria serba hijau itu membunuh bukan tanpa alasan. Pria yang menjadi tunangan Meirong nyatanya bukan orang yang baik, meski menjadi bagian dari aliran putih.


Sayangnya Yutian terlambat satu langkah saat mengetahui hal ini, bahkan korban penculikan dan pelecehan itu mati dalam kondisi mengenaskan. Tanpa berpikir panjang, Yutian melampiaskan amukannya pada tunangan Meirong dan menghabisinya dengan cara yang paling menyakitkan.


Yutian mengirimkan kepala tunangan Meirong ke Sekte Gunung Langit, karena hanya itu satu-satunya anggota tubuh yang tersisa. Selain itu, secara tidak langsung mengumumkan pada dunia khususnya Meirong bahwa dialah pembunuh tunangan sang Dewi Pedang Api.


Yutian juga berniat membuka mata wanita cantik itu seperti apa sifat tunangannya yang sebenarnya. Namun karena diselimuti amarah yang tidak tertahankan, Meirong menantang Yutian dalam bertarung dan keduanya terlibat petarungan selama tujuh hari tujuh malam.


Tian Jian sebagai kultivator yang pernah menjadi bagian dari Sekte Pedang Abadi merasa malu ada anggota sekte aliran putih yang seperti itu.


Meirong tersenyum tipis, "Senior, biarlah itu menjadi masa lalu diantara kami. Lagipula aku sudah mendengar penjelasan si ular jelek ini. Setidaknya kami sudah berdamai dan sekarang memilih berada di aliran netral. Bisa dibilang kami mengikuti jejakmu dan Senior Empat Penjuru."


"Memang mengejutkan cerita tentang kalian, tetapi aku senang kalian bisa berdamai. Aku penasaran dengan reaksi dunia jika mengetahui hal ini." Tanggapan Tian Jian kurang lebih sama dengan yang ingin disampaikan Bing Lizi, "Senior Bing, bukankah Senior Feng yang menghentikan perang saat itu lebih mengejutkan?"


"Begitulah, tetapi itu lebih baik dibandingkan Saudara Chen dan Saudara Xi yang turun tangan. Tidak bisa kubayangkan berapa banyak kekuatan utama sekte aliran putih dan hitam yang akan menghilang jika itu terjadi. Menjadikan Negeri Hutan Hijau sebagai medan perang? Mereka sungguh berani sekali. Sudah cukup bagus tidak ada sekte aliran netral yang ikut dalam perang itu."


"Paman Guru Bing, apa anda mengetahui keberadaan lelu- maksudku Senior Chen dan Senior Xi?"


"Saudara Xi menjalani latihan tertutup di suatu tempat, tidak ada yang mengetahuinya tetapi aku memiliki gambaran tentang tempat itu. Sedangkan Saudara Chen..."


***


Diantara jagoan Empat Penjuru, Chen Long adalah yang paling suka berkelana. Seringkali dia pergi ke tempat misterius atau belum terjamah manusia, menyebabkan dia menemukan banyak hal, baik itu informasi atau benda berharga.


Suatu hari Chen Long berencana berkelana lagi untuk yang kesekian kalinya dan mengajak Bing Lizi. Karena sedang senggang, sang Es Utara itu menerima ajakan si Naga Selatan. Mereka berkelana dengan menyamar karena tidak ingin dikenali oleh orang lain.


Dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah pintu masuk Dimensi Saku. Bukan Dimensi Saku biasa karena dihuni oleh kawanan salah satu hewan roh tingkat tinggi, Rubah Api Giok Berekor Sembilan. Keberadaan keduanya tidak disukai mereka, sehingga pecahlah pertempuran.


Yang mengesankan Chen Long dan Bing Lizi adalah kekuatan paling rendah kawanan hewan roh itu ada di Ranah Jiwa tahap awal, sehingga pertarungan tidak bisa diselesaikan dengan mudah dan berlangsung selama berhari-hari.


Sampai pada akhirnya, Chen Long dan Bing Lizi berhadapan dengan pemimpin mereka, seekor Ratu Rubah, yang kekuatannya ternyata menyamai Feng Xian.


"Pertarungan itu membuat aku dan Saudara Chen terluka parah, begitu juga dengan Ratu Rubah itu. Aku berpikir sudah pasti mati sebelum menutup mata. Namun nyatanya aku malah terbangun tidak jauh dari gua ini dalam wujud Kirin seperti yang kalian lihat sebelumnya. Beruntung bagiku, Tian Jian yang menemukanku dan merawatku selama beberapa waktu."


"Senior, mungkin anda diberi kesempatan hidup kedua, tetapi dengan wujud lain seekor Kirin. Mirip seperti kami." Yutian berkomentar.


"Ya aku juga berpikir demikian, kurasa tidak buruk juga menjadi hewan roh. Apalagi saat terbangun, aku terkejut mengetahui praktikku di Ranah Inti Emas tahap awal."


Bing Lizi tertawa, membuat Meirong dan Yutian tersenyum canggung karena dulu mereka harus memulai dari Ranah Dasar. Jika bukan karena berada di Pulau Bulan Bintang dan bantuan Feng Xian, akan butuh waktu lama memiliki tingkat praktik mereka saat ini.


"Paman Guru Bing, Guru Feng pernah berkata beliau sangat yakin kalian bertiga masih hidup. Jadi setelah mendengar cerita Anda, ada kemungkinan Senior Chen masih hidup dan memiliki nasib seperti Paman Guru." Yao Han berpendapat.


"Aku harap begitu dan jika memang benar, maka mungkin wujudnya saat ini adalah seekor naga seperti julukannya. Hahaha!"


---