
Berlatih menggunakan Kitab Bintang Surgawi pemberian Bai Tian membuat Yao Han menjadi sensitif terhadap Qi, terutama Qi yang bersifat negatif.
Banyak hal yang membuat kesensitifan Yao Han terhadap Qi semakin tinggi. Diantaranya seperti latihan hidup mati bersama Feng Xian, perburuan siluman di Pulau Bulan Bintang, dan sambaran petir saat Yao Han menjalani latihan penempaan tubuh.
Shenghao dan Honghao tidak memiliki kemampuan sebaik Yao Han, sehingga tidak merasakan Qi jahat yang dimaksud oleh pemuda bermata abu-abu itu, tetapi mereka tidak menganggap Yao Han sedang berkata omong kosong.
"Anggaplah apa yang kau rasakan benar, Saudara Yao. Sepertinya ada kultivator aliran hitam atau yang mempelajari ilmu aliran hitam di kota ini." Shenghao berpendapat.
Arti penyampaian Shenghao adalah hanya mereka yang berasal dari aliran hitam atau mempelajari ilmu aliran hitam yang bisa memancarkan Qi jahat.
Yao Han mengangguk pelan, dia pernah merasakan Qi yang sedikit mirip saat berada di Kota Cahaya Bulan, tepatnya di Toko Harta Giok. Qi ini terpancar oleh kultivator aliran hitam yang sedang berbelanja disana. Perbedaannya adalah Qi yang dirasakan Yao Han secara samar ini lebih dingin dan jahat.
Saat Yao Han mengatakan hal ini, Shenghao dan Honghao kompak menjawab, "Itu Qi kematian."
Raut wajah Honghao menjadi lebih serius, "Berarti kemungkinan besar ada kultivator pengendali hantu atau mayat hidup di kota ini. Senior..." Honghao menatap Shenghao.
Shenghao langsung mengerti tatapan serius Honghao. Kultivator jenis ini merupakan musuh alami semua anggota Sekte Teratai Putih.
Ada sebuah sekte yang mendalami teknik pengendalian hantu dan mayat hidup, bernama Sekte Langit Kelabu. Buruknya bagi pihak aliran putih dan sebagian besar orang, Sekte Langit Kelabu merupakan sekte besar bintang sepuluh aliran hitam.
Patriark dan Tetua Agung Sekte Langit Kelabu diberi julukan sebagai Gerbang Hantu dan Gerbang Mayat. Kekuatan keduanya berada di Ranah Jiwa Agung.
Menurut cerita Yutian, Gerbang Hantu adalah pengguna sihir jiwa terbaik, diikuti oleh Gerbang Mayat. Mereka berdua adalah dua kultivator sepuh yang cukup merepotkan untuk dilawan.
Satu keuntungan bagi pihak yang berlawanan dengan Sekte Langit Kelabu adalah baik Patriark, Tetua Agung, dan anggota lain hanya bisa menguasai sihir jiwa untuk mengendalikan hantu dan mayat. Jika mereka bisa menguasai sihir jiwa yang lebih tinggi lagi, maka Yutian pada masa jayanya sebagai Gerbang Racun tidak akan menjadi Jagoan Gerbang aliran hitam terkuat.
Shenghao menoleh pada Yao Han, "Saudara Yao, kuharap kau tidak keberatan jika kita tinggal lebih lama disini untuk mengatasi masalah di kota ini."
Yao Han tersenyum tipis, "Aku mengerti. Jangan sungkan, aku juga akan ikut membantu."
Shenghao tadinya ingin mengatakan Yao Han tidak perlu ikut turun tangan, cukup dirinya dan Honghao. Namun khawatir kalimat itu akan menyinggung Yao Han, maka dia urungkan.
"Lagipula kita perlu melihat situasinya lebih jauh. Berpikir yang baik saja, semoga perasaanku salah dan tidak ada masalah di kota ini."
Lain di mulut, lain di hati. Meksipun berkata demikian, Yao Han tidak sepenuhnya yakin. Diam-diam dia menggunakan Mata Tembus Pandang untuk melihat ke sekitar.
Jalanan sepi bukan karena tidak ada orang. Mereka ada tetapi mengurung diri di dalam rumah, padahal hari masih sore. Hal ini menjadikan Yao Han curiga memang ada sesuatu yang lebih ganjil dari sebelumnya.
Rombongan Yao Han memasuki kota lebih dalam yang juga sangat sepi seperti tidak ada kehidupan, sampai kemudian mereka menemukan seorang pria berbadan kurus sedang berjalan sambil memanggul kumpulan ranting kayu kering.
Mereka mendekati pria itu, kemudian menyapanya. Pria itu sedikit kaget dengan kehadiran ketiganya, terutama melihat penampilan Shenghao dan Honghao dengan kepala nyaris botak.
"Aku pernah mendengarnya, apa mungkin kalian berdua dari Sekte Teratai Putih?" Saat Shenghao membenarkan, reaksi pria tersebut cukup unik, "Saudara Muda, kalian pasti penyelamat yang diutus langit ke kota kami! Kalian adalah orang baik, bukan? Mohon bantuannya..."
"Paman, tenanglah. Mohon bicara pelan-pelan agar kami mengerti."
Pria kurus yang belum diketahui namanya itu melirik Yao Han sejenak, lalu berusaha mengatur napasnya yang sempat memburu.
"Sebaiknya kita bicara dirumahku."
Ketiga pemuda itu saling berpandangan. Merasa pria itu tidak punya niat buruk terselubung, mereka mengikuti pria itu ke rumahnya.
"Maaf aku hanya bisa menjamu kalian dengan ini."
Pria itu meringis malu menyajikan beberapa kue kering dan air putih pada tiga pemuda yang menjadi tamunya. Yao Han dan lainnya tidak keberatan sama sekali.
Setelah berbasa-basi sejenak, ketiga pemuda itu mengetahui si pria kurus bernama Kai, sehingga mereka memanggilnya sebagai Paman Kai. Darinya mereka mengetahui kota yang mereka datangi ini bernama Kota Mawar Hitam.
Paman Kai adalah kultivator dengan praktik berada di Ranah Dasar tingkat dua dan menjadi salah satu orang yang menjadi kultivator di Kota Mawar Hitam yang jumlahnya tidak seberapa.
Shenghao menanyakan alasan dibalik reaksi Paman Kai saat melihat dirinya sebelumnya. Paman Kai terlihat gelisah, sedikit terbata-bata dia bercerita.
"Kota ini sedang dalam masalah, bagi kota yang didominasi manusia biasa, masalah ini sangat besar. Kota kami dilanda teror hantu."
Raut wajah Shenghao dan Honghao menjadi serius dan sedikit tegang, Yao Han sedikit lebih tenang tetapi dia menghela napas panjang.
Teror hantu dimulai sejak lima tahun lalu. Awalnya cukup banyak orang melihat penampakan hantu dengan wujud berbeda-beda. Kemudian ada beberapa gadis yang menghilang secara misterius. Puncak masalah adalah saat seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang sedang hamil pada suatu sore ikut menghilang.
Paman Kai meneteskan air mata saat menyinggung soal wanita hamil yang turut menjadi korban. Rupanya wanita ini adalah istri Paman Kai.
Yao Han kemudian memahami alasan tubuh Paman Kai begitu kurus. Hidupnya mengalami tekanan batin yang berat karena kehilangan istri dan calon anaknya yang akan lahir dalam hitungan beberapa bulan lagi. Padahal Paman Kai dan istri sudah lama menunggu agar dikaruniai buah hati.
"Aku sudah mencoba menerima nasibku kehilangan mereka, tetapi teror masih belum menghilang. Setidaknya aku harap masalah ini segera selesai agar tidak ada korban selanjutnya."
Air mata Paman Kai semakin banyak yang keluar. Wajahnya terlihat begitu lesu dan sorot matanya nyaris kosong. Sudah sangat bagus dia tidak berakhir mati bunuh diri karena mentalnya tidak kuat.
Yao Han menyentuh pundak Paman Kai lalu mengalirkan Qi untuk menenangkannya.
"Paman, aku tidak ingin berjanji, tetapi kami akan berusaha membantu mengatasi masalah kota." Yao Han melirik pada Shenghao dan Honghao, mereka mengangguk mantap menandakan setuju dengan kata-kata Yao Han.
"Anak muda, lakukan apapun yang kau bisa. Pria tua ini akan sangat berterimakasih padamu." Paman Kai hampir saja bersujud yang segera di cegah Yao Han.
---