
Jika kekuatan Indera Surgawi bisa ditekan dan dihalangi menggunakan formasi penghalang khusus, sebaliknya tidak dengan Mata Surgawi.
Sesuatu yang paling cocok untuk melawan kekuatan salah satu Mata Surgawi adalah jenis Mata Surgawi lainnya. Contohnya adalah kekuatan Mata Giok Darah Yun Lian yang bisa dilawan dengan kekuatan Mata Hati Emas Huang Mingzhu.
Yao Han yang memiliki mata khusus Mata Tembus Pandang tidak terkecuali demikian. Formasi penghalang sekuat apapun tidak akan mampu menahan kekuatan matanya saat digunakan. Inilah yang menjadi kelebihan dari mata khususnya dibandingkan Indera Surgawi meskipun Yao Han masih belum membangkitkan Indera Surgawi karena tingkat kultivasinya.
"Hanya perasaanku saja atau kondisi tempat ini mirip dengan dunia luar sana? Apakah Dimensi Saku asing memang seperti ini, Guru Hong?"
Meirong menggeleng pelan. "Tidak, Dimensi Saku yang ini berbeda dengan lainnya. Umumnya, kondisi Dimensi Saku yang baru pertama kali dikunjungi sangat menyeramkan dan menakutkan, seperti kondisi Dimensi Pagoda dulu."
Yao Han dan lainnya menyimpulkan Dimensi Bunga Anggrek itu hampir tidak ada bedanya dengan Benua Bulan Biru, tetapi memang kondisinya cukup aneh.
"Apa tempat ini tidak berpenghuni? Kenapa sepi sekali? Bahkan hanya ada tanaman biasa, bukannya tanaman sihir." Yutian menatap aneh ke sekitar.
"Tidak perlu dipikirkan. Jika menuju bagian lebih dalam, kita akan menemukan siluman atau hewan roh. Kurasa saat ini kita berada dibagian tepi Dimensi Saku ini." Bing Lizi menimpali. "Hanya saja, arah mana yang sebaiknya kita tuju?"
Tidak ada yang bisa menjawab. Sementara Yao Han duduk bersila dan memasuki mode meditasi.
Bing Lizi tersenyum tipis melihat tindakan Yao Han yang ingin memeriksa area sekitar dalam cakupan jarak yang lebih luas menggunakan ilmu Menyatu Dengan Angin.
"Xiao Han?" tegur Tian Jian yang kebingungan.
"Sebaiknya kau diam dan jangan ada dari kita yang mengganggunya. Xiao Han sedang menggunakan ilmu pelacak jarak jauh yang mirip dengan Indera Surgawi dan membutuhkan ketenangan tingkat tinggi." Bing Lizi berbisik memberitahu.
"Ada ilmu seperti itu? Menakjubkan." Tian Jian.
"Saudara Feng yang menciptakan teknik ini. Sepengetahuanku, hanya kultivator yang memiliki akar roh murni unsur angin yang bisa mempelajarinya dengan baik, tetapi Xiao Han ternyata juga bisa. Entah sejauh apa pencapaiannya."
Cukup lama Yao Han dalam posisi meditasi dan menggunakan ilmu unik warisan Feng Xian itu. Sedangkan Bing Lizi dan lainnya hanya diam menunggu sambil tetap mengawasi sekitar.
"Apa kau menemukan sesuatu, Han'er?" Meirong yang pertama kali menyadari Yao Han membuka mata segera bertanya.
"Tidak ada yang penting, Guru. Kecuali pancaran Qi aneh yang kurasakan dari arah sana. Jaraknya terlalu jauh dan aku tidak bisa menebaknya." Yao Han menjelaskan sambil menunjuk ke satu arah.
"Kira-kira berapa jauh jaraknya dari posisi kita?"
"Hm, aku tidak yakin. Mungkin sekitar tiga sampai lima kilometer."
Bing Lizi tertawa, membuat yang lain terkejut.
"Apa ada sesuatu yang lucu, Senior?"
"Tidak, aku hanya tidak menyangka Xiao Han bisa menggunakan teknik ciptaan Saudara Feng untuk melacak sampai sejauh itu."
Bing Lizi berpikir jika mengasah teknik ini lebih sering, dia yakin Yao Han bisa melacak sampai jarak sepuluh kilometer setelah mencapai tingkat kultivasi Ranah Pondasi. Pencapaiannya saat masih di Ranah Dasar sudah sangat bagus.
"Apa kita perlu memeriksa hasil temuan Xiao Han, Senior?"
"Tentu saja. Kita sudah terlanjur masuk ke tempat ini dan tidak tahu cara keluarnya. Kita harus mencari sesuatu yang menjadi kunci jalan keluar tempat ini."
Yao Han dan lainnya melesat menuju arah yang ditunjuk Yao Han sebelumnya. Yao Han terbang bersama Tian Jian menggunakan kipas Dong Feng, sedangkan yang lain terbang menggunakan kekuatan mereka sendiri. Mereka menggunakan cara ini karena jaraknya yang cukup jauh.
"Disana."
Batang pohon itu sangat besar, ukurannya setara dengan sepuluh rangkaian tangan manusia dewasa yang dibentuk melingkar. Sedangkan tingginya sekitar tiga puluh meter dan berdaun hijau lebat. Uniknya adalah pada bagian batangnya terdapat banyak ukiran berbentuk naga.
"Manusia?"
Yao Han dan lainnya yang baru saja turun untuk mengamati pohon raksasa itu dibuat terkejut dengan sebuah suara perempuan.
Ternyata, ada seorang perempuan yang terlilit akar-akar seukuran lengan manusia dewasa dibagian bawah pohon itu. Jika bukan karena dia bersuara, tidak akan ada yang menyadarinya karena aura pohon besar menutupi aura perempuan itu.
"Kenapa kalian bisa ada ditempat ini, manusia?"
Cara berbicara perempuan itu yang aneh membuat Yao Han dan lainnya tidak langsung menjawab, melainkan memperhatikan perempuan itu.
Wajahnya sangat cantik, mengimbangi kecantikan Meirong. Rambut panjangnya berwarna keemasan, senada dengan warna alisnya. Seperti Yutian, matanya berwarna hijau giok. Hidungnya mancung dan bibirnya berwarna merah merona. Kulitnya berwarna terang, dibalut dengan jubah tebal berwarna jingga dan cokelat. Dia memiliki semacam tanda lahir berbentuk api pada dahinya berwarna hijau giok.
"Tunggu sebentar..." Perempuan itu menatap tajam ke arah Bing Lizi. "Kau-! Kau adalah pria busuk itu! Aku ingat wajahmu!"
Semuanya kaget karena perempuan itu berteriak dan memaki Bing Lizi.
"Kau mengenalku, Saudari? Bagaimana mungkin? Seingatku, ini pertama kalinya kita bertemu."
"Omong kosong! Aku masih mengingat wajahmu dengan jelas! Karena ulahmu dan temanmu saat itu, aku berakhir ditempat ini! Tempat tinggalku hancur dan kaumku terbantai!"
Ucapan perempuan itu semakin tidak dimengerti Bing Lizi dan lainnya.
"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu. Bicaralah dengan jelas dan tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang, manusia busuk?! Semua tidak akan berakhir seperti ini jika bukan karena ulahmu dan temanmu itu!"
Bing Lizi menghela napas panjang, merasa perempuan itu sulit diajak bicara dengan benar.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan, Saudari? Aku bahkan tidak mengenalmu."
Perempuan itu semakin murka. "Bagaimana mungkin kau tidak mengenalku setelah semua yang kau lakukan padaku dan kaumku?! Namaku Jiu Jinyu!"
Bing Lizi terdiam setelah mendengar nama perempuan itu. Dia berpikir keras dan menggali semua ingatannya tentang perempuan bernama Jiu Jinyu.
"Jiu... Jinyu?" Bing Lizi kemudian melebarkan matanya, menunjuk perempuan bernama Jiu Jinyu itu. "Kau Ratu Rubah Jiu Jinyu yang waktu itu?! Kau rupanya masih hidup?!"
"Hah-! Kau akhirnya mengingatku, manusia busuk! Tentu saja aku masih hidup! Justru aku tidak menyangka kau yang masih hidup! Aku pikir saat itu kau sudah mati dan pindah ke alam lain!"
Yao Han dan lainnya mencoba mencerna situasi, tetapi mereka ragu untuk bertanya karena situasinya belum tenang.
"Kau sempat menyebut tentang temanku. Dia bernama Chen Long. Kalau kau masih hidup, bagaimana dengannya?"
Jiu Jinyu, Jiu berarti sembilan, Jin berarti emas, Yu berarti giok.
Akhirnya setelah sekian purnama yang entah ke berapa, Jiu Jinyu si Ratu Rubah debut. Padahal sempat disinggung sejak tahun lalu, tapi munculnya baru sekarang. Fiuh. Btw, besok akan ada tokoh baru yang juga akan debut. Kalian pasti tau dong tokoh yang dimaksud? Silahkan komen, ya.