Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 152 - Ide Perjodohan



Selama beberapa waktu, Xiao Ni berbincang dengan Yao Han dan penghuni Dimensi Pagoda lainnya. Tidak semuanya, karena sebenarnya Xiao Ni lebih banyak berbicara dengan Bing Lizi dan Yao Han.


Tidak ada perbincangan yang penting diantara mereka dan satu-satunya hidangan yang menemani adalah Arak Persik Bulan. Yutian yang paling senang karena sudah lama tidak menikmati arak manis dan berkhasiat buatan Yao Han itu akibat kalah taruhan konyol dengan Meirong.


Yao Han kemudian kembali ke ruangan yang ditempati Xu Yang dan Xu Yin. Selain Bo Lang, penghuni Dimensi Pagoda lainnya berada di ruangan sebelah bersama dengan Xiao Ni.


"Hm? Sudah selesai? Kemana Senior... tadi?" tanya Xu Yin yang tidak melihat Yao Han datang tidak bersama dengan Xiao Ni dan dia bahkan sudah melupakan nama Xiao Ni dalam waktu kurang dari dua jam.


"Maksudmu Senior Xiao Ni? Dia sedang istirahat di ruang sebelah." Yao Han menjawab seadanya tanpa menjelaskan lebih jauh. Dia mengambil tempat tidak jauh dari dua Xu bersaudara dan duduk bersila dengan menyandar ke dinding.


"Saudara Xu, apa kau merasakan perubahan dalam tubuhmu?" Meskipun sudah mengetahui jawabannya, Yao Han tetap bertanya pada Xu Yang sekedar untuk basa-basi mengusir kecanggungan dalam keheningan.


Xu Yang mengangguk pelan sambil tersenyum lebar, "Iya, tubuhku terasa lebih ringan dan nyaris sehat sepenuhnya. Dan sebenarnya aku tidak pernah merasa tubuhku sebaik ini, bahkan sebelum aku keracunan hebat."


Setelah proses penyembuhan Xu Yang oleh Yao Han, satu-satunya racun yang tersisa dalam tubuh putra sulung Patriark Lembah Hati Racun itu adalah racun yang sudah menyatu dengan jantungnya. Racun itu sudah bersarang cukup lama disana.


Meskipun bisa mengeluarkan racun itu, tetapi Yao Han tidak berani melakukannya karena bisa menyebabkan kondisi Xu Yang memburuk bahkan kehilangan nyawa. Yutian sebagai pencipta Teknik Dewa sekalipun tidak akan mengambil resiko satu ini.


Bukan masalah besar, karena racun dalam jantung itu ternyata satu-satunya racun yang seolah menjadi penopang hidup Xu Yang dan bisa menjadi nutrisi bagi tubuhnya seiring dengan kenaikan praktik.


"Baguslah, senang mendengarnya. Namun aku ingatkan lagi untuk tidak menggunakan ilmu racun tingkat tinggi atau mempelajari Kitab Racun Langit sementara waktu. Setidaknya kau bisa melakukan itu setelah mencapai Ranah Dasar tingkat dua belas atau akan lebih baik lagi setelah membentuk Pondasi Bumi."


Xu Yang hanya tertawa canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Yao Han juga menyarankan agar sebaiknya Xu Yang dan juga Xu Yin menjalani latihan tertutup untuk mencapai tingkat praktik setinggi mungkin yang bisa mereka capai di Ranah Dasar setelah mereka kembali ke Lembah Hati Racun. Lagipula dengan bantuan pil yang diberikan Yao Han, keduanya bisa menaikkan praktik hingga tiga atau empat tingkat dalam waktu satu tahun.


"Hm, Saudara Yao, boleh aku bertanya sesuatu yang sifatnya sedikit pribadi?"


"Oh, silahkan saja." Yao Han menjawab santai tapi cukup penasaran.


"Berapa usiamu?"


Yao Han menaikkan sebelah alisnya, tidak menyangka ditanyai hal remeh seperti itu. Mengelus dagu sejenak, Yao Han lalu menjawab, "Aku tidak tahu pasti kapan aku lahir, tapi dalam beberapa bulan lagi aku berumur delapan belas tahun."


Mata Xu Yang sedikit melebar, reaksi yang sama juga ditunjukkan Xu Yin, "Ternyata kau memang semuda yang terlihat. Kupikir kau lebih tua, ternyata kau lebih muda dariku. Aku juga sempat berpikir penampilanmu ini lebih muda dari usia aslimu..."


'Kudengar digenerasi saat ini, muncul kultivator muda jenius diseluruh sekte bintang sepuluh dan beberapa sekte besar lainnya, sesuatu yang pernah terjadi terakhir kali lima ratus tahun lalu. Lembah Hati Racun memiliki Yin'er, tapi aku tidak tahu banyak dengan yang lain. Namun jika dibandingkan, Saudara Yao termasuk jenius yang paling langka, terutama karena kemampuan Alkemi dan pengobatanya.'


"Melihat bakat dan kemampuan yang kau miliki, tidak salah Senior Angin Timur mengambil dirimu sebagai murid, Saudara Yao. Kudengar gurumu memiliki julukan lain sebagai Dewa Alkemi, dalam waktu seratus atau dua ratus tahun lagi, mungkin kau akan menggantikan posisi beliau."


Yao Han tertawa geli, "Aku tersanjung dengan pujianmu, Saudara Xu, tapi aku sama sekali tidak berniat menggantikan posisi guruku. Lagipula aku masih perlu banyak belajar dan mengasah kemampuanku yang masih belum seberapa ini."


Xu Yang terbatuk pelan, dia tidak tahu apakah Yao Han mencoba bersikap merendah untuk meninggi atau bukan. Jika Feng Xian ada disana, dia akan menjewer telinga Yao Han karena merasa muridnya bersikap demikian, padahal kemampuan Alkemi Yao Han melampaui kemampuannya pada usia sama. Berbeda dengan Xu Yin yang tersenyum canggung menatap Yao Han.


Xu Yin adalah generasi muda pertama yang mengetahui sebagian latar belakang Yao Han sebenarnya. Dia punya firasat, dengan menjadi murid tiga kultivator ternama sekaligus, Yao Han akan menjadi kultivator hebat yang melampaui kehebatan ketiga gurunya dalam waktu kurang dari seratus tahun, bahkan bukan tidak mungkin kurang dari lima puluh tahun.


"Hei, kau tidak mau menunjukkan sebenarnya pada kami? Maksudku tingkat praktikmu itu..."


Xu Yang dan Yao Han memandang ke arah Xu Yin yang bertanya. Yao Han memahami arah pertanyaan itu, tetapi Xu Yang tidak. Xu Yang sedikit terganggu dengan panggilan adiknya terhadap Yao Han.


"Yin'er, kenapa kau tidak sopan begitu padanya? Perbaiki cara panggilanmu, setidaknya kau memanggilnya Saudara Yao."


Xu Yin sedikit cemberut ditegur Xu Yang, tetapi bukannya menanggapi Xu Yang, gadis itu memandang Yao Han dengan wajah sedikit ditekuk, "Apa aku harus memanggilmu Yao-gege seperti sebelumnya?"


Xu Yang tersedak napasnya sendiri, lalu memandangi bergantian adiknya dan Yao Han beberapa kali sambil melotot.


"Yao-gege?! Hubungan kalian ternyata sudah sedekat itu?!" jerit Xu Yang.


Xu Yin berdecak kesal dengan wajah sedikit memerah, "Omong kosong apa yang kau katakan, Yang-gege? Hubungan dekat apanya? Dia selalu protes kupanggil 'hei', jadi beberapa jam lalu aku menggodanya dengan memanggilnya 'Yao-gege'. Dan perlu kau ketahui kami ini tidak dekat."


"Mana ada orang yang mau dipanggil 'hei' padahal kau sudah tahu namanya," balas Xu Yang, "Eh tapi panggilan 'Yao-gege' juga tidak buruk, malah sangat bagus." Xu Yang tersenyum lebar karena tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam benaknya, "Ngomong-ngomong Saudara Yao, apa kau sudah memiliki pasangan? Jika belum, adikku ini sangat cantik dan berbakat, aku rasa dia sangat cocok denganmu."


Sekarang giliran Xu Yin dan Yao Han yang tersedak bersamaan. Xu Yin berdiri kaget sambil menunjuk kakaknya.


"Yang-gege! Kau sudah melewati batas!"


Sementara itu di ruangan sebelah, Bing Lizi tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan tiga anak muda itu.