
Dahi Yao Han mengerut mendengar nama asing yang disebutkan Shenghao.
"Raja Jimat? Baru ini aku mendengarnya."
Sejauh ini, sosok Raja Jimat belum pernah hadir dalam cerita Meirong atau Yutian.
Shenghao mengatakan ketidaktahuan Yao Han terbilang wajar. Diantara jagoan kultivator yang mendapat julukan sebagai Raja, Raja Jimat adalah salah satunya dan tidak berasal dari sekte.
Raja Jimat merupakan kultivator bebas, tidak ada yang mengetahui nama marga atau nama lengkapnya. Dikatakan kemampuannya dalam Dao Jimat adalah yang terbaik di seluruh Benua Bulan Biru. Untuk praktiknya sendiri, banyak yang menduga Raja Jimat sudah mencapai puncak Ranah Jiwa.
"Paman Guru Wu San pernah mengatakan beliau selalu berharap bertemu dengan Senior Raja Jimat saat bepergian keluar sekte untuk bisa bertukar pikiran tentang Dao Jimat. Hanya saja, Senior Raja Jimat sangat sulit ditemui. Lebih mudah menemui Senior Feng, karena Senior Raja Jimat dikenal suka berpindah-pindah dan tidak pernah mendiami suatu tempat dalam waktu yang lama."
Yao Han mengangguk mengerti sambil mengelus dagunya. Dia menjadi teringat dengan Tian Jian atau dikenal sebagai Raja Pedang Langit yang pernah diceritakan Meirong.
"Mungkin sedikit petunjuk bagi yang ingin mencari Senior Raja Jimat adalah ada rumor yang mengatakan beliau hanya terlihat di wilayah Negeri Hutan Hijau."
Mendengar itu, Yao Han tersenyum penuh makna, karena informasi itu menandakan peluang bertemu dengan sosok Raja Jimat lebih besar jika dibandingkan harus mencari ke seluruh Benua Bulan Biru.
***
Seperti yang Yao Han janjikan pada Honghao, dia membagikan petunjuk sihir unsur kayu milik Chen Long. Yao Han tidak mengetahui seberapa jauh keberhasilan Honghao dalam mempelajari sihir kayu ini, karena dia dia tidak memiliki akar roh murni unsur kayu.
Karena Honghao memiliki akar roh berunsur api dan kayu, Yao Han memberikan sepuluh jenis sihir kayu sederhana. Usaha keras Honghao akan menemui hambatan karena terhalang dengan bakat bawaannya yang tidak terlalu cocok dalam penguasaan sihir unsur kayu.
Melihat Honghao yang begitu senang dan antusias, Yao Han tidak berusaha mengingatkan kesulitan yang akan dialami Honghao nantinya.
Saat mereka sesekali berhenti sejenak, Honghao akan tekun mendalami petunjuk yang diberikan Yao Han, sementara Shenghao lebih sering bermeditasi.
"Saudara Yao, sampai kapan kau ingin terus membuat Jimat Bola Api? Apa kau tidak ingin mencoba membuat jimat jenis lain?"
Shenghao memperhatikan tumpukan kertas didekat Yao Han. Dia menghitung ada tiga puluh tiga lembar kertas jimat yang berhasil dibuat pemuda itu dan merasa Yao Han seolah tidak pernah cukup.
"Aku ingin setidaknya bisa menghasilkan sampai lima puluh jimat lagi dan kalau bisa seratus jimat. Baru setelahnya aku mencoba jimat lain."
Shenghao tersenyum tipis. Melihat pancaran mata Yao Han, dibandingkan rajin belajar, lebih tepat jika Shenghao menyebut Yao Han sebagai orang yang gila belajar.
Dalam waktu satu hari, mereka menempuh perjalanan cukup jauh, meski sebelumnya sering berhenti. Saat menjelang malam, mereka berhenti untuk beristirahat.
Tidak ada rumah penduduk yang terlihat karena posisi mereka berada didekat pepohonan. Yao Han menggunakan kekuatan mata khususnya untuk memeriksa daerah sekitar dengan radius seratus meter.
Setelah memastikan cukup aman, Yao Han mulai membentuk segel tangan dan menciptakan kubah sederhana. Ditemani sihir Lentera Api, ketiganya melakukan kegiatan masing-masing.
Yao Han masih dengan kegiatan mengemil sambil menatap jimat buatannya dengan perasaan cukup puas. Shenghao dan Honghao berusaha terbiasa dengan tingkah laku unik Yao Han satu ini.
Beberapa jam setelah matahari terbenam...
"Hm?"
Yao Han berhenti mengemil dan menatap satu arah. Pendengarannya menangkap suara aneh. Melalui mata khususnya, dia melihat seekor makhluk aneh mendekati perkemahan sederhana mereka.
Suara Yao Han memang pelan, tetapi Shenghao dan Honghao masih bisa mendengarnya.
"Ada apa, Saudara Yao? Kau melihat sesuatu?"
Yao Han menunjuk ke satu arah, "Ada makhluk aneh mendekat, sepertinya siluman."
Raut wajah Shenghao dan Honghao menjadi serius sebelum memasang sikap waspada. Pengalaman sebelumnya membuat mereka tidak bisa main-main berhadapan dengan siluman selama di wilayah Negeri Hutan Hijau.
Yao Han sedikit mengibaskan tangannya, membuat bola-bola api kecil melayang ke arah yang dia tunjuk sebelumnya. Shenghao dan Honghao bisa melihat lebih jelas setelah cahaya dari bola api kecil itu menerangi makhluk itu.
Kaki dan ekornya seperti kaki rubah, badan dan kedua tangannya seperti beruang, berkepala macan.
"Aih, sudah kuduga perjalanan kita tidak akan selalu aman." Honghao menggerutu pelan. Dirinya bangkit dari posisi bersila, begitu pun Shenghao. Keduanya memasang posisi siap bertarung.
Semakin makhluk itu mendekat, terdengar suara geraman.
"Oh, rupanya dia membawa teman." Yao Han masih tampak santai saat melihat tiga makhluk aneh lainnya mendekat, "Siluman apa ini?"
"Aku terkejut kau tidak pernah mendengar tentang siluman ini, Saudara Yao."
"Tapi baru pertama ini aku melihatnya."
Shenghao menjelaskan, seperti yang Yao Han bisa lihat, tubuh siluman itu campuran tiga jenis hewan. Namanya beruang macan rubah. Termasuk salah satu jenis siluman paling umum ditemukan di wilayah Negeri Hutan Hijau dan suka sekali memburu manusia.
Tidak terhitung berapa banyak korban dari siluman ini dan yang paling diwaspadai adalah mereka hidup berkelompok dan tidak pernah berburu sendirian.
"Hohoho, mainnya keroyokan, ya. Sepertinya kita memang dalam masalah besar."
Yao Han berdiri dan mengayunkan tangannya, bola-bola api mengarah ke atas dan membentuk susunan kotak. Dengan satu jentikan jari, ukuran bola api membesar. Dalam radius dua puluh meter, daerah sekitar mereka terang seperti saat siang hari.
Mata Shenghao dan Honghao melebar, napas mereka sempat tertahan sejenak. Keterkejutan mereka bukan karena aksi Yao Han, melainkan karena dihadapan mereka ada banyak siluman.
"Hm, menurut perhitungan kasarku kita dikepung dua puluhan ekor siluman." Yao Han mengelus dagunya.
"Saudara Yao, ini bukan waktunya menghitung," tegur Shenghao.
Ukuran dan tingkat praktik para siluman dihadapan mereka bermacam-macam. Semakin besar ukurannya, semakin besar pula tingkat praktiknya.
Yang paling lemah di Ranah Dasar tingkat lima dan yang paling kuat setara dengan Pondasi Fana tahap awal, serta melepaskan hawa pembunuh paling pekat.
"Yang satu itu sepertinya pemimpin mereka. Saudara Shenghao, Saudara Honghao, kalian tenang saja. Biarkan aku mengatasi mereka dengan sihir apiku." Yao Han berkata sambil menunjuk ke atas.
"Bukan maksudku meragukan kemampuanmu, Saudara Yao. Dengan menyatukan kekuatan kita bertiga, mereka lebih cepat diatasi. Kami juga tidak ingin merepotkanmu lebih jauh."
Shenghao dan Honghao tidak menunggu balasan Yao Han. Qi yang kuat dan berwarna biru terpancar dari seluruh tubuh keduanya. Berbeda dengan Yao Han yang masih tampak tenang dan terkesan biasa melihat keduanya, Shenghao dan Honghao sedikit terpana merasakan kekuatan baru mereka.
---