Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 96 - Pedang Langit



Bing Lizi baru saja hendak mengajak Yao Han ke tempat tinggalnya di daerah bersalju itu, tetapi dia dikejutkan dengan kemunculan tiga hewan roh di kedua pundak dan sisi kanan pemuda itu.


Pria yang dijuluki Es Utara itu tidak terlalu terkejut melihat Serigala Malam, tetapi beda halnya saat melihat Feniks dan Ular Giok. Tidak hanya Bing Lizi, Yao Han juga terkejut dengan kemunculan ketiganya.


"Xiao Han, kau sungguh hebat memiliki dua hewan roh tingkat tinggi itu." Bing Lizi berdecak kagum apalagi dua dari tiga hewan roh yang dimiliki Yao Han berada di Ranah Inti Emas tahap akhir.


"Paman Guru Bing, yang kau lihat sebagai Feniks dan Ular Giok ini adalah dua guruku selain Guru Feng. Sedangkan Serigala Malam ini adalah pengikutku."


"Guru?" Bing Lizi menaikkan kedua alisnya, "Sudah mengejutkan kau memiliki Saudara Feng sebagai guru, tetapi kau juga berguru pada dua hewan roh ini?"


Yao Han ingin menjawab tetapi terhenti saat kedua tubuh gurunya memancarkan dua cahaya berbeda warna. Meirong dan Yutian menampakkan wujud manusia mereka membuat Bing Lizi terpana dengan penampilan keduanya.


"Junior Hong Meirong memberi salam pada Senior Bing."


"Junior She Yutian memberi salam pada Senior Bing."


"Hm? Hong Meirong? She Yutian? Kalian mengenalku?" Bing Lizi cukup terkesan keduanya memanggilnya sebagai Senior.


"Senior Bing mungkin lupa, tetapi kita pernah bertemu beberapa kali sebelumnya. Pertemuan terakhir kita adalah lebih dari seratus tahun lalu," ucap Meirong.


"Hm?" Bing Lizi mengelus dagu sambil menatap wajah cantik Meirong, berusaha mengingat-ingat, "Ah, aku ingat. Kau Hong Meirong, Dewi Pedang Api dari Sekte Gunung Langit sekaligus wanita tercantik pada generasimu, bahkan belum ada yang bisa menandingi kecantikanmu selama lima ratus tahun."


Mendengar pujian Bing Lizi, Meirong menundukkan kepalanya, "Senior terlalu memuji."


Pandangan Bing Lizi beralih pada Yutian, "Kau She Yutian? Kau bermarga She pasti ada hubungannya dengan Lembah Hati Racun."


"Benar, Senior. Junior adalah salah satu murid langsung Guru She yang juga dikenal sebagai Nenek Ular dari Lembah Hati Racun."


"Maksudmu She Liu? Dulu julukannya adalah Putri Ular karena pernah menjadi wanita tercantik pada masanya, sekarang dia dipanggil Nenek Ular? Hm, kalau begitu, kau harusnya Gerbang Racun She Yutian, pria paling tampan yang satu generasi dengan Dewi Pedang Api..."


"Sebuah kehormatan mendapat pujian dari Senior Bing."


Yao Han sedikit melirik Yutian, 'Bukankah Guru She selalu mengharapkan pujian karena ketampanannya? Sekarang kenapa dia bersikap sungkan seperti itu?'


Bing Lizi menatap bergantian Yao Han, Meirong, Yutian, dan Bolang beberapa kali sebelum berhenti pada Yao Han.


"Xiao Han, keberuntungan macam apa yang kau miliki? Menjadi murid Saudara Feng adalah satu hal, menjadi murid Dewi Pedang Api dan Gerbang Racun dari dua aliran saling berlawanan adalah hal lain. Menjadi murid tiga aliran sekaligus... ini jelas keajaiban langka."


"Paman Guru Bing, aku selalu bersyukur pada langit karena memiliki guru-guru yang hebat." Yao Han tersenyum lebar.


"Ya, ya, ya. Kau harus bercerita banyak padaku." Salah satu yang ingin diketahui Bing Lizi adalah alasan Meirong dan Yutian memiliki wujud lain sebagi dua hewan roh tingkat tinggi itu.


"Tidak masalah, Paman Guru Bing. Namun butuh waktu yang tidak sebentar."


"Tenang saja, waktu luangku terlalu banyak, sehingga kita bebas saling bertukar cerita." Bing Lizi tertawa pelan, "Ayo ikut denganku ke tempat tinggalku, disini bukan tempat yang nyaman untuk bercerita."


Bersama kedua gurunya dan Bolang, Yao Han mengikuti langkah Bing Lizi. Dalam perjalanan santai menuju kediaman Bing Lizi yang melewati beberapa pepohonan, Meirong bertanya pada pria tua itu tentang formasi penghalang yang tidak bisa ditembus penglihatan Indera Surgawi.


"Benar aku yang memasangnya. Saat aku merasakan ada yang mencoba melewati dinding energi yang kuciptakan, aku mencoba memeriksanya. Siapa sangka aku mendapat kejutan dengan bertemu murid kenalan lama dan kalian." Bing Lizi tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Yao Han, "Di kediamanku, kalian nantinya akan bertemu seseorang."


"Apakah dia Lelulur Chen atau Leluhur Xi?" tanya Yao Han antusias. Bisa bertemu dengan Bing Lizi sudah hal luar biasa bagi Yao Han apalagi jika dia bertemu dengan dua orang tua lainnya dalam waktu satu hari.


"Bukan keduanya, tetapi Meirong dan mungkin Yutian harusnya mengenal orang ini. Dan berhentilah memanggil mereka berdua leluhur, Xiao Han. Kau harusnya tahu yang paling muda diantara Empat Penjuru adalah Saudara Chen, selisih usianya dengan gurumu sekitar seratus tahun. Jika dia mengetahui panggilanmu itu, mungkin dia akan menangis."


"Biar kutebak, kalian mengira tanaman sihir itu yang menyebabkan wilayah disekitar sini dingin, bukan?" Mendapat jawaban anggukan pelan, Bing Lizi tertawa kecil, "Kalian tidak salah, memang ada Teratai Jiwa Es yang tumbuh disekitar kediamanku, jumlahnya belasan, tetapi bukan tanaman sihir itu yang menyebabkan fenomena ini. Lagipula usianya hanya lima ratus tahun."


"Apa mungkin ini disebabkan Paman Guru Bing?"


Bing Lizi tersenyum lebar, "Kurang lebih seperti itu, tetapi sebenarnya terjadi secara tidak sengaja."


"Apa maksud Senior?"


"Aku akan bercerita setelah sampai di kediamanku. Nah, itu tempatnya." Bing Lizi menunjuk ke depan.


Yao Han dan keduanya sama-sama mengerutkan dahi. Mereka bisa melihat dengan jelas sesuatu yang disebut Bing Lizi sebagai kediamannya, tetapi tidak berbentuk rumah seperti pada umumnya melainkan gua besar dibawah bukit kecil.


"Senior... Anda tinggal di gua itu?" Pertanyaan Yutian mewakili isi hati Yao Han dan Meirong.


"Benar, kalian mungkin bingung, akan kujelaskan nanti. Terlebih dahulu kita masuk ke dalam dan bertemu orang yang tinggal bersamaku."


Semakin dekat dengan gua kediaman Bing Lizi, Yao Han dan lainnya bisa merasakan kepadatan Qi semakin meningkat.


"Ternyata bukan gua biasa, ini Gua Abadi..."


"Tepat sekali."


Gua Abadi biasanya hanya dimiliki oleh sekte bear sebagai tempat tinggal atau latihan tertutup karena kepadatan Qi yang tinggi. Tergolong langka terutama yang bisa mengisi ulang Qi dalam waktu singkat.


Selain Qi yang padat, suhu udara di gua juga cukup hangat. Tidak membutuhkan penerangan tambahan karena di sisi kiri dan kanan bagian dalam gua terdapat batuan permata yang memancarkan cahaya.


"Hm, apa itu?" gumam Yao Han saat mereka tiba di bagian terdalam gua, "Hantu? Tidak... ini roh..."


Dihadapan Yao Han dan yang lain ada sosok berdiri menatap mereka. Tubuhnya agak transparan diselimuti cahaya kuning keemasan.


Penampilannya menyerupai seorang pria berusia tiga puluhan tahun. Wajahnya tampan dan gagah, alisnya tebal berbentuk seperti pedang, sorot matanya tajam sekaligus tegas.


"S-Senior Tian..." Mata Meirong melebar karena mengenali sosok dihadapannya. Yao Han dan Yutian menoleh ke Meirong sejenak sebelum menatap sosok tersebut.


"Maksud Guru Hong... Raja Pedang Langit Tian Jian?"


Sosok tersebut menatap rombongan Yao Han bergantian, "Kalian siapa? Bagaimana bisa mengetahui tentangku?"


Meirong maju selangkah lebih dekat, "Senior Tian, aku adalah Hong Meirong."


"Hong... Meirong? Dewi Pedang Api?!" Mata Tian Jian melebar, "Kenapa kau-" Pandangan Tian Jian beralih pada Yutian, "Kau... bukankah kau Gerbang Racun She Yutian? Kenapa Dewi Pedang Api dan Gerbang Racun bisa datang bersama kemari?" Tian Jian kemudian menatap Bing Lizi, "Senior Bing..."


Bing Lizi tersenyum tipis menyadari Tian Jian membutuhkan penjelasan, "Tenanglah, kita punya banyak waktu untuk saling bercerita."


---


Catatan Author:


Author gak update karena males aja, hahaha. Padahal draft untuk chapter ini sudah dibuat sejak tanggal 2 April, tinggal nyelesain beberapa paragraf aja. Pada nungguin, ya? Hahaha.