Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 48 - Teratai Biru



Setelah makan enak di Restoran Nagarasa, tidak ada kegiatan penting lain yang dilakukan Yao Han, seperti berjalan-jalan menikmati keramaian kota misalnya.


Dalam pengamatannya terhadap sekitar, Yao Han mengetahui orang-orang disana adalah kultivator dan masih belum menemukan manusia biasa disana.


Sebagian besar praktiknya di Ranah Dasar dan Pondasi, sebagian kecil di Ranah Inti. Satu dua kali Yao Han menemukan kultivator Ranah Jiwa, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan Feng Xian.


"Dulu saat aku singgah kesini, masih ada manusia biasa, kenapa sekarang tidak kelihatan?" Meirong yang menggunakan Indera Surgawi dari Dimensi Pagoda bergumam heran.


"Mungkin mereka semua sekarang sudah menjadi kultivator." Yutian berpendapat, "Kupikir mereka mendapat beberapa keberuntungan untuk bisa menapaki jalan keabadian, terutama kondisi Qi di tempat ini bisa dikatakan bagus."


"Kurasa kau ada benarnya."


Mendengar percakapan dua gurunya, Yao Han berinisiatif bertanya pada salah satu orang yang tidak jauh darinya. Orang ini adalah pria yang tampak berusia lima puluh tahun awal dan merupakan kultivator Ranah Dasar tingkat empat.


Sesuai dugaan Yutian, para manusia biasa disini mengandalkan keberuntungan untuk menjadi kultivator.


Hubungan harmonis antara kultivator dan manusia biasa di Kota Cahaya Bulan, membuat para manusia biasa mendapat satu dua arahan dari para kultivator dalam menjalani praktik keabadian.


"Aku sendiri baru memasuki praktik di usia tiga puluhan tahun. Hanya mengandalkan kepadatan Qi di kota ini dan berhasil menaikkan praktik ke tingkat ini sudah sangat bagus." Pria itu tertawa pelan.


Dia dan orang-orang yang bernasib sama dengannya tidak memiliki harta yang cukup untuk membeli sumber daya berlatih, jadi hanya bisa mengandalkan sumber daya alami saja, yaitu Qi.


Yao Han tersenyum tipis sebelum menawarkan sesuatu yang mengejutkan pria tersebut, "Kalau Paman tidak keberatan, aku bisa membantu kenaikan praktik. Mungkin satu atau dua tingkat."


"Oh, bagaimana caranya anak muda?" Pria itu sangat antusias. Tawaran Yao Han sangat sulit untuk ditolak dan sayang untuk dilewatkan.


Yao Han menyentuh pundak pria itu lalu mulai mengalirkan Qi, menggunakan Teknik Dewa Racun untuk menghilangkan semua keberadaan racun dan kotoran yang bersarang dalam tubuh.


Prosesnya berlangsung sebentar dan setelah selesai, pria itu merasakan tubuhnya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Yao Han kemudian memberikan sebuah botol giok padanya.


"Didalamnya ada pil yang membantu menaikkan praktik."


Pria itu menerima botol pil dengan tangan bergetar, "Anak muda, kau sungguh baik hati. Kau pasti diutus langit untuk membantuku, bukan begitu?"


Pria itu tidak tahu sekaligus tidak berani menanyakan teknik yang digunakan Yao Han sebelumnya. Yang bisa dia lakukan adalah berterimakasih dan bersikap hormat.


"Paman terlalu berlebihan."


Yao Han mengingatkan sejauh mana pencapaian pria itu tergantung usahanya.


"Pria tua ini berhutang padamu, anak muda. Sayangnya aku tidak bisa membalas kebaikanmu dengan kondisiku yang terbatas ini."


"Paman tidak perlu sungkan. Selama berada di kota ini, aku berencana melakukan sesuatu yang menyenangkan. Membantu orang-orang seperti Paman adalah salah satunya."


Menyadari niat baik Yao Han, pria itu tersenyum tipis, "Tidak banyak orang sepertimu, anak muda. Kalau kau berkata demikian..."


Pria itu kemudian memberitahukan di Kota Cahaya Bulan ada kawasan yang kebanyakan ditempati oleh kultivator Ranah Dasar. Kawasan yang sama dulunya juga dihuni para manusia biasa yang sekarang menjadi kultivator.


Sebelum pergi meninggalkan pria itu, Yao Han memberikan sebuah Bunga Teratai Biru sebagai kenang-kenangan. Pria itu juga menanyakan nama Yao Han.


"Yao Han... Yao Han..." Pria itu menggumamkan nama Yao Han beberapa kali, berusaha untuk tidak lupa sambil mengamati Yao Han yang semakin menjauh.


Di kawasan yang dimaksud oleh pria itu, Yao Han juga melakukan hal yang serupa. Awalnya dia yang menghampiri dan menawarkan bantuan pada beberapa orang, tetapi semakin lama makin banyak orang yang menghampirinya.


Kebiasaan Yao Han yang membagikan Bunga Teratai Biru yang sering dia katakan sebagai kenang-kenangan membuat orang-orang yang dia bantu menjulukinya sebagai Tabib Teratai Biru.


Dalam waktu singkat, tindakan Yao Han diketahui oleh hampir semua orang di Kota Cahaya Bulan.


***


Dalam ruangannya, Fu Mian mengerutkan dahi saat mendengar kabar mengenai tindakan Yao Han.


"Manajer, bukankah pemuda ini adalah pemuda yang tempo hari Anda temui secara langsung? Kira-kira apa yang membuatnya melakukan hal demikian?" tanya asisten Fu Mian yang sedang bersamanya di ruangannya.


Asisten Fu Mian adalah orang kedua di Kota Cahaya Bulan yang mengetahui latar belakang Yao Han.


"Entahlah..."


"Aku khawatir para pelanggan akan beralih dari kita dan meminta pil darinya secara gratis."


Fu Mian tertawa pelan, "Tidak perlu dikhawatirkan. Lagipula dia hanya membagikan pil pada orang yang kurang mampu saja."


Memang benar Yao Han tidak memberikan pil pada orang yang mampu membelinya. Dan juga Yao Han tidak berniat menjualnya pada mereka, karena sementara ini dia hanya ingin menjual pil pada Toko Harta Giok.


Satu-satunya yang dipikirkan Fu Mian adalah sikap dan pembawaan Yao Han yang berbeda dengan Feng Xian.


'Bagaimana bisa sifat guru dan murid bertolak belakang?'


Asisten Fu Mian ingin mengatakan sesuatu, tetapi ada seseorang yang meminta ijin masuk. Dia melaporkan bahwa ada pihak Menara Harta Giok pusat yang berkunjung.


"Nona Qian yang datang kemari?" Mata Fu Mian melebar. Buru-buru dia meninggalkan ruangan diikuti asistennya.


Dilantai dasar Toko Harta Giok, perhatian para pelanggan terutama pria tertuju pada sosok seorang gadis berpakaian biru gelap yang memiliki ukiran indah.


Warna rambutnya campuran hitam, cokelat dan biru. Masing-masing telinganya terpasang anting berbentuk bulan sabit cukup besar berwarna perak.


Yang membuat gadis ini menjadi pusat perhatian adalah parasnya yang cantik dan senyum lembutnya yang mampu menawan setiap hati para pria dan membuat iri wanita.


"Nona Qian, maafkan aku yang tidak menjamu secara langsung. Aku tidak menyangka pihak pusat akan mengirimkan Anda kemari."


Fu Mian dan asistennya menunjukkan sikap hormat.


"Manajer Fu, lama tidak berjumpa, senang bertemu dengan anda kembali." Qian Yue membalas salam Fu Mian, "Bukankah aku pernah mengatakan untuk tidak sungkan padaku?"


Fu Mian tertawa canggung. Posisi Qian Yue jelas lebih tinggi darinya. Faktor utamanya, Qian Yue adalah anak salah satu tetua penting sekte dan mencetak banyak prestasi. Namun, Qian Yue bersikap ramah dan tidak arogan dihadapan orang yang posisinya lebih rendah, membuat Fu Mian segan padanya.


"Nona, kami sudah menyiapkan ruangan khusus. Karena anda yang datang kemari, apakah kami perlu mengubah suasananya agar lebih cocok dengan Anda."


"Tidak perlu, tolong antarkan saja aku kesana."


"Baik, Nona."


---