
"Kakek Xu, apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Xu Gang meminta pendapat.
Meskipun dirinya adalah seorang Patriark yang artinya menjabat posisi tertinggi di Lembah Hati Racun, Xu Gang selalu meminta pendapat pada Xu Lao dan She Liu sebagai sesepuh sekte.
Xu Lao menghela napas panjang, pandangannya yang tadi masih ke arah Xiao Ni terakhir terlihat beralih pada semua orang disana. Xu Lao mengurungkan niat untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya saat menyadari Xu Yang dan Xu Yin masih ada disana.
"Yang'er, Yin'er, kalian kembalilah ke kamar."
"Baik, Kek." Tanpa membantah keduanya menuruti perintah Xu Lao.
Padahal jika tidak ada kabar tentang perang yang mungkin akan terjadi, Xu Yang ingin menyampaikan bahwa dia dan Yao Han sekarang adalah saudara angkat.
Kabar ini harusnya akan menjadi kabar bahagia yang mengejutkan karena artinya Lembah Hati Racun menjalin hubungan lebih dekat Feng Xian melalui persaudaraan Xu Yang dan Yao Han.
Setelah dua anak muda itu tidak terlihat, Xu Lao memberikan sebaris perintah, "Kumpulkan semua tetua yang setidaknya berada di Ranah Inti tahap puncak. Kita akan mengadakan pertemuan dadakan di aula utama."
***
Awalnya, Xiao Ni terbang dengan kecepatan tinggi untuk tiba di Pulau Bulan Bintang, tetapi saat teringat dengan Yao Han, Xiao Ni menurunkan kecepatan terbang dan berhenti diatas pohon besar.
Xiao Ni bisa saja menemukan Yao Han dengan cukup mudah, berpatokan pada tempat terakhir mereka bertemu dan dia juga tahu lokasi Sekte Bintang Ungu yang dituju rombongan Yao Han.
Dia merasa dilema ingin menemui dan memberitahukan Yao Han tentang kabar akan terjadinya perang besar kultivator atau tidak. Setelah berpikir cukup lama, Xiao Ni berdecak pelan.
"Benar juga, Xiao Han tidak mungkin dalam bahaya. Ada Senior Bing dan kedua gurunya bersamanya. Lagipula dia memiliki pusaka pagoda aneh milik Senior Chen. Dalam situasi buruk, dia bisa bersembunyi di Dimensi Pagoda sementara waktu."
Xiao Ni sedikit menggerutu karena baru teringat dengan penghuni Dimensi Pagoda dan pusaka pagoda aneh warisan Chen Long yang sekarang menjadi milik Yao Han.
"Hm, Xiao Han bisa dipastikan aman dalam perjalanannya. Sekarang aku tinggal kembali ke Pulau Bulan Bintang dan memberitahu Senior Feng."
Xiao Ni kembali melesat ke udara dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya tiba di Pulau Bulan Bintang. Saat tiba di puncak gunung tertinggi yang menjadi kediaman Feng Xian, Xiao Ni merubah wujudnya menjadi mode manusia.
Xiao Ni melihat Feng Xian sedang melukis diteras rumah, kegiatan yang paling sering dia lakukan dikala senggang selama seratus tahun terakhir.
"Senior..."
Xiao Ni memberi salam ala kadarnya, karena dia sangat mengenal Feng Xian yang tidak menyukai formalitas.
Feng Xian menghentikan gerakan kuasnya, melirik ke arah Xiao Ni, "Kupikir kau akan kembali secepatnya, kenapa kau baru kembali sekarang?"
Xiao Ni berdecak pelan, "Sebenarnya aku baru pergi kurang dari sehari, apa menurutmu itu begitu lama?" Xiao menggerutu lalu mulai bercerita.
Feng Xian mengangguk-angguk beberapa kali tanda mengerti kemudian berkomentar sederhana, "Baguslah monster kecil itu baik-baik saja." Namun kalimat selanjutnya membuat Xiao Ni mendengkus kesal, "Kau tidak lupa pesanku, bukan? Mana Arak Persik Bulan yang kuminta?"
Feng Xian mengulurkan tangan kanan, sementara Xiao Ni menggerutu lalu mengibaskan tangannya. Diatas lantai, muncul puluhan guci arak.
"Hm, apakah ini sudah semuanya? Kenapa sedikit sekali?" Feng Xian menatap Xiao Ni curiga, "Kau tidak mengambilnya, bukan?"
"Aku, Senior Bing, Gerbang Racun, Dewi Pedang Api, dan Serigala Malam yang menjadi bawahan muridmu itu masing-masing mengambil satu guci. Jangan terlalu pelit, aku heran kenapa Xiao Han yang baik hati bisa memiliki guru yang sangat pelit sepertimu."
"Selain batu roh dan arak, aku bisa dengan mudah berbagi apapun. Ah, sudahlah, ini sudah cukup bagiku, meskipun sebenarnya aku berharap Xiao Han bisa menyediakan setidaknya seratus guci arak."
"Dasar tua bangka penggila harta dan arak. Kenapa kau tidak menyeret muridmu kemari dan menyuruhnya membuat arak sepanjang hari untukmu? Aish, guru macam apa kau ini..."
Xiao Ni hampir saja melempari Feng Xian dengan batu. Lagi-lagi Feng Xian bersikap seolah tidak tersinggung dengan Xiao Ni yang dua kali mengumpatinya.
"Terus saja kau mengumpat, aku tidak peduli." Feng Xian membuka salah satu guci arak dan meminumnya, "Ahh... arak nikmat."
Xiao Ni mendengkus kesal dan duduk disalah satu kursi tidak jauh dari Feng Xian.
"Apa kau membawa kabar lain?"
"Ya, jika sebelumnya termasuk kabar baik, untuk kabar selanjutnya mungkin bisa dibilang kabar... buruk?"
"Akhir-akhir aku merasakan firasat yang tidak baik, semakin lama semakin besar. Entah apa yang akan terjadi dengan dunia kultivator tidak lama lagi, kuharap kabar yang akan kau sampaikan tidak berkaitan dengan firasatku ini."
"Harapanmu tidak terkabul, karena sepertinya firasatmu berkaitan dengan kabar yang kubawa ini. Tidak lama lagi... akan terjadi perang besar."
Feng Xian diam selama beberapa saat, "Ceritakan semua yang kau ketahui."
Xiao Ni menceritakan semua detail yang dia ikut dengarkan dari Hui Jin, Tetua Faksi Pelacak Lembah Hati Racun.
"Konflik di Kota Harta Giok..." Feng Xian bergumam pelan sambil mengelus janggut pendeknya, "Mengingat nama besar Menara Harta Giok, seharusnya konflik yang terjadi tidak akan memicu perang. Namun karena melibatkan banyak sekte dari tiga aliran sekaligus, itu terbilang wajar."
Feng Xian kemudian menambahkan, "Aku pernah mendengar tentang tradisi Pertemuan Kultivator Muda itu, tapi mungkin pertemuan kali ini berbeda dari sebelumnya. Apakah mereka tidak menyadari, pertemuan aliran putih dan netral kali ini bisa menyebabkan aliran hitam bersiaga dan mengambil tindakan?"
Feng Xian menggeleng pelan sambil menghela napas panjang, "Perang kultivator, ya? Aku pikir bisa menikmati masa damai lebih lama, tapi hanya bertahan dua puluh tahun saja."
Xiao Ni mencibir, "Untuk seseorang yang tidak mempedulikan dunia dan menikmati kesunyian di pulau ini, kau tidak pantas bicara seperti itu, Senior Feng."
Feng Xian hanya menanggapi dengan tawa kecil sambil melihat lukisannya yang separuh jadi.
"Lalu... apa yang akan kau lakukan, Senior? Apa kau akan melakukan hal gila seperti dua puluh tahun lalu? Aku akan ikut jika kau mengajakku, orang-orang bodoh itu memang perlu dilenyapkan seperti rencana gilamu itu."
"Hm... mungkin tidak."
"Hah? Kenapa?"
"Sederhana saja, monster kecil itu pasti akan protes dan Saudara Bing akan mengomeliku jika aku benar-benar menjalankan rencana gila itu. Aku hanya tidak mau mendengar ocehan mereka saja."
Catatan Author:
Selamat ber-malming ria #DiRumahAja #PPKMDaruratdanKetat #Level100