Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 198 - Kemampuan Tak Biasa



Klan Yun dan klan Yue yang menjadi pendiri utama Sekte Awan Bulan memiliki teknik rahasia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi melalui garis keturunan mereka. Teknik rahasia ini dipelajari sebagai teknik bertarung tangan kosong atau tanpa mengandalkan pusaka apapun.


Kedua teknik ini memiliki satu kesamaan yaitu teknik serangan tapak. Untuk klan Yun, namanya adalah Tapak Awan Maut, sedangkan untuk klan Yue namanya Tapak Bulan Darah.


Meskipun tidak semua garis keturunan dari kedua klan ini bisa mewarisi dan mempelajari teknik ini secara baik, setidaknya akan ada satu orang dari setiap generasi yang bisa melakukannya dengan baik dan menjadi tumpuan utama masing-masing klan bahkan sekte dimasa depan.


Yun Ming sebagai Patriark dan Yue Song sebagai Tetua Agung Sekte Awan Bulan tentunya termasuk dari dua orang yang terpilih oleh alam untuk dapat mewarisi teknik ini dengan baik. Hal itu juga yang membuat keduanya dijuluki sebagai Gerbang Maut dan Gerbang Darah, dua sosok Jagoan Gerbang aliran hitam yang disegani sekaligus ditakuti.


Yun Lian yang juga dikenal sebagai Peri Awan Darah, ditakdirkan oleh langit untuk mewarisi teknik dari klannya karena dia satu dari tiga cucu Gerbang Maut Yun Ming, memberi keberkahan tersendiri bagi klan Yun dan Sekte Awan Bulan, terutama karena dia adalah jenius muda nomor satu di seluruh sekte aliran hitam itu.


Meskipun disebut teknik warisan turun temurun, bukan berarti tidak ada orang luar sekte yang mengetahui teknik mengerikan satu ini. Setidaknya pihak aliran putih dengan kekuatan setara sekte bintang sepuluh sedikit banyak mengetahui tentang teknik ini. Terlebih tidak sedikit korban dari aliran putih bahkan netral yang meregang nyawa karenanya.


Melihat perubahan warna kulit kedua tangan Yun Lian dan warna Qi yang menyelimuti tubuh gadis itu, membuat Ji Wentian terkejut sekaligus mengumpat keras dalam hati. Dia terlambat menyadari bahwa Yun Lian dapat menggunakan teknik warisan itu sebagai serangan terkuatnya.


Shen Qi dan Honghao bukan hanya gagal menundukkan Yun Lian, sebaliknya justru berhasil dilukai gadis itu. Honghao tidak menerima luka separah Shen Qi karena dia bukan salah satu target utama Yun Lian. Namun tetap saja luka yang dia terima tidak bisa dikatakan ringan atau bisa disembuhkan dengan mudah.


Yun Lian tidak berhenti setelah mendaratkan satu serangan Tapak Awan Maut masing-masing pada dua lawannya. Dia mengabaikan Honghao yang mengalami sesak napas, tatapannya tertuju pada Shen Qi yang seluruh tubuhnya menjerit kesakitan. Gadis itu berniat memberikan satu serangan lagi untuk mengambil nyawa Shen Qi.


Pada saat yang sama, Ji Wentian merasa dirinya tidak bisa hanya tinggal diam menonton dan akhirnya turun tangan. Lagipula dia mengetahui Yun Lian juga akan menargetkan dirinya selain Shen Qi. Huang Mingzhu terkejut dengan tindakannya dan terlambat menghadang lari Ji Wentian menuju tempat pertarungan.


Ji Wentian berlari sambil membuat beberapa mantra tangan.


"Dinding Tanah Pelindung!"


Tanah didepan Yun Lian bergetar dan meninggi membentuk dinding setinggi dua meter. Yun Lian sempat melihat Ji Wentian yang berlari mendekat ke arahnya, tetapi tidak terlalu peduli dengan dinding tanah didepannya. Hanya dengan satu pukulan, dinding tanah itu hancur menjadi berkeping-keping.


Tidak berhenti hanya dengan membuat dinding tanah, Ji Wentian membuat dua tangan raksasa yang masing-masing menangkap Shen Qi dan Honghao, lalu bergerak cepat menjauhi Yun Lian sekaligus membawa mereka mendekat pada Shenghao untuk mendapatkan pertolongan pertama secepat mungkin.


Setelah membuat keduanya jauh dari jangkauan Yun Lian, Ji Wentian mendekat lalu berhenti menjadi jarak dengan gadis itu. Dia berusaha memasang raut wajah tenang, berbanding terbalik dengan sikapnya yang siaga.


"Aku tidak menyangka ada orang yang satu generasi dengan kami memiliki kemampuan sepertimu. Sungguh disayangkan kau berasal dari aliran hitam."


Tatapan Yun Lian datar, berbeda dengan sorot matanya yang menunjukkan semangat untuk menghabisi pemuda itu.


Rahang Ji Wentian mengeras, tetapi berusaha memaksakan sebuah senyum. Raut wajahnya menjadi lebih buruk mendengar ucapan Yun Lian berikutnya.


"Hanya kau sendiri? Nasibmu akan lebih buruk dari mereka. Mati."


Yun Lian bergerak terlebih dulu dan berlari menyerang Ji Wentian, berusaha menyelesaikan urusannya secepat mungkin. Sementara Ji Wentian juga bertindak cepat. Tangannya merapal mantra tangan dan menciptakan sihir unsur tanah lainnya yang menyerang Yun Lian tanpa henti.


Tidak mengandalkan ilmu pedang, Ji Wentian lebih memilih menggunakan sihir unsur tanah unsur menghadapi. Sesuatu yang bisa disimpulkannya adalah Yun Lian yang begitu ahli dalam pertarungan jarak dekat. Ji Wentian tidak ingin mengambil sekecil apapun resikonya terutama karena Yun Lian menggunakan teknik Tapak Awan Maut sebagai serangan terkuat.


Huang Mingzhu sebagai salah satu pengamat pertarungan keduanya merasa gatal ingin membantu, tetapi khawatir akan membebani Ji Wentian. Bukan berarti meragukan kemampuannya, melainkan karena yakin dengan kemampuan Ji Wentian yang memang dia akui satu tingkat lebih unggul darinya.


Yun Lian dan Ji Wentian terus bertukar serangan tanpa henti. Yun Lian yang mengandalkan serangan Tapak Awan Maut, sedangkan Ji Wentian yang tidak berhenti menyerang dengan sihir unsur tanah.


Mulanya Ji Wentian berpikir dia bisa mengungguli Yun Lian dari segi jumlah Qi dan kekuatan fisik karena gadis itu pastinya kelelahan setelah melewati pertarungan beruntun dengan beberapa jenius aliran putih sebelumnya, tetapi nyatanya semakin lama Ji Wentian sulit untuk tetap bersikap tenang.


'Apa gadis ini seorang monster? Bagaimana mungkin ada kultivator Ranah Dasar bisa sekuat dan memiliki daya tahan tinggi seperti dia?! Aku seperti menghadapi kultivator Ranah Pondasi saja.'


Berulang kali serangan Yun Lian membuat Ji Wentian terkejut. Setiap serangan sihir unsur tanah itu dihancurkan berkeping-keping atau menjadi debu. Bahkan yang lebih mengejutkan, sebagian besar ada yang kembali berubah wujud menjadi tanah biasa.


Hal itu membuat Ji Wentian heran luar biasa dan bertanya-tanya teknik aneh macam apa yang dipelajari Yun Lian, tetapi dia tidak mungkin menanyakannya dalam situasinya saat ini.


"Harus kuakui kau memang lebih kuat dari lainnya dan merepotkan."


Ji Wentian tersenyum sinis. "Kalau begitu, lebih baik kau menyerah saja."


"Tidak sebelum aku bisa menghabisimu."


Yun Lian membalas dengan suara dingin, lalu mengambil lompatan mundur cukup jauh. Dia menarik napas dalam dan memejamkan mata. Yun Lian mengalirkan Qi cukup banyak pada kedua matanya. Ji Wentian yang merasa itu adalah waktu yang tepat untuk menyerang segera berlari sambil membuat mantra tangan.


Mata Yun Lian terbuka perlahan, memancarkan cahaya merah terang dan bertatapan dengan kedua mata Ji Wentian.


- - -