Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 146 - Teknik Warisan



Cerita tentang perang dunia kultivator dua puluh tahun lalu pernah Xu Yin dengar dari kakek dan nenek buyutnya, Xu Lao dan She Liu, yang mana diawali dari pertikaian antara Gerbang Racun She Yutian, Tetua Agung Lembah Hati Racun dengan Dewi Pedang Api Hong Meirong dari Sekte Gunung Langit.


Xu Yin juga pernah melihat wajah Meirong melalui slip giok yang diberikan She Liu dan mendengar Dewi Pedang Api adalah wanita tercantik selama lima ratus terakhir yang kecantikannya bahkan melampaui She Liu, yang pernah menjadi wanita paling cantik pada masanya.


Karena Yutian masih hidup dan hadir dihadapannya, Xu Yin penasaran Meirong tidak muncul bersama pamannya itu. Xu Yin mengikuti arah pandang Yutian yang menoleh ke arah Yao Han yang sedari tadi diam.


Tidak lama setelahnya, muncul burung merah dengan api keemasan menyala disekujur tubuhnya, yang hinggap diatas pundak kanan Yao Han. Kemunculan Meirong dalam wujud hewan roh itu menghangatkan ruangan yang sebelumnya terasa sejuk.


"Kenapa kau mencariku, gadis kecil?"


Xu Yin masih terkejut dengan kemunculan burung merah dengan api menyala itu dari ruang kosong dan sempat terbuai dengan suara merdu memanjakan telinga yang dia dengar dari burung yang sama.


"Tunggu... bukankah itu Feniks?!"


Plak.


Yao Han memukul pelan tangan Xu Yin yang menunjuk ke arah Meirong dan semakin jengkel dengan sikap tak sopan Xu Yin yang dia rasa semakin seenaknya.


"Benar, dia adalah Dewi Pedang Api dalam wujud hewan roh, burung api abadi, Feniks."


Tepat setelah Yutian menjelaskan, dari tubuh burung merah dengan api menyala itu memancarkan cahaya terang menyilaukan, kemudian terlihatlah wujud asli Meirong.


Xu Yin jauh lebih terkejut dan terpana saat melihat sosok asli Meirong dibandingkan melihat wujud asli Yutian, yang berkali-kali lipat jauh lebih cantik dari yang pernah dilihatnya dulu melalui slip giok.


Meirong memiliki sepasang mata berwarna hitam segelap malam, alis ramping tertata rapi, bulu mata lentik, hidung agak mungil mancung dan bibir merah merona alami. Kulitnya terang, dilengkapi rambut cokelat gelap panjang berhiaskan pernak pernik keemasan.


Yang menjadi daya tarik dari Meirong adalah pola unik berbentuk bunga teratai berwarna merah keemasan ditengah dahinya. Meirong tidak terlihat seperti Kultivator Pedang yang pernah Xu Yin dengar, melainkan terlihat seperti wanita bangsawan yang penuh keanggunan.


Tangan Meirong terulur, lalu dengan jari telunjuknya menjawil hidung mungil Xu Yin, menyadarkan gadis itu.


"Senior..." Xu Yin menunduk dan memberi salam hormat.


Meskipun berbeda aliran dan berasal dari sekte yang memiliki hubungan buruk dengan Lembah Hati Racun, Xu Yin tidak bisa menunjukkan sikap seenaknya pada Meirong, terutama kehadiran wanita itu yang membuat Xu Yin cukup terintimidasi.


"Kau memanggil ular bodoh ini sebagai Paman, kau boleh juga memanggilku Bibi Hong, kurasa itu lebih baik daripada dipanggil Senior olehmu, gadis kecil."


Xu Yin melirik Yutian sejenak yang wajahnya jengkel disebut ular bodoh, lalu kembali pada Meirong, "Baik... B-Bibi Hong." Xu Yin menjawab agak kaku.


Meirong tersenyum tipis yang terlihat menawan dimata Xu Yin. Tak bisa gadis itu sangkal, kecantikan Meirong jauh diatas mendiang ibunya sekalipun, padahal saat masih hidup, Liu Yin adalah perempuan paling cantik di Lembah Hati Racun.


Yutian kemudian bercerita lebih lanjut, sementara Xu Yin mendengarkan sambil sesekali melirik Meirong yang mengelus-elus rambut Yao Han. Pemuda bermata abu-abu itu malah bermanja-manjaan dengan gurunya seperti anak kecil.


Xu Yin lagi-lagi dibuat kaget mendengar Yao Han tidak hanya menjadi murid Angin Timur, melainkan juga murid gabungan Yutian dan Meirong. Dia juga bingung dengan hubungan pamannya dengan Meirong yang tidak terlihat saling bermusuhan.


'Apa sebenarnya yang terjadi?'


"Kalau Paman masih hidup, kenapa tidak kembali ke sekte?"


"Apa maksud Paman?"


"Nantinya kau juga akan tahu saat aku kembali ke sekte." Yutian mengelus rambut Xu Yin, "Yin'er, jangan beritahu siapapun bahwa aku dan burung payah ini masih hidup. Suatu hari jika kami bertemu dengan guru atau paman guruku diluar Lembah Hati Racun, aku sendiri yang akan memberitahu mereka kebenarannya."


Xu Yin tidak bisa membantah, dia mengangguk pelan, "Baik, Paman."


"Bagus. Dan berhubung kita sudah bertemu, aku ingin memberikanmu ini." Yutian menyentuh dahi Xu Yin, mengirimkan pengetahuan tentang Teknik Dewa Racun, "Tanpa bimbingan dariku, kau pasti bisa menguasainya dengan baik, terutama karena kau memiliki Tubuh Seribu Racun."


Xu Yin akan menjadi orang ketiga yang bisa menguasai Teknik Dewa Racun setelah Yutian dan Yao Han. Xu Yin juga menjadi orang pertama dari Lembah Hati Racun yang mewarisi teknik ini dari Yutian.


"Pantas saja dia mengatakan bisa mengobati Yang-gege, ternyata dia menguasai Teknik Dewa Racun dan memang memiliki hubungan dengan Lembah Hati Racun," gumam Xu Yin melirik Yao Han, setelah mengucapkan terima kasih.


Perhatian Xu Yin teralihkan saat Meirong mengangkat tangannya yang diselimuti api merah keemasan dan melemparkannya begitu saja pada Xu Yang.


"Bibi Hong-! Ke-"


Xu Yin menjerit kaget karena mengira Meirong membakar kakaknya, tetapi api itu tidak melahap tubuh kakaknya. Yutian menahan gadis itu dengan memegang pundaknya, sementara Yao Han yang asyik mengemil rumput madu menenangkan Xu Yin.


"Guru Hong tidak berniat mencelakai kakakmu. Itu adalah Api Feniks, selain bisa digunakan untuk menyerang, juga bisa untuk menyembuhkan."


"Jangan panik, gadis kecil. Anggap saja ini bantuan kecil dariku, dengan begini kakakmu bisa sadar lebih cepat." Meirong ikut menimpali.


Api Feniks itu meresap ke dalam pori-pori tubuh Xu Yang, memperbaiki sel-sel yang rusak dan membakar sebagian kecil racun.


"Itu saja, kalau begitu aku akan kembali. Kau juga, ular bodoh. Biarkan Han'er yang mengurus sisanya."


Yutian berdecak pelan dan menggerutu, "Iya, iya, aku tahu, burung payah. Dasar kau ini."


Sekejap mata, Meirong menghilang dan kembali ke Dimensi Pagoda.


"Kemana Bibi Hong pergi?"


"Ke sebuah tempat yang tersembunyi. Nanti kau juga akan tahu dan mungkin suatu Han'er akan menunjukkanmu tempat itu. Bukan begitu, Han'er?"


"Ng?" Sedikit ragu Yao Han mengangguk pelan.


"Nah, kalau begitu aku pergi dulu. Dimasa depan jika kau ingin mencariku, maka carilah Han'er, karena dimana pun Han'er berada, aku selalu ada didekatnya. Kau mengerti?"


Xu Yin masih belum memahami ucapan Yutian dengan baik, tetapi dia mengangguk saja, "Baik, Paman."


Setelahnya Yutian ikut menghilang dan kembali ke Dimensi Pagoda, menyisakan Yao Han yang mengemil rumput madu dan Xu Yin. Keduanya diam sambil saling bertatapan.


---