
Saat masih berada di Pulau Bulan Bintang, Yao Han pernah diberitahu oleh Yutian sebuah hal yang sebenarnya tidak terlalu penting baginya, yaitu mengenai perempuan.
Yutian mengatakan, perempuan adalah mahkluk yang rumit dan sulit untuk dipahami. Pengecualian jika laki-laki khususnya, memiliki kemampuan membaca isi hati dan pikiran. Kesulitan memahami perempuan bahkan lebih tinggi daripada teknik kultivasi apapun.
Awalnya, Yao Han beranggapan ungkapan dari Yutian ini berlebihan. Namun melihat interaksi Yutian dengan Meirong, sedikit banyak Yao Han mulai mengerti.
Disisi lain, Yao Han tidak mengerti alasan dibalik sikap ketus Meirong pada Yutian, padahal keduanya sudah memutuskan berdamai dan melupakan pertikaian masa lalu mereka.
Yao Han tidak menyangka, beberapa tahun kemudian, akan mengalami hal yang sama. Perkenalan dan interaksinya yang baru sebentar dengan Xu Yin, membuat Yao Han beranggapan bahwa sikap gadis itu 'ajaib'. Dia baru mengetahui ada gadis yang bertingkah laku seperti Xu Yin.
Mengesampingkan sikap gadis itu dan menahan diri untuk tidak mengumpat, Yao Han kembali fokus dengan permasalahan desa kecil dengan kelompok Gagak Merah.
"Nona Xu, kau bukan Kultivator Pedang, apa kau mengetahui cara menggunakan Pedang Terbang?"
Xu Yin merasa tersinggung, "Apa kau pikir aku bodoh?! Tentu saja aku tahu caranya!"
"Nona Xu, kenapa kau suka sekali berteriak dan marah-marah? Aku hanya bertanya baik-baik. Apa kau tidak takut akan cepat tua dan berkeriput karena sikapmu?"
"Kau itu yang cepat tua dan berkeriput!" balas Xu Yin sambil menunjuk-nunjuk.
Yao Han terdiam dan berjanji dalam hati mulai saat ini tidak menertawakan Yutian setiap kali menerima sikap ketus dari Meirong, karena tidak ingin mendapat karma.
Yao Han menoleh ke kepala desa kecil, "Paman, mereka sudah bukan urusanku lagi, jadi terserah kalian mau melakukan apa pada mereka," katanya sambil menunjuk ke arah pria jahat kelompok Gagak Merah yang terbaring tak sadarkan diri.
"B-Baik, Tuan Muda."
Yao Han mengangguk pelan lalu melirik Xu Yin, "Ayo, Nona Xu."
Setelahnya, Yao Han melesat ke arah yang diberitahukan kepala desa kecil. Gerakannya yang lebih cepat dari sebelumnya mengejutkan penduduk desa dan Xu Yin. Gadis berjulukan Peri Racun itu mematung sejenak sebelum terbang mengikuti Yao Han.
"Ih, kenapa tidak mau menungguku, sih! Menyebalkan!" gerutunya.
Meskipun menggunakan Pedang Terbang, Xu Yin masih cukup kesulitan mengimbangi kecepatan gerak Yao Han dan tertinggal sekitar sepuluh meter dari pemuda itu.
Setengah perjalanan, Yao Han berhenti.
"Kenapa berhenti?"
"Kita sudah mencapai setengah rute perjalanan yang diberitahu kepala desa, kita akan minta bantuan pihak lain untuk setengah lainnya."
"Apa maksudmu?"
Yao Han tidak menjawab, melainkan menjentikkan jari. Dia memanggil keluar Bolang dari Dimensi Pagoda.
"Serigala Malam!" Xu Yin berseru pelan, mengenali jenis hewan roh yang menjadi wujud asli Bolang. Dia juga terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba dari kekosongan.
"Benar, namanya Bolang, pengikutku." Yao Han mengulurkan tangannya yang memegang sobekan kain, "Bolang, tolong bantuanmu."
"Serahkan padaku, Tuan Yao." Bolang mengendus-endus kain pakaian salah satu pria jahat. Sebagai Serigala Malam, Bolang memiliki penciuman yang tajam dan bisa melacak markas kelompok Gagak Merah.
"Dia bisa bicara!"
Xu Yin tidak segera memahami arti kata 'pengikut', tetapi dia dikejutkan dengan suara Bolang, 'Bisa bicara berarti setidaknya sudah mencapai Ranah Inti, berarti dia juga bisa berubah wujud menjadi manusia. Eh, bagaimana bisa dia muncul tiba-tiba?'
"Kau berhasil menaklukkan Serigala Malam ini dan memeliharanya? Apa kau punya hewan roh peliharaan lain? Aku akan membelinya."
Yao Han sedikit mengerutkan dahi. Dia tidak suka dengan kata 'peliharaan' dan 'memelihara' yang ditujukan pada Bolang, karena dia tidak menganggap Bolang demikian. Apalagi Xu Yun membicarakan hal yang tidak tepat.
Dibalik topengnya, Xu Yun cemberut.
Bolang berhasil menentukan arah perjalanan selanjutnya dan Yao Han meminta Xu Yin naik ke atas punggung Bolang.
"Bolang, kau harus memastikan Nona Xu agar tidak terjatuh apalagi terluka, karena kalau itu terjadi, kau akan mendapatkan omelan panjang."
Yao Han mengabaikan tatapan sinis dari balik topeng Xu Yin yang merasa tersindir.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka tiba di tempat yang dicari dan bersembunyi di balik pohon.
Seratus meter dari mereka ada benteng batu. Pada pintu masuk, terdapat sebuah bendera putih bergambar burung merah. Ada delapan penjaga, tiga diantaranya adalah kultivator Ranah Dasar tingkat tiga, sisanya manusia biasa.
"Bolang, tolong berjaga disini." suara Yao Han terdengar dingin.
"B-Baik, Tuan Yao."
Xu Yin kebingungan dengan perubahan sikap Yao Han yang tiba-tiba, berbeda dengan Bolang. Indera Surgawi Bolang bisa melihat jelas situasi di dalam benteng batu markas kelompok Gagak Merah, begitupun Mata Tembus Pandang Yao Han yang sekarang memiliki jarak pandang sejauh dua ratus meter.
Yao Han berjalan mantap dengan pandangan tajam dan memancarkan aura pembunuh. Xu Yin mengikuti dibelakang menjaga jarak beberapa meter.
"Siapa kalian?! Mau apa kalian datang kemari?!" seru salah satu penjaga kultivator.
"Mauku? Menghancurkan kelompok Gagak Merah," balas Yao Han dingin.
"Kau-"
Pandangan penjaga itu menggelap perlahan, karena Yao Han langsung memukul kepalanya, tidak lupa dengan memberikan satu pukulan diperut yang menghancurkan Dantiannya.
Dengan gerakan cepat, Yao Han melakukan hal yang sama pada penjaga lain. Tambahan lain adalah Yao Han menghancurkan alat vital mereka menggunakan sihir unsur petir. Tindakannya itu membuat lutut Xu Yun lemas melihat aksi kejamnya.
Para penjaga tidak mati, atau tepatnya tidak langsung mati, tetapi Yao Han membuat mereka cacat terlebih dahulu.
Yao Han melangkah masuk sambil memancarkan aura pembunuh lebih pekat. Satu trik yang dia pelajari dari Feng Xian adalah kemampuan mengarahkan aura pembunuh sesuka hati, dimana hal ini biasanya sangat sulit dikendalikan bahkan oleh kultivator tingkat tinggi sekalipun.
Sedikit ragu, Xu Yin kembali mengikuti Yao Han. Motivasinya ikut adalah ingin melihat cara Yao Han mengatasi pria-pria jahat kelompok Gagak Merah ini.
Mata khusus Yao Han dari kejauhan bisa melihat orang-orang di dalam benteng sedang berpesta sambil memperlakukan perempuan yang ada disana sangat tidak manusiawi. Semua perempuan disana telanjang bulat, tetapi tidak menarik nafsu Yao Han, justru meningkatkan amarahnya.
Aura pembunuh Yao Han dirasakan oleh orang-orang didalam, membuat suasana menjadi lebih sepi sebelum hening total. Penerangan didalam benteng hanya dibantu beberapa obor, membuatnya tidak terlalu jelas.
"Siapa disana?!"
Salah satu pria berbadan gempal dan paling besar berteriak. Suaranya besar dan dalam, memberi kesan menakutkan. Dia adalah pemimpin kelompok Gagak Merah sekaligus kultivator Ranah Dasar tingkat sembilan.
"Kalian sungguh manusia biadab. Kurasa sudah cukup kalian bersenang-senang beberapa waktu terakhir ini."
Setelahnya, terdengar suara jeritan kesakitan saling bersahutan.
Catatan Author:
Pembaca baik mari berkumpul.
Pembaca jahat, segera enyahlah kalian.