Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
Ep. 83 - Kota Kelahiran



Kota Bukit Bunga jauh lebih sepi dari ingatan maupun perkiraan Yao Han. Bukannya kota kelahirannya itu semakin ramai atau maju, justru makin sepi. Hal ini semakin menguatkan tentang kebenaran cerita Bolang sebelumnya mengenai serangan siluman pada Kota Bukit Bunga.


Rombongan Yao Han menjadi perhatian cukup banyak orang saat mereka semakin jauh ke dalam kota, terutama pada Shenghao dan Honghao karena penampilan unik mereka yang berkepala nyaris botak.


Yao Han berusaha tidak menunjukkan raut wajah buruknya saat melihat situasi dan kondisi Kota Bukit Bunga setelah beberapa tahun dia tinggalkan, tetapi ketiga orang bersamanya masih bisa melihat suasana hati Yao Han sedang tidak baik.


Tiga orang yang bersamanya itu penasaran dengan hubungan Yao Han dengan Kota Bukit Bunga yang mereka datangi ini dan jawabannya mereka ketahui tidak lama setelah mereka berhenti di sebuah rumah sederhana yang sudah rusak di beberapa bagian.


Dari luar, terlihat rumah itu tidak terawat apalagi berpenghuni, tetapi ketiga orang yang bersama Yao Han bisa melihat pemuda itu memandangi rumah di hadapan mereka dengan pandangan begitu sendu dan penuh kerinduan.


"Rumah siapa ini, Saudara Yao?" tanya Shenghao.


"Ini adalah rumahku, setelah ditinggal pemilik aslinya delapan tahun lalu."


Jawaban Yao Han itu sedikit mengejutkan ketiga orang didekatnya. Mereka baru mengetahui berasal dari kota kecil bernama Bukit Bunga ini.


"Jadi kau berasal dari kota ini, Saudara Yao..."


Yao Han menghela napas panjang, "Aku lahir dan besar di kota ini. Aku tidak pernah melihat atau mengenal orangtuaku. Sejak kecil aku dirawat Nenek Yue sampai usia sembilan tahun. Selama setahun setelah beliau meninggal, aku menjadi pemilik baru rumah ini. Dan kemudian aku 'bertemu' guruku dan tinggal bersamanya di Pulau Bulan Bintang selama tujuh tahun sebelum aku bertemu kalian, sampai akhirnya aku kembali ke kota ini hari ini..."


Shenghao dan Honghao sebelumnya berusaha agar tidak bertanya mengenai hal pribadi pada Yao Han, tetapi baru saja mereka mendengar garis besar secara singkat latar belakang yang sebenarnya pemuda itu.


Mereka kemudian mengerti reaksi Yao Han setelah mendengar cerita Bolang tentang serangan siluman pada Kota Bukit Bunga lima tahun lalu, karena kota ini merupakan kota kelahirannya.


Yao Han masih diam mengamati rumah peninggalan Nenek Yue, sementara yang lain hanya bisa diam menunggu rencana Yao Han selanjutnya. Shenghao menebak Yao Han akan menggunakan kemampuannya agar kondisi kota menjadi lebih baik seperti kebiasaan Yao Han yang dia lihat dalam perjalanan mereka.


"Hm?"


Perhatian mereka teralihkan oleh suara langkah kaki yang mendekat. Seorang pria tua mendekat ke arah mereka. Yao Han melihat wajah pria itu beberapa saat. Matanya melebar karena mengenal pria tua itu sebagai pemimpin Kota Bukit Bunga, Hua Ren.


Yao Han sempat menahan napasnya karena bukan hanya Hua Ren tampak jauh lebih tua dari ingatannya, melainkan karena Hua Ren sekarang hanya memiliki satu tangan tersisa, yaitu tangan kanannya.


"Walikota Hua..." Yao Han mendekati Hua Ren.


"Kau mengenalku anak muda?"


Sebelumnya Hua Ren mendapat laporan ada rombongan kecil yang memasuki Kota Bukit Bunga, penampilan mereka yang unik sedikit mencurigakan, meski wajah mereka terlihat tidak seperti orang jahat.


"Walikota Hua... ini aku Yao Han...." Yao Han sedikit sendu memandangi Hua Ren.


***


Hua Ren sudah menjabat sebagai pemimpin Kota Bukit Bunga selama tiga puluh tahun dan diantara hal buruk yang pernah melanda kota semenjak dia memimpin adalah serangan siluman beruang macan rubah lima tahun lalu.


Hua Ren beruntung bisa menjadi salah satu yang selamat dari serangan tersebut karena dirinya merupakan kultivator dengan tingkat praktik paling tinggi di Kota Bukit Bunga, yaitu Pondasi Fana tahap menengah. Namun naasnya, serangan itu membuat dirinya kehilangan tangan kirinya yang membuat Hua Ren meratapi nasib buruknya.


Dalam waktu lima tahun sejak serangan itu, Kota Bukit Bunga fokus untuk berbenah dan 'membangun' ulang kota yang kehilangan separuh lebih penduduknya. Hua Ren selalu berharap tidak ada hal mengejutkan yang menimpa Kota Bukit Bunga lagi seperti mendapat serangan siluman, tetapi hari ini dia mendapat kejutan yang tidak biasa.


Beberapa waktu lalu dia sudah 'berkenalan' dengan Yao Han dan lainnya. Sikap Hua Ren pada Shenghao dan Honghao lebih hormat karena berasal dari sebuah sekte besar. Setelah mendengar kisah singkat Yao Han, Hua Ren menatap pemuda itu dengan pandangan tak percaya.


Hua Ren sempat mengira Yao Han membual tentang dirinya. Meskipun sudah berusia lebih dari seratus tahun, dirinya masih mengingat sosok Yao Han yang menghilang begitu saja tujuh tahun lalu karena bocah yang dia kenal itu berteman cukup baik dengan Hua Feng, putra semata wayangnya. Menghilangnya Yao Han juga sempat membuat kehebohan hampir seisi kota.


"Jadi, kau sungguh Han'er yang kukenal?" Hua Ren menghela napas panjang, masih ada sedikit keraguan, terutama karena penampilan dan pembawaan Yao Han yang berbeda jauh dari ingatannya, "Aku bingung harus bereaksi apa... memiliki akar roh setelah tersambar petir lalu menjadi kultivator? Telingaku sepertinya salah mendengar..."


"Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya dengan kondisiku dan menjadi kultivator..." Yao Han tertawa pelan.


Shenghao, Honghao, dan Bolang terkejut dalam hati mendengar cerita Yao Han pada Hua Ren. Pemuda itu memang sengaja membiarkan mereka mengetahui 'rahasia' kecilnya. Tidak ada yang tidak berpikir sungguh keberuntungan luar biasa Yao Han bisa bertahan hidup setelah tersambar petir yang berujung pertemuannya dengan Feng Xian.


"Selama ini kau tinggal di pulau di tengah Danau Cahaya Bulan, ya... Hm, Pulau Bulan Bintang..." Hua Ren mengelus dagunya mendengar informasi baru, "Aku senang akhirnya kau bisa menjadi kultivator bahkan memiliki guru, tetapi apa kau tidak berencana masuk ke sekte? Mungkin itu lebih baik."


Hua Ren berkata seperti ini karena teringat dengan Hua Feng yang merupakan anggota sebuah sekte.


Jawaban itu membuat Yao Han tersenyum tipis, sementara Shenghao dan Honghao tanpa Hua Ren sadari justru tersenyum canggung. Menjadi murid Feng Xian sang Angin Timur yang juga Dewa Alkemi sudah terlalu cukup bagi Yao Han. Sumber daya yang dia dapatkan terlalu istimewa untuk murid terbaik sekte berbesar sekalipun.


Masih ada hal yang ingin Hua Ren bahas pada Yao Han, tetapi dirinya mengerti Yao Han dan teman-temannya butuh istirahat. Hua Ren menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara karena butuh waktu cukup lama untuk membersihkan rumah Yao Han, tetapi Yao Han menolaknya dengan halus.


"Walikota, tolong terima ini..."


Yao Han menyerahkan sebuah botol giok. Hua Ren menemukan ada dua butir pil didalamnya yang bersinar dan memancarkan aroma yang kuat.


"Itu adalah Pil Panjang Umur, bisa menambah usia kultivator sebanyak lima tahun setiap pilnya dan hanya bisa dikonsumsi paling banyak dua butir."


Mata Hua Ren melebar, "Kau mendapat barang bagus..."


"Oh, itu aku yang membuatnya."


Mata Hua Ren melebar lagi, lebih lebar dari sebelumnya, "Kau seorang alkemis?!" jeritnya tertahan.


"Hm, ya, aku belajar alkemi dari guruku." Yao Han tersenyum tipis.


Hua Ren terpana cukup lama, "Besok aku ingin mendengar ceritamu lebih banyak, anak muda."


Pria tua itu kemudian meninggalkan Yao Han dan teman-temannya.


---