
Feng Xian kembali menahan napas saat melihat awan diatas bekas kemunculan pilar cahaya itu yang dibaliknya menggeliat kilat-kilat berwarna keunguan. Lalu turun sejumlah petir besar berwarna ungu menyambar ke satu titik yang menjadi bekas kemunculan pilar cahaya.
"Petir ungu... mirip seperti warna petir Senior Xi," gumam Xiao Ni.
Feng Xian hanya mengangguk pelan. Xi Lei yang juga dikenal sebagai Petir Barat memiliki akar roh murni unsur petir. Keunikannya pada warna seluruh sihir unsur petirnya yang berwarna ungu. Selain berwarna berbeda, daya hancur petir ungu miliki Xi Lei jauh lebih kuat dibandingkan petir biasa.
"Hewan roh atau siluman, kita bisa menunjukkan petunjuk darinya." Feng Xian memutuskan melesat ke arah munculnya pilar cahaya.
Mereka kemudian dikejutkan dengan pemandangan disana. Terdapat sebuah kubah berwarna ungu samar. Didalamnya terdapat seekor hewan besar yang panjangnya sekitar sepuluh meter sedang berbaring.
Wujudnya menyerupai serigala yang keseluruhan bulunya berwarna abu-abu. Memiliki dua ekor panjang yang ujungnya berwarna ungu. Juga memiliki tanduk melengkung ke atas berwarna keperakan.
"Serigala ini... harusnya sudah punah." Feng Xian berpendapat. Dia sedikit mengetahui catatan sejarah tentang makhluk yang dilihatnya itu. "Serigala Petir..."
Serigala Petir, seperti namanya memiliki kekuatan unsur petir. Meskipun termasuk hewan roh, keberadaan makhluk ini sangat berbahaya karena sangat suka memakan manusia, sehingga dimasa lalu mereka diburu secara besar-besaran sampai punah.
Feng Xian dan Xiao Ni turun perlahan, menjaga jarak sekitar sepuluh menit dari kubah yang mengurung serigala itu. Disaat yang hampir bersamaan, serigala itu membuka matanya dan bertatapan dengan Feng Xian.
Feng Xian sedikit mengerutkan dahi melihat warna mata serigala itu yang berwarna ungu, warna mata yang sama dengan Xi Lei.
"Lao Feng..."
Sepasang mata Feng Xian melebar saat mendengar suara serak yang menggema. Dia masih ingat dengan suara itu, tidak lain adalah suara milik Xi Lei yang sudah lebih dari seratus lima puluh tahun yang tidak didengarnya. Xiao Ni bereaksi sama dengan Feng Xian.
"Lao Xi? Apa itu benar kau, Lao Xi?" Feng Xian bertanya dengan suara keras.
Sepasang mata serigala itu semakin terbuka lebar dan posisinya menjadi tegak. Terdengar suara tawa serak menggelegar.
"Lao Feng, tak kusangka kau masih hidup!"
Feng Xian ikut tertawa, sementara Xiao Ni melambaikan tangannya pada serigala itu dan memanggil nama Xi Lei.
"Senior Xi! Senior Xi!"
"Oh, Xiao Ni? Kau juga ada disini?"
"Lao Xi, apa yang sebenarnya terjadi? Kau sekarang menjadi seekor serigala?"
"Ceritanya panjang. Bantu aku dulu keluar dari kubah pengiring sialan ini. Aku tidak bisa menghancurkannya dengan kekuatanku sekarang."
Feng Xian memikirkan sebuah cara, lalu dia meminta pendapat Xi Lei.
"Seberapa kuat kubah ini? Apa Bola Angin Penghancur bisa menghancurkannya?"
"Kubah ini akan menyerangmu dengan kekuatan petir kalau kau berusaha menghancurkannya. Namun jika kau menggunakan Bola Angin Penghancur, aku juga akan terkena imbasnya."
Feng Xian berpikir cepat, kemudian mendapatkan ide yang paling aman. Tanpa menunggu lama, dia membuat mantra tangan dengan cepat yang sulit dilihat oleh penglihatan mata biasa.
Awan gelap kemudian terbelah, menunjukkan sebuah tangan raksasa berwarna biru terang. Pada bagian telapaknya yang terbuka lebar terdapat kata 'Segel' berwarna emas.
"Tapak Awan Penyegel Surga!"
Tangan raksasa itu mengandung kekuatan dahsyat dan turun dengan cepat menuju kubah yang mengurung Xi Lei dalam wujud serigala itu.
BAAMMM!!!
Tapak raksasa itu berbenturan dengan kubah pengurung dan menghancurkannya hingga berkeping-keping sebelum menghilang.
Suara tawa serak menggelegar kembali terdengar, disusul suara auman panjang. Sejumlah petir berwarna turun menyambar tubuh Xi Lei.
Feng Xian dan Xiao Ni hanya mematung menyaksikan Xi Lei seolah kesenangan disambar petir berwarna ungu. Auman Xi Lei dalam wujud Serigala Petir dapat memanggil sejumlah petir ungu yang akan menyambarnya. Petir-petir ungu itu bukannya menyakitinya, malah memperkuat tubuhnya.
"Jika diingat lagi, tidak ada orang waras yang menganggap mandi hujan petir adalah sesuatu yang menyenangkan, kecuali Senior Xi." Xiao Ni tertawa canggung.
Xiao Ni kemudian teringat bahwa semua Jagoan Empat Penjuru tidak bisa dibilang waras karena memiliki perangai dan kebiasaan unik masing-masing.
Xi Lei berubah wujud ke dalam bentuk manusia. Pakaiannya compang-camping seperti pengemis atau gelandangan. Meskipun wajahnya terlihat seperti pria berusia empat puluh tahunan awal, tapi tubuhnya sangat kekar dan berotot. Rambut dan alis berwarna abu-abu, sementara matanya berwarna ungu gelap.
Feng Xian menghilangkan perisai bola angin dan membentuk kubah angin pelindung saat turun di hadapan Xi Lei.
"Aku terkejut kalian mendatangi tempat terkutuk ini." Xi Lei tertawa.
"Kau tidak berubah banyak, Lao Xi. Kupikir kau akan menjadi jauh lebih tua setelah lebih dari seratus lima puluh tahun berlalu."
"Huh? Ternyata sudah selama itu aku pergi..."
"Saudara Bing dan Lao Chen juga sempat menghilang, tapi hanya sekitar seratus tahun."
"Apa yang terjadi dengan mereka?"
"Secara garis besar, mereka berdua juga menjadi hewan roh seperti yang kau alami."
"Apa?! Ceritakan lebih banyak padaku."
Feng Xian mengabaikan desakan Xi Lei. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercerita. Lebih baik kita kembali ke Pulau Bulan Bintang."
Xi Lei menghela napas panjang. "Baiklah, aku mengerti. Namun sebelum itu, kita pergi ke arah selatan. Ada sesuatu yang harus kita ambil."
"Apa itu?"
"Kalian akan mengetahuinya setelah tiba disana."
Mereka segera menuju lokasi yang dimaksud Xi Lei.
"Nah, itu dia. Ambillah."
Feng Xian dan Xiao Ni melihat bongkahan batu besar yang memancarkan cahaya biru kehijauan.
"Batu apa ini?" tanya Xiao Ni kebingungan.
"Batu mineral yang jauh lebih berharga dari batu ruang. Batu ruang dan waktu."
"Batu ruang dan waktu?!" seru Feng Xian dan Xiao Ni bersamaan. "Apa ada batu mineral lain atau hanya ini?"
"Tidak ada dan ya, hanya ini."
Feng Xian tidak membuang banyak waktu dan mengibaskan tangannya. Seketika batu bercahaya biru kehijauan dihadapannya tersimpan ke dalam cincin ruangnya.
"Lao Chen pasti akan heboh jika aku menunjukkan batu ruang dan waktu ini dihadapannya." Feng Xian tertawa sambil membayangkan reaksi Chen Long.
Feng Xian kemudian membawa Xiao Ni pergi dari Lembah Petir Abadi. Mereka berdua duduk santai diatas punggung Xiao Ni dalam wujud Bangau Pelangi.
"Lao Feng, aku tidak percaya akan mengatakan ini, tapi terima kasih sudah menyelamatkanku dari tempat terkutuk itu."
"Bukan masalah besar. Kalau bukan dugaan Saudara Bing, aku tidak akan mendatangi Lembah Petir Abadi dan menemukanmu disana." Feng Xian tertawa pelan. "Baguslah, aku tinggal menghubungi monster kecil itu dan memberitahunya kau sudah kutemukan."
"Monster kecil? Siapa yang kau maksud?"
"Namanya Yao Han. Dia muridku."
"Hah?! Apa aku tidak salah dengar?! Angin Timur memiliki murid?! Aku tidak bisa percaya ini!"
Bersambung...
Catatan:
Lao Feng, Lao Xi, Lao Chen diartikan sebagai Si Tua Feng, Si Tua Xi, dan Si Tua Chen. Dalam bahasa Inggris sebutannya Old Feng, Old Xi, dan Old Chen.
Batu ruang dikenal sebagai spatial gem, sedangkan batu ruang dan waktu dikenal sebagai space and time gem.