Mortal To Immortal (Book 1)

Mortal To Immortal (Book 1)
MTI 148 - Tugas Kecil



Xu Yang tidak langsung mengerti cara Yao Han mengetahui tentang Kitab Racun Langit yang hanya boleh dipelajari oleh Patriark, Tetua Agung, dan tetua penting Lembah Hati Racun. Namun reaksi pertamanya mendengar kalimat menusuk hati itu adalah terbatuk-batuk dan tersenyum kaku.


Xu Yin bereaksi lain, dia membela kakaknya karena merasa Yao Han menghina kakaknya.


"Aku tahu kakakku ceroboh dan kau yang sudah membantu kondisi kakakku menjadi lebih baik, tapi bukan berarti kau bisa menghina kakakku seenak jidatmu."


Yao Han menaikkan sebelah alis, "Aku menghina kakakmu? Lebih tepatnya aku mengatakan sebuah fakta. Nekat dan bodoh..." Yao Han menghela napas, "... ditambah lagi dia pergi jauh dari sekte ke Negeri Hutan Hijau seorang diri. Kau juga sama gilanya." Yao Han berdecak berulang kali.


"Kau-!" Xu Yin menunjuk Yao Han dengan wajah merah.


"Sudahlah, Yin'er."


Xu Yang menahan adiknya. Dia baru pertama kali bertemu dengan Yao Han dan mengetahui identitasnya, tapi tiba-tiba saja dia diceramahi. Xu Yang menjadi teringat dengan She Liu yang suka mengomel karena dia seringkali tidak menurut dan membuat beberapa kekacauan.


Xu Yang tidak membantah dirinya nekat dan bodoh memaksakan diri mempelajari Kitab Racun Langit yang diturunkan pada Xu Yin. Sedangkan dia pergi dari sekte seorang diri setelah mendengar secara tidak sengaja percakapan Xu Lao dan She Liu tentang kemunculan kembali Angin Timur.


Xu Yang mendapatkan ide dan langsung melakukan perjalanan ke Pulau Bulan Bintang untuk mendapatkan bantuan menyembuhkan kondisinya. Rencana Xu Yang sebenarnya bagus, tapi persiapannya tidak matang, bahkan tidak mengetahui rencana kakek dan nenek buyutnya yang juga akan meminta bantuan Angin Timur.


"Saudara Xu, anggap saja kau bisa tiba di Pulau Bulan Bintang dengan segala keberuntungan yang kau miliki, tapi aku ragu guruku mau menolongmu."


Xu Yang tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya. Raut wajahnya terlihat gelisah. "Aku tahu dan aku pikir beliau akan berubah pikiran jika aku menawarkan ini."


Xu Yang mengeluarkan sebuah buku tebal. Xu Yin melotot kaget dan dia yang pertama kali bereaksi.


"Yang-gege, kau sudah gila?! Kau ingin memberikan Kitab Racun Langit?! Bagaimana itu bisa ada ditanganmu?!"


Yao Han ikut terkejut setelah mendengar reaksi Xu Yin.


Yutian yang menyaksikan itu menepuk dahinya keras-keras, "Sepertinya kecerobohan Adik Liu yang tidak seberapa itu menurun pada Yang'er."


"Kurasa kecerobohan keponakanmu ini jauh lebih besar dari dugaanku. Senior She akan mengamuk besar jika mengetahui hal ini." Meirong menyahut.


Sepengetahuan Xu Yin, Kitab Racun Langit disimpan oleh ayahnya dan belum lagi dipinjamkan padanya lagi selama kondisi Xu Yang belum membaik. Melihat kitab rahasia itu ditangan Xu Yang, dia pasti mengambilnya diam-diam saat Xu Gang lengah.


Yao Han menghela napas panjang dan tidak habis pikir dengan tingkah Xu Yang. Dia tidak ingin menanggapi mereka lebih jauh dan membiarkan dua kakak beradik itu melanjutkan reuni mereka.


"Jangan ganggu aku, ada sesuatu yang ingin aku lakukan." Yao Han tetap berada diruangan itu dan duduk menghadap dinding, membelakangi dua kakak beradik itu.


"Apa yang ingin dilakukannya?" gumam Xu Yang.


"Biarkan saja, terkadang dia bersikap aneh." Xu Yin menimpali, "Biarkan aku menyimpan ini, Yang-gege tidak boleh dekat-dekat dengan buku ini sementara waktu." Dengan sikap tegas Xu Yin mengambil Kitab Racun Langit ditangan Xu Yang dan menyimpannya ke dalam cincin ruang.


Xu Yang tidak bisa mengelak dan hanya bisa pasrah. Sesekali dia melirik Yao Han, lalu mendengarkan Xu Yin yang menceritakan banyak hal selama perjalanan sampai tidak sengaja menemukan dirinya.


Satu hal aneh yang diketahui Xu Yang adalah adiknya bisa akrab dengan orang asing seperti Yao Han, tapi bisa jadi itu dipengaruhi oleh identitas keduanya.


Sementara mereka berbincang, Yao Han menghubungi Feng Xian melalui giok suara khusus. Di Pulau Bulan Bintang, Feng Xian memanjakan diri dengan duduk santai sambil menikmati Arak Persik Bulan saat giok suara miliknya menyala terang.


"Ada apa Xiao Han?" Feng Xian sedikit terkejut Yao Han menghubunginya lagi tidak lama setelah meninggalkan Kota Bukit Bunga dan dia langsung bertanya tanpa basa-basi.


"Guru Feng, aku..."


Yao Han menceritakan garis besar beberapa kejadian yang dia alami dan ditanggapi Feng Xian dengan sebuah tawa geli karena langit mempertemukan mereka seperti perkiraannya.


"Jadi begitu. Kau tetaplah disana, aku akan mengirimkan 'seseorang' ke tempatmu."


"Seseorang? Siapa yang guru maksud? Apakah dia Senior Xiao Ni?"


"Ng... baiklah, Guru."


"Hei, mana Arak Persik Bulan yang kau janjikan dulu? Kenapa aku masih belum menerimanya? Persediaanku hampir habis."


Yao Han terbatuk pelan, menganggap gurunya sudah gila menghabiskan persediaan Arak Persik Bulan dalam jumlah besar seorang diri.


"Maaf, Guru Feng. Aku belum sempat membuatnya lagi, aku masih sibuk dengan hal lain. Mohon guru bersabar."


Buru-buru Yao Han menyudahi komunikasinya dengan Feng Xian, membuat gurunya itu berdecak kesal.


"Aish, anak ini... dasar murid tidak berbakti."


Hanya Feng Xian seorang lah yang berpikiran bakti murid pada gurunya dinilai dari arak. Jika Bing Lizi mengetahuinya, dia pasti akan mendapatkan ceramah panjang.


Feng Xian bangkit dari duduknya lalu berdiri menghadap ke satu sisi hutan tidak jauh dari gunung kediamannya.


"Xiao Ni-!"


Seruan panggilan Feng Xian itu terdengar lantang membahana sampai ke zona bahaya hutan Pulau Bulan Bintang. Sesaat kemudian, tampaklah seekor burung besar terbang mendekat.


Wujudnya menyerupai bangau, tetapi memiliki empat sayap dan berekor panjang. Warna bulunya seperti pelangi yang menyatu dengan sempurna.


"Ada apa Senior Feng?" Xiao Ni mengubah wujudnya saat tiba didepan Feng Xian. Dia tampak seperti pria berumur tiga puluhan tahun dan berwajah ramah.


"Aku punya tugas kecil untukmu."


Langsung saja Xiao Ni berdecak pelan, "Kalau tugas kecil, kenapa kau harus menyuruhku?"


Feng Xian mengulurkan sebuah guci arak yang mengeluarkan aroma manis menggiurkan. Xiao Ni langsung mengambilnya dan merubah sikap seolah dia antusias.


"Tugas apa yang kau berikan?" Xiao Ni memasang senyum lebar penuh semangat.


Feng Xian menghela napas sebelum menjelaskan situasinya, "Kau pergilah ke..." Feng Xian memberitahukan tempat yang harus Xiao Ni tuju dan tugas yang harus dia lakukan.


"Tugas itu terlalu kecil bagiku. Mudah sekali. Apa hanya itu saja?"


"Ada satu lagi. Saat kau bertemu Xiao Han, mintakan padanya semua Arak Persik Bulan yang dia miliki."


Xiao Ni berdecak pelan, "Dasar penggila arak."


Buru-buru dia melayang dan melesat menuju satu arah. Feng Xian tidak peduli dengan komentar Xiao Ni dan kembali ke teras rumahnya untuk menikmati waktu bersantainya.


 


Catatan:


Crazy up tiga chapter di malam Minggu. Kalian tahu apa artinya, bukan? Hehehe, tidak perlu author beritahu apa yang harus kalian lakukan, oke? Oke!


Selamat ber-malming ria.


Salam panas dingin,


Author, Maswaw.