
Fira tak langsung menjawab, hingga Dion memarkir kendaraan nya di halaman sebuah masjid. Ya, mereka berhenti sejenak untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai seorang Muslim, yaitu melaksanakan ibadah sholat dhuhur.
Fira membuka seat belt nya dan hendak turun, namun Dion menahan nya. "Tunggu sebentar neng Fira,,"
Fira menoleh kearah Dion, "ada apa?" Tanya Fira, pura-pura tak mengerti.
Dion nampak bingung, tapi sedetik kemudian berhasil menguasai keadaaan. "Pertanyaan ku tadi,, apa jawaban kamu?" Desak Dion, dengan perasaan cemas.
Fira tersenyum, dan menatap Dion dengan intens. Hingga membuat Dion menjadi terpana.. "bagaimana?" Kembali Dion bertanya, "jangan menatap ku seperti itu neng Fira, aku takut khilaf," lanjut Dion mencoba bercanda, untuk mengurai suasana hati nya yang dilanda gelisah.
Fira mengalihkan pandangan nya, menatap lurus ke depan. "Maaf Dion, aku sendiri belum yakin dengan perasaan ku.. dan aku juga masih ragu dengan apa yang kamu katakan," balas Fira dengan jujur, "kita minta petunjuk saja sama Allah, karena Dia Sang Pemilik hati.. jika benar memang hatimu untuk ku dan hati ku untuk mu, Allah pasti akan mempermudah jalan kita untuk bersatu," lanjut nya dengan bijak.
Fira ingat betul dengan apa yang sering di nasehat kan bunda nya, bahwa jika kita menginginkan sesuatu dan kita ragu apakah itu baik atau tidak untuk kita.. maka berdo'a lah sama Allah, agar kita diberikan petunjuk dan juga kemudahan untuk mendapatkan yang terbaik menurut Allah untuk diri kita.
Dion mengangguk, dan tersenyum lebar. "Ayo kita turun," ajak nya, "nanti usai sholat dhuhur aku akan berdo'a dan meminta sama Allah, agar Allah membuka kan hatimu untuk ku," lanjut Dion dengan antusias.
Fira mengernyit,, "se-spesifik itu?" Tanya Fira tak mengerti.
"Ya, karena aku sudah membuka hati ku untuk mu.. dan aku pun telah yakin bahwa kamu adalah yang terbaik untuk ku. So... apalagi yang harus ku minta, selain agar kamu mau membuka hati untuk ku? Dan aku akan meminta hal yang sama terus menerus setiap bakda sholat, hingga Allah mau mengabulkan do'aku," Balas Dion dengan yakin.
Mendengar jawaban dari Dion, Fira tersenyum lebar dan buru-buru turun dari mobil untuk menyembunyikan senyum nya itu.
Dan Dion pun ikut turun, mengikuti Fira. Mereka berdua kemudian melangkah bersama menuju masjid untuk sholat dhuhur.
"Tak mengapa, jika saat ini kita baru bisa melangkah menuju masjid untuk beribadah sholat dhuhur bersama... tapi aku yakin, suatu saat nanti kita akan melangkah menuju pelaminan untuk beribadah mengarungi bahtera rumah tangga untuk selama nya." Do'a Dion dalam hati.
*****
Sementara itu di rumah utama, semua penghuni nya saat ini tengah berkumpul di ruang makan untuk santap siang bersama. Mommy Billa baru saja pulang dari butik bersama bunda Fatima, oma Sekar, oma Carla dan mami Nina, saat mendapatkan laporan dari Kevin bahwa Malik dan Malika sudah pulang dari sekolah dan saat ini sedang ikut teman-teman nya untuk membagikan undangan.
Dan mommy Billa menanggapi nya hanya dengan mengangguk, "iya, enggak apa-apa bang," mommy Billa nampak santai.
Mommy Billa kemudian mengambilkan makanan untuk daddy Rehan, setelah oma Sekar dan bunda Fatima mengambilkan makanan untuk suami masing-masing, "dad, mau lauk sayur?" Tawar mommy Billa.
Daddy Rehan mengangguk, "ya, apa aja mom.. asalkan mommy yang mengambilkan, pasti akan daddy makan," balas daddy Rehan dengan tersenyum manis.
"Hallah,, masih suka ngegombal aja lu Rey, ingat umur... menantu udah banyak juga," cibir bunda Fatima.
"Baru satu kak,," protes mommy Billa, seraya tersenyum.
"Biarin,, emang nya bang Yusuf enggak gitu? Lebih parah bang Yusuf kali kak, dari pada aku," ucap daddy Rehan, melirik abang nya.
Sedang kan Kevin melirik sang istri, dan tersenyum penuh arti.. "baby,, apa kamu juga senang jika aku perlakukan seperti itu?"
Salma mengangguk dan tersipu malu..
"Oh ya bang, dik Icha dan dik Malik satu mobil sama siapa?" Tanya mommy Billa, sebelum diri nya memulai makan.
"Dik Malik dan dik Icha terpisah mom, mereka tidak satu mobil. Kata bang Zaki, dik Malik bersama bang Zaki,, dan dik Icha, bersama Rahman," jawab Kevin seperti yang dia ketahui dari Zaki.
Mommy Billa dibuat terkejut, saat mengetahui bahwa putri ketiga nya pergi hanya berduaan dengan seorang laki-laki. "Jadi dik Malik satu mobil sama bang Zaki bang? Dan dik Icha, hanya berdua dengan bang Rahman? Kenapa abang enggak melarang,, dik Icha kan masih labil bang?" Mommy Billa nampak sangat khawatir.
"Maaf mom, Kevin enggak tahu kalau adik-adik pulang lebih awal dan kemudian ikut pergi bersama teman-teman Kevin," balas Kevin merasa bersalah.
Untuk beberapa saat, mommy Billa masih terdiam. Makanan di piring nya, belum di sentuh sama sekali. Pada hal yang lain sudah mulai menikmati makanan mereka masing-masing.
"Mom, sudah,, Icha enggak akan kenapa-napa. Daddy percaya, Rahman anak yang baik," daddy Rehan yang sengaja pulang untuk makan siang bersama kedua orang tuanya, mencoba menenangkan mommy Billa. "Di makan gih, nanti keburu dingin," lanjut daddy Rehan dengan lembut.
Mommy Billa menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. Dan sesaat kemudian nampak mommy dari Kevin itu mengangguk-angguk, "ya, daddy benar. Bang Rahman pasti bisa menjaga putri kita dengan baik," lirih mommy Billa.
"Abang,, maaf kan mommy ya, tadi mommy benar-benar khawatir," mommy Billa, menatap lembut sang putra.
Kevin tersenyum hangat, "enggak apa-apa mom, Kevin senang mommy khawatir seperti ini sama adik-adik. Kevin jadi ingat, ketika Kevin pulang terlambat dan lupa enggak kasih kabar sama mommy,,, sudah gitu ponsel Kevin kehabisan daya lagi, dan daddy yang saat itu menjemput Kevin bilang kalau mommy sangat panik."
"Pasti saat itu mommy juga seperti ini kan? Sampai enggak doyan makan?" Kevin menatap sang mommy dengan hangat.
Mommy Billa tersenyum, "itu karena mommy sayang sama kalian," balas mommy Billa.
"Papi Vincent yang sedari tadi memperhatikan obrolan keluarga daddy Rehan merasa sangat bersalah, " harus nya papi yang memperhatikan mu dan mengkhawatirkan mu son, dan bukan nya bang Rehan dan istri nya," gumam papi Vincent dalam hati.
"Maaf kan aku Key,, maaf... Aku enggak bisa menjadi kepala keluarga, seperti yang pernah kita angan kan bersama, hingga kamu harus pergi di usia yang masih sangat muda.. dan dalam keadaan yang sangat memprihatinkan," papi Vincent nampak sangat menyesal, dia telah kehilangan kesempatan untuk menemani mommy Keyla saat tengah mengandung Kevin, dan dia juga kehilangan
momen penting tumbuh kembang putra nya.
Mami Nina yang mengamati sang suami, mengusap paha sang suami dan berbisik, "enggak perlu larut dalam penyesalan pi, yang penting papi harus tunjukkan kesungguhan papi.. bahwa papi benar-benar menyesal dan ingin menebus semua nya," mami Nina seakan tahu, apa yang dipikirkan sang suami.
Papi Vincent mengangguk, "iya, makasih ya mi.. udah ngedukung papi selama ini," lirih papi Vincent, seraya menggenggam tangan mami Nina.
to be continue,,,