
Dini hari di rumah sakit bersalin, tepat nya di ruang tunggu.. nampak keluarga besar Antonio sedang duduk dengan gelisah, menunggu kabar dari ruang persalinan. Dimana tante Jihan yang tadi langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat karena ketuban nya telah pecah, masih di tangani oleh dokter.
Om Ilham dengan setia menemani sang istri, sedari masuk kedalam ruangan tersebut satu jam yang lalu.
Dan tangis bayi perempuan yang baru saja lahir melengking, memenuhi ruangan khusus bersalin itu. Om Ilham terlihat begitu lega mendengar nya, dan bungsu putra kakek Ilyas dan nenek Lin itu langsung memeluk istri nya.
Keluarga Antonio yang berada di luar ruangan, yang bisa mendengar jerit tangis bayi tersebut tersenyum lega. Kakek Ilyas langsung memeluk sang istri, "Alhamdulillah,, bertambah satu lagi cucu kita bu," lirih kakek Ilyas.
Mommy Billa, tante Nisa dan oma Susan yang di dampingi suami masing-masing pun merasa lega. Wajah-wajah lelah itu kini sedikit berseri, mendengar suara tangis anggota keluarga mereka yang baru.
Memang hanya keluarga inti Antonio yang ikut ke rumah sakit menemani om Ilham dan tante Jihan, sedangkan bunda Fatima beserta ayah Yusuf dan tante Lusi serta om Devan, yang tadi nya juga hendak ikut,,, diminta mommy Billa untuk menunggu di rumah saja, pasal nya di hunian tersebut masih ada keluarga besar Salma yang menginap.
Terlihat seorang dokter keluar dari ruang bersalin, yang diikuti oleh dua orang perawat. Nenek Lin dan kakek Ilyas langsung menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana cucu kami dok? Apa kami bisa masuk ke dalam?" Tanya nenek Lin nampak tidak sabar.
Dokter cantik itu tersenyum dan kemudian mengangguk, "Alhamdulillah,, cucu perempuan bapak dan ibu lahir dengan selamat dan sempurna," balas dokter tersebut, yang dapat di dengar jelas oleh semua yang berada di ruang tunggu tersebut.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur kedua orang tua om Ilham itu bersamaan.
"Silahkan bapak dan ibu boleh masuk tapi hanya sebentar dan bergantian ya, kecuali besok pagi kalau bu Jihan sudah dipindahkan ke ruang perawatan.. bapak dan ibu bebas menemani," jelas dokter tersebut lagi, seraya tersenyum hangat.
"Baik dok, terimakasih," ucap nenek Lin seraya tersenyum penuh semangat, dan nenek Lin serta kakek Ilyas segera masuk kedalam ruang persalinan tersebut setelah dokter dan dua orang perawat berlalu dari hadapan nya.
*****
Keesokan hari nya, rumah megah hunian keluarga Antonio itu kembali disibukkan dengan penyambutan untuk keluarga baru om Ilham.
Keluarga besar Salma yang niat nya mau pulang lebih awal, akhir nya menunda hingga nanti sore. Begitupun dengan keluarga Alamsyah, ayah Yusuf dan papi Vincent pun menunda kepulangan nya ke negara masing-masing karena ingin ikut menyambut kehadiran anggota baru di keluarga besar Antonio.
Om Rahmat beserta tante Saskia dan putri centil nya, juga ikut menunda kepulangan,, dan turut serta dalam kemeriahan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga sahabat nya itu, yaitu keluarga besar mommy Billa.
Kakek Ilyas dan nenek Lin yang pulang bersama adik serta kedua putri dan menantu nya menjelang shubuh tadi, nampak sangat antusias untuk menyambut kedatangan cucu dari putra bungsu nya. Segala persiapan untuk bayi, sudah di sediakan dan di tata dengan rapi di paviliun milik om Ilham.
Kevin dan teman-teman cowok nya, dengan sigap membantu penataan segala sesuatu untuk bayi tersebut. Ada baby bather, changing tableĀ , bedding box, hingga bantal khusus untuk ibu menyusui, semua nya di tata dengan apik.
Tante Jihan dan bayi nya memang sudah diperbolehkan langsung pulang pagi ini, kerena kondisi tante Jihan dan bayi nya sangat sehat. Dan nenek Lin meminta pada menantu bungsu nya agar bersedia untuk pulang ke hunian Antonio untuk sementara waktu, minimal hingga tante Jihan sudah cukup pulih dan bisa melakukan aktifitas seperti biasa nya kembali.
Tante Jihan dijemput dari rumah sakit oleh papa dan mama nya, yang baru shubuh tadi di kabari om Ilham kalau istri nya sudah melahirkan. Dan pak Yani beserta sang istri, langsung meluncur ke rumah sakit saat itu juga.
Kini mereke tengah dalam perjalanan pulang ke hunian Antonio, sepanjang perjalanan.. om Ilham yang duduk di samping sang istri serta memangku bayi nya tak henti menyunggingkan senyuman, karena keinginan nya untuk memiliki anak perempuan akhir nya terkabul.
Tak berapa lama, mereka telah tiba di hunian megah milik keluarga besar om Ilham. Pak Yani, papa mertua nya om Ilham langsung memarkir mobil nya diantara mobil-mobil mewah yang lain.
"Kok, udah banyak tamu Ham?" Tanya pak Yani, begitu melihat banyak nya deretan mobil yang berjajar di tempat parkir.
"Oh, iya pah. Kemarin kan lagi acara tujuh bulan istri nya Kevin, dan diadakan nya di sini. Jadi keluarga bang Rehan dan keluarga besan nya juga masih menginap di sini," balas om Ilham.
Setelah terparkir dengan benar, pak Yani segera turun dan langsung membantu membukakan pintu untuk putri nya. "Dik Jihan biar Ilham gendong saja pa," ucap om Ilham saat pak Yani hendak memapah tante Jihan, dan om Ilham kemudian memberikan bayi nya pada sang mama mertua.
Pak Yani dan istri nya segera berjalan menuju rumah super besar tersebut, yang diikuti oleh om Ilham yang membopong sang istri. Di halaman, kedatangan mereka telah di sambut oleh keluarga besar om Ilham.
Kakek Ilyas dan nenek Lin segera menuntun besan nya menuju ruang keluarga, di sana opa Sultan beserta keluarga, juga opa Arman dan keluarga nya langsung berdiri menyambut kehadiran papa dan mama mertua om Ilham.
"Dik Yani, apa kabar?" Tanya papa Sultan, seraya memeluk adik dari sahabat nya itu.
"Alhamdulillah,, kami sekeluarga baik bang," balas pak Yani seraya melerai pelukan nya, "senang lihat abang sehat seperti ini," lanjut pak Yani dengan tersenyum bahagia menatap opa Sultan, papa mertua om Ilham yang sekaligus om dari om Alex itu memang tahu persis riwayat penyakit opa Sultan kala itu.
Pak Yani dan istri nya kemudian menyalami semua yang berada di sana, termasuk daddy Rehan dan mommy Billa. "Nak Rehan, Nabila,,, gak nyangka ya, sebentar lagi kalian juga akan memiliki cucu," ucap pak Yani, setelah melepaskan pelukan nya dengan daddy Rehan.
"Iya om, Alhamdulillah,,," balas mommy Billa dengan hormat, bagi mommy Billa pak Yani tetap lah atasan nya yang baik yang harus dihormati... meski pak Yani tak suka mommy Billa memperlakukan nya seperti itu.
"Oh, ada mas Rahmat dan mbak Saskia juga rupa nya?" Pak Yani terkejut, saat orang terakhir yang disalami ternyata orang yang sekantor dengan nya kala diri nya belum pensiun.
"Ya, om.. mas Rahmat kan calon besan nya mbak Billa," balas om Alex, yang asal celetuk. Hingga membuat geng nya yang tahu cerita Tasya dan Malik terkekeh pelan, tapi berbeda dengan ekspresi daddy Rehan yang langsung menatap tajam kearah asisten pribadi nya itu.
Om Alex pura-pura menyibukkan diri,
"Oh ya, bagus lah kalau begitu.. persahabatan orang tua nya jadi semakin erat terjalin, bukan kah begitu nak Rehan? mas Rahmat?"
"Kamu benar dik, seperti aku dan sahabat ku Arman. Ternyata cucu kami berjodoh.. sehingga jarak Makassar Jakarta, kini terasa sangat dekat," ucap opa Sultan, seraya menunjuk opa Arman.
Pak Yani dan opa Arman mengangguk-angguk.
Tapi Daddy Rehan tak menanggapi nya, sedangkan om Rahmat nampak salah tingkah.
Mengetahui suasana yang kurang mengenakkan, mommy Billa pun menjawab. "Memang benar om, tapi mereka masih kecil kok.. biar kan saja mereka berteman dahulu. Jika memang berjodoh ya Alhamdulillah,,, namun jika tidak, semoga persahabatan kami tidak jadi renggang karena nya," mommy Billa melirik tante Saskia, dan tersenyum manis.
Dan perkataan mommy Billa di setujui oleh semua nya dengan mengangguk.
"Pak Yani, ayo silahkan duduk," pak Rahmat menggeser duduk nya, dan memberikan tempat nya yang tadi kepada rekan kerja nya di perusahaan garmen kala itu.
Dan suasana hangat kembali tercipta, obrolan ringan dari para pria dewasa dengan diselingi canda tawa memenuhi ruang keluarga yang sangat luas itu.
Sedangkan para wanita dewasa, mulai dari bunda Fatima, mami Nina, tante Saskia dan keempat istri geng tampan, sibuk memperebutkan bayi mungil perempuan putri kedua om Ilham dan tante Jihan tersebut... masing-masing dari mereka ingin memangku, dan merasakan kembali memiliki bayi kecil.
"Jangan pada berebut napa?! Kalau mau, mbak mbak yang cantik kan bisa bikin sendiri?!" Seru om Ilham, yang kesal karena putri nya di oper ke sana kemari seperti piala bergilir. "Putri ku bukan piala mbak,,," lanjut nya dengan cemberut, hingga membuat kakak kakak nya terkekeh dan semakin menggoda om Ilham dengan sengaja membuat bayi nya menangis.
"Mbak Nisa,,, anakku di apain?!"
to be continue,,,