
Rahman dan Malika mulai menjalani hari sebagai sepasang suami istri, dan pagi ini kesibukan Malika pun bertambah. Jika biasa nya ketika hendak pergi ke kampus, semua makanan dan jus buah kesukaan nya sudah tersedia di meja makan.. maka pagi ini, Malika harus membuat nya sendiri dan juga harus membuatkan sarapan untuk sang suami.
Beruntung, Rahman tidak pilih-pilih dalam hal makanan... "apa aja yank, sandwich juga boleh. Di almari pendingin semua bahan nya sudah ada," balas Rahman, tatkala sang istri menawari nya sarapan.
Sebenar nya untuk menu sarapan, Rahman terbiasa memesan di cafe. Meski cafe belum buka, tapi khusus untuk melayani penghuni lantai empat dan terutama nya penghuni lantai lima.. Dika siap melayani kapan pun mereka menginginkan.
Tapi Malika menolak, karena ingin membuat kan sarapan spesial untuk sang suami. "Kalau mau pesan, lain kali aja ya hubby. Icha lagi pengin belajar untuk bisa menjadi istri yang baik seperti mommy, yang selalu menyiapkan segala keperluan dan juga sarapan untuk daddy dan juga untuk kami semua... anak-anak nya," kilah Malika, sambil bersembunyi di dada sang suami.
"Duh, beruntung nya abang. Punya istri yang cantik, sholehah, pengertian lagi," puji Rahman seraya memeluk Malika.
Sesaat kedua nya kemudian tenggelam dalam kemesraan yang tercipta pagi ini, siapa lagi yang memulai kalau bukan Malika?
Setelah beberapa saat, Malika segera melepaskan penyatuan nya dan tersenyum manis menatap sang suami.
"Pagi yang manis, semanis bibir kamu yank," lirih Rahman seraya mengusap lembut bibir sang istri dengan ibu jari tangan kanan nya.
"Oke hubby, wait a minute.. chef Malika akan segera menyiapkan sarapan untuk suami tersayang," ucap Malika seraya mengerling menggoda sang suami.
"Minum nya apa hubby?" Tanya Malika, yang sekarang menganti panggilan nya dengan hubby.
"Kopi hitam saja yank, gula nya dikit. Ayo, abang temani," Rahman kemudian menggandeng tangan Malika, untuk bersama-sama menuju pantry yang berada di luar kamar.
"Wah, pengantin baru udah bangun,,," Goda Devi, yang juga tengah membuatkan kopi untuk sang suami dan juga untuk Dion. "Mau bikin kopi dik?" Tanya Devi kemudian.
"Iya kak," balas Malika seraya tersenyum.
"Mau abang bantuin atau bisa bikin sendiri yank?" Bisik Rahman.
"Icha bikin sendiri aja bang, silahkan abang duduk di sana," tolak Malika, seraya menunjuk ke arah meja makan.
Rahman pun kemudian duduk di meja makan, di samping Dion yang sedang asyik dengan ponsel nya. Dion hanya sekilas tersenyum pada Rahman, dan kemudian kembali asyik dengan dunia nya.
"Alhamdulillah,,, udah enggak ngerecokin istri gue lagi sekarang lu bro," ucap Bayu, yang baru muncul dari kamar nya. "Enggak kayak itu tuh," lanjut Bayu, sambil menunjuk Dion.
"Paling cuma buatin kopi doang, pakai protes segala lu Bay," balas Rahman.
"Tau tuh si Bayu!" Gerutu Dion, seolah tahu bahwa yang di maksud Bayu adalah diri nya... meski fokus Dion masih tertuju pada benda pipih yang di pegang nya.
"Sibuk apaan sih bang, teman nya yang lain udah pada duduk masih aja asyik sama ponsel nya?" Tanya Devi, seraya menyimpan kopi milik Dion tepat di hadapan abang sepupu nya itu.
"Palingan juga lagi kangen-kangenan sama yayang Fira, nun jauh di mato..." sahut Bayu.
"Sotoy lu," balas Dion, dan kemudian menyimpan ponsel nya di atas meja.
"Ini kopi nya berani banget ya dik, muncul sendirian," ucap Dion seraya mengangkat cangkir kopi nya dan menunjukkan kepada Devi.
Devi mengernyitkan dahi, "maksud nya?"
Rahman yang paham maksud Dion terkekeh, "suami nya pelit, jangan minta macam-macam," olok Rahman seraya melirik Bayu.
"Ya, lu benar bro.. pelit banget dia, parah!" Timpal Dion, yang kemudian ikut terkekeh.
Bayu pun mengernyit, tidak paham dengan maksud dari pembicaraan Dion dan juga Rahman.
Namun sedetik kemudian Devi ikut terkekeh, "lah, abang kan enggak minta di buat kan sesuatu? Ya, Devi pikir abang buru-buru mau langsung berangkat kan?" Devi yang sudah mengerti arah pembicaraan Dion pun membela diri, "abang mau di buatin apa?" Lanjut Devi, bertanya pada Dion.
Belum sempat Dion menjawab, Malika datang dengan membawa sepiring makanan yang masih mengepul dan menguarkan aroma menggoda.
"Tarra,, sandwich ala chef Malika siap dinikmati," Malika meletakkan secangkir kopi hitam dengan sedikit gula sesuai request sang suami, tepat di hadapan Rahman. Jus buah untuk diri nya di hadapan kursi nya sendiri dan juga sepiring penuh sandwich dengan uap yang masih mengepul dan menguarkan aroma lezat nan menggoda tersebut, tepat di tengah meja.
"Silahkan abang-abang, kak Devi.. kita sarapan sama-sama," tawar Malika, dan kemudian istri cantik Rahman itu mengambilkan sandwich untuk sang suami yang di letakkan pada piring kecil dan menyimpan nya di samping kopi Rahman.
"Ayo di makan hubby," bisik Malika, sambil menyeruput jus buah kesukaan nya.
"Wah,, benar-benar adik yang manis kamu Cha," puji Dion dengan tulus, sambil mencomot sandwich dan segera melahap nya. "Hmm,, enak banget dik Icha.. resep cinta dari mommy pasti?" Puji Dion di sela-sela makan nya yang rakus, seperti seminggu enggak kemasukan makanan.
"Yang benar? Nyobain Ah,," Bayu pun segera mengambil sepotong sandwich dan memasukkan nya ke dalam mulut, "bener-bener. Ini nih garing di luar.. lumer di dalam," puji Bayu, yang juga makan dengan lahap.
"Bang, pelan-pelan makan nya. Di kunyah dulu tiga puluh dua kali," Devi memperingatkan abang nya dan juga suami nya.
"Ah,, kelamaan," sahut Dion dan Bayu bersamaan.
Malika hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah absurd teman-teman baik dari suami nya itu.
Sedangkan Devi berdecak kesal.
"Ayo kak Devi, di makan. Icha sengaja bikin banyak tadi," tawar Malika.
"Iya dik, makasih. Tadi nya mau pesan nasgor sama bang Dika, tapi udah ada ini.. ya Alhamdulillah, jadi irit," balas Devi seraya tergelak, "sering-sering ya dik Icha," lanjut Devi, tapi seraya melirik Rahman.. yang langsung melotot kepada nya, hingga Devi semakin tergelak.
"Yaelah bro,, santai aja, enggak usah melotot gitu?!" Cibir Devi, "Ya kali,, gue berani nyuruh-nyuruh princess nya abang Rahman," lanjut Devi, masih dengan tawa nya.
Malika hanya tersenyum.
"Hubby,, mau Icha suapin?" Tawar Malika, dengan berbisik. Tatkala mendapati, suami nya hanya memandangi teman-teman nya yang sedang makan sandwich buatan sang istri.
Rahman langsung mengangguk dengan antusias, "mau banget yank," bisik Rahman.
Dan dengan telaten, Malika menyuapi sang suami dengan sandwich buatan tangan nya sendiri.. yang di buat dengan penuh cinta.
Rahman tak berpangku tangan, suami Malika itu pun gantian menyuapi sang istri. "Yank, kamu juga harus makan yang banyak. Ayo a,,," dan dengan senang hati, Malika pun membuka mulut nya untuk menerima suapan dari sang suami.
Dion, Bayu dan Devi yang masih asyik makan sandwich tak menyadari ada keromantisan tercipta di meja makan... hingga beberapa saat lama nya.
"Busyet,,! Ada yang pamer kemesraan rupa nya?" Olok Bayu, yang pertama menyadari aksi suap-suapan antara Malika dan Rahman.
"Bukan pamer, tapi memang begini seharusnya kan antara suami istri? Saling memberi dan saling menerima," balas Rahman dengan santai, sambil meneruskan menyuapi sang istri. Dan Malika pun kembali menyuapi Rahman.
Malika mengusap dengan ibu jari nya, lelehan keju yang menetes di sisi luar bibir sang suami. "Keju nya belepotan kemana-mana," lirih Malika sambil tersenyum.
"Uhuk,, uhuk,," Bayu pura-pura batuk, "lu nggak kasihan apa, sama yang masih jomblo?!" Protes Bayu, melirik Dion yang telah kembali sibuk dengan ponsel nya.
Dion hanya sekilas tersenyum, dan tak menanggapi olok-olok Bayu terhadap diri nya.
Devi pun acuh, dan lebih memilih menghabiskan sandwich sambil memainkan ponsel.. mengikuti jejak abang sepupu nya.
Tanpa Malika duga, Rahman menyapu lembut bibir sang istri dengan lidah nya ketika melihat bibir sang istri belepotan terkena lelehan keju. "Belepotan yank," bisik Rahman, usai dengan aksi nya yang membuat pipi Malika merona merah.
Sedangkan Bayu yang melihat nya menggeram, "eh, malah bikin adegan live di mari!" Protes Bayu, yang langsung beranjak.
Dion yang sempat melihat sekilas lewat ekor mata nya hanya bisa membuang nafas nya dengan kasar, "sabar,, sabar,, minggu depan lu juga bisa melakukan nya dengan Fira tersayang," bisik Dion dalam hati.
"Ayo honey, kita berangkat sekarang. Bentar lagi di sini akan panas membara..." Ajak Bayu.
Dion pun ikut beranjak, karena diri nya memang harus segera ke kantor untuk melimpahkan semua pekerjaan nya kepada sang asisten sebelum Dion mengambil cuti panjang untuk pernikahan nya.
"Bro, pastikan pintu utama lu kunci terlebih dahulu.. sebelum lu explore seluruh ruangan ini untuk pengambilan berbagai macam gaya," pesan Dion dan kemudian segera berlalu meninggalkan meja makan.
"Jangan lupa, di abadikan," imbuh Bayu, yang langsung menyeret pelan lengan sang istri untuk segera keluar dari bangunan lantai empat, menuju lantai tiga untuk bekerja.
Devi yang tak mengerti apa-apa, karena sedari tadi fokus pada layar ponsel nya hanya menurut dan mengikuti langkah sang suami.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,