All About KEVIN

All About KEVIN
Lepas Sarung



Makan malam yang hangat ala keluarga besar geng tampan itu pun di warnai canda dan tawa, dari balita, anak-anak, para orang dewasa hingga kakek Ilyas dan nenek Lin serta nenek bibi atau bibi nya Susan,, semua berbahagia.


Suara imut dan lucu milik Maira sangat mendominasi, sesekali ditimpali ocehan lucu dari Iqbal yang tidak rela kakak sepupu nya itu dijahili sama abang nya, Mirza. "Bang Mirza jangan nakal sama kak Maira ya, nanti Iqbal sentil telinga nya," ancam nya dengan nada lucu pada Mirza, yang memang suka jahil pada adik nya,,, terutama Maira, karena ceriwis.


"Emang Iqbal bisa nyentil abang?" Ledek Mirza melirik Iqbal sambil menjulurkan lidah nya, sesaat setelah Mirza menelan makanan nya yang terakhir.


"Bisa, nanti Iqbal minta bantuan ayah ganteng." Balas Mirza seraya menatap ayah nya, yang lagi manja sama sang istri minta di suapin. Sedangkan Iqbal juga sudah menyelesaikan makan nya, yang di suapi sang ayah.


"Ya,, kok minta bantuan ayah sih.. kalau gitu bang Mirza juga akan minta bantuan sama daddy," balas Mirza, masih menggoda adik sepupu nya itu.


"Jangan dong bang, nanti ayah ganteng nya Iqbal kalah.." Iqbal memanyunkan bibir nya, "ayah kan takut kalau sama daddy Rehan, takut enggak di kasih uang yang banyak katanya kalau berani sama daddy Rehan... maka nya ayah selalu nurut sama daddy Rehan, ya kan yah?" Lanjut bocah itu dengan polos.


Ilham tersenyum kecut, dan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Benar begitu dik? Jadi selama ini kamu nurut, karena uang?" Tanya mommy Billa menyelidik.


Sedangkan daddy Rehan menatap tajam adik ipar nya itu.


"Enggak, enggak gitu juga mbak Billa ku sayang... Ilham cuma asal aja bicara sama Iqbal, habis nya yang ditanyain itu aneh-aneh. Kadang Ilham dan Jihan sampai bingung mau kasih penjelasan bagaimana, ya kan bun?" Ilham meminta dukungan sang istri, yang duduk di sebelah nya.


Bunda nya Iqbal yang cantik dan senantiasa berpakaian modis itu mengangguk, mengiyakan ucapan sang suami.


"Iqbal itu mirip banget sama Kevin waktu kecil nya mbak, banyak nanya.. kepo dan susah di bohongi, seperti Mirza juga," lanjut Ilham menjelaskan, seraya melirik Kevin.


Kevin mengernyit, "masak sih om?" Tanya Kevin sambil mencuci tangan nya, suami dari Salma itu baru saja menyelesaikan makan nya.


Sedangkan nenek Lin diam-diam telah membawa anak-anak menuju lantai dua di rumah utama, bersama kakek Ilyas dan nenek bibi. Anak-anak akan menghabiskan malam di sana, bermain bersama nenek dan kakek nya.


"Kepo nya super,," timpal Alex sambil tersenyum, mengingat betapa sulit nya memberikan penjelasan pada Kevin saat itu.


"Apalagi saat bang Rehan sama mbak Billa bulan madu.. harus pandai-pandai kami ngasih pemahaman, biar dia enggak rewel dan minta nyusul? Apa jadi nya coba, kalau bulan madu mbak sama abang saat itu di ganggu sama tuh bocil?! Bisa-bisa bang Alex di pecat jadi asisten, karena enggak becus mengatasi bocil kan?" Jelas Ilham panjang lebar seraya melirik Kevin.


Remaja tampan yang sedang dibicarakan itu, hanya senyum-senyum.


"Lu harus bersyukur bocil.. bulan madu kalian enggak ada yang ganggu," ucap Ilham kepada Kevin.


"Siapa yang bulan madu om?" Kevin mengernyit.


"Yah, anggap saja kalian di sini ini bulan madu. Udah berhari-hari puasa kan? Nah, sekarang saat nya berbuka," balas Ilham tersenyum menggoda.


"Siapa bilang enggak ada yang ganggu? Adik-adik Kevin sih emang enggak,, tapi adik bungsu nya mommy gangguin mulu deh om," protes Kevin melirik tajam om ganteng nya.


"Ganggu gimana emang nya bang?" Tanya sang mommy curiga dan melirik adik bungsu nya.


"Tadi sore mom, Kevin kan lagi enak-enak pelukan sama Salma,, eh, di telpon sama om Ilham. Bilang nya sudah pada ngumpul semua dan Kevin terlambat, pada hal daddy sama mommy lebih terlambat dari kami kan?" Balas Kevin polos.


Nabila yang tadi sore di kerjain habis-habisan sama sang suami, tersipu malu.


"Tadi sore, kamu pengin nambah,,, terus enggak jadi, begitu kah bang?" Tanya Devan vulgar.


"Yah, begitu lah om.." balas Kevin jujur, seraya. menggaruk kepala nya yang tidak gatal dan tersenyum kecut.


Salma mencubit paha sang suami, merasa gemas dengan jawaban polos Kevin yang membuat nya merasa malu.


Ilham tergelak, dan yang lain pun tersenyum. "Maaf bang, om sengaja," ucap Ilham tanpa berdosa. "Habis nya, dulu waktu om malam pertama.. abang kan, yang nyuruh Mirza untuk teriak-teriak di depan kamar om? Yang pura-pura minta tolong dibuat kan pesawat kertas, sama bulek Jihan?" Lanjut Ilham mengingat malam pertama nya yang terganggu dengan ulah anak-anak nya daddy Rehan.


"Ide nya dari om Alex dan opa Vian om, Kevin kan hanya melaksanakan titah orang tua." Balas Kevin, membuka kartu om Alex dan opa Alvian.


"Oh,, balas dendam rupanya bang Alex dan om Vian ya?" Ucap Ilham menatap abang ipar dan om nya bergantian.


Sedangkan om Alex dan opa Alvian terkekeh.


"Ih,, bang Alex jahat banget sih sama Jihan," Jihan mengerucutkan bibir nya, ngambek pada abang sepupu nya itu.


"Lah kan udah abang ganti sama tiket bulan madu ke Maldives?"


"Enggak ada, enggak ada nambah-nambah.. sudah cukup!" Tolak om Alex.


"Emang nya mau kemana sih dik?" Tanya tante Nisa.


"Dubai kak," balas Jihan dengan tatapan memohon, pada istri dari abang sepupu yang sangat menyayangi nya itu. Ya, tante Nisa sangat menyayangi tante Jihan dan selalu menuruti keinginan istri dari adik nya itu. Selagi yang diminta tante Jihan adalah sesuatu yang positif dan tante Nisa bisa mengabulkan nya.


"Ya udah si mas.. kasih aja, sekalian mereka baby moon kan?" Bujuk tante Nisa pada sang suami. Tante Nisa memang telah tahu, kalau Jihan sedang hamil anak kedua.


"Baby moon? Siapa yang hamil?" Tanya om Alex menuntut jawab.


"Ya bunda Jihan lah bang Alex masak Ilham?!" Balas Ilham mewakili tante Nisa.


"Kok, kamu enggak bilang dik.. kalau tahu Jihan hamil?" Protes om Alex pada tante Nisa dan sesaat kemudian menatap om Ilham.


Yang lain pun nampak terkejut, pasal nya yang diberitahu om Ilham dan tante Jihan baru ibu nya dan kedua kakak perempuan nya.


"Lah,, ini kan diberi tahu," balas om Ilham dan tante Nisa bersamaan.


"Kamu juga sudah tahu yang?" Tanya daddy Rehan pada sang istri, yang nampak tidak terkejut dengan berita kehamilan tante Jihan.


Mommy Billa mengangguk dan tersenyum.


Daddy Rehan hanya manggut-manggut.


"Wah, selamat ya dik,, atas kehamilan kedua nya," ucap oma Susan dan tante Lusi kepada tante Jihan.


"Makasih tante,, makasih kak Lusi," balas tante Jihan menatap tante nya dan Lusi bergantian.


"Selamat ya tante," ucap Salma dan Kevin.


"Makasih abang, makasih kak Salma.. moga kak Salma segera menyusul yah," balas Jihan tersenyum hangat pada kedua remaja tersebut.


"Eh,, jangan dulu dong,," protes mommy Billa, "biar mereka menikmati dulu masa remaja nya." Lanjut mommy nya Kevin itu dengan bijak.


Daddy Rehan tersenyum dan setuju dengan perkataan sang istri, "ya, biar mereka puas-puasin dulu pacaran nya," timpal daddy Rehan.


"Harus main aman terus dong bang...?!" Ucap opa Alvian tersenyum menggoda Kevin.


"Begitu lah opa," balas Kevin singkat.


"Pada hal lebih asyik tanpa sarung loh bang,," timpal om Ilham, memanas-manasi Kevin.


"Benar bang,, sensasi nya itu beda," om Devan ikut menimpali.


"Lebih nikmat pokok nya bang," om Alex semakin menegaskan.


Kevin mengernyit, jiwa penasaran nya meronta. Remaja itu tersenyum seringai melirik sang istri yang tertunduk malu. Salma memang selalu malu, jika om om nya membicarakan hal-hal pribadi seperti itu.


Sedangkan istri-istri mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kalian ini... jangan bahas hal yang aneh-aneh dan meracuni pikiran anak gue!" Seru daddy Rehan, menatap sahabat-sahabat nya itu bergantian.


"Dik, jadi pengin ke Dubai enggak?" Tanya daddy Rehan menatap adik bungsu istri nya.


"Mau,, mau,, bang," balas tante Jihan antusias.


"Kalian berangkat lah bersama Kevin dan Salma, usai mereka ujian.." ucap daddy Rehan, "abang, kalau mau coba lepas sarung.. nanti saja, saat kalian honeymoon ke Dubai," lanjut daddy Rehan, seolah tahu apa yang dipikirkan sang putra.


"Sabar ya suami ku,,, akan ada saat yang tepat untuk lepas sarung," bisik Salma di telinga sang suami, sambil tersenyum menggoda.


to be continue,,,