
Dion segera memarkir mobil nya, dan setelah pemuda tampan itu turun.. dia segera berlari kecil memutari depan mobil untuk membukakan pintu buat sang bidadari.
Kedua nya kemudian berjalan memasuki lobi hotel dan menuju lift, setelah pintu lift terbuka.. Fira memencet angka tertinggi untuk menuju resto yang di maksud.
Begitu keluar dari lift, mereka berdua di suguhi pemandangan ibukota di malam hari dengan lampu yang berwarna-warni menghiasi tiap sudut kota. Gedung-gedung menjulang, serta kendaraan yang padat merayap di bawah sana yang terlihat sangat kecil.
Ya, tempat yang mereka tuju adalah Rooftop Cafe & Restoran.
Mereka berdua berjalan bersisihan dengan penuh percaya diri, Dion mengenakan stelan jas semi formal yang terlihat macho ala artis Hollywood. Sedangkan Fira mengenakan dress panjang berwarna merah maroon, lengkap dengan balutan pasmina di kepala nya yang membuat gadis itu terlihat sangat anggun.
Dari meja paling ujung, nampak asisten nya Cakra melambaikan tangan kepada Fira. Sedangkan Cakra, terlihat duduk membelakangi mereka seraya memainkan ponsel.
Asisten nya Cakra tersebut nampak bengong tatkala jarak Dion dan Fira sudah sangat dekat,,, "Selamat malam nona Fira, selamat malam tuan muda," sapa nya dengan berdiri dan terlihat gugup, asisten tersebut melirik bos nya yang nampak jual mahal tak mau buru-buru melihat kearah Fira yang baru datang.
Dion dan Fira tersenyum, "malam asisten Amri," Dion membalas sapaan asisten nya Cakra dengan ramah.
"Silahkan duduk tuan muda, nona," asisten Amri mempersilahkan Dion dan Fira untuk duduk bergabung bersama Cakra.
Dion dan Fira segera duduk santai, tanpa menyapa Cakra yang masih asyik dengan ponsel nya.
Asisten Amri menepuk pelan punggung atasan nya, "maaf bos, nona Fira dan tunangan nya sudah datang," ucap asisten Amri pelan.
Cakra hanya memberinya kode dengan tangan nya, agar tidak mengganggu nya terlebih dahulu.
"Maaf bos, tunangan nona Fira itu,, tuan muda,, em, itu bos, tuan muda,," Asisten Amri nampak bingung untuk mengungkapkan jati diri tunangan dari gadis gebetan sang bos.
Dion tersenyum pada asisten nya Cakra tersebut, "tak masalah asisten Amri, kami bisa menunggu jika memang tuan Cakra masih sangat sibuk," ucap Dion dengan tersenyum hangat pada asisten nya Cakra tersebut.
Dan mendengar suara Dion, Cakra langsung mengalihkan perhatian nya dari layar ponsel, beralih melihat pemuda yang merupakan tunangan Fira itu. "Tuan muda,, kok anda bisa datang bersama dik Fira?" Cakra mengernyit, menuntut jawab.
"Bang Dion calon suami saya mas Cakra, seperti yang saya katakan kemarin.. bahwa saya akan memperkenalkan calon suami saya kepada mas Cakra." Balas Fira dengan tegas, seraya melingkarkan tangan di lengan Dion.
Cakra tercenung mendengar penuturan Fira, dan sejurus kemudian pria dewasa itu tertawa nyaring.
Asisten Amri mengernyit kan dahi, tak mengerti dengan sikap bos nya. Sedangkan Dion dan Fira, saling melempar pandang dan saling mengedikkan bahu tak mengerti apa yang membuat Cakra terbahak seperti itu.
"Aku tahu sekarang dik, kenapa kamu lebih memilih tuan muda DH Putra Pratama dari pada aku." Cakra menatap Fira dengan tajam, sedangkan Fira bergeming.
"Hah... " Cakra membuang kasar nafas nya, "wanita dimana-mana sama, gila harta! Dan kamu dik Fira, yang tadi nya aku anggap berbeda dengan gadis-gadis lain tapi nyata nya sama saja!" Kesal Cakra yang mendapati kenyataan, bahwa ternyata tunangan Fira dari kalangan yang berada jauh di atas nya.
Dion nampak hendak menyahut, tapi buru-buru di cegah oleh Fira, "biarkan saja mas Cakra meluapkan energi negatif yang ada dalam diri nya, semoga setelah ini.. mas Cakra merasa lega, dan menjadi lebih baik," cegah Fira, seraya menepuk-nepuk punggung tangan Dion.
Asisten Amri yang mendengar perkataan Fira, mengangguk-angguk dan semakin kagum dengan kecantikan dan kebaikan hati Fira. "Pesona nona Fira memang luar biasa, pantas saja tuan muda Dion bertekuk lutut pada nya yang hanya gadis biasa," gumam nya dalam hati, seraya melirik Fira.
"Sekalian panggilkan Halim, aku akan memperkenalkan manager hotel disini kepada tuan Dion. Siapa tahu tuan Dion tertarik untuk menyelenggarakan pesta pernikahan nya nanti di sini, dan aku akan memberikan voucher member eksekutif ku kepada tuan Dion," lanjut Cakra dengan antusias.
Dion mengernyit, sedangkan Fira mengulum senyum.. ingin rasa nya Fira tertawa, tapi ini belum saat nya.
Dan asisten Amri segera memanggil waitress untuk memesan menu makan malam, dan segera menghubungi manager hotel tersebut yang merupakan teman akrab Cakra.
Seorang waitress menghampiri meja mereka, dan memberikan buku menu nya. Cakra menyebut beberapa makanan dengan nada ketus, terlihat jelas bahwa diri nya masih merasa kesal.
Cakra kemudian memberikan buku menu kepada Dion, "silahkan pesan kesukaan anda tuan Dion," ucap nya mencoba bersikap ramah, namun gagal dan jatuh nya malah terlihat kaku.
Dion pun menyebut kan menu makanan kesukaan nya, dan kemudian menoleh kearah Fira. "Neng, mau pesan yang mana?" Dion menunjukkan beberapa menu favorit Fira seperti yang dia tahu, tapi Fira menggeleng.
"Buatkan kami makanan terbaik yang biasa disajikan untuk keluarga," titah Fira pada waitress yang masih setia menanti tadi.
Sejenak waitress tersebut tertegun, tapi sedetik kemudian segera mengangguk hormat, setelah menyadari siapa yang berbicara pada nya. "Siap nona muda, akan segera kami siapkan," ucap nya dengan sopan, dan kemudian segera berlalu meninggalkan meja Fira.
Dion bertanya-tanya dalam hati, dengan maksud ucapan Fira tadi kepada waitress. Dion menatap Fira menuntut jawab, sedangkan Fira hanya tersenyum dan kemudian menunjuk logo hotel yang ada di buku menu yang tergeletak di meja.
"FaFa Suits Hotel," lirih Dion membaca tulisan tersebut.
Fira mengangguk, dan tepat disaat yang sama waitress datang membawa kan makanan spesial permintaan Fira.. yang diikuti oleh seorang pria dewasa berpakaian formal.
Cakra segera berdiri seraya merentangkan kedua tangan nya, hendak menyambut pria tersebut, "Halim.. gue,,," Cakra menggantung ucapan nya, karena pria yang dipanggil Halim justru menunduk hormat pada Fira.
"Selamat malam dan selamat datang nona muda, maaf.. kami tidak tahu kalau nona muda berkunjung ke resto, jadi kami tidak memberikan sambutan sebagaimana seharusnya," sapa Halim dengan sopan.
"Malam pak Halim, tak mengapa.. saya juga tidak sengaja kemari, teman saya mas Cakra yang mengundang kami untuk makan malam disini." Balas Fira dengan tersenyum hangat.
Mendengar percakapan Fira dan Halim, sahabat nya itu,, Cakra melongo, "nona muda? Halim,, manager itu begitu tunduk sama Fira? Apa maksud nya ini?" Cakra bermonolog dalam hati.
Sedangkan Dion menerka-nerka, "menu terbaik keluarga,,, FaFa Suits Hotel,,, nona muda,," Dion mencoba merangkai puzzle, dahi nya nampak berkerut dalam. Dan sedetik kemudian, Dion tersenyum. "Hotel perjuangan ayah Yusuf dalam mendapatkan bunda Fatima, seperti cerita yang pernah gue dengar," bisik Dion dalam hati.
"Oh, Cakra,, dia juga sahabat saya nona muda." Halim kemudian memeluk Cakra sekilas, yang nampak masih terbengong-bengong.
"Cakra, perkenalkan.. nona Fira ini, putri nya tuan Yusuf dan Nyonya Fatima pemilik hotel ini," terang Halim dengan jelas dan lugas, namun di telinga Cakra.. suara Halim seperti berdengung laksana bacaan ikhfa, terdengar samar dan tidak jelas.
Hingga Cakra harus menegaskan kembali pada Halim, bahwa diri nya tidak salah dengar. "Apa Lim? Siapa?" Tanya Cakra seperti orang bodoh, lutut nya terasa lemas dan tak mampu menopang bobot tubuh nya. Dan Cakra pun terduduk di kursi dengan wajah memucat, hingga membuat asisten Amri menjadi panik.
Terngiang dengan jelas hinaan yang dia lontarkan kepada calon suami Fira kemarin saat di butik, dan barusan setelah mengetahui siapa calon suami Fira.. Cakra juga menghina Fira dengan menuduh gadis itu gila harta! "Gue malu Lim, gue enggak punya muka dihadapan mereka berdua,," lirih nya pada Halim yang berjongkok mendampingi Cakra.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...