All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Rindu... Padahal Baru Aja Bertemu?



"Abang,, apaan sih?" Fira tersenyum malu, mendengar syair lagu yang dinyanyikan oleh sang kekasih pujaan hati.


Usai berdendang, Dion berjalan mendekati Fira seraya tersenyum mesra. "Cantik banget memang calon istri abang, pakai warna merah semakin terlihat cantik," puji Dion dengan sejujur nya.


"Bohong,, pasti ada mau nya," cibir Fira seraya menebak.


"Tahu aja kamu neng," Dion mengacak pelan puncak kepala Fira yang tertutup hijab. "Sudah pulang ya, yang ngapelin kamu?" Tanya Dion, seraya mengedarkan pandangan ke ruang tamu butik Putri Alamsyah.


"Udah, baru saja. Mungkin abang ketemu di depan tadi?" Fira mengernyit, "masih ingat sama wajah nya kan? Yang tadi Fira kirim foto nya?" Lanjut Fira bertanya.


"Ingat sih tapi pelanggan butik lagi ramai, banyak yang keluar masuk.. jadi enggak memperhatikan satu-satu," balas Dion.


"Oh iya bang, besok malam dia ngajak dinner. Abang bisa kan?" Tanya Fira, "Fira mau ngenalin abang sama dia, agar dia mundur dan gak datang terus. Enggak nyaman Fira bang, sama sikap nya yang sok itu!" Lanjut Fira seraya menatap Dion.


"Bisa dong,, apa sih yang enggak bisa buat my future,," balas Dion seraya mengerling.


"Gombal terus dari tadi," Fira mengerucutkan bibir pura-pura tak suka, yang berbanding terbalik dengan hati nya yang berbunga-bunga.


"Tapi kamu suka kan neng Fira sayang,,," Dion semakin menggoda.


"Tahu ah,," Fira berjalan menjauh menuju meja kerja nya, dan kemudian duduk di kursi nya yang empuk. "Oh iya bang, tumben abang kesini enggak kasih kabar dulu.. ada apa?" Tanya Fira yang baru ingat, sedari tadi ingin menanyakan tujuan Dion datang ke butik.


Dion yang mengekor langkah Fira, kini telah duduk di depan meja Fira. "Jam dua abang ada meeting sama klien, tapi abang lupa gak bawa baju ganti. Bisa ya, pilihkan baju buat abang?" Pinta Dion.


"Jam dua, itu sebentar lagi abang,,,? Emang tempat nya dimana? Apa abang enggak telat nanti?" Fira buru-buru berdiri dan berjalan keluar dari ruang tamu menuju koleksi stelan formal pria, yang diikuti oleh Dion


Fira kemudian mengambil stelan jas berwarna navy, yang ukuran nya dirasa pas untuk bentuk tubuh Dion. Fira memang sudah hafal dengan ukuran baju Dion, karena semenjak Dion resmi mengelola perusahaan.. Fira lah yang diminta Dion memilihkan semua baju kerja untuk nya.


Fira segera memberikan stelan jas tersebut, "yang ini suka enggak bang?"


Dion menerima nya dan tersenyum, "apapun yang neng Fira pilihkan untuk abang, abang pasti suka," balas Dion dengan tersenyum tulus.


"Sama kemeja nya sekalian enggak bang?" Tanya Fira.


Dion menggeleng, "kemeja nya pakai ini aja," balas Dion yang saat ini memakai celana jeans, yang dipadukan dengan kemeja slim fit berwarna biru muda yang lengan nya digulung sebatas siku. Dion terlihat macho, dengan gaya berbusana nya yang up to date.


"Abang ganti celana dulu ya,," dan sebelum beranjak, pemuda tampan itu memberikan jas nya kepada Fira. Dion kemudian bergegas menuju ruang ganti yang cukup nyaman, yang berada tak jauh dari tempat Fira berdiri.


Tak berapa lama Dion muncul, dan Fira kemudian memberikan jas nya. "Abang pakai nanti kalau udah nyampai aja," Dion melipat jas nya dan kemudian menggantung nya di tangan kiri.


"Enggak pakai dasi bang?" Tanya Fira, ketika Dion hendak berpamitan.


"Boleh, pilihkan dan sekalian pakai kan ya?" Pinta Dion dengan mengedipkan mata nya.


"Manja ih,,," lirih Fira seraya beranjak menuju counter aksesoris, dan Fira kemudian mengambil satu dasi yang cocok untuk kemeja dan stelan jas yang Dion pakai.


"Nih," Fira mengulurkan dasi tersebut kepada Dion yang mengekor di belakang nya.


Bukan nya menerima dasi tersebut, Dion malah mencondongkan tubuh nya mendekat kearah Fira. "Tolong dong, latihan jadi nyonya Dion..." bisik Dion.


"Berarti kalau di ruang khusus mau dong,,," goda Dion.


Fira cemberut, dan kemudian segera memasangkan dasi ke leher Dion. "Dari pada kelamaan, ini udah hampir jam dua,, nanti abang terlambat meeting nya," Fira menggerutu.


Tetapi Dion tersenyum sumringah, "makasih nyonya Dion,,," goda Dion dengan sengaja semakin mendekat kan wajah nya, jarak kedua nya begitu dekat.


"Jangan macam-macam," ancam Fira, yang masih agak kesulitan memasangkan dasi untuk Dion. Bukan karena Fira tak bisa, tapi karena Dion yang terus-terusan menggoda nya hingga membuat Fira menjadi grogi. Dan berdekatan seperti ini dengan Dion, membuat jantung Fira berlompatan tak karuan.


"Udah, ganteng maksimal," puji Fira, seraya menepuk dada bidang Dion dengan pelan. Dan Fira buru-buru mundur selangkah, takut Dion nekat melakukan sesuatu di luar dugaan nya.


Dan mengetahui pergerakan Fira yang mundur, Dion terkekeh... "abang enggak mungkin macam-macam sama calon istri yang cantik dan sholehah, abang bersabar menunggu hingga saat nya nanti tiba," bisik Dion di telinga Fira, yang membuat Fira tersipu.


"Abang berangkat dulu ya," pamit Dion seraya mengambil kartu sakti milik nya dari dalam dompet, dan kemudian memberikan nya pada Fira.


Fira terlihat enggan menerima nya, tapi jika tidak diterima Dion pasti akan ceramah panjang kali lebar seperti biasa nya. 'Abang laki-laki, dan pantang bagi abang menerima traktiran dari seorang gadis.' Itulah kalimat yang selalu meluncur dari mulut Dion, jika Fira tak membolehkan Dion membayar belanjaan nya di butik.


"Bang, nanti jangan kaget ya.. kalau ketemu sama klien nya abang," ucap Fira sebelum Dion berlalu.


Dion mengernyit dan mengurungkan langkah nya.


"Ya, pokok nya jangan kaget aja.. dan pura-pura tidak tahu. Nanti kalau abang sudah ketemu sama orang nya, abang juga bakalan paham kok," ucap Fira berteka-teki, yang membuat kerutan di dahi Dion semakin dalam.


"Udah abang, sana.. buruan berangkat, kurang sepuluh menit," Fira menunjuk jam di pergelangan tangan nya.


"Oke neng, nanti sore abang jemput," Dion segera berlalu meninggalkan butik untuk menemui klien nya di sebuah restoran yang tak jauh dari butik Putri Alamsyah, meninggalkan Fira yang mematung seperti baru saja kehilangan.


"Selalu seperti ini rasa nya jika habis ketemu sama bang Dion, rindu.. padahal baru aja bertemu?" Fira geleng-geleng kepala, dan kemudian segera kembali ke ruangan nya yang menjadi satu dengan ruang tamu.


Sementara Dion yang baru saja sampai di restoran, langsung menuju ke ruang VIP yang sudah di reservasi oleh klien nya untuk meeting siang ini. Di depan ruangan tersebut, Dion disambut oleh asisten nya, "selamat siang tuan muda," sapa asisten Dion yang usia nya jauh di atas Dion itu dengan sopan.


"Siang pak Erik, apa saya terlambat lama?" Tanya Dion dengan tersenyum ramah.


"Mereka juga baru datang bareng dengan saya, lima menit yang lalu," jelas pak Erik, mengiringi langkah tegap Dion memasuki ruangan VIP.


"Selamat siang," sapa Dion, menyapa dua orang yang sudah duduk di dalam sana.


"Selamat siang tuan muda," balas kedua orang tersebut seraya berdiri, dan mengangguk hormat kepada Dion.


Sejenak Dion tertegun menatap salah seorang diantara mereka berdua, dan sedetik kemudian tunangan Fira itu tersenyum. "Terimakasih," balas Dion datar, dan kemudian segera duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh pak Erik untuk nya.


"Oh,,, jadi pak Cakra ini yang naksir sama kamu neng?" Gumam Dion dalam hati, "ganteng sih, mapan dan sudah dewasa. Tapi, masih kalah ganteng sih sama gue?" Dion terkekeh dalam hati, dengan kenarsisan nya yang tingkat dewa.


"Silahkan pak, bisa langsung kita mulai," titah Dion tanpa basa basi, karena saat ini Dion tiba-tiba merindukan Fira... dan ingin segera menemui calon istri nya itu.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...