
Mereka berlima kemudian naik ke lantai dua, untuk belajar bersama karena ujian tinggal menghitung hari dan mereka mau mendapatkan nilai terbaik agar dapat di terima di perguruan tinggi yang mereka inginkan.
Belajar dengan metode diskusi, itulah yang sering mereka lakukan.. sehingga apa yang mereka pelajari, benar-benar dapat mereka mengerti dan pahami. Tak heran, jika mereka selalu masuk sepuluh besar di setiap tahun nya. Dan Kevin lah yang selalu menduduki peringkat pertama, di susul Salma dan Bayu bergantian menduduki peringkat dua dan tiga.
Mereka belajar di sudut ruangan, yang di beri sekat papan setinggi satu setengah meter agar tidak mengganggu Edo dan yang lain nya dalam bekerja.
"Rahman, lu jadi kuliah di tempat nenek moyang lu?" Celetuk Bayu, membuyarkan konsentrasi mereka semua yang tengah mempelajari materi sebelum didiskusikan.
Rahman menggelengkan kepala nya, "enggak jadi, di sini aja kayak nya." Balas Rahman sedikit lesu.
"Kenapa wajah lu di tekuk gitu?" Tanya Devi, menyadari sahabat nya itu menyembunyikan sesuatu.
"Sebenar nya, gue pengin curhat sama kalian.. tapi, takut konsentrasi kalian jadi terganggu karena masalah gue," ucap Rahman dengan wajah nya yang tiba-tiba mendung.
"Rahman,, kita bersahabat sudah lama, sejak pertama kali kita menginjakkan kaki di bangku SMA. Apa yang lu khawatir kan? Apa lu enggak percaya sama kita?" Tanya Kevin, menatap dalam mata elang milik Rahman.
"Bukan begitu bro,," Rahman menghela nafas panjang, "gue enggak jadi kuliah di Kuala Lumpur karena,," Rahman menghentikan sejenak ucapan nya, mata nya nampak berembun.
Kevin yang menyadari perubahan air muka sahabat nya itu, menepuk-nepuk punggung Rahman untuk memberikan ketenangan dan sebagai bentuk dukungan. "Kalau lu belum bisa cerita sekarang, jangan di paksakan," ucap Kevin dengan bijak, dia tak ingin Rahman merasa terpaksa menceritakan masalah nya.
"Gue akan lanjutin," balas Rahman, mencoba tersenyum. "papa gue di coret dari daftar ahli waris keluarga kakek gue."
"Kok bisa?!" Tanya Bayu terkejut, yang lain pun tak kalah heran.
"Benar Bay, seperti nya ini akal-akalan saudara-saudara papa. Papa gue itu seperti boneka, beliau yang bekerja keras membesarkan perusahaan opa tapi saudara-saudara nya lah yang menikmati hasil nya. Dan sekarang, ketika anak-anak saudara papa itu sudah besar dan masuk kedalam perusahaan.. mereka mulai menyingkirkan papa," balas Rahman menjelaskan yang terjadi di keluarga papa nya.
"Papa lu masih megang kendali di perusahaan kan?" Tanya Kevin.
Rahman menggeleng lemah, "papa di pecat oleh opa, dan tidak diakui sebagai anak jika masih bertahan dengan mama," balas Rahman sendu.
Pernikahan papa Rahman dengan mama nya memang tidak direstui orang tua nya, tapi sang opa kala itu tidak berani menggertak papa nya Rahman... karena sang opa berharap banyak pada kemapuan anak bungsu nya itu dalam menjalankan perusahaan nya. Dan benar saja, di tangan dingin papa nya Rahman perusahaan sang opa berkembang dengan pesat.
Namun karena kebencian sang opa dengan mama nya Rahman yang berasal dari keluarga sederhana, dan hasutan dari saudara-saudara sang papa... maka opa nya Rahman tega mencoret anak bungsu nya yang telah banyak berjasa untuk kemakmuran keluarga nya itu dari daftar ahli waris keluarga, dan di depak dari perusahaan.
"Apa papa lu diam aja?" Tanya Kevin mengernyit.
"Iya," balas Rahman singkat.
"Dan papa lu enggak mempertahankan hak nya?" Tanya Salma yang sedari tadi menyimak, istri Kevin ini nampak geram.
Rahman menggeleng pelan, "papa enggak suka keributan,,, dan bagi papa keluarga yang utuh adalah harta nya yang paling berharga, mama dan gue," balas Rahman.
"Manis sekali papa lu Man," lirih Salma terharu.
"Aku juga pasti akan seperti itu, jika ada di posisi papa nya Rahman baby,, bahkan lebih manis," bisik Kevin di telinga sang istri.
Salma mencebik,,
"Serius baby,, kamu dan anak-anak kita nanti adalah segalanya buat ku," Kevin meyakinkan, masih dengan berbisik.
"Yaelah, bisik-bisik terus... mentang-mentang baru jadian??" Olok Bayu melirik Kevin dan Salma bergantian.
Kevin hanya melempar senyum, sedangkan Salma pura-pura tak mendengar dan menyibukkan diri membuka buku catatan nya.
Sejenak suasana menjadi hening.
"Terus kegiatan papa lu sekarang apa Man?" Tanya Devi penasaran.
"Bentar deh Man, kalau keluarga papa lu enggak suka sama mama lu.. kenapa saat itu papa lu menyarankan agar lu kuliah di sana?" Tanya Salma.
"Karena papa ingin mendekatkan gue dengan keluarga nya, dan berharap pelan-pelan mereka mau menerima gue dan mama sebagai bagian dari keluarga mereka," balas Rahman.
Salma dan yang lain mengangguk-angguk, mendengar kan cerita Rahman barusan.
"Lu tetap semangat ya bro.. gue yakin, suatu saat nanti lu bisa buktikan pada saudara-saudara papa lu itu bahwa lu bisa lebih sukses dari mereka," Kevin memberikan semangat kepada teman baik nya itu.
"Benar Man,, lu punya potensi, lu pasti bisa," timpal Bayu dengan antusias, mencoba menularkan semangat kepada Rahman.
"Baguslah kalau gitu, kita bisa kuliah di sini bareng. Jadi, kita bisa sama-sama terus deh," ucap Devi dengan mata berbinar.
"Emang Kevin enggak kuliah di luar?" Tanya Rahman, menatap Kevin.
Kevin menggeleng,,
"Mana bisa dia,, jauh sama neng Salma sang pujaan hati," celetuk Bayu seraya tersenyum menggoda Salma.
Salma tersipu malu,
"Yah,, belum juga lulus SMA, sudah pada pacaran aja," timpal Edo yang mendengar obrolan mereka, saat melintas hendak pesan kopi di kafe bawah.
"Karena kami sudah laku bang, emang nya bang Edo.. enggak laku-laku, belajar melulu," olok Bayu, seraya terkekeh.
"Cih,, gaya lu Bay, sok laku... palingan cewek lu mau nerima, karena kasian," balas Edo seraya terkekeh, dan melirik Devi.
"Peace Devi,,," lirih nya, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya membentuk huruf V kearah Devi.
Devi hanya geleng-geleng kepala, dia tahu Edo hanya bercanda.
Meski baru hitungan hari Edo, Dana dan Tommy bergabung di bisnis e-commers milik Kevin, namun hubungan mereka sudah sangat akrab.
"Bang Edo mau pesan kopi ya?" Tanya Rahman.
"Iya, mau sekalian gue pesan kan?" Tanya Edo.
"Boleh bang, kopi hitam aja bang," balas Rahman.
"Yang lain, mau enggak? Neng Salma yang cantik, mau kopi?" Tanya Edo, sengaja menggoda Salma sambil melirik Kevin.
"Eh bang, mau di lempar keluar lu sama Kevin.. berani-berani nya godain neng Salma nya Kevin," ucap Bayu seraya terkekeh.
Dan yang lain pun ikut tertawa, kecuali Kevin yang tersenyum kecut.
"Gue bercanda Vin.." ucap Edo, seraya menangkupkan kedua tangan nya di depan dada.
"Santai bang," balas Kevin seraya tersenyum.
Edo pun berlalu menuju lantai bawah untuk melanjutkan niat nya memesan kopi.
Dan mereka berlima melanjutkan obrolan dan menghabiskan waktu dengan memberikan dukungan kepada Rahman, hingga tanpa mereka sadari.. matahari mulai tergelincir ke ufuk barat.
Mereka berlima membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing, dan seperti biasa.. Salma pulang bersama Kevin, yang telah di jemput oleh pak Imron.
to be continue,,,