All About KEVIN

All About KEVIN
Tes Urin



Kini Kevin dan Salma sudah bersiap untuk pulang, tetapi sebelum nya Kevin membayar terlebih dahulu minuman yang tadi dia pesan namun tidak jadi diminum oleh istri nya itu. "Mang, maaf ya.. minuman nya tidak kami habiskan. Bukan karena tidak enak mang, tapi tiba-tiba saja perut istri saya mual," ucap Kevin dengan tak enak hati, seraya meminta maaf kepada mamang penjual minuman tersebut.


Laki-laki paruh baya penjual minuman yang sedari tadi memperhatikan pelanggan nya dari dalam kedai itu pun mengangguk mengerti, karena dia melihat sendiri bagaimana tadi Salma menahan rasa mual nya namun tak kunjung dapat dia keluarkan. "Aden dan eneng sudah menikah?" Tanya mamang tersebut, hampir tidak percaya. Dia menyangka, kedua nya adalah sepasang kekasih


"Maaf ya den, neng.. mamang sempat salah sangka tadi, waktu eneng nya mual-mual. Mamang pikir... " mamang tersebut menghentikan ucapan nya dan segera menangkup kedua tangan nya di depan dada seraya membungkukkan badan nya dengan hormat, "sekali lagi maaf kan mamang, yang sudah suudzon sama aden dan eneng." Lanjut nya dengan menyesal.


"Tidak apa-apa mang,, wajar kalau mamang bersikap seperti tadi, karena usia kami memang masih sangat muda. Kami memang berpacaran mang, tapi pacaran yang halal," balas Kevin seraya tersenyum penuh pemakluman.


"Maaf mang, kami harus segera pulang karena waktu maghrib pun hampir tiba." Pamit Kevin seraya bersiap akan menggendong sang istri. "Baby, aku bopong saja ya,," tawar Kevin menatap lembut istri nya.


"Enggak mau mas, aku mau nya di gendong di belakang,," rengek Salma dengan manja.


Kevin mendesah kasar, dan kemudian segera berjongkok agar sang istri bisa naik ke punggung nya. Tanpa membuang waktu, Salma pun segera naik ke punggung sang suami.


Mamang penjual minuman yang masih berada di dekat mereka berdua pun tersenyum, "diikuti saja dengan ikhlas den, apa mau nya si eneng. Eta teh si eneng nya lagi ngidam, kemauan si jabang bayi," ucap mamang tersebut.


Kevin tersenyum simpul, "iya mang," balas nya singkat.


"Baby,, kamu yakin dengan posisi seperti ini?" Tanya Kevin memastikan,, setelah diri nya berdiri dengan sang istri yang sudah nemplok di punggung nya.


"Iya, kenapa mas? Apa tubuh ku terasa berat?" Tanya Salma mengernyit.


"Tidak baby, bukan itu.. tapi, apa anak kita akan baik-baik saja di dalam perut kamu baby? Apa kah anak kita tidak terjepit?" Kevin nampak khawatir.


Salma terlihat sejenak berpikir, "tidak apa-apa mas, kan masih belum pasti juga apa kah beneran aku hamil atau enggak?" Balas Salma sedikit gamang.


Kevin masih berdiri mematung di tempat nya, "baby, aku gendong depan saja ya.. aku khawatir jika kamu beneran hamil, nanti anak kita merasa enggak nyaman dan sesak di dalam perut kamu dengan posisi seperti ini,," tawar Kevin lagi.


"Enggak mau mas,, mau nya seperti ini,," rajuk Salma, dengan suara nya yang terdengar hampir menangis.


Mamang penjual minuman itu merasa iba pada Salma, "maaf den kalau mamang ikut bicara," sela mamang penjual minuman, "dituruti saja enggak apa-apa den, calon anak nya kan masih sangat kecil.. mungkin baru sebesar kacang, jadi tidak akan terjepit," lanjut nya yang mengerti kekhawatiran Kevin.


Kevin mengangguk-angguk mengerti, "baik mang, makasih nasehat nya," balas Kevin dengan tulus.


Dan akhir nya suami tampan Salma itu pun melangkah pasti menuruni jalan yang berkelok untuk kembali ke villa nya, dengan menggendong sang istri di punggung nya.


Sepanjang jalan kedua nya berbincang seraya bercanda ria, sesekali Kevin membawa sang istri berputar-putar layak nya dalam adegan film-film romantis. Kedua nya benar-benar seperti sepasang remaja yang sedang berpacaran, dan tengah di mabuk cinta. Kevin bahkan tak peduli, banyak pengendara motor dan mobil yang melintas.. memperhatikan mereka berdua dengan pandangan miring.


Tak berapa lama, Kevin dan Salma telah sampai di villa. Namun halaman villa sudah nampak sepi, karena waktu maghrib hampir tiba dan semua penghuni villa pasti tengah bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib dengan berjama'ah seperti biasa nya.


Kevin langsung membawa sang istri untuk masuk kedalam villa, dan segera menuju kamar nya. "Mau turun di sini apa di dalam kamar baby?" Tawar Kevin, saat kedua nya sampai di depan pintu kamar mereka.


"Abang, kak Salma,, kalian sudah pulang?" Tanya mommy Billa, sesaat setelah Kevin menurunkan sang istri dari punggung nya. Mommy Billa yang sudah mengenakan mukena itu, segera menghampiri putra dan menantu nya... yang diikuti oleh daddy Rehan yang berjalan mengekor di belakang sang istri.


"Tunggu bang, ada yang mau mommy bicarakan pada kalian," ucap mommy Billa, yang menahan sang putra untuk masuk kedalam kamar.


Kevin mengernyit, "ada apa ya? Seperti nya penting banget?" Kevin bertanya-tanya dalam hati.


"Kak Salma sebelum ambil air wudhu, tolong tes urin dulu pakai alat ini ya,,," titah mommy Billa langsung pada inti nya, seraya memberikan sebuah tes pack yang bisa di pakai di sembarang waktu kepada menantu nya.


Kevin dan Salma saling pandang, "mommy tahu darimana kalau Salma hamil?" Tanya Kevin menatap sang mommy.


"Jadi benar kak Salma hamil bang?" Mommy Billa balik bertanya pada sang putra.


Kevin mengusap tengkuk nya, "emm,, belum pasti sih mom, baru dugaan karena Salma udah telat datang bulan nya," balas Kevin. "Terus mommy tahu dari mana?" Tanya Kevin kembali, karena pertanyaan nya tadi diabaikan oleh sang mommy.


"Kami juga baru menduga nya bang," balas daddy Rehan, yang mewakili sang istri.


"Kalau begitu, cepetan kak Salma tes urin pakai alat itu. Mommy akan menunggu di sini," titah mommy Billa nampak tidak sabar.


Daddy Rehan yang sedari tadi berdiri di samping sang istri pun juga nampak tidak sabar ingin mengetahui apa kah benar dugaan nya, bahwa diri nya akan segera menjadi seorang opa?


"Ayo baby," ajak Kevin yang juga sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenaran nya.


Salma pun hanya bisa nurut dan segera masuk kedalam kamar mereka, dan Kevin langsung menuntun sang istri menuju kamar mandi. Salma segera masuk kedalam kamar mandi, dan Kevin pun ikut menerobos masuk. "Mas, kamu ngapain ikut masuk?" Tanya Salma.


"Aku mau bantuin kami baby," balas Kevin tanpa rasa berdosa.


"Enggak mau, mas Kevin keluar aja.. Salma malu," Salma mendorong tubuh atletis sang suami, agar segera keluar dari kamar mandi.


"Oke,, oke,, aku keluar," Kevin pun mengalah dan segera keluar dari kamar mandi, karena dia tak ingin membuat sang mommy dan daddy nya semakin lama menunggu hasil tes urin Salma.


Kevin berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi, menanti sang istri dengan gelisah. "Huh,, lama sekali sih kamu baby." Kevin membuang kasar nafas nya, dan meremas rambut nya dengan kasar.


Kevin melirik jam tangan mahal di pergelangan tangan nya, satu menit rasa nya seperti seharian... karena menanti kepastian kabar, dari sesuatu yang sangat di harap kan kehadiran nya.


Mommy Billa dan daddy Rehan ikut masuk kedalam kamar menyusul putra dan menantu nya karena beberapa saat menanti, tak kunjung ada kabar dari dalam kamar tersebut. "Bang, kak Salma belum selesai tes urin nya?" Tanya mommy Billa dengan rasa penasaran, seraya menghampiri Kevin yang berdiri dengan gelisah di depan kamar mandi.


"Ceklek,,,"


Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dari dalam, sesaat setelah mommy Billa bertanya pada Kevin. Dan kini semua mata tertuju pada Salma, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan berlinang air mata.


"Baby,, ada apa?"


to be continue,,,