
Setelah bertegur sapa dan bercanda dengan keponakan nya yang selalu menggemaskan di mata Ilham, adik bungsu dari Nabila itu pun melanjutkan langkah nya menuju apartemen Alex,, ada sesuatu yang harus dia ambil di sana.
Sedangkan Kevin dan Salma, setelah menemui pak Amir dan pamit pada pegawai setia keluarga Alamsyah itu.. mereka berdua langsung turun menuju baseman, dan menaiki mobil sport milik Kevin.
Kevin segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan di atas rata-rata, agar cepat sampai di kediaman Salma. Karena dia pun harus sudah tiba di rumah utama keluarga Alamsyah, sebelum adzan maghrib berkumandang.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, mobil yang di kendarai Kevin berbelok menuju komplek perumahan sederhana milik keluarga istri nya. Kevin memarkir mobil tepat di halaman rumah Salma, dan kedua nya segera turun dari mobil dengan berbarengan.
Tepat di saat yang sama, nampak bu Widya baru saja pulang dari berkeliling mengambil kue dari toko-toko tempat kue buatan nya di titipkan.
"Assalamu'alaikum bu," Kevin dan Salma mengucap kan salam bersamaan.
"Wa'alaikumsalam,, nak Kevin, baru pada pulang?" Tanya bu Widya ramah.
"Iya bu, maaf.. tadi saya enggak minta ijin dulu kalau Salma akan pulang terlambat." Ucap Kevin merasa bersalah.
"Tak mengapa nak, kami dan orang tua mu sudah membicarakan nya." Balas bu Widya sambil tersenyum hangat, mengamati pakaian putri nya yang telah berganti dan wajah sang menantu yang nampak segar dengan rambut yang masih agak basah.
Kevin mengernyit,, "maksud ibu, sudah membicarakan apa?" Tanya Kevin penasaran.
"Masuk dulu yuk nak," ajak bu Widya seraya hendak berjalan masuk kedalam rumah.
"Maaf bu, Kevin buru-buru. Daddy berpesan, agar Kevin sebelum maghrib sudah sampai di rumah. Karena selepas jama'ah maghrib, Kevin punya tugas untuk mengajari adik-adik mengaji," tolak Kevin dengan memberi alasan.
Bu Widya mengangguk-angguk, ibu dari Salma itu memang sudah banyak tahu tentang latar belakang Kevin dan keluarga nya.
"Bu, pertanyaan saya yang tadi?" Tanya Kevin mengingatkan.
"Oh iya,, kalian kan belum bisa tinggal bersama, jadi ya untuk sementara ini kalian bebas melakukan apa saja sepulang sekolah," bu Widya sejenak menghentikan ucapan nya, dan menatap Salma dan Kevin bergantian. "Asal sekolah kalian jangan sampai terganggu," lanjut bu Widya dengan bijak.
Kevin dan Salma mengangguk, kemudian kedua nya saling berpandangan dan saling melempar senyum.
"Ya sudah nak Kevin, hati-hati di jalan. Ibu mau masuk dulu," ucap bu Widya.
Kevin pun menyalami tangan ibu mertua nya itu, dan mencium punggung tangan bu Widya dengan takdzim.
Bu Widya kemudian segera bergegas masuk kedalam rumah, meninggalkan putri dan menantu nya yang masih berdiri di teras rumah sederhana milik keluarga nya.
"Baby, aku pulang dulu ya," pamit Kevin pada Salma.
Salma segera mengambil tangan sang suami dan mencium punggung tangan Kevin, dan Kevin membalas nya dengan mencium kening Salma hingga beberapa saat. "Aku pasti akan memimpikan mu baby," lirih Kevin setelah menjauhkan sedikit wajah nya.
Salma tersenyum manis, "dan aku akan merindukan mu, suami ku," balas Salma, dengan pipi yang merona merah.
Kevin mengacak pelan puncak kepala istri nya, dan kemudian segera bergegas menuju mobil. "Akan semakin berat bagiku untuk meninggalkan nya, jika aku tidak cepat-cepat pergi dari sini," gumam Kevin dalam hati, sambil membuka pintu mobil nya dan kemudian segera masuk.
Kevin menghidupkan mesin, dan kemudian segera melajukan mobil nya meninggalkan kediaman keluarga Salma dengan diiringi lambaian tangan sang istri.
Memberi pengertian pada orang tua Salma agar mereka mau menerima bantuan dari diri nya dan juga dari Salma.. agar bapak dan ibu Salma tak lagi bekerja keras. Pasal nya Salma yang juga sudah memiliki penghasilan cukup besar, pernah menawarkan pada sang ibu untuk membelikan kios,,, tapi bu Widya menolak nya dengan halus.
Tentang hubungan persekawanan mereka berdua dengan Monica serta Jonathan, yang pasti nya akan merenggang. Dan tidak menutup kemungkinan, Monica dan Jonathan menyimpan dendam yang mungkin saja dapat membahayakan Salma dan keluarga nya.
Kevin terus melajukan kendaraan nya, mengurai kemacetan jalan raya yang mulai padat di sore hari. Dan mengurai benang kusut di pikiran nya, yang belum sempat terpikirkan oleh nya sebelum jauh melangkah.
Kevin geleng-geleng kepala, agar benang kusut di kepala nya sedikit terurai. Hingga dari jauh, komplek kawasan elite dimana keluarga Alamsyah tinggal sudah terlihat.
Tak berapa lama, mobil Kevin memasuki pintu gerbang rumah utama. Setelah masukkan mobil nya kedalam garasi, Kevin dengan sedikit tergesa masuk kedalam rumah.
Dengan berlari kecil, remaja tampan yang baru genap berusia tujuh belas tahun itu menaiki anak tangga menuju ke lantai dua dimana kamar nya berada.
Sepanjang menuju kamar nya, Kevin tidak bertemu dengan seorang pun dari adik-adik nya yang biasa nya akan langsung berisik dan banyak bertanya jika dia pulang sedikit terlambat,, Kevin yakin, keluarga nya pasti sudah menanti nya di musholla keluarga di halaman belakang, karena waktu maghrib akan segera tiba.
Sesampai nya di kamar, Kevin segera mengambil air wudhu dan berganti pakaian dengan mengenakan koko dan sarung lengkap dengan peci nya. Setelah dirasa cukup, kembali Kevin berlari kecil menuruni anak tangga untuk menuju halaman belakang.
Di musholla keluarga, semua adik-adik nya telah berkumpul. Daddy dan mommy nya juga sudah berada di sana, bersama sebagian pekerja di rumah utama keluarga Alamsyah yang hendak ikut berjama'ah sholat maghrib.
"Assalamu'alaikum,," Kevin mengucap salam sambil melangkah masuk kedalam musholla. Putra sulung Rehan itu menghampiri daddy nya, menyalami dan mencium punggung tangan sang daddy. "Maaf dad, Kevin sedikit terlambat," ucap nya lirih.
Rehan hanya menanggapi nya dengan tersenyum.
Sementara Malik, Malika dan Mirza, menatap Kevin dengan tatapan menyelidik.. tak biasa nya abang nya itu pulang sesore ini, dan tanpa memberitahukan kepada mereka semua sebelum nya.
Karena begitulah tradisi di keluarga Rehan, jika ada yang ikut ekstra kurikuler di sekolah sampai sore pasti saat di meja makan akan dibicarakan dan mereka akan pamit pada daddy dan mommy nya.
"Abang, darimana aja sih jam segini baru pulang?" Tanya Malika penasaran.
"Iya, tadi abang ada sedikit pelajaran tambahan," balas Kevin sedikit gelagapan, pasal nya dia tidak biasa berbohong.
"Tumben??" Cecar Malika tak percaya.
"Abang kan kelas tiga kak, sebentar lagi ujian. Ya pasti lah, ada banyak pelajaran tambahan di sekolah," balas Mirza mewakili Kevin.
Malika mengernyit, dia masih merasa curiga dan tidak percaya dengan jawaban abang nya tadi. Insting nya yang kuat dalam menilai seseorang, benar-benar menurun dari Rehan. Dan itu sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis, agar tidak mudah di perdaya oleh lawan.
Kevin pun tahu, adik perempuan nya itu tidak mempercayai jawaban nya. Putra tertua Rehan itu pun tersenyum dan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Satu lagi masalah muncul, harus pinter-pinter ngasih penjelasan pada anak kritis ini," gumam Kevin dalam hati.
"Bang,, bisa jelasin sama adik?" Bisik Malika, masih menuntut kejujuran Kevin. "Adik janji gak bakal cerita sama siapapun,,, please? Adik tahu persis abang seperti apa, karena mata abang dapat berbicara... mata abang banyak bintang nya, abang sedang jatuh cinta kan? Apa abang tadi pacaran? Sama siapa bang? Kak Salma? Kak Devi? Atau kak Monik? Atau.. sama temen abang yang lain, yang belum pernah abang ajak main ke rumah?"
Hingga suara adzan yang dikumandangkan Mirza, menyelamatkan Kevin dari cecaran Malika.
to be continue,,,