All About KEVIN

All About KEVIN
Karena Kamu Datu' nya Salma



Opa Arman nampak berjalan tergesa mendekati nenek Syarifah, "kamu, benar andi' Iphe' kan?" Tanya opa Arman sambil meneliti wajah teduh di hadapan nya, dan tanpa menunggu jawaban.. opa Arman langsung memeluk nenek Syarifah dengan erat.


"Andi',, maafkan aku, maaf karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat bapa' mengusir kalian dari rumah." Ucap opa Arman terbata, setelah melerai pelukan nya.


Nenek Syarifah menggeleng, "daeng tidak perlu minta maaf, karena itu bukan salah daeng. Aku tahu daeng dan amma' sudah berusaha untuk ikut meyakinkan bapa' bahwa suami ku tidak bersalah," balas nenek Syarifah dengan menatap opa Arman penuh kerinduan.


Semua yang menyaksikan pertemuan tersebut ikut terharu, sekaligus bertanya-tanya.. ada hubungan apakah antara opa Arman dan nenek Syarifah?


Menyadari banyak mata yang menuntut penjelasan, opa Arman pun mengajak nenek Syarifah untuk duduk. "Andi' mari kita duduk dulu." Mereka berdua pun duduk bersebelahan.


"Bapa' sangat menyesal setelah tahu kebenaran nya, bahwa suami kamu ternyata di fitnah oleh orang kepercayaan bapa'. Bahkan bapa' hampir saja bangkrut jika saja aku tidak berhasil membongkar kebusukan Mansyur sesuai pesan suami kamu kala itu, dan ternyata benar ada nya.. Mansyur lah orang yang telah menggelapkan uang perusahaan hingga milyaran." Opa Arman tetap melanjutkan obrolan nya dengan nenek Syarifah, dan untuk sementara mengabaikan keingintahuan orang-orang yang berada di ruang tamu tersebut.


"Tapi seperti nya penyesalan bapa' tiada guna, karena kami benar-benar kehilangan jejak kalian saat semua nya telah terbongkar. Kami sudah mencari keberadaan kalian dimana-mana, hingga bertahun-tahun kami mencari.. namun bayangan kalian pun tak dapat kami temukan." Opa Arman menatap sendu pada nenek Syarifah.


"Sejak kejadian itu, kami memang pergi dari rumah tapi kami masih tetap di kota yang sama. Suami ku mencoba mencari pekerjaan namun mengalami kesulitan, karena bapa' menutup semua akses untuk suami ku bisa di terima kerja di tempat lain. Semua perusahaan sudah tahu track record suami ku yang tidak baik menurut informasi yang mereka terima,, dan kami yakin itu ulah Mansyur yang ingin menjauhkan kami dari keluarga dan agar suami ku tidak memiliki kesempatan untuk membongkar semua kelicikan nya."


"Beberapa bulan tidak mendapatkan pekerjaan, tabungan kami mulai menipis.. sedangkan saat itu kehamilan ku semakin membesar, dan tentu nya kami butuh biaya banyak. Akhir nya, suami ku mengajak untuk pindah ke kota lain dan memulai hidup baru."


"Kami pindah ke Jakarta, dan Alhamdulillah tak butuh waktu lama.. suami ku diterima bekerja di sebuah perusahaan yang cukup bonafid dan mendapatkan posisi yang cukup bagus karena kemampuan yang dia miliki. Dari situ kehidupan kami mulai tertata, aku melahirkan anak pertama tanpa pusing memikirkan biaya. Hingga anak ketiga lahir dan mereka semua dapat bersekolah, serta hidup dengan layak seperti anak-anak yang lain." Sejenak nenek Syarifah menghentikan kisah nya, beliau nampak mulai murung.


"Tapi kebahagian itu kembali terenggut saat suami ku mengalami kecelakaan sepulang kerja, hingga akhir nya meninggal. Aku kehilangan pegangan hidup, dia satu-satu nya tulang punggung keluarga selama ini.. karena dia tidak pernah mengijinkan aku untuk ikut bekerja. Dan sepeninggal nya, kehidupan kami mulai memprihatinkan." Nenek Syarifah menyeka air mata nya, opa Arman memeluk adik nya mencoba untuk memberikan ketenangan.


"Aku bukan istri dan ibu yang baik, karena pada akhir nya aku tidak dapat menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi seperti yang dicita-citakan suami ku dulu. Aku tidak dapat menjalankan amanah nya, aku tidak sanggup mencari kan biaya untuk mereka kuliah. Hingga ketiga anak kami, tidak dapat menempuh pendidikan tinggi seperti kedua orang tua nya," ucap nenek Syarifah dengan penuh penyesalan, beliau terisak setelah mengatakan itu semua.


Opa Arman pun nampak ikut menitikkan air mata nya.


"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah saja andi'?" Tanya opa Arman, menatap adik nya.


"Aku tidak siap mendapatkan penolakan dari bapa' daeng," balas nenek Syarifah, masih dengan terbata.


Bu Widya kemudian ''-'menghampiri nenek Syarifah dan berlutut di hadapan ibu mertua nya itu, "amma',, amma' adalah amma' terhebat. Meski amma' membesar kan ayah Salma dan kedua saudara nya seorang diri tapi amma' berhasil mendidik mereka dengan sangat baik. Widya bangga punya suami seperti putra amma', meski tidak berpendidikan tinggi tapi suami Widya adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Suami Widya adalah imam keluarga yang sangat baik, yang dapat membimbing Widya dan anak-anak kami dengan baik," lirih bu Widya membesar kan hati nenek Syarifah.


Nenek Syarifah merangkul bu Widya, "terimakasih nak, kamu menantu yang baik. Kamu selalu bisa membuat orang lain tersenyum," nenek Syarifah menyeka air mata nya, dan kemudian tersenyum menatap menantu perempuan satu-satu nya itu.


Dia menantuku," nenek Syarifah mengenalkan bu Widya pada opa Arman, yang menatap penuh tanya pada nenek Syarifah


Bu Widya pun mendekat dan menyalami opa Arman dengan penuh takdzim, opa Arman menepuk lembut punggung tangan bu Widya.


Bu Widya kemudian duduk di samping ibu mertua nya, seraya menggenggam tangan yang sudah mulai berkeriput itu.


Sejenak hening menyapa ruang tamu tersebut.


"Sultan,, kamu masih ingat kan, aku punya adik perempuan? Syarifah, dia adikku," ucap opa Arman, seraya merangkul pundak nenek Syarifah dengan perasaaan yang membuncah bahagia.


"Pa,, jadi beliau ini tanta Iphe' yang sering papa ceritakan itu?" Tanya om Irfan menyelidik.


Opa Arman mengangguk, "benar Ipank,, dia tanta mu," balas opa Arman.


Om Irfan langsung mendekat kearah nenek Syarifah dan menyalami nya, "tanta, aku Ipank," ucap nya, dan kemudian memeluk nenek Syarifah dengan penuh haru.


"Dia putra kedua ku," ucap opa Arman.


"Andi Iphe',, bagaimana kamu bisa berada di sini? Apakah calon pengantin wanita nya adalah cucu mu?" Tanya opa Arman penasaran, sedari tadi dia menyimpan tanya.. bagaimana bisa adik nya berada di sini, dan kenal sama keluarga Alamsyah?


Nenek Syarifah mengangguk, "benar daeng, Camma cucu ku.. dia lah pengantin wanita nya," balas nenek Syarifah seraya melambaikan tangan nya pada Salma, yang sedari tadi masih berdiri terpaku bersama suami nya.


Salma mengajak Kevin untuk mendekat dan kemudian menyalami opa Arman dan mencium punggung tangan laki-laki tua itu, "datu'," sapa Salma dengan sopan.


Opa Arman merengkuh pundak Salma dan kemudian mencium kening Salma dengan penuh kasih, "datu' senang bisa bertemu dengan mu cu'," ucap opa Arman dengan netra yang berkaca-kaca, dia merasa sangat terharu karena pada akhir nya setelah puluhan tahun, dia bisa dipertemukan kembali dengan adik kandung dan juga keluarga nya.


"Dia pasti putra kecil mu yang mengemaskan itu kan Rey,, sudah beranjak dewasa rupa nya dia? Dan sangat tampan," puji opa Arman seraya memandang Kevin.


Daddy Rehan mengangguk, "ya, om benar.. dia anak kecil yang dulu suka minta gendong sama om," balas daddy Rehan tersenyum.


Kevin kemudian menyalami laki-laki tua sahabat opa nya itu, "opa,, senang bisa bertemu kembali dengan opa," ucap Kevin dengan sopan.


Opa Arman tersenyum tulus dan menepuk-nepuk pundak Kevin, "cucu ku sungguh beruntung mendapatkan pemuda seperti kamu," ucap opa Arman dengan bangga.


"Kevin juga beruntung mendapatkan istri secantik cucu opa," balas Kevin seraya melirik mesra sang istri.


"Hahaha,, kamu pandai mengambil hati wanita nak, persis seperti daddy mu," ucap opa Arman sambil tertawa.


Opa Sultan pun mengangguk dan ikut tertawa.


Sedangkan daddy Rehan hanya tersenyum tipis, sedangkan tangan nya masih terus menggenggam tangan sang istri.


Om Irfan pun ikut tersenyum membenarkan ucapan papa nya, "Rey memang sosok suami yang romantis," gumam om Irfan, seraya melirik kemesraan daddy Rehan dan mommy Billa.


Hening kembali menyapa ruang tamu tersebut.


"Arman,, kalian menginap lah di sini, kalian tentu masih saling rindu dan ingin banyak bercerita kan?" Pinta opa Sultan pada sahabat nya.


"Aku pasti akan menginap di sini Sultan, tapi aku punya satu permintaan," tawar opa Arman menatap opa Sultan dan daddy Rehan bergantian.


"Apa? Katakan lah.." papa Sultan menatap sahabat nya dengan penuh rasa penasaran, tak biasa-biasa nya sahabat nya itu menawar atas permintaan nya.


"Nanti malam, ijinkan aku mendampingi mempelai wanita sebagai anggota keluarga nya di pelaminan," pinta opa Arman dengan penuh harap.


"Hahahaha,,," terdengar papa Sultan tertawa terkekeh-kekeh, oma Sekar pun ikut terkekeh kecil.


Daddy Rehan pun nampak tersenyum.


"Aku pikir kamu mau minta apa Man? Ternyata cuma itu mau mu? Ya harus lah Man, karena kamu datu' nya Salma.. jadi kamu harus ikut mendampingi nya di pelaminan nanti," balas opa Sultan, menyambut gembira keinginan sahabat nya itu.


Nenek Syarifah pun ikut merasa lega.


Sedang kan opa Arman kembali memeluk adik nya dengan erat, seolah takut akan kehilangan adik perempuan satu-satu nya itu.


to be continue,,,