
Setelah anak-anak naik ke lantai dua, kini para orang tua pindah ke ruang keluarga atas permintaan bunda Fatima. Karena angin malam tak baik untuk kesehatan opa Sultan, oma Sekar dan oma Carla yang sudah berusia lanjut jika merela melanjutkan ngobrol di ruang terbuka.
Kevin dan sang istri pun turut serta dalam rapat keluarga tersebut, karena memang agenda nya adalah untuk membahas mengenai peresmian pernikahan mereka berdua.
"Jadi minggu depan, Kevin dan Salma pengumuman kelulusan, dan kami pengin nya.. peresmian pernikahan mereka segera dilaksanakan. Bukan kah seperti itu pak Leman, bu Widya." Daddy Rehan menoleh kearah besan nya, dan kedua orang tua Salma mengangguk.. menyetujui ucapan daddy Rehan.
"Kapan bang Yusuf dan Brother ada waktu luang yang cukup lama, nanti kami yang di Jakarta bisa menyesuaikan jadwal dengan kalian?" Daddy Rehan bertanya, seraya 'menatap ayah Yusuf serta papi Vincent bergantian.
"Dad, jika sekira nya merepotkan.. tidak perlu lah ada pesta-pesta besar segala. Yang penting kan kami sudah menikah secara agama, dan tinggal ngurus peresmian nya saja di KUA kan? Dan menurut Kevin, acara selamatan nya ya di akhir bulan saja seperti ini bersama keluarga besar kita saja.. jadi ayah Yusuf dan papi Vincent enggak perlu repot-repot merubah jadwal meeting." Kevin memberikan usulan.
"No no.. mana bisa begitu son? Harus ada pesta untuk merayakan pernikahan mu, papi ada banyak waktu kok,, kapan pun itu!" Papi Vincent menolak usulan sang putra.
"Benar nak,, harus di rayain, dan ayah juga selalu ada waktu untuk mu. Jangan kan cuma seminggu, ayah tidak ngantor sebulan juga tak masalah.. kantor-kantor ayah, tidak ada yang akan berani protes sama ayah," ayah Yusuf menimpali.
"Ya,nak.. pernikahan mu harus di rayakan. Daddy bahkan sudah berencana mengundang semua rekan-rekan bisnis daddy, baik yang di dalam maupun di luar negeri," Daddy Rehan menambahkan.
Kevin mengedikkan bahu nya, "terserah sama daddy aja deh, gimana baik nya," balas Kevin akhir nya nurut, padahal menurut nya tak perlu menggelar pesta besar-besaran untuk meresmikan pernikahan nya dan Salma.
"Mereka harus tahu kalau putra daddy yang tampan sudah menikah, agar mereka tidak lagi mengejar-ngejar daddy dengan perjodohan bisnis yang penuh kamuflase itu!" Lanjut daddy Rehan, nampak tidak suka.
"Memang masih ada ya dik, yang seperti itu di zaman milenial kayak gini?" Tanya bunda Fatima, menatap sang adik.
"Banyak lah kak,," balas daddy Rehan melirik sang istri, dan tak mau menyebutkan satu per satu.
Mommy Billa menatap sang suami, penuh tanya.
"Yang minta sama ayah juga ada bun, ayah aja yang malas cerita.. karena menurut ayah itu gak penting," timpal ayah Yusuf, seraya menoleh kearah sang istri.
"Ya, abang benar.. itu gak penting. Biar anak-anak sendiri yang memilih pasangan hidup untuk mereka, dan enggak perlu juga memperkuat bisnis dengan jalinan pernikahan. Sebab kalau ternyata semua tidak berjalan sesuai ekspektasi, jatuh nya akan saling menyalahkan.. dan lebih parah nya jika sampai terjadi perceraian, maka tidak menutup kemungkinan hubungan kerja sama yang sudah terjalin dengan baik akan berakhir dengan permusuhan." Daddy Rehan membenarkan ucapan abang ipar nya.
Mommy Billa dan bunda Fatima mengangguk-angguk.
"Ya, yang kamu katakan benar Rey.. itu sebab nya papa mu dulu juga menolak banyak relasi bisnis, yang hendak melamar kakak mu untuk putra mereka." Oma Sekar ikut menimpali dan membenarkan perkataan putra nya.
"Wah, bunda laris ya??" Ucap ayah Yusuf, dengan nada cemburu.
"Ayah cemburu nih cerita nya??" Goda bunda Fatima, pada sang suami yang bucin akut.
"Tidak, biasa aja," balas ayah Yusuf, sambil melengos.
Oma Sekar dan oma Carla yang mengetahui kegilaan ayah Yusuf saat mengejar-ngejar bunda Fatima pun dibuat terkekeh,, dan oma Carla nampak berbicara pada ayah Yusuf, "ayolah bang, masa itu sudah lewat.. tidak mungkin juga kan, kakak Fa yang sudah punya suami tampan seperti abang akan di jodohkan lagi?" Oma Carla menepuk-nepuk punggung tangan ayah Yusuf, sambil menahan tawa.
Opa Sultan hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap menantu sulung nya, yang memang sangat posesif itu.
"Iya mom,, ide yang bagus," balas daddy Rehan membenarkan usulan sang istri.
"Kak, tolong tanyakan pada pihak WO nya.. apakah bisa dalam waktu satu bulan mereka menyiapkan pesta yang mewah?" Rehan menatap kakak nya.
"Bisa Rey, mereka professional,,, tentukan saja tanggal nya biar nanti kakak yang hubungi mereka." Balas bunda Fatima, yang di angguki oleh mami Nina karena pemilik WO yang dimaksud bunda Fatima adalah sahabat mami Nina sewaktu kuliah dulu.
"Nanti Nina bantu kak Fa," timpal mami Nina.
Bunda Fatima mengangguk dan tersenyum.
"Kalau begitu, gimana kalau bulan depan pak? Pak Leman dan bu Widya, setuju tidak?" Daddy Rehan memastikan pada kedua orang tua Salma.
"Kami ngikut saja pak Rehan," balas Pak Sulaiman.
Rehan mengangguk-angguk, "enak nya kita adakan dimana?" Daddy Rehan mengedarkan pandangan nya, menatap kakak dan abang nya, serta papi Vincent bergantian.
"Di hotel kita saja gimana bun? Kayak resepsi pernikahan kamu dulu Rey?" Ayah Yusuf menyampaikan pendapat nya.
"Kita tanya saja sama anak nya, konsep nya mau gimana? Baru kita bisa nentuin tempat," ucap bunda Fatima, "pesta nya mau outdoor apa indoor nak?" Bunda Fatima menatap Kevin dan Salma, bergantian.
"Mau yang kayak gimana baby?" Kevin memastikan keinginan sang istri, karena dia juga ingin memberikan kenangan pernikahan yang terbaik untuk Salma.
Sejenak Salma nampak berpikir, "outdoor aja ya, yang kayak Cinderella gitu... di taman yang indah, yang penuh dengan bunga-bunga yang cantik," bisik Salma malu-malu.
"Kalau kamu Cinderella,,, berarti, aku adalah pangeran tampan yang beruntung itu?" Tanya Kevin dengan ikut berbisik, seraya melingkarkan tangan nya di pinggang ramping sang istri dan tersenyum penuh arti. Kevin memang sangat mencintai Salma, dan berada di samping istri nya itu, selalu saja membuat diri nya merasa tidak tahan untuk tidak menyentuh sang istri tercinta.
"Kok kalian malah bisik-bisik?" Bunda Fatima mengernyit kan dahi nya, menatap keponakan dan istri nya itu seraya tersenyum lembut.
"Kalau sudah lelah, bawa saja istri mu naik ke kamar kalian son. Biar kami yang atur semua nya," titah daddy Rehan pada putra nya, sungguh daddy yang satu ini adalah daddy yang sangat pengertian pada sang putra... yang belum lama menikah itu.
"Makasih dad, Salma sudah ngantuk kata nya," balas Kevin seraya melirik sang istri, dan mengedipkan sebelah mata nya.
Salma menyikut perut sang suami, "aw,, sakit baby," teriak kecil Kevin, hingga membuat semua perhatian tertuju kearah mereka berdua. Dan hal itu membuat Salma semakin tersipu malu, sedangkan Kevin terlihat lebih santai.
"Ya, sudah.. kalian naik saja," ucap bunda Fatima tersenyum, sambil geleng-geleng kepala. "Jadi mau outdoor apa indoor nih?" Kembali bunda Fatima bertanya, sebelum kedua keponakan nya itu beranjak pergi.
"Konsep nya ala Cinderella bunda, dan istri ku mau nya di taman bunga yang indah," balas Kevin, seraya beranjak berdiri dan menuntun sang istri.
"Oke, kami akan cari lokasi terbaik dan menyiapkan nya untuk kalian... good night son," usir daddy Rehan dengan halus, agar putra nya segera meninggalkan ruang keluarga tersebut. Karena nyata nya, melihat kemesraan sang putra dengan pasangan nya.. membuat daddy Rehan pun ingin segera memeluk sang istri, dan memadu kasih dengan istri tercinta.
to be continue,,,