
Setelah ngobrol sebentar sama Kevin dan teman-teman nya di meja lain, Dion pun kembali duduk bersama sang papa dan yang lain nya untuk memberikan jawaban atas permintaan Mr. Robinson.
Melihat Dion telah kembali, Mr. Robinson nampak tidak sabar dan segera bertanya, "bagaimana nak Dion?" Tanya Mr. Robinson dengan lembut dan sopan, sesaat setelah Dion duduk di tempat nya.
"Sebentar Mister, saya akan bertanya dulu pada kedua teman saya, Nathan dan Monik." Balas Dion seraya melirik kedua teman nya yang selalu menunduk.
Mendengar nama mereka disebut oleh Dion, Jonathan dan Monica mengangkat wajah nya dan melihat kearah Dion. Kedua nya sama-sama menyimpan tanya dalam hati, kenapa Dion ingin berbicara dengan mereka berdua?
"Nathan, Monik," panggil Dion dengan hangat, "kalian bisa mengingat kejadian di pagi hari setelah malam perpisahan kita kan?" Tanya Dion penuh selidik.
Jonathan nampak mengerutkan kening nya, "maksud lu?" Tanya Nathan pelan.
"Monik, apa benar lu saat ini tengah hamil?" Dion mengabaikan pertanyaan Jonathan, dan bertanya pada Monica dengan tatapan tajam.
"Iya, itu benar," balas Monica lirih dan takut-takut.
"Itu artinya, anak yang lu kandung adalah anak Nathan bukan? Karena gue yakin, malam itu.. kalian berdua main dengan liar dan tanpa pengaman, apa dugaan gue benar?" Dion menatap Jonathan dan Monica bergantian, dengan tatapan mengintimidasi.
Monica mengangguk, membenarkan dugaan Dion.
"Gue akui, malam itu gue memang tidak menggunakan pengaman. Tapi gue enggak yakin, kalau anak itu adalah anak gue!" Bantah Jonathan, "karena gue tahu persis siapa Monik, dia sering gonta-ganti pasangan!" Lanjut Jonathan dengan yakin.
"Tapi mereka selalu pakai pengaman Nath! Hanya malam itu, gue lepas kontrol dan tidak tahu kalau lu kebablasan!" Sanggah Monica, "lagipula setelah malam itu, gue tidak pernah lagi berganti pasangan. Gue hanya main dengan lu!" Seru Monik menatap tajam pada Jonathan.
Mendengar perdebatan putri nya dan Jonathan, Mr. Robinson nampak sangat terkejut dan dibuat malu di hadapan om Rudi selaku teman baik nya.. dan juga pada tuan Hadi, selaku rekan bisnis dan investor terbesar nya.
Sedangkan daddy Rehan, ayah Yusuf, om Ilham dan yang lain nya.. dibuat geleng-geleng kepala mendengar kebebasan pergaulan kedua nya.
"Cukup! Hentikan perdebatan bodoh kalian!" Bentak Mr. Robinson pada putri nya dan juga pada Jonathan.
Kembali hati Monica menciut, malam ini sang papa sudah membentak nya beberapa kali. Papa yang selalu memanjakan dan menuruti semua keinginan nya, kini telah berubah. Dan Monica kembali menitikkan air mata, namun seperti nya sang papa yang telah terbakar api amarah sudah tak peduli lagi dengan kesedihan yang dia rasakan.
"Apa drama nya sudah berakhir? Apa gue bisa melanjutkan pembicaraan ini lagi?" Tanya Dion, menatap Monica, Jonathan dan Mr. Robinson bergantian.
Mr. Robinson mengangguk, "silahkan dilanjut nak Dion," balas Mr. Robinson tanpa menoleh pada putri nya dan juga Jonathan.
Padahal dalam hati, Monica ingin menjerit menyudahi semua nya dan ingin berlari pergi menjauh sejauh-jauh nya dari tempat ini.
"Monik, lu yakin anak itu anak Nathan?" Dion menegaskan kembali.
Monica mengangguk pasti, "ya ini bayi Nathan," balas nya seraya melirik Jonathan dengan penuh kebencian.
Jonathan melengos dan nampak tidak suka.
"Nathan,, apa lu masih menyangkal bahwa bayi yang di kandung Monik adalah anak lu?" Dion menatap tajam teman nya itu, "gue tahu lu belum siap menerima kenyataan seperti ini, tapi lu sudah kenal baik dengan Monik bukan? Monik dan lu sama kan? Kalian sama-sama player dan kalian sama-sama akan bermain dengan aman, tapi kejadian malam itu lu enggak bisa mengingkari nya Nath,,," lanjut Dion dengan merendahkan suara nya, Dion mencoba berbicara dari hati ke hati pada Jonathan sebagai teman dan sebagai sesama laki-laki.
Jonathan menundukkan kepala nya semakin dalam.
"Maaf nak Dion, urusan mereka berdua biar saya yang urus. Dan saat ini langsung saja pada intinya, apakah nak Dion masih mau memberikan kesempatan dan kepercayaan pada saya?" Mr. Robinson nampak tidak sabar.
"Tunggu sebentar om, masalah mereka berdua ada hubungan nya dengan keberlangsungan kerjasama kita," balas Dion, menatap Mr. Robinson dengan tatapan tidak suka.
Mr. Robinson nampak mengerutkan kening nya.
"Kejadian malam itu saya ikut andil, karena saya yang punya ide untuk memasukkan mereka berdua di dalam satu kamar. Tapi saya dan teman-teman melakukan itu, karena ingin memberikan pelajaran pada Monik dan Nathan.. dan membuat mereka berdua jera, agar mereka tidak lagi mengganggu Kevin dan istri nya." Jelas Dion, "karena itu lah saya ingin memastikan bahwa Monik benar-benar mengandung anak Nathan atau bukan, dan memastikan Nathan mau bertanggung jawab," lanjut Dion, seraya menatap Monica dan Jonathan bergantian.
"Bayi yang gue kandung, memang anak Nathan!" Balas Monica dengan suara tegas, dan menoleh kearah Jonathan yang duduk di sampingnya nya.
"Nathan,, please... pakai hati nurani mu," lirih Dion, menatap Jonathan dengan tatapan lembut.
Jonathan menunduk dan mengusap kasar wajah nya, nampak pemuda itu menarik nafas panjang dan menghembus nya dengan kasar.. seolah ingin membuang beban berat yang menghimpit dada nya. "ya, mungkin saja itu anak gue," ucap Jonathan akhir nya dengan suara nya yang lemah, dan nampak tidak bersemangat.
"Gua anggap, ucapan lu barusan adalah bentuk pengakuan," ucap Dion dengan menatap Jonathan.
Jonathan hanya mengangguk pasrah.
"Mister, saya ingin mereka berdua menikah," Dion menatap Mr. Robinson.
Mr. Robinson terdiam, dia juga bingung harus bagaimana?
Sedangkan Jonathan dan Monica menegakkan badan nya, menatap Dion dengan tatapan bingung.
"Kenapa bro? Kenapa Mon? Kalian keberatan? Bukan kah sebentar lagi kalian akan memiliki bayi yang lucu? Apa kalian mengingkari nya dan merencanakan untuk membuang nya?" Cecar Dion dengan banyak pertanyaan.
Monica menggeleng, "tidak, gue tidak akan membuang nya," balas Monica dengan yakin.
"Nath?" Panggil Dion.
Nathan menoleh kearah Dion, dan kemudian mengangguk lemah. "Gue akan bertanggung jawab, gue akan menikahi Monik," ucap Jonathan dengan suara nya yang lemah, namun terdengar bersungguh-sungguh.
Nampak Mr. Robinson tersenyum, dalam hati dia merasa lega.. satu masalah mengenai putri nya terselesaikan, dan menunggu satu lagi yaitu mengenai keberlangsungan perusahaan nya.
Dion tersenyum lega, "bagus Nath, lu ternyata masih Nathan yang dulu.. Nathan yang gue kenal sebagai sosok yang bertanggung jawab," puji Dion dengan tulus.
Jonathan tersenyum tipis mendengar pujian teman nya itu, "makasih Dion, meski gue sering memperlakukan lu dengan buruk tapi lu masih saja menganggap gue sebagai teman. Jujur gue merasa malu sekali," lirih Jonathan seraya menatap Dion dengan tatapan penuh penyesalan.
Dion menggeleng, "it's okay bro, gue sudah melupakan semua nya." Dion tersenyum hangat pada Jonathan, hingga membuat Jonathan semakin merasa kecil di hadapan Dion.
"Mister, saya akan memberikan kesempatan kembali pada anda jika mereka berdua mau menikah dan membuat surat perjanjian." Ucap Dion, menatap Mr. Robinson. "Nathan telah menyetujui untuk menikahi Monik, sekarang saya akan tanya bagaimana dengan Monik?" Lanjut Dion, dan kemudian menatap Monica yang terlihat tak bersemangat.
Mr. Robinson mengangguk dan menatap putri nya dengan penuh harap.
"Gimana Mon? Lu bersedia menikah dengan Nathan kan?" Tanya Dion dengan lembut.
Monica hanya bisa mengangguk pasrah, "bukan kah gue tak lagi punya pilihan?" Monica balas bertanya, menatap Dion dengan sedih. "Jika gue bisa memilih, gue pasti ingin menikah dengan laki-laki impian gue," ucap Monica seraya melirik Kevin, yang duduk di ujung bersama sang istri yang sedari tadi bersandar manja pada Kevin.
Monica menarik nafas dalam dan kemudian menghembus nya perlahan, "dan kalau pun gue tidak bisa menikah dengan pangeran impian gue, minimal gue bisa menikah dengan laki-laki yang selama ini bisa ngertiin gue dan membuat gue merasa nyaman.." sejenak Monica menghentikan ucapan nya, dan menatap Dion dengan dalam. "Seperti lu Dion," lanjut Monica dan sedetik kemudian menundukkan kepala nya.
Ya, selama ini Dion dan Jonathan selalu ada bersama Monica. Tapi jika Monica dan Jonathan akan selalu berdebat karena dua-dua nya sama-sama manja dan keras kepala, maka berbeda dengan Dion yang akan selalu menjadi penengah dan cenderung membela Monica. Bukan apa-apa, Dion membela Monica bukan karena ada perasaan khusus tapi karena dia merasa bahwa wanita harus di bela.
Dion terkejut mendengar pengakuan Monica, begitupun dengan Fira yang duduk di samping Dion. Fira melirik Dion penuh selidik, dan ditanggapi Dion dengan mengangkat kedua bahu nya. "Aku juga enggak tahu neng, swear... kami hanya berteman," lirih Dion jujur dan menatap Fira dengan lembut.
Cukup lama netra kedua nya saling bertaut, dan seolah berbicara dalam diam.
"Ehm..." hingga suara dehaman tuan Hadi menyadarkan kedua nya. "Putra ku tidak mungkin menerima putri Mr. Robinson, karena Dion telah memantapkan hati nya untuk meminang bidadari dari Singapura." Ucap tuan Hadi seraya melirik ayah Yusuf.
Ayah Yusuf tersenyum lebar dan membalas menatap tuan Hadi dengan tatapan hangat.
"Gadis cantik yang beberapa waktu terakhir selalu di sebut nama nya di setiap obrolan kami, gadis cerdas yang sampai saat ini masih mengulur waktu dan belum juga memberikan kepastian pada putra ku hingga membuat Dion selalu murung jika memikirkan nya," lanjut nya seraya melirik sang putra dan gadis cantik yang di maksud bergantian.
Mendengar perkataan papa Dion, Fira tersenyum lebar dan merasa tersanjung. Sedangkan Dion tersenyum kecut, dia merasa malu karena sang papa telah membongkar rahasia nya.
to be continue,,,