
Ospek telah berakhir dan perkuliahan sudah di mulai. Seiring berjalan nya waktu, gosip murahan yang disebarkan Yura pun menguap tak berbekas.
Diantara teman-teman mahasiswa baru yang sempat ikut mencibir dan menjelek-jelekkan Salma, sebagian ada yang meminta maaf dengan tulus.. namun ada juga yang merasa tak bersalah dan tetap bersikap cuek pada Kevin dan Salma.
Dan ada pula yang pura-pura bersikap manis, mereka meminta maaf karena hanya ingin menarik simpati Kevin... cowok tampan dan cerdas yang menjadi idola baru di kampus tersebut.
Sedangkan Yura, kondisi nya saat ini mulai memprihatinkan. Beberapa kali dia dipanggil pihak kampus, karena belum membayar biaya semesteran.
Yura berjalan dengan gontai keluar dari kantor bagian administrasi, dan tatapan nya kali ini terlihat begitu sendu. "Dari mana lagi gue harus cari uang sembilan juta dalam tempo dua hari?" Lirih Yura, yang kemudian menghentikan langkah nya tepat di bawah pohon rindang di depan fakultas nya.
"Om John dan pelanggan gue yang lain tak seroyal Bagas, mereka hanya memberi gue tip lima ratus ribu untuk semalam suntuk. Huh,,, badan gue rasa nya sampai pegal semua dan tulang-tulang gue seakan lolos dari persendian nya, tapi yang gue dapat kan tak sebanding dengan pelayanan yang telah gue berikan," gerutu Yura pada diri nya sendiri.
"Kalau gue sampai di keluar kan dari kampus, ibu pasti akan marah besar. Mati-matian ibu cari uang untuk membiayai kuliah gue, tapi selama ini uang semesteran pemberian ibu selalu gue habis kan.. gue terlena, karena Bagas yang selama ini membayar kan uang semesteran gue. Gue benar-benar kehilangan Bagas, dan semua ini karena mereka berdua!" Umpat Yura, seraya mendengus kesal.
"Yura,," panggil seorang gadis manis dengan pakaian sederhana menghampiri Yura, dan ikut duduk di bangku di bawah pohon rindang tersebut. "Kenapa Ra, wajah lu kusut gitu?" Tanya gadis itu, penuh selidik.
"Gue butuh uang, tapi bingung mau cari kemana lagi? Mendesak Sil, sembilan juta dan lusa uang itu harus sudah ada," balas Yura, dengan mendesah kasar.
"What? Buat apa Ra, uang sebanyak itu?" Tanya Sesil, teman baik Yura yang sama-sama dari keluarga sederhana.
"Uang semesteran yang dikasih ibu sudah gue habis kan, saat itu Bagas janji mau ngasih gue dua
puluh juta.. tapi belum sempat ngasih, Bagas nya udah pindah ke Surabaya," jawab Yura dengan lesu.
Sesaat kedua nya terdiam, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Sil, lu kan udah kerja di kafe beberapa hari ini. Bisa enggak, minta tolong pinjam uang sama bos lu? Kalau perlu, gue juga ikut kerja di sana deh.. gue bener-bener dah pusing banget, buntu otak gue? Please,, tolongin yah,," pinta Yura dengan memelas.
Sesil mengernyit, "gimana ya Ra, gue sih mau-mau aja bantu lu. Tapi, gue kan kerja di sana juga belum lama Ra," Sesil menatap Yura dengan bingung,,, di satu sisi dia tidak tega melihat teman nya seperti ini, namun di sisi yang lain dia enggak yakin bos nya mau memberi kan pinjaman uang sebanyak itu karena diri nya adalah karyawan baru.
"Gue ikut ngelamar kerja di sana deh,, masih ada lowongan enggak?" Desak Yura.
"Kayak nya sih, masih ada Ra.. karena kebetulan, karyawan nya di prioritaskan dari kampus kita ini. Denger-denger sih, owner nya mahasiswi sini juga," balas Sesil.
"Ya udah, ayo Sil kita ke sana sekarang. Udah enggak ada jam kuliah lagi kan?" Yura nampak tidak sabar, mata nya berbinar penuh semangat. Begitu besar harapan nya untuk bisa di terima kerja di kafe tempat Sesil bekerja dan berharap bos nya mau memberi kan mereka pinjaman uang.
Kedua gadis berbeda style itu berjalan cepat meninggalkan kampus tempat mereka kuliah, untuk menuju kafe yang letak nya tak begitu jauh dari kampus.
Tak berapa lama, Yura dan Sesil yang menaiki sepeda motor milik Sesil telah tiba di pelataran kafe. Sesil segera memarkir sepeda motor nya di parkiran khusus karyawan.
Setelah meletakkan helm di atas sepeda motor matic milik nya, Sesil menggandeng tangan Yura untuk masuk kedalam kafe.
"Pagi menjelang siang bang Dika,," sapa Sesil dengan tersenyum ramah.
"Eh, neng Sesil.." balas Dika dengan tersenyum hangat, "kok tumben udah dateng, neng Sesil kan shif sore?" Tanya Dika menyelidik.
"Iya bang, ada yang mau Sesil bicarakan sama bang Dika." Balas Sesil, seraya melirik Yura. "Tapi kalau bang Dika masih sibuk, nanti aja enggak apa-apa kok bang.. biar Sesil tunggu di belakang aja," lanjut gadis manis itu.
"Kebetulan ini udah selesai, tinggal nganterin ke atas.. ke kantor big bos," ucap Dika, seraya meletakkan kopi yang sudah dia racik ke atas baki.
"Za,, tolong anterin ini ke lantai tiga, pesanan bos," titah Dika pada salah seorang karyawan nya.
"Siap bang Dika," balas pemuda tersebut, dan segera mengantarkan kopi pesanan bos nya ke lantai tiga.
"Yuk, neng,, duduk di sana," tunjuk Dika, pada bangku yang masih tersisa di sudut ruangan.
Mereka bertiga kemudian duduk di bangku tersebut, Yura nampak memindai seluruh ruangan kafe, "ramai juga ya pengunjung nya," gumam Yura dalam hati.
Kafe yang dikelola oleh Dika ini, memang selalu ramai. Selain tempat nya yang strategis, desain interior kafe yang kekinian dengan segala fasilitas yang digemari kalangan muda,,, serta menu minuman dan makanan yang ditawarkan sangat memanjakan lidah, di tambah dengan harga yang sangat terjangkau, membuat kafe ini tak pernah sepi pengunjung.
"Oh ya neng, ada perlu apa?" Tanya Dika, menatap Sesil.
"Bang, masih ada lowongan karyawan enggak? Temen gue butuh pekerjaan banget nih bang,," Sesil melirik Yura.
Yura mengangguk, "iya bang, perkenalkan.. saya Yura, teman nya Sesil." Ucap Yura memperkenalkan diri nya.
Dika menatap Yura dengan menyelidik, "masak sih dia butuh pekerjaan kayak gini, dari penampilan nya.. dia kayak dari kalangan atas," gumam Dika dalam hati. "Beneran mbak Yura mau kerja jadi karyawan di kafe ini?" Tanya Dika memastikan.
Dika mengangguk, "bisa aja sih, tapi yang ada shif pagi. Memang nya kamu bisa? Kamu kan teman nya neng Sesil, pasti masih kuliah kayak neng Sesil dong?" Dika menatap Yura dengan intens, ingin tahu sejauh mana gadis yang berpakaian seksi di depan nya ini sungguh-sungguh ingin bekerja.
"Bisa bang, Yura bisa.. yang penting Yura diterima kerja di sini. Masalah kuliah gampang," balas Yura dengan antusias.
"Oke, kalau begitu.. sebagai uji coba, sehari ini kamu mulai bekerja. Bagaimana?"
"Siap bang," balas Yura dengan tersenyum lebar.
Yura melirik Sesil, dan menyenggol lengan teman nya itu.
Sesil yang paham kode dari Yura berdeham. "Ehm... bang Dika, maaf. Kalau kami pinjam uang bang Dika boleh enggak? Kami pasti akan ganti kok bang, kalau perlu potong gaji kami tiap bulan juga enggak apa-apa. Please ya bang,, kami butuh banget,," Sesil memohon pada Dika.
Dika mengernyit, "berapa neng?" Tanya Dika.
Sesil menatap Yura sekilas, "sembilan juta bang," balas Sesil pelan.
Dika mendesah pelan, "kalau sebanyak itu, bang Dika enggak ada neng. Memang nya buat apa neng?" Tanya Dika menatap Sesil.
Sesil kemudian mengatakan dengan jujur, bahwa uang itu untuk membayar semesteran Yura dan harus ada secepat nya.. karena jika tidak, Yura bisa terancam di keluarkan dari kampus. "Tolong bantu kami ya bang?" Pinta Sesil.
"Abang coba bicarakan sama big bos ya, kebetulan mereka sudah pulang dari kampus tadi." Balas Dika.
"Bang, nyonya bos minta di buatin kopi spesial," ucap karyawan Dika, yang tadi mengantarkan kopi ke lantai tiga.
"Oke," balas Dika singkat.
"Neng Sesil, tolong temen nya suruh ganti pakai seragam. Dan nanti ikut abang menemui bos," titah Dika, seraya beranjak dari tempat duduk nya.
Dika segera menyiapkan kopi spesial untuk ibu hamil, pesanan dari nyonya bos.
Sedangkan Sesil mengantarkan Yura ke ruangan khusus karyawan, dan mengambilkan seragam untuk Sesil.
"Ra, next kalau lu kerja.. lu harus pakai celana panjang, karena itu aturan di kafe ini. Big bos enggak suka, melihat karyawan nya mengenakan pakaian minim," ucap Sesil memperingatkan teman nya.
Yura mengernyit, "memang nya, big bos nya sudah tua? Dan pakai peci putih?" Ledek Yura.
Sesil menyentil kening Yura pelan, "big bos nya masih sangat muda dan tampan," balas Sesil.
"Oh ya? Wah, kalau gitu, bisa gue goda dong?" Yura tersenyum penuh arti.
"Jangan mimpi!" Seru Sesil, dan kemudian segera menyeret pelan lengan Yura yang sudah berganti pakaian seragam kafe. "Bos sudah pinta istri dan istri nya sangat cantik," lanjut Sesil.
Disaat yang sama, Dika juga sudah selesai menyiapkan kopi untuk nyonya bos. "Udah siap?" Tanya Dika, seraya melihat Yura.
Yura mengangguk.
"Bawa ini, dan ikuti gue," titah nya, "neng tunggu sebentar di sini ya?" Pinta Dika seraya tersenyum manis pada Sesil.
Sesil mengangguk dan membalas senyum Dika.
Dika dan Yura kemudian masuk kedalam lift untuk naik ke lantai tiga.
Tak berapa lama, Dika dan Yura tiba di lantai tiga.. dimana ruangan big bos dan teman-teman nya berada.
Ruangan tersebut masih terlihat sepi, karena sebagian penghuni nya memang masih berada di kampus. Hanya bos dan istri nya yang sudah pulang.
Dika berjalan mendahului Yura menuju ke sebuah ruangan, dimana bos dan istri nya tengah bersantai. Dari tempat nya Yura dapat melihat, seorang wanita berhijab, tengah duduk selonjoran sambil menunduk.. dengan kaki nya berada di atas pangkuan seorang laki-laki, dan laki-laki tersebut nampak tengah memijat nya.
"Bos," sapa Dika.
Kevin dan Salma kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Kalian?!" Yura sangat terkejut..
to be continue,,,