
Setelah beberapa saat memejamkan mata dan mengatur nafas nya, perlahan Malika beringsut hendak beranjak menuju kamar mandi.
"Mau kemana yank?" Tanya Rahman, seraya membuka mata nya begitu menyadari pergerakan sang istri.
"Icha mau ke kamar mandi bang," balas Malika, dan kemudian segera beranjak. "Aduh,,," desis Malika menahan perih di pangkal paha nya.
"Kenapa yank?" Tanya Rahman khawatir, seraya ikut beranjak. "Apa sakit banget yank?" Wajah Rahman nampak cemas.
Malika menggeleng, "enggak apa-apa kok bang, santai saja," hibur Malika, yang tak ingin membuat sang suami khawatir.
Sebenar nya, jika saat ini suami nya sedang tidak sakit.. tentu dia akan bermanja ria seperti biasa nya, dan akan meminta Rahman untuk menggendong nya ke kamar mandi seperti yang sering dibaca nya pada cerita dalam novel-novel online. Tapi Malika harus bisa mengerti keadaan sang suami saat ini, lagipula dia sendiri kan tadi yang memulai?
Malika melangkah perlahan sambil meringis menahan sakit, mencoba untuk tidak mengeluh.. meski jelas ini bukan diri nya, tapi Malika harus belajar dan ini adalah saat nya bukan?
Rahman yang masih duduk di tepi ranjang dan memperhatikan jalan nya Malika yang sedikit tertatih, merasa sangat bersalah. Rahman kemudian mendekati Malika dan menuntun nya, "maaf ya?" Bisik Rahman.
Kembali Malika menggeleng, "ini mau nya Icha, abang enggak perlu minta maaf," ucap Malika dengan bijak, sambil terus berjalan.
"Icha bisa sendiri bang, abang istirahat saja sana. Abang pasti capek kan.. habis push up dengan satu tangan?" Malika menatap Rahman sambil tersenyum penuh arti, dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu nya.
Meninggalkan Rahman yang mengernyit keheranan di depan pintu kamar mandi, "push up dengan satu tangan?" Gumam Rahman.
Rahman masih berdiri di sana, tatkala Malika membuka pintu kamar mandi. "Kok abang masih di sini? Mau buang air kecil juga?" Tanya Malika menyelidik.
"Abang nungguin kamu yank," balas Rahman, dan kemudian menggandeng tangan Malika untuk kembali ke ranjang pasien.
"Ya ampun abang,, ini gimana?" Jerit Malika, ketika sudah sampai di sisi ranjang dan hendak kembali naik, dan mendapati ada banyak bercak darah bekas percintaan nya yang panas barusan di sprei putih di ranjang pasien tersebut.
Rahman menggaruk kepala nya yang tidak gatal, seraya tersenyum kecut.
"Icha malu bang, kalau sampai besok ketahuan sama suster," rajuk Malika.
Rahman kemudian mengusap bercak tersebut dengan jari nya, "masih basah yank, coba abang lap pakai tissue ya,,," Rahman bergegas mengambil tissue di atas nakas, dan mulai mengelap sprei tersebut dan menggosok-gosok nya dengan tissue yang baru dia ambil.
"Emang nya bisa bersih bang?" Tanya Malika dengan tatapan tak yakin.
Rahman menggeleng, "minimal warna nya pudar," balas Rahman. Dan setelah cukup lama di gosok, warna nya memang tak lagi sepekat tadi.
"Oh iya bang, di gosok pakai sabun mandi dikit," Malika yang teringat sesuatu bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil sabun mandi cair, dan tak berapa lama Malika sudah kembali dengan membawa barang yang dia butuhkan.
Rahman mengernyit, tapi tak berkomentar.
Malika kemudian menuangkan sedikit sabun cair ke permukaan sprei yang terkena bercak darah nya, dan meski kurang yakin dengan ide dari Malika tersebut,,, Rahman tetap saja menggosok permukaan sprei tersebut dengan tissue.
Dan benar ada nya, setelah di gosok beberapa kali, kini permukaan sprei kembali bersih. "Wih, benar yank.. bisa bersih," seru Rahman, "dapet ide darimana yank?" Rahman menoleh kearah sang istri, yang kini tengah duduk di sofa.
"Dari mommy," balas Malika, "kata mommy, kalau misal nya Icha lagi menstruasi dan celdam nya kotor,, Icha mesti cuci sendiri sampai bersih dengan sabun mandi, dan enggak boleh ngrepotin bibi untuk hal pribadi seperti itu," terang Malika apa ada nya, seraya tersenyum.
Rahman mengangguk, kemudian mendekat ke arah Malika dan ikut duduk di sofa.
"Kok malah ikut duduk di sini? Memang nya, abang enggak capek? Enggak ngantuk?" Tanya Malika, seraya menyandarkan kepala nya di bahu kanan Rahman.
Rahman menggeleng, "ngantuk nya ilang, gara-gara noda di sprei," balas Rahman, "tapi seru juga ya yank, kayak nya enggak ada deh pengantin baru selain kita yang musingin noda di sprei,," lanjut Rahman seraya terkekeh, yang disambut tawa pula oleh Malika.
"Iya, benar juga bang.. pasti cuma kita, gara-gara sprei nya putih sih," ucap Malika.
"Kenapa kita malah jadi bahas sprei yank?" Rahman melirik sang istri seraya mengernyitkan dahi nya.
"Iya juga ya, hahaha,," dan Malika kembali tergelak, begitu pula dengan Rahman yang akhirnya ikut tertawa mengingat pengalaman lucu kedua nya barusan.
Hening sejenak menyapa ruang rawat, yang di dominasi warna putih tersebut.
"Abang capek?" Tanya Malika, memecah keheningan seraya mengelus bagian kening Rahman yang masih terlihat lebam.
Rahman menggeleng, "memang nya kenapa?" Rahman balik bertanya, seraya menatap Malika dengan intens.
"Abang mau nambah lagi enggak?" Goda Malika mengerling, "masih kuat enggak, push up cuma pakai satu tangan?" Lanjut Malika semakin menjadi.
Rahman tersenyum, "siapa takut?" Balas Rahman, dan langsung menghujani sang istri dengan ciuman yang memabukkan.
"Kalau tadi di ranjang pasien, sekarang di sofa aja ya bang,," ucap Malika dengan tatapan sayu, sesaat setelah Rahman melepaskan belitan lidah nya.
Rahman mengangguk seraya tersenyum, tapi baru saja mereka mau memulai senam kesehatan jantung sesi kedua.. dering ponsel milik Rahman yang disimpan di atas nakas, membuyarkan suasana romantis yang telah kembali tercipta.
"Siapa bang? Malam-malam gini telpon?" Tanya Malika seraya melirik jam di dinding yang menunjukkan jarum pendek berada di angka sepuluh.
Rahman yang tadi segera beranjak untuk mengambil ponsel nya menoleh kearah sang istri, "dari group, palingan Bayu yang memulai," balas Rahman yang hafal dengan nada dering khusus di group nya tersebut.
"Abang angkat dulu ya yank,, kamu tiduran aja sini," titah Rahman yang sudah kembali duduk, seraya menunjuk pangkuan nya.
Malika yang mulai di serang rasa kantuk pun mengangguk, dan kemudian segera merebahkan diri di sofa dengan paha Rahman sebagai bantal nya.
Rahman terdengar mulai menyapa teman-teman nya, "Bay, Di,, kalian masih di rumah utama?" Tanya Rahman, saat melihat background kamar yang saat ini di tempati Bayu. Rahman hafal betul, kalau itu adalah kamar favorit mereka bertiga jika sedang menginap di kediaman keluarga Kevin.
Sedangkan Dion nampak sedang berada di balkon, di lantai dua bersama Malik. Dan Kevin, ayah satu anak itu terlihat sedang menina bobokkan putri nya dengan Salma yang memegang ponsel.
"Masih lah, kami kan nunggu sampai kalian pulang ke sini, habis itu kita sama-sama balik ke kantor," balas Bayu, "maka nya kalau mau Maper, puas-puasin aja sekarang, gempur terus... sampai pagi." Lanjut Bayu seraya terkekeh.
"Lah, gimana mau gempur... jam segini malah lu ajakin ngobrol,,," Rahman pura-pura menggerutu.
"Tahu tuh si Bayu, out aja bro.. dan off kan ponsel nya, biar enggak di telponin melulu sama Bayu," saran Dion.
"Emang nya lu bisa bro, dengan kondisi seperti itu?" Tanya Bayu, seraya menepuk lengan kiri nya sendiri.
"Yang sakit kan tangan nya Babay,,," balas Kevin pelan, karena khawatir mengganggu tidur sang putri.
"Benar juga ya,,," Bayu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "berarti, udah gol dong??" Tanya Bayu, sesaat kemudian dengan kepo.
"Jangan di jawab bro,, biar aja arwah nya gentayangan karena penasaran," cetus Dion, seraya terkekeh.
"Eh,, sekate-kate lu bang Dion... nyumpahin gue mati lu?!"
"Kalau perlu nih bro, lu minta sama suster ngesot yang menghuni rumah sakit dimana lu di rawat,,, agar mendatangi Bayu malam ini," lanjut Dion menakut-nakuti Bayu, masih dengan tawa nya. Karena mereka semua tahu, Bayu paling takut kalau mendengar cerita horor.
Dan ekspresi Bayu yang langsung ketakutan, disambut tawa oleh teman-teman nya itu.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc