
Hari berganti, minggu berlalu, satu bulan telah berjalan dan kantor baru milik Kevin yang terletak di dekat kampus tempat nya kuliah nanti sudah siap di tempati. Kevin dan teman-teman nya juga sudah memindahkan sebagian barang-barang dari ruko lama ke kantor nya yang baru, karena rencana nya weekend ini mereka akan resmi menempati kantor baru tersebut sebelum mereka mulai aktif kuliah beberapa hari lagi.
Ruko yang lama semua nya difungsikan untuk cafe, dan rencana nya akan dikelola oleh sahabat Dika yang juga sudah cukup lama bekerja sama Dika di cafe tersebut. Sedangkan Dika akan ikut pindah ke kantor Kevin yang baru dan membuka cafe di lantai dasar gedung perkantoran milik Kevin.
Karena gedung tersebut terdiri dari lima lantai dan Kevin merasa bahwa hanya dengan memakai dua lantai saja sudah cukup, maka nya Dika di ajak untuk membuka cafe baru di sana. Lagi pula letak gedung tersebut sangat strategis dan dekat dengan kampus, sehingga sangat prospektif untuk bisnis cafe.
Apa lagi kemampuan Dika dalam meracik kopi tidak diragukan lagi dan sebagai barista nama nya sudah banyak dikenal di kalangan pecinta kopi, dan pasti nya para pecinta kopi akan memburu nya.
Kini mereka sedang menata kantor yang baru, Edo dan tim IT nya akan menempati lantai dua. Dan akan ada penambahan beberapa staf admin wanita, yang baru di pasang iklan nya oleh Dion di sosial media dan di papan pengumuman kampus. Mereka nanti juga akan menempati lantai dua, bersama tim nya Edo.
Sedangkan lantai tiga, di tempati oleh Kevin selaku owner beserta sang istri dan teman-teman dekat nya. Mereka mulai menata meja masing-masing, penataan nya masih sama seperti saat mereka masih menempati base camp di ruko depan sekolah dulu,, yaitu tanpa sekat, karena mereka ingin bisa bekerja sambil bercanda ria.
Yang membedakan, di lantai ini selain di sediakan ruang untuk berdiskusi seperti biasa,,, juga terdapat ruang untuk meeting yang di desain secara formal dengan meja panjang di tengah dan dikelilingi kursi-kursi empuk serta terdapat layar proyektor yang lebar di depan, dan di lengkapi pula ruang tamu dengan sofa elegan dan tanaman hias cantik yang menghiasi sudut ruangan.
Lantai empat untuk sementara digunakan sebagai tempat untuk para karyawan laki-laki menginap, termasuk Bayu, Rahman dan juga Dion yang rencana nya juga akan ikut menginap di sana. Dika dan juga Edo cs, juga akan tinggal di sana. Di lantai tersebut, di lengkapi pula dapur mini untuk keperluan mereka memasak.
Sedangkan lantai paling atas, yaitu lantai lima.. di fungsikan oleh Kevin sebagai tempat istirahat sementara, jika dia dan sang istri malas pulang ke apartemen sang daddy.
Ya, setelah resepsi pernikahan Kevin dan Salma di gelar.. pasangan muda itu memilih untuk tinggal terpisah dengan orang tua nya, alasan nya adalah karena mereka ingin mandiri dan tidak bergantung pada orang tua. Dan daddy Rehan serta mommy Billa, hanya bisa menuruti keinginan putra nya itu selagi hal itu baik untuk mereka berdua.
Di lantai lima itu, sengaja di desain khusus seperti layak nya rumah tinggal sesuai keinginan istri bos. Selain kamar utama dengan fasilitas bak hotel berbintang lima, ada juga dua ruang tamu yang sengaja di sediakan jika Devi atau ada saudara lain yang ingin menginap.
Selain itu, ada ruang tamu dan juga ruang keluarga yang cukup luas. Dan di lengkapi pula dengan dapur modern, karena Salma ingin bisa menyediakan minimal sarapan untuk sang suami dan untuk diri nya sendiri sebelum berangkat beraktifitas.
"Udah sore nih, pulang yuk.. tapi sebelum pulang, kita ngumpul dulu dan minta kopi sama bang Dika di bawah." Ajak Kevin sama teman-teman nya, "ada yang harus gue sampaikan pada semua nya, sebelum kantor kita ini lusa resmi dibuka," lanjut Kevin seraya bersiap untuk turun.
Dan karena mereka telah selesai menata ruangan di lantai tiga tersebut, mereka pun segera berkemas untuk segera turun mengikuti ajakan Kevin.
Kevin menggandeng tangan sang istri memasuki lift, yang diikuti oleh Devi dan yang lain nya.
"Gandengan mulu, kayak truk aja," lirih Bayu, yang iri karena diri nya belum bisa menggandeng tangan sang kekasih pujaan hati.
"Ingat Bay, syirik itu tanda tak mampu," balas Rahman lirih, seraya melirik Bayu.
"Iya, gue tahu itu bro.. lah lu dan Dion masih mending, enggak bisa menggandeng karena emang pacar kalian enggak ada di sini! Nah gue, pacar gue kan di depan mata?! Dekat tapi tak tergapai..." ucap Bayu, dengan wajah memelas.
Dion, Rahman dan Kevin tertawa, mentertawakan kesengsaraan Bayu.. sedangkan Devi dan Salma, hanya geleng-geleng kepala.
"Kalian tuh ya, yang dipikir hal-hal yang mesra aja. Padahal dalam hidup berumah tangga nanti, ada banyak hal yang harus di hadapi.. jadi bukan hanya sekedar menghabiskan waktu dengan bermesraan sama pasangan aja?!" Tegur Devi, seraya melirik Bayu.
"Benar begitu bro?" Tanya Bayu, menatap Kevin.
"Kok gue?" Kevin mengernyit.
"Lu kan yang udah ngejalanin hidup berumah tangga bro?" Dion ikut menimpali.
Kevin mengusap tengkuk nya, dan tersenyum penuh arti seraya melirik sang istri, "kalau gue pribadi sih, yang ada emang hal-hal yang mesra. Apa pun keadaan nya, meski ada masalah ataupun gue harus bekerja lebih ekstra untuk menjamin kehidupan keluarga gue nanti nya.. karena yang ada dipikiran gue semua demi istri tercinta, so apapun itu semua nya akan terasa romantis."
Kevin kemudian mengelus perut sang istri dan tanpa malu-malu mencium perut istri nya yang masih terlihat rata itu, "dan demi buah cinta kami," ucap nya dengan tersenyum bahagia.
Devi tersenyum malu dan membuang pandangan nya.
Yang lain hanya bisa tersenyum kecut, karena mendapatkan tontonan kemesraan dari bos sekaligus teman baik nya itu.
Tepat di saat yang sama, pintu lift terbuka dan mereka segera keluar dari kotak besi tersebut. Kevin berjalan menuntun sang istri mendahului yang lain, dan segera duduk di tempat lesehan.
Ya, lantai satu yang telah di desain menjadi cafe itu, terdapat tempat lesehan nya.
"Bay, tolong kamu telpon bang Edo dan tim nya untuk ngumpul dulu di sini," titah Kevin pada Bayu.
"Oke bos," balas Bayu seraya tersenyum.
Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala, dia merasa enggak suka dipanggil seperti itu oleh Bayu.
Dika yang melihat rombongan Kevin pun segera menghampiri dan meninggalkan pekerjaan nya menata alat-alat yang dia butuhkan untuk meracik kopi.
"Mau kopi?" Tawar Dika, meski cafe belum mulai buka, tapi sejak melihat Kevin dan teman-teman nya datang tadi siang.. Dika sudah menyiapkan segala sesuatu nya, jika bos dan teman-teman nya itu menginginkan kopi racikan nya.
"Mau dong bang, sengaja kami ngumpul di sini karena kami ingin minta kopi dari bang Dika," balas Kevin lugas, "tolong segera bang Dika siapin, untuk bang Edo dan tim nya sekalian. Dan setelah selesai, bang Dika bisa langsung gabung bersama kami, karena ada yang harus kita bicara kan."
"Siap tuan muda," balas Dika tersenyum dan segera berlalu.
Lagi-lagi Kevin menggelengkan kepala nya, dia pun merasa tak nyaman di panggil seperti itu oleh Dika.
"Sambil nunggu yang lain gabung, kita lanjut kan yang tadi.. tentang hidup berumah tangga," ucap Kevin, yang membuat semua mata tertuju kearah nya.
Bayu nampak sangat antusias, ingin mendengar kan pembicaraan Kevin.
"Memang benar apa yang dikatakan Devi tadi, bahwa hidup berumah tangga itu tak hanya tentang kemesraan dan keromantisan belaka.. dalam artian, tak hanya melulu soal gandengan, ciuman atau pun hal yang enak-enak lain nya. Namun hidup berumah tangga itu sama hal nya dengan kita sekolah ataupun kuliah, ada pendaftaran, pembelajaran, ujian dan baru kelulusan." Lanjut Kevin, menatap teman-teman nya bergantian.
"Di tahap awal orang akan sangat bergembira karena lolos dan berhasil mendapatkan buku nikah dan predikat baru yaitu sebagai suami atau istri, di tahap selanjut nya beberapa orang mulai jenuh dengan pembelajaran yang berlangsung dalam berumah tangga dan kemudian memilih untuk mundur dan meninggalkan pasangan nya bahkan ada yang mendua.. nah disinilah di butuhkan sisi romantis dari masing-masing pasangan, jangan bosan untuk selalu jatuh cinta pada pasangan agar kita tidak merasa bosan menjalani kehidupan berumah tangga bersama pasangan halal." Kembali Kevin melirik mesra sang istri, dan mengelus lembut paha istri nya.
"Dan di tahap ketiga yaitu tahap ujian, mulai banyak pasangan yang gagal melanjutkan biduk rumah tangga nya dan memilih berpisah.. karena merasa ujian yang dijalani begitu berat, dan mereka merasa tak sanggup lagi menjalani nya. Padahal jika sepasang suami istri bisa saling mensupport, maka tak ada yang berat dalam hidup ini karena Allah sendiri telah menjamin bahwa Dia tidak akan memberikan ujian pada hamba Nya melebihi batas kemampuan hamba tersebut."
to be continue,,,
🌷🌷🌷🌷🌷
.......bahwa Allah tidak akan memberikan ujian pada hamba Nya melebihi batas kemampuan hamba tersebut.... (penggalan QS. Al-Baqoroh ; 286) ...
Ayat di atas juga menjadi pengingat bagi kita, bahwa saat kita sedang terpuruk dan banyak beban hidup.. sebagai orang beriman harus senantiasa berserah diri kepada Allah, di samping senantiasa berusaha semampu kita. Wallahua'alam... 🙏🙏