All About KEVIN

All About KEVIN
Biarkan Mereka Seperti itu Dulu



Sedangkan Bayu yang sedari tadi memperhatikan Rahman, langsung berdiri dan mengintip layar ponsel Rahman yang membuat teman nya itu senyum-senyum sendiri sedari tadi. "Cie,, love you more abang sayang,,," celoteh Bayu yang sempat membaca sepenggal balasan Malika, seraya mencium pipi Rahman sekilas dan kemudian segera kembali duduk dan berlindung di sisi Devi.


Rahman yang terkejut dengan ulah Bayu langsung saja mengusap kasar pipi nya yang ternoda oleh ciuman teman dekat nya yang absurd itu, "sialan lu Bay,," gerutu Rahman seraya cemberut, dia ingin melempar Bayu dengan tempat tissue yang ada di depan nya namun posisi Bayu terhalang oleh Devi.


Bayu menjulurkan lidah nya dan kemudian tertawa puas, yang lain pun ikut tertawa.


"Lu pacaran nya kayak ABG ya bro?" Goda Bayu seraya mengerling pada Rahman.


"Cih,,, kayak lu enggak aja," balas Rahman dengan mencibir.


"Beda dong,, gue sama Devi yang dibahas kan urusan dapur, gimana cara nya biar tetap bisa ngebul," balas Bayu sekena nya.


Devi geleng-geleng kepala mendengar ucapan sang tunangan.


"Kayak Dion sama kak Fira tuh, yang mereka bicarakan pasti tentang masa depan," lanjut Bayu, melihat kearah Dion dan Fira yang sedari tadi asyik ngobrol berdua.


"Bahas apaan sih bang? Serius amat dari tadi? Pernikahan ya?" Tanya Devi, menatap Dion penuh selidik.


"Yaelah Dev,, baru juga pedekate dan belum di acc. Masak udah bahas pernikahan?" Balas Dion, seraya melirik Fira.


Fira hanya tersenyum.


"Kalau pun di acc, aku maunya merampungkan kuliah dulu.. baru menikah," lanjut Dion, "bukan kah begitu neng?" Dion menatap Fira, meminta persetujuan.


Hubungan Dion dan Fira memang semakin dekat, meski jarang bertemu tapi mereka rutin menjalin komunikasi via chat dan sesekali video call. Meski hingga detik ini, Fira belum memberikan jawaban pasti pada Dion tapi Dion yakin Fira juga menyimpan perasaan terhadap nya.


Fira mengangguk, "begitu lebih baik," balas Fira kalem.


"Setuju bro, kita nanti nikah nya bareng," timpal Rahman, menyetujui pendapat Dion.


"Pede banget lu bro, kalau Icha mau nikah sama lu? Palingan dia iseng doang.. nanti begitu masuk SMU dan ketemu cowok yang lebih kece dari lu, palingan juga si Icha langsung berpaling." Bayu pesimis dengan kelangsungan hubungan Rahman dan Malika, karena adik nya Kevin itu masih belia dan masih labil.


"Icha enggak seperti itu kali Bay,, meski masih muda tapi gue yakin, Icha tahu mana yang serius dan mana yang hanya sekedar main-main." Bela Kevin pada sang adik.


"Hehe,, sorry bro, gue enggak bermaksud jelek-jelekin Icha." Balas Bayu, tersenyum kecut. "Gue hanya ingin memperingatkan Rahman, agar tidak terlalu berharap hingga nanti nya dia akan kecewa," lanjut nya, seraya menatap Rahman.


Rahman mengangguk-angguk, dia pun mengerti maksud baik Bayu.


Sedangkan Kevin hanya tersenyum menatap Rahman, "gue berharap lu berjodoh sama adik gue Man, karena gue tahu lu pasti bisa membimbing Icha," gumam Kevin dalam hati.


"Belum pada ngantuk ya?" Sapa Salma yang baru bergabung.


"Hai baby, apa nenek sudah tidur?" Tanya Kevin, seraya menyambut sang istri agar duduk di bangku kosong di sebelah nya.


"Sudah, baru saja. Maaf ya lama, nenek masih pengin cerita-cerita soal nya," lirih Salma merasa tak enak hati, karena terlalu lama meninggalkan sang suami.


"Tak mengapa baby, kamu kan udah lama enggak ketemu nenek.. pasti nya beliau kangen," balas Kevin penuh pemakluman, "aku aja yang baru sebentar kamu tinggal, udah kangen," bisik nya, seraya mengerling menggoda sang istri.


"Ah, kamu mas.. pandai sekali ngegombal," Salma mencubit mesra paha sang suami.


"Iri aja lu Bay," cibir Kevin.


Sedangkan Salma tersenyum tersipu malu.


"Eh Ma, beneran lu hamil?" Tanya Devi yang masih belum percaya.


Salma mengangguk, "Alhamdulillah Dev, tadi udah di tes dan hasil nya positif," balas Salma seraya tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah,, gue ikut senang dengar nya," balas Devi dengan tulus.


"Sayang, asyik ya kayak nya kalau masih muda punya baby," ucap Bayu, "aku berharap papa kamu segera mengambil keputusan untuk kejelasan hubungan kita," lanjut Bayu penuh harap.


Ya, sampai saat ini.. papa Devi belum bisa mengambil keputusan, apakah Devi dan Bayu akan menikah bersamaan dengan abang nya Devi ataukah harus menunggu hingga awal tahun depan?


"Ngebet banget sih lu Bay?! Pengin segera punya baby, atau pengin praktek bikin baby?!" Ledek Dion, pada calon suami dari adik sepupu nya itu.


"Ya wajar lah bro,, kami kan pacaran sudah sangat lama, mau nunggu apa lagi coba?" Balas Bayu dengan santai.


Mereka terus berbincang, membicarakan apa saja dari hal yang sepele hingga masalah yang serius. Sesekali obrolan mereka diselingi dengan canda tawa, terkadang saling mengejek, saling menyalahkan dan dilain kesempatan mereka akan saling mendukung dan menasehati.


Sementara di ujung meja yang agak jauh dari meja Kevin dan teman-teman nya, daddy Rehan dan geng tampan nya juga tengah ngobrol dengan asyik. Di sana ada juga om ilham, papi Vincent dan ayah Yusuf yang ikut bergabung.


Di tengah obrolan, seringkali ayah Yusuf melirik kearah putri nya. Sebagai seorang ayah, sudah pasti ayah Yusuf tetap merasa khawatir melihat kedekatan putri nya dengan seorang pemuda, meskipun ayah Yusuf sudah mengenal baik salah satu keluarga Dion dan juga kakek nya. Dan berdasarkan yang beliau lihat sejauh ini, Dion juga pemuda yang baik.


"Kalau khawatir, dinikahkan aja sekalian bang," lirih om Ilham, yang sedari tadi mengamati gerak gerik ayah Yusuf.


Ayah Yusuf tersenyum, "enggak semudah itu kali dik, mereka kan belum lama kenal," balas ayah Yusuf berusaha untuk santai, dan menutupi kekhawatiran nya.


"Kan bisa sambil jalan juga bang," kekeuh om Ilham, dengan pemikiran nya yang mudah. Om Ilham memang tipe orang yang easy going, dan tidak rumit dalam menyikapi apapun.


Ayah Yusuf menggeleng.


Daddy Rehan yang bisa mendengar obrolan abang ipar dan adik ipar nya itupun ikut menimpali, "Dion itu anak yang baik bang, meski dia belum lama dekat sama Kevin,, tapi gue sudah tahu latar belakang nya, termasuk ayah nya. Ayah nya termasuk salah satu rekan bisnis gue, meski hubungan kami tidak terlalu dekat,,, tapi, cukup baik," daddy Rehan menatap ayah Yusuf, mencoba untuk meyakinkan abang nya itu.


"Kalau masih khawatir juga, diikat aja dulu bang," om Alex pun ikut menimpali dan memberi saran.


Kembali ayah Yusuf menggeleng, "untuk saat ini, itu bukan ide yang bagus. Karena Fira belum memberikan jawaban pasti atas pernyataan cinta Dion, padahal gue juga tahu pasti bahwa Fira juga menyukai Dion. Entah apa yang direncanakan putriku itu?" Balas ayah Yusuf seraya tersenyum lebar.


"Gue jadi ingat sama bunda nya dulu, yang main tarik ulur perasaan gue. Gue sampai jungkir balik mengikuti permainan kakak lu itu Rey,," curhat ayah Yusuf seraya terkekeh, "bahkan gue sempat mau mundur, tapi sayang juga.. karena sudah terlalu jauh gue berlari," lanjut nya mengenang perjuangan nya dulu dalam mendapat kan cinta bunda Fatima, wanita cantik, cerdas dan mandiri yang kini menjadi istri nya.


"Lantas menurut lu,, hubungan mereka harus bagaimana bro?" Tanya opa Alvian, yang sedari tadi mendengarkan.


"Untuk sementara, biarkan mereka seperti itu dulu.. sampai gue ada kesempatan untuk bertemu dengan keluarga besar Dion," ucap ayah Yusuf dengan yakin


to be continue,,,