
Usai makan siang bersama di cafe, dalam rangka surprise party untuk mereka berdua... Malika yang baru pertama kali masuk ke dalam kamar pribadi milik Rahman di hunian lantai empat gedung perkantoran milik abang nya itu,di buat terkesima melihat kamar sang suami yang tertata sangat rapi dan terlihat artistik.
"Wah, enggak nyangka ya.. kamar abang ternyata rapi banget? Icha pikir, berantakan seperti kebanyakan kamar-kamar cowok?" Gumam Malika, yang masih bisa di dengar oleh Rahman.
"Kamu suka yank?" Bisik Rahman seraya tersenyum, masih dengan menggenggam erat tangan sang istri. "Kalau ada yang ingin kamu rubah, katakan saja.. nanti biar abang rubah sesuai keinginan kamu," lanjut Rahman dengan menatap mesra istri cantik nya.
Malika menggeleng, "enggak perlu bang, Icha suka kok," Malika langsung melepaskan genggaman tangan nya, bergegas menuju ke tempat tidur dan merebahkan diri di sana dengan nyaman.
"Nyaman banget abang, dan... hmmm, aroma nya aroma wangi khas punya abang," ucap Malika sambil memejamkan mata, dan menghirup dalam-dalam aroma wangi maskulin khas milik sang suami yang menempel di sprei tersebut.
Rahman tersenyum seraya geleng-geleng kepala, "pandai menggombal kamu ya dik," ucap Rahman yang kini telah duduk di tepi ranjang, seraya memandangi wajah cantik di samping nya.
"Andai tangan ku sedang tidak sakit, aku pastikan akan langsung menubruk mu dik," gumam Rahman, masih dengan senyum nya.
"Abang enggak capek?" Tanya Malika seraya membuka kedua mata nya, "kalau abang enggak capek, bisa kok.. Icha yang mewakili," balas Malika seraya tersenyum menggoda, dengan menaik-turunkan kedua alis nya.
"Mewakili apa nih?" Tanya Rahman pura-pura tidak paham, padahal dalam hati Rahman tertawa bahagia. Istri nya yang dari dulu sudah sangat dikenal nya sebagai gadis yang agresif, kini setelah menjadi istri nya semakin menjadi... dan di saat Rahman tak berdaya seperti sekarang ini, sifat Malika tersebut jelas sangat menguntungkan diri nya.
Tanpa Rahman duga, Malika langsung bangkit dari pembaringan dan tanpa permisi duduk di pangkuan sang suami.
Malika terdengar membisikkan sesuatu di telinga Rahman, dan sedetik kemudian Rahman tertawa senang. "Terserah kamu aja yank, abang ngikut aja apapun yang akan kamu lakukan terhadap ab,,,"
Belum selesai Rahman berbicara, bibir nya telah di sumpal dengan milik Malika.. dan kembali, istri ceria Rahman itu membawa sang suami terbang melayang ke angkasa raya, hingga mereka berdua berhasil mencapai puncak nirwana bersama-sama.
*****
Malam hari nya, di hunian Kevin di lantai lima. "Mas, telpon Icha sama Rahman gih,, biar mereka berdua makan malam di sini," pinta Salma, pada sang suami yang sedang duduk di meja makan melihat Salma memasak.
Tadi nya Kevin mau bantuin sang istri memasak, namun Salma melarang dan menyuruh nya agar duduk saja di meja makan.
"Siap chef," Kevin kemudian segera menghubungi nomor Malika, seperti permintaan sang istri.
Sedangkan Salma yang masih menyelesaikan acara memasak nya tersenyum bahagia, mendengar kata-kata pujian dari sang suami. Kevin memang sering memanggil nya chef saat Salma sedang memasak, karena menurut Kevin... cita rasa masakan istri nya itu tiada dua nya.
"Bentar lagi mereka kemari," ucap Kevin, setelah menutup panggilan nya.
Kevin kemudian beranjak mendekati sang istri, "ada yang bisa mas bantu, cinta?" Bisik Kevin lembut, seraya meniup-niup telinga sang istri yang belum tertutup hijab.. karena saat ini, hanya ada mereka berdua di dalam hunian tersebut.
"Mas,,, geli, ah,," rajuk Salma, seraya menghindar. Tapi Kevin masih terus menggoda Salma.
"Mas, aku lagi masak,,, ntar mereka keburu dateng, dan ini belum selesai kalau di godain terus," Salma kembali mengingatkan, seraya mengerucutkan bibir nya.
"Iya deh iya, mas enggak ganggu." Balas Kevin akhir nya, mengalah. "Mas, bantu siapkan minuman nya ya cinta," lanjut Kevin menawarkan.
"Huum,,," balas Salma hanya dengan gumaman.
Tak berapa lama, Salma telah selesai menghidangkan semua masakan nya di atas meja.
"Mas, aku ke kamar dulu ya.. mau ambil hijab," pamit Salma, sambil melangkah menuju kamar utama.
Hingga suara ucapan salam dari beberapa orang sekaligus, yang memasuki hunian mereka menyudahi keasyikan Kevin dan Salma.
"Assalamu'alaikum,,,"
"Mas, udah ah.. mereka udah datang," Salma mendorong pelan tubuh sang suami, yang menghimpit nya ke dinding. Dan kemudian memukul-mukul dada bidang Kevin dengan merajuk, "kebiasaan deh,, orang lagi mau pakai hijab malah di gangguin," lanjut Salma, sambil buru-buru membetulkan kancing baju bagian atas nya yang terbuka akibat ulah sang suami.
Kevin hanya terkekeh kecil menanggapi protes sang istri, dan kemudian memilih untuk berdiri bersandar pada daun pintu sambil menunggu Salma selesai memakai hijab.
"Ayo, keluar,,," ajak Salma masih dengan cemberut, sedangkan Kevin masih senyum-senyum sendiri.
"Yah, kata nya ngundang suruh kesini buat makan malam bareng.. bukan nya menyambut, malah kita yang nungguin," sambut Bayu, begitu melihat kehadiran Kevin dengan wajah bahagia nya.. sedangkan Salma dengan wajah cemberut.
"Siapa yang ngundang lu Bay, gue kan hanya ngundang Icha dan suami nya?" Kevin mengernyitkan dahi, mendapati Bayu dan Devi juga Dion sudah duduk manis di meja makan bersama Rahman dan Malika.
"Tadi pas gue sama dik Icha mau kesini, Babay lihat kami bro.. terus ya gitu deh, ngeyel pada ngikut semua," balas Rahman seraya mencibir kearah Bayu dan Dion.
"Ya kan biar asyik bro, rame-rame... dari pada sendiri-sendiri kan?" Balas Bayu seraya tersenyum.
"Terus, gue tadi dengar... kata nya lu mau nginep di apartemen bang?" Tanya Kevin seraya menatap Dion.
"Setelah gue pikir-pikir, udah jomblo.. terus mesti mengasingkan diri pula, itu malah akan semakin membuat gue merasa nestapa. Mending gue di sini aja kan, bareng sama kalian?" Balas Dion dengan sebuah pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.
"Memang nya, lu enggak bakalan kepanasan lihat kita-kita mesra sama pasangan masing-masing bang?" Bayu tersenyum seringai.
"Gue enggak perduli, palingan lu mesra nya juga gitu-gitu doang kan? Enggak bakalan berani terang-terangan nyium istri di depan semua sahabat-sahabat nya kayak daddy Rey? Kemesraan lu masih standar Bay,,," Cibir Dion, seraya tersenyum mengingat kemesraan daddy Rehan yang sempat terekam di memori nya ketika keluarga Alamsyah dan Antonio ada acara bersama.. dan teman-teman baik Kevin semua nya, termasuk diri nya juga hadir di acara tersebut.
Kemesraan daddy Rehan bukan hanya ditunjukkan melalui perbuatan nya saja, yang bisa secara impulsif mencium mommy Billa di hadapan semua orang,,, tapi juga terlihat dan terekam dengan jelas di memori Dion, bahwa tatapan mata daddy Rehan juga senantiasa mesra kearah sang istri. Senyum daddy Rehan juga nampak begitu mengagumi sosok mommy Billa, dan senyum itu adalah senyum yang penuh cinta.
Dan Dion bertekad dalam hati, akan memperlakukan istri nya kelak seperti hal nya daddy Rehan memperlakukan istri nya. Karena bagi Dion, Fira pantas untuk mendapatkan itu semua dari nya. Dan membayangkan serta memikirkan Fira, membuat Dion senyum-senyum sendiri.
"Woy,, malah senyum-senyum sendiri, kesambet apa bang?" Tegur Devi, yang membuyarkan lamunan abang sepupu nya.
"Pasti masih mengagumi daddy Rehan sama mommy Billa, ya?" Selidik Bayu, seraya menatap Dion.
Dion mengangguk dan tersenyum, "Beliau berdua itu, idola kita semua... right? Kevin aja masih belum bisa menyamai daddy Rey tingkat kemesraan nya, padahal dia kan terkenal yang paling mesra di antara kalian bertiga kan?" Pungkas Dion.
π·π·π·π·π· tbc,,,
Maafken besti, ternyata tak sesuai prediksiku,,, antara body dan hati yang tak bisa seiring sejalanππ
Maksud hati mau terus up setiap hari, tapi body minta hak nya untuk sejenak di manja dan di pelukπ€π€
Yah, beginilah jadi nya... up nya jadi bolong-bolong ππ
Salam hangat, Sehat selalu untuk kalian semua ππ