All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Seperti di Hempas ke Dasar Jurang yang Terdalam



Malika menyusut cepat air mata nya, dan kemudian segera bangkit. Menyalami Kevin dan Salma tanpa sepatah katapun, dan kemudian berlalu begitu saja menuju lift.


Rahman sempat menoleh sebentar kearah Kevin, yang kebetulan juga tengah menatap nya. Dan kemudian segera menyusul Malika, yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam lift.


Di dalam lift, hingga keluar dan berjalan menuju mobil.. kedua nya sama-sama diam. Rahman yang sejujur nya masih gamang dengan keputusan yang telah diambil barusan, dan Malika yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan pemuda yang berjalan di samping nya itu masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.


Malika berjalan sambil menunduk, karena air mata nya terus saja keluar. Sesekali gadis itu menyeka air mata sebelum jatuh ke pipi, dengan jemari tangan nya yang lentik.


Sesampai nya di parkiran, Rahman segera membukakan pintu untuk Malika.. pun tanpa bersuara. Dan mendapat perlakuan yang dingin dari Rahman tersebut, membuat tangis Malika pecah sesaat setelah dia duduk di samping kemudi.


Malika terus menunduk dan menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangan, gadis cantik itu menangis tanpa mengeluarkan suara.. hingga terlihat punggung nya berguncang, karena menahan isak tangis.


Rahman yang memutari mobil terlebih dahulu dan baru masuk kemudian, di buat terkejut melihat keadaan Malika. Pemuda itu menjadi merasa bersalah,,, tapi Rahman masih diam dan membiarkan Malika menyelesaikan tangis nya.


Hingga tiba-tiba, Malika menubruk Rahman dan menangis sejadi-jadi nya di dada sang kekasih yang bidang. Malika memeluk erat tubuh Rahman, seolah takut jika sang pangeran tampan pergi menjauh dari kehidupan Malika.


Rahman masih bergeming untuk beberapa saat, tapi pelukan Malika yang semakin erat dan tangis nya yang tak kunjung berhenti.. membuat Rahman akhir nya luluh juga, dan kemudian membalas pelukan gadis cantik itu.


Merasa mendapat kan balasan pelukan dari Rahman, Malika semakin mengeratkan lagi pelukan nya... dan tangis nya langsung berhenti, menyisakan isak yang membuat punggung nya sesekali masih bergetar.


"Maafin Icha bang,, Icha bersikap seperti tadi karena Icha takut abang tergoda sama cewek lain? Icha cemburu, karena Icha sayang banget sama abang,,," lirih Malika dengan terbata, di sela-sela isak tangis nya.


Rahman menarik nafas dalam dan menghembus nya perlahan, dan pemuda tampan itu mencium puncak kepala Malika yang tertutup hijab dengan sepenuh hati nya.


"Abang juga sayang banget sama dik Icha,, dan abang mengambil keputusan tersebut, demi kebaikan kita berdua dik?"


Malika mendongak menatap wajah tampan yang selalu menghiasi mimpi nya itu, "tapi Icha enggak mau kita break break an segala abang,,, Icha enggak bisa jauh dari abang.. Icha sayang sama abang," rajuk Malika dengan menatap dalam netra Rahman.


Wajah kedua nya begitu dekat, hembusan nafas Malika terasa hangat menerpa pipi Rahman. Dan bibir ranum itu, sedikit terbuka dan sesekali masih bergetar karena menahan tangis.. membuat jiwa kelelakian Rahman meronta, dan ingin dilepaskan saat itu juga.


Apalagi Malika semakin mendekatkan wajah nya, dan pelukan gadis cantik itu masih terasa begitu erat.. bahkan anak gunung krakatau milik Malika, dengan posisi seperti ini menempel sempurna di dada Rahman.


Berkali-kali Rahman menahan nafas, berperang dengan logika yang tak sejalan dengan keinginan nya. Hampir saja Rahman terlena dan menyapu bersih bibir ranum yang tersuguh indah di hadapan, ketika suara ketukan pintu di sisi kanan Rahman menyadarkan dua insan yang sama-sama terbawa perasaan itu.


Buru-buru Rahman melepaskan diri dari jerat pelukan Malika, dan Malika pun membetulkan posisi duduk dan mengatur nafas nya. Hangat dan wangi maskulin tubuh Rahman, masih terekam jelas di memori Malika. Dan wajah tampan itu, sedikit lagi hampir saja mencium nya.. Malika tersenyum sendiri, membayangkan adegan selanjut nya yang tak kesampaian.


Rahman membuka jendela kaca mobil nya, dan mendapati Kevin yang ternyata mengikuti mereka berdua.


Tatapan Kevin tertuju pada Malika yang saat ini tengah menunduk, "dik,,," panggil Kevin pada adik nya.


Malika menoleh kearah sumber suara, dan Kevin yang melihat wajah sembab Malika menarik nafas panjang... "kalian turunlah, selesaikan dulu semua nya. Jangan sampai Icha pulang dengan kondisi seperti itu, mommy pasti akan kepikiran." Titah Kevin, menatap Malika dan Rahman bergantian.


Malika menatap Rahman, begitu pun dengan Rahman yang juga sedang menatap nya. Kedua nya kemudian mengangguk bersamaan, seraya menatap Kevin.


Kedua nya turun dan masuk kembali kedalam dengan diiringi Kevin, dan ketika hendak menuju lift mereka bertiga berpapasan dengan Bayu dan Devi beserta putra nya yang hendak keluar.


Bayu menatap heran kearah Malika, kening nya mengernyit dalam. "Lu apain bro, anak orang? Wajah nya sampai sembab gitu?!" Tuduh Bayu.


Rahman hanya mengedikkan bahu nya, dan berlalu begitu saja melewati Bayu untuk menuju lift menyusul Malika.


"Kenapa mereka berdua bro? Berantem? Icha cemburu lagi?" Cecar Bayu menatap Kevin.


Kevin tersenyum, "orang kepo biasa nya berumur pendek," balas Kevin asal, seraya berlalu menyusul Rahman dan Malika. Menyisakan Bayu yang terlihat kesal, sedangkan Devi asyik membujuk putra nya yang merengek minta mainan.


"Bro, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Rahman sebelum masuk kedalam lift.


Kevin mengangguk, dan kemudian menoleh kearah Malika sebelum pintu lift tertutup. "Tunggu di tempat abang dik," titah Kevin.


Malika mengangguk, sebelum akhir nya pintu lift tertutup rapat dan membawa Malika menuju ke lantai Lima.


Kevin menggeleng, dan memotong cepat ucapan Rahman. "I know you so well.. hampir tujuh tahun kita berteman dekat, gue percaya sama lu."


"Thanks," Rahman mengangguk.


"Udah, lu kawinin aja si Icha. Biar enggak uring-uringan terus," ucap Bayu, yang ternyata mengekor di belakang Kevin dan ikut bergabung... mengurungkan niat nya untuk keluar bersama anak dan istri nya.


"Kawinin,, nikah Babay?!" Sanggah Rahman seraya meninju lengan Bayu.


Sedangkan Kevin melotot pada teman baik nya itu, dan Bayu hanya cengar-cengir dan sama sekali tak merasa bersalah.


"Ya, maksud gue.. lu iket dulu lah si Icha, biar dia merasa tenang. Dan setelah lu wisuda, langsung cuss nikah kayak si Dion..." Bayu memberikan solusi seraya menatap Rahman.


"Dia abang sepupu istri lu, manggil nya yang enak napa?" Protes Kevin.


"Tahu tuh si Aa', kebiasaan deh," timpal Devi, yang berdiri di samping sang suami seraya menggendong Bintang.


"Hehe,, iya, maksud gue bang Dion," balas Bayu seraya terkekeh pelan.


"Kayak nya, ide Bayu bisa lu pertimbangkan deh bro." Saran Kevin.


Rahman masih terdiam,


"Nunggu apa lagi sih lu bro,,, usaha sekarang lu udah punya, meski baru merintis. Kuliah, dikit lagi kelar. Tempat tinggal, juga udah ada. Apalagi yang lu risaukan??" Berondong Bayu seraya menatap Rahman.


Ya, Rahman saat ini memang tengah merintis usaha baru yang bergerak di bidang properti. Pemuda tampan yang memiliki keahlian menggambar desain rumah itu, mendirikan usaha dengan modal dari tabungan nya selama ini.. dan separuh nya lagi di bantu oleh sang papa.


Om Adam, yang memiliki banyak relasi di Jakarta sebelum pindah ke Bali.. banyak membantu putra nya dan mengenalkan Rahman pada rekan-rekan bisnis nya.


Jadi, meskipun usaha yang Rahman rintis baru seumur jagung dan dengan modal yang tak terlalu besar.. Namun, perusahaan Rahman sudah di percaya oleh beberapa instansi untuk menggarap perkantoran. Bahkan belum lama ini, Rahman baru saja menandatangani proyek pembangunan hotel berbintang.


"Gue khawatir Icha enggak bisa mengimbangi kesibukan gue, dan merasa di abaikan seperti tadi," lirih Rahman, yang akhir-akhir ini memang super sibuk tapi masih tetap meluangkan waktu untuk Malika.


"Maka dari itu bro, di obrolin baik-baik,, gue yakin Icha pasti bisa ngerti," saran Kevin, dan mencoba meyakinkan Rahman.


"Dah sana, ntar si Icha ngambek nya makin menjadi.. lu sendiri yang repot," desak Bayu, seraya memencet tombol lift agar terbuka.


"Oke, gue akan coba bicarakan sama Icha.." balas Rahman hendak masuk kedalam lift.


"Tapi ingat, no hug,, no kiss,," ancam Kevin.


Rahman menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal dan tersenyum kecut, dan kemudian segera masuk kedalam lift yang diikuti oleh yang lain.


"Kalau dikiiit aja, boleh kali bang," bujuk Rahman dengan menatap Kevin, seraya tersenyum simpul.


"No way,, gue yang akan jadi satpam nya, sambil momong anak gue," tukas Bayu, seraya mengambil alih putra nya dari gendongan Devi.


"Gini amat ternyata rasa nya ya Bay,, kalau ada banyak satpam," keluh Rahman seraya menyadarkan punggung di diding lift.


"Nah, lu tahu kan sekarang... gimana tersiksa nya gue kala itu?" Ledek Bayu, seraya mengangkat kedua alis nya.


Rahman membuang kasar nafas nya, "di saat keinginan sudah sampai ubun-ubun, tiba-tiba ada satpam yang datang... rasa nya tuh seperti di hempas ke dasar jurang yang terdalam," keluh Rahman seraya melirik Kevin.


"Persis! Dan sekarang, gue juga akan ready dua puluh empat jam untuk menjadi satpam nya elu dan Icha," tegas Bayu, dengan tersenyum penuh kemenangan.


Sedangkan Kevin, hanya geleng-geleng kepala mendengar curhatan kedua teman nya yang unfaedah itu.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc..