
Hari-hari berikut nya, Dion, Rahman dan Bayu disibukkan dengan mendesain undangan, mencetak dan kemudian membagikan nya kepada teman-teman sekelas Kevin dan Salma.
Mereka mengerjakan semua nya di rumah utama, dan saat membagikan undangan pun mereka berangkat dari rumah utama dan kembali pulang ke kediaman keluarga Alamsyah tersebut untuk berkoordinasi kembali dengan Kevin.
Ya, atas permintaan Kevin mereka semua bekerja dari rumah utama dan menjadikan hunian megah milik keluarga Alamsyah tersebut sebagai base camp sementara. Karena Kevin dan Salma, dilarang untuk pergi-pergi selama seminggu ini.
Dan hal ini dimanfaatkan dengan sebaik-baik nya oleh Dion, untuk lebih mengenal Fira. Gayung pun bersambut, Fira nampak nya juga sangat antusias membantu teman-teman dekat Kevin tersebut.
Seperti saat pembagian undangan di hari pertama, Fira pun menawarkan diri untuk menemani. Akhir nya, karena waktu nya telah semakin mepet.. tim pun di bagi menjadi tiga, Bayu dan Devi, Dion dan Fira, Rahman dan Zaki.
Namun,, saat hendak berangkat, tiba-tiba Malika yang baru saja turun dari mobil berteriak, "abang, mau pada kemana?" Tanya Malika, masih dengan seragam sekolah yang di kenakan nya. Malik yang juga baru turun dari mobil yang sama, dan berdiri di belakang saudara kembar nya itu hanya melempar senyum kearah abang dan kakak sepupu nya serta pada teman baik abang nya.
"Kami mau nganter undangan," balas Rahman.
"Icha ikut ya, please,," pinta Malika saat dia sudah berdiri di hadapan Rahman dan Zaki.
"Ini, kalian kok jam segini sudah pulang?" Zaki bukan nya menjawab keinginan adik sepupu nya, tapi malah bertanya pada Malika seraya melirik jam tangan mewah di pergelangan tangan nya yang baru menunjukkan jam sembilan pagi.
"Iya bang, guru nya ada rapat sama pihak komite sekolah.. jadi kami harus belajar di rumah," balas Malika jujur.
"Nah, kan disuruh belajar di rumah.. kok malah mau ikut pergi?" Zaki mengingatkan.
"Aah, abang,, kan belajar nya bisa nanti malam?" Kekeuh Malika, yang pengin ikut pergi bersama Rahman.
"Biarin aja bang, sekali-kali kami biar bantu dan ikut berkontribusi di acara nya bang Kevin. Besok kan kami kembali sekolah, jadi enggak bisa ikut bantu-bantu lagi kan?" Malik membantu saudara kembar nya, meyakinkan Zaki dan Rahman. "Kita kan bisa jadi empat tim bang," lanjut Malik, seraya melirik dua pasangan lain yang nampak sudah bersiap di samping mobil masing-masing.
"Baik lah kalau begitu, cepatlah kalian ganti pakaian," titah Zaki pada kembar Malik dan Malika.
"Yes,, makasih bang," balas Malika dengan riang, dan segera berlalu masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Malik juga berjalan cepat, menyusul langkah Malika.
"Cha, lu berhutang sama gue,, awas aja ya kalau nanti saat di pesta pernikahan nya bang Kevin, lu bikin ulah lagi dan mengganggu kencan gue bersama Tasya?!" Ancam Malik, dengan mendahului langkah Malika dan kemudian berjalan mundur dengan memberikan tatapan mengintimidasi pada saudara kembar nya itu.
"Iya, iya,, Icha enggak akan mengulangi lagi, maaf yah bang Malik.. yang kemarin pas ulang tahun kita, Icha khilaf," ucap nya tanpa dosa.
Mereka terus saja berbicara, hingga masing-masing masuk ke dalam kamar untuk segera berganti.
Tak butuh waktu lama, Malik telah keluar dari kamar dan nampak telah bersiap. Sesaat kemudian, Malika pun keluar dari kamar nya. "Tumben Cha, lu cepet banget?" Malik menyelidik, "pasti sudah tidak sabar ya, ingin cepat-cepat bisa ngedate dengan bang Rahman?" Lanjut Malik seraya terkekeh, menggoda kembaran nya.
"Udah ah,, ayo turun, jangan cerewet," Malika cemberut dan langsung melenggang meninggalkan abang kembar nya itu yang masih terkekeh sendirian.
Malik pun segera menyusul langkah Malika, "Kok sepi ya Cha,, pada kemana orang-orang?"
"Mommy sama bunda dan mami Nina serta oma kan ke butik, enggak tahu deh kalau opa sama papi Vincent,,, ikut ke butik sekalian kali?" Balas Malika yang tadi pagi sempat mendengar obrolan mommy dan yang lain nya, sewaktu dia hendak berangkat ke sekolah.
"Bang Kevin dan kak Salma, ikut ke butik juga?" Kembali Malik bertanya.
"Abang nih kepoan deh orang nya," bukan nya menjawab, Malika justru menggerutu.
Mereka menuruni anak tangga dengan diam, hingga tepat di tengah-tengah Malik kembali bersuara. "Cha, lu tadi ngaca enggak sih? Lipstik lu tuh menor banget,, mana belepotan lagi," Malik melancarkan aksi nya, menggoda sang adik.
Sontak Malika berhenti, "yang bener bang? Icha cuma pakai liptint yang warna soft kok?!" Malika menatap kembaran nya, untuk memastikan.
Bukan nya menjawab, Malik malah berlari mendahului Malika menuruni anak tangga.
"Malik...!! Awas aja ya kamu?!" Geram Malika, begitu menyadari bahwa saudara kembar nya itu telah mengerjai diri nya.
"Ayo dik Icha, naik sini?" Titah Zaki, menatap adik sepupu nya yang justru berjalan menuju mobil Rahman.
Malik berjalan cepat menuju mobil abang nya, dan segera membuka pintu samping dan kemudian duduk di samping Zaki yang duduk di belakang kemudi. "Bang Zaki sama Malik aja, nanti Malik tunjukkin tempat spesial untuk beli oleh-oleh buat kak Delia," Malik merayu abang sepupu nya, agar membiarkan Malika bersama Rahman.
Zaki nampak berpikir,,
"Udah, abang jangan khawatir.. bang Rahman orang nya baik, dia tidak akan berani macam-macam sama Icha. Yang ada nih, justru Icha yang akan bertindak macam-macam sama bang Rahman," ucap Malik seraya tergelak, membayangkan betapa agresif nya adik kembar nya itu.. dan hal itu mengingatkan diri nya pada Tasya, yang juga genit dan agresif pada diri nya.
"Oke kalau begitu, kita berangkat.. nih undangan nya, lu baca alamat-alamat nya dengan benar. Tadi sih udah dipilah-pilah yang sejalur, dan kita kebagian yang arah selatan." Ucap Zaki, seraya menghidupkan mesin mobil nya.
Malika pun nampak sudah duduk dengan manis di samping kemudi, dia merasa baik-baik saja pergi berduaan dengan Rahman,, karena dia yakin, cowok yang duduk dengan gelisah di samping nya tidak akan berani berbuat macam-macam.
Justru Rahman yang kini tidak sedang dalam kondisi baik-baik saja, debaran jantung nya berdetak begitu keras hingga buru-buru Rahman menghidupkan mobil nya.. agar suara debaran jantung nya, tak bisa di dengar oleh gadis belia yang duduk dengan nyaman di samping nya.
Nampak Zaki memberikan kode, dan kendaraan mereka berjalan keluar dari gerbang kediaman keluarga Alamsyah dengan beriringan.
Hingga di persimpangan jalan, kedua nya memisahkan diri. Zaki berbelok ke kanan, sedangkan Rahman berbelok ke kiri.
Sepanjang perjalanan, Rahman hanya diam membisu.. sesekali terdengar dia menarik nafas dengan berat, dan kemudian menghembus nya perlahan.
Sedangkan Malika asyik mencuri-curi pandang pada pangeran tampan pujaan hati nya, "bang, abang lagi sariawan ya? Kok diam aja sedari tadi?" Malika mencoba mengajak bercanda.
Rahman tersenyum dan menoleh sekilas ke arah Malika dengan menggeleng pelan, "mau beli camilan dulu enggak, untuk menemani perjalanan kita?" Tanya Rahman penuh perhatian.
"Iya, boleh bang.. di depan ada mini market, kita berhenti di sana aja ya bang," balas Malika antusias.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Rahman berbelok ke sebuah mini market yang di maksud oleh Malika. Rahman segera memarkir mobil nya, di tempat yang telah tersedia.
Rahman membuka seatbelt nya dan kemudian membuka pintu hendak turun, "bang, tolongin,, ini susah," pinta Malika dengan manja, dia nampak kesulitan membuka seatbelt nya.
Mau tak mau Rahman pun membantu membuka seatbelt tersebut, dan benar saja.. seatbelt tersebut ternyata tidak masuk pas pada pengait yang semesti nya, sehingga butuh tenaga sedikit ekstra untuk menarik dan melepas pengait nya.
Rahman masih berusaha untuk membuka nya, hingga badan nya condong kearah Malika dan jarak kedua nya begitu dekat. Bahkan wajah kedua nya hanya berjarak beberapa centi saja, hingga Rahman dapat merasa kan hembusan hangat nafas sang pujaan hati.
"Susah ya bang," bisik Malika lembut di indera pendengaran Rahman, hingga membuat Rahman harus menelan saliva nya dengan susah payah.
Tapi Rahman tak mau tergoda, sekuat tenaga dia mencoba untuk fokus dengan apa yang dilakukan nya. Meski Rahman menyadari, bahwa Malika tengah menatap nya dengan intens.
Setelah cukup lama berusaha, Rahman akhir nya berhasil membuka pengait nya, "Alhamdulillah,, udah bisa dik," ucap Rahman dengan lega, karena akhir nya diri nya akan segera terbebas dari pesona Malika yang memikat nya dengan kuat.
"Cup,,, makasih bang," dengan cepat Malika mencium pipi Rahman, sebagai ucapan terimakasih.
Rahman terhenyak kaget, dan sedetik kemudian berhasil menguasai diri nya.
Rahman tersenyum kepada gadis belia di samping nya, dan menggeleng kan kepala nya pelan. "Lain kali kalau mau bilang makasih, enggak usah pakai cium ya dik. Abang takut khilaf.. dan kalau sampai itu terjadi, yang rugi dik Icha sendiri sebagai pihak perempuan. Kamu ngerti kan, maksud abang?" Rahman mengacak lembut puncak kepala Malika, dia sadar betul siapa lawan bicara nya. Dan Rahman tahu persis, menghadapi anak seusia Malika harus penuh pengertian dan kesabaran.
Malika mengangguk dan tersipu malu.
"Sabar Rahman Alvaro.. lu harus bisa jadi ustadz buat Malika, dia butuh bimbingan lu. Dan jangan sekali-kali kamu memanfaatkan kepolosan nya," gumam Rahman dalam hati seraya mengusap pipi nya yang tadi di cium oleh Malika, senyum tipis terbit di sudut bibir remaja tampan pangeran impian Malika itu.
to be continue,,,