
Keesokan hari nya, sepulang dari kampus.. Dion menjemput Fira di butik, "Assalamu'alaikum bidadari abang," ucap salam Dion, begitu memasuki ruang tamu yang menjadi satu dengan tempat kerja Fira di butik.
"Wa'alaikumsalam bang," balas Fira, dengan wajah yang merona merah. Apapun yang di lakukan Dion, selalu bisa membuat nya tersenyum dan hati nya berbunga-bunga.
"Makan siang di kafe adik sepupu kamu yuk, udah lama gue enggak main ke sana. Kangen sama suasana kantor Kevin," ajak Dion begitu diri nya sudah duduk di sofa yang diikuti oleh Fira.
"Bawa baju ganti sekalian, kita berangkat dinner nya dari sana aja.. biar enggak bolak-balik," lanjut Dion seraya menatap kekasih nya.
Fira mengangguk, "bentar, Fira kasih tahu Nila dulu ya bang,,, dia lagi ada perlu di luar," Fira segera menghubungi asisten nya melalui sambungan telpon, agar cepat kembali ke butik.
Seraya menunggu Nila kembali, Fira masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk beristirahat guna menyiapkan pakaian yang akan dikenakan nya nanti malam.. dan Dion mengekor di belakang nya, "abang, kita pakai couple an ya.. baju abang juga udah Fira siapkan," pinta Fira, saat membuka almari pakaian pribadi nya.
Dion mengangguk, "abang, ikut aja" balas Dion, dan kemudian duduk di sofa bad yang berada di ruangan berukuran sedang tersebut. Selain sofa bad, almari pakaian dua pintu, ada juga single bad,, dan dilengkapi pula dengan shower.
Setelah selesai meletakkan pakaian mereka berdua ke dalam paper bag, Fira ikut duduk di samping Dion. "Abang emang nya hari ini enggak ngantor?" Tanya Fira.
Dion menggeleng, "semalam, abang cerita sama mama.. kalau malam ini kita mau dinner, ternyata papa denger dan papa bilang hari ini papa yang akan handle kantor. Abang disuruh fokus sama acara nanti malam sama kamu," balas Dion, "mama nitip salam buat calon menantu nya yang cantik," lanjut Dion seraya mengerling.
Lagi, Fira tersenyum bahagia.. gadis itu merasa tersanjung dengan penerimaan keluarga Dion yang sangat baik kepada nya. "Salam kembali ya buat mama, papa juga," ucap Fira.
Dion Mengangguk, "nanti abang sampaikan."
"Yuk bang, Nila udah datang tuh," tunjuk Fira ke sebuah layar besar yang memperlihatkan gambar suasana butik yang tertangkap kamera CCTV, di sana nampak Nila baru saja masuk ke dalam butik. Fira segera beranjak, diikuti oleh Dion yang membawakan paper bag di tangan nya.
"Nil, aku keluar dulu ya. Enggak balik ke sini lagi, tolong handle semua," pamit Fira pada asisten nya, ketika mereka bertemu di ambang pintu ruang tamu.
"Siap mbak Fira, Nila akan lakukan yang terbaik," balas Nila seraya tersenyum pada Fira, dan mengangguk sopan pada Dion.
Fira dan Dion kemudian berjalan bersisihan keluar dari butik, untuk menuju kafe milik Kevin dan Salma.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, sampai lah kedua nya di gedung perkantoran milik Kevin.
Kedatangan Dion dan Fira ternyata sudah di tunggu oleh Kevin dan teman-teman nya, karena saat di kampus.. Dion sudah membuat janji dengan teman-teman nya itu.
Begitu memasuki kafe, Dion dan Fira langsung bergabung bersama teman-teman nya, "wah, ini dia calon pengantin selanjut nya," sambut Bayu, seraya berdiri menyambut kehadiran Dion dan Fira.
"Apaan si Bay, lebay deh,, biasa aja kali," Fira tersenyum seraya menyalami Bayu serta yang lain nya, dan kemudian duduk di samping Salma.
"Kalau enggak lebay, bukan Bayu namanya neng," sahut Dion, seraya mendudukkan diri di samping Fira.
"Yups, betul banget bro.. kalau enggak lebay dan enggak jahil, itu berarti Rahman," sahut Rahman dengan tersenyum lebar.
"Enggak jahil apa nya?! Waktu itu aja, gue sama my honey di gangguin bulan madu nya?!" Sungut Bayu, yang terlihat masih kesal jika mengingat semua itu.. padahal kejadian nya sudah berlangsung sangat lama, tiga tahun telah terlewat.
"Masih inget lu Bay? Gue pikir setengah tahun gue enggak di sini, lu udah amnesia dan melupakan kejadian kala itu?" Tanya Dion seraya mengulum senyum, pasal nya dia lah yang kala itu punya ide untuk ngerjain adik sepupu nya.
"Enggak bakalan lupa gue!" Ketus Bayu.
"Dia ngancem bro, bulan madu kita nanti mau di gangguin juga kata nya," adu Rahman.
"Assem,, gombalane maut tenan ik... bikin calon nyonya klepek-klepek." Ledek Bayu, yang disambut tawa oleh yang lain karena mendengar ucapan Bayu yang terdengar aneh di telinga mereka.
Tepat di saat yang sama, dua orang karyawan kafe datang membawakan makanan dan minuman yang sudah di pesan Kevin sebelum Dion dan Fira datang.
Mereka bertujuh menikmati makan siang dengan suasana riuh,,, ocehan Bayu, kenarsisan Rahman dan Dion yang juga tak mau kalah, sesekali diselingi kata-kata bijak Kevin... membuat suasana siang yang panas menjadi semakin meriah.
Usai makan siang, mereka kembali ke lantai tiga.. kecuali Salma dan Devi, yang langsung menuju lantai lima untuk menemui anak-anak. Dan Fira memilih ikut naik ke lantai lima, dan memberi kesempatan pada Dion untuk ngobrol privat bersama teman laki-laki nya.
Tanpa terasa, matahari mulai tergelincir dan tenggelam sempurna di ufuk barat.. menyisakan semburat jingga di batas cakrawala. Berganti dengan hadir nya rembulan, yang muncul malu-malu dari ufuk timur.
Dion dan Fira yang numpang mandi di tempat tinggal Kevin di lantai lima, kini nampak telah bersiap.
"Mau berangkat sekarang kak?" Tanya Kevin yang baru keluar dari kamar, dengan masih memakai sarung dan baju koko. Sedangkan Salma masih berada di dalam kamar, tengah mengajari putri nya mengaji.
"Iya dik, tempat nya lumayan jauh.. jadi harus berangkat lebih awal," balas Fira, seraya membetulkan bros di pasmina nya.
"Kak Fira balik kemana nanti? Apartemen? Atau, Mau balik ke sini aja?" Tanya Kevin menatap kakak sepupu nya.
"Balik ke Apartemen aja dik, kejauhan kalau ke sini." Balas Fira.
"Bro, pastikan lu antar kakak gue sampai pintu apartemen," pinta Kevin seraya menepuk pundak Dion.
"Siap brother,, sampai kamar juga bakal gue antar, don't worry," balas Dion terkekeh, dan mendapatkan pelototan dari Fira.
"Ampun neng, abang enggak mungkin berani macam-macam sama putri nya ayah Yusuf," lirih Dion seraya mengedipkan sebelah mata nya.
"Yuk ah, berangkat.." ajak Fira hendak berlalu.
"Eh, dik Salma sama keponakan ku yang cantik masih mengaji ya?" Tanya Fira, seraya menatap pintu kamar princess Vinsa yang tertutup.
Kevin mengangguk, "masih kak," balas Kevin.
"Ya udah, tolong nanti bilangin ya ke dik Salma. Aku pamit," pesan Fira, dan segera berjalan menuju pintu keluar.
"Hati-hati kak..." lirih Kevin yang mengekor di belakang Fira dan Dion.
"Bro,, titip jaga kakak gue," seru Kevin, sesaat sebelum sepasang kekasih itu masuk kedalam lift.
"Siap,," balas Dion sambil memasuki lift yang pintu nya sudah terbuka, menyusul Fira yang sudah terlebih dahulu masuk kedalam.
Kotak besi tersebut membawa Dion dan Fira menuju lantai dasar, mereka memilih melewati samping kafe agar lebih cepat sampai di parkiran.
Setelah kedua nya masuk kedalam mobil Dion, calon suami Fira itu kemudian melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju restoran di sebuah hotel berbintang di kawasan Elit seperti yang telah di beritahukan oleh Cakra melalui pesan chat kepada Fira.
Setelah melandas di jalanan ibukota yang padat merayap selama hampir satu jam, sampai lah kedua nya di tempat yang di maksud. Sebuah hotel berbintang, yang sudah tak asing lagi bagi Fira dan keluarga nya.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...