
"Coba kamu tanyakan sendiri pada keponakan mu itu Rey," balas ayah Yusuf, menatap adik ipar nya dengan tersenyum. Dan kemudian ayah Yusuf melirik sang istri, yang sedari tadi menatap nya dengan tanda tanya besar.
Ayah Yusuf menggenggam tangan sang istri, dan kemudian membisikkan sesuatu. "Ayah tahu apa yang terbaik untuk putri kita bun, meskipun putri kita nanti memberikan jawaban menerima Dion.. dan meski ayah tahu bahwa Dion pemuda yang baik, tapi ayah tidak akan gegabah memberikan ijin pada Dion untuk menikahi putri kita sebelum dia menyelesaikan studi nya."
Bunda Fatima nampak tersenyum lega, "bunda sependapat dengan ayah, jika Fira memang menerima Dion.. sebaik nya mereka tunangan saja dulu, agar mereka merasa saling terikat dan belajar untuk bertanggung jawab dengan pilihan nya. Sebab hubungan yang akan mereka jalani nanti, bukan lah hubungan yang mudah. Long distance relationship,,, banyak yang gagal dalam menjalani nya, meski tak sedikit yang tetap bisa bertahan dan langgeng dalam kebahagiaan," balas bunda Fatima, ikut berbisik.
Ayah Yusuf mengangguk-angguk, seraya mencium mesra punggung tangan sang istri. Hingga apa yang dilakukan oleh suami romantis nya itu, membuat bunda Fatima tersipu malu. Pasal nya, di ruang keluarga itu bukan hanya keluarga besar nya saja yang berkumpul.. namun ada juga Dion dan papa nya, selaku calon menantu dan calon besan nya.
Ya, meski usia pernikahan ayah Yusuf dan bunda Fatima hampir mencapai pernikahan perak, namun kemesraan dan kehangatan ayah Yusuf tak pernah lekang oleh waktu. Dimana pun dan kapan pun ada kesempatan, ayah tiga anak itu akan memperlakukan sang istri dengan sangat romantis. Hingga tak jarang, apa yang dilakukan ayah Yusuf pada istri nya.. membuat wanita lain merasa iri pada bunda Fatima.
"Ehm,,," suara dehaman daddy Rehan, mengurai keromantisan ayah Yusuf pada sang istri. "Lanjut nanti ya bang, aku butuh konsentrasi untuk mewawancarai keponakan ku," canda daddy Rehan, mencairkan suasana, seraya melirik abang ipar nya.
"Ingat Rey,, mewawancarai dan bukan mengintimidasi!" Ayah Yusuf memperingatkan sang adik ipar.
"Aku enggak janji bang, tapi aku pastikan awal nya adalah wawancara... dan jika nanti berubah menjadi mengintimidasi, itu tergantung sikon toleransi dari Fira," balas daddy Rehan, melirik sang keponakan dengan senyuman jahil nya.
Fira tersenyum mendengar perdebatan kecil ayah dan om nya itu, dia sudah hafal betul bahwa ayah nya akan sangat posesif pada diri nya.. dan si om, akan dengan sengaja menggoda ayah nya dan membuat ayah Yusuf merasa was-was.
"Bagaimana kak Fira? Seperti nya papa nya Dion, sudah tidak sabar ingin mendengar langsung mengenai perasaan kak Fira terhadap Dion.. bukan kah begitu tuan Hadi?" Tanya daddy Rehan pada keponakan nya, dan kemudian daddy nya Kevin itu menatap tuan Hadi untuk meminta persetujuan.
Tuan Hadi nampak tersenyum lebar, "benar tuan Rehan," papa nya Dion mengangguk pasti, "sebagai ayah, pasti nya saya akan ikut lega jika putra saya telah menemukan tambatan hati yang bisa menerima Dion apa ada nya dan juga mencintai nya dengan tulus," lanjut tuan Hadi, seraya melirik Fira penuh harap.
Dion yang duduk di samping Kevin nampak tidak tenang, meski dia sempat yakin bahwa Fira juga menaruh hati pada nya.. tapi dihadapkan pada situasi seperti saat ini, tetap saja membuat Dion merasa khawatir. "Ayo neng Fira.. jawab.." gumam Dion dalam hati, dia nampak tidak sabar ingin mendengar jawaban dari mulut Fira secara langsung.
Kevin menepuk pelan lengan Dion untuk memberikan support, "tenang bro,, niat baik Insyaallah dimudahkan," bisik Kevin.
Dion mengangguk, "semoga," balas nya dengan perasaan sedikit lega, mendengar perkataan Kevin barusan.
Sedangkan Fira, meski pun perasaan nya saat ini campur aduk... tapi gadis yang terbiasa di didik untuk mandiri itu mencoba untuk bersikap tenang, "daddy mau jawaban yang jujur dari Fira atau jawaban ala om Ilham?" Fira mencoba bercanda, untuk mengurai ketegangan yang sempat menguasai diri nya.
"Lah kok bawa-bawa nama om sih, kak Fira?!" Protes om Ilham.
Fira tersenyum seringai, "kan om Ilham suka jahil, dan suka absurd kalau bicara," balas Fira, sekena nya.
Ayah Yusuf dan bunda Fatima pun tersenyum mendengar jawaban Fira, orang tua Fira itu paham betul bahwa sang putri sengaja mengulur waktu untuk menyembunyikan perasaan nya.
Sedangkan anggota keluarga Alamsyah dan Antonio, yang sudah paham dengan karakter om Ilham terkekeh mendengar perkataan Fira tersebut. Sementara Dion dan sang papa serta om nya, masih memasang wajah serius, ingin segera tahu jawaban Fira.
Fira mengangguk, dan kemudian tersenyum pada Dion yang wajah nya nampak tegang. "Sebelum Fira jawab, boleh kah Fira bertanya sesuatu pada Dion?" Tanya Fira, seraya menatap Dion dengan intens.
"Iya,, apa neng Fira?" Balas dan tanya Dion, membalas tatapan Fira dengan hangat.
"Tempat tinggal kita berjauhan, apakah kamu sanggup menjalin komitmen dan menjalani hubungan jarak jauh?" Tanya Fira, dengan penuh selidik. Sejujur nya, Fira masih ragu dengan hubungan jarak jauh yang akan dijalani nanti nya,, dan Fira ingin mendengar jawaban dari Dion, untuk menguatkan hati nya sehingga bisa memberikan jawaban dengan yakin.
Dion mengangguk pasti, "Insyaallah aku sanggup neng, asal neng Fira percaya sama aku dan aku pun percaya sama neng Fira.. tentu jarak bukan lah penghalang, untuk menyatukan dua hati bukan?" Balas dan tanya Dion.
Fira mengangguk-angguk, membenarkan ucapan Dion barusan. Karena benar ada nya, bahwa kunci keberlangsungan sebuah hubungan adalah kepercayaan.
Hening, sejenak menyapa ruang keluarga tersebut.
Fira masih mencoba menimbang dan memantapkan hati nya untuk memberikan jawaban akan perasaan nya pada Dion, sedangkan yang lain masih setia menunggu kepastian jawaban dari putri ayah Yusuf dan bunda Fatima tersebut.
"Dion,, apa benar kamu akan mempercayaiku, saat kita berjauhan nanti?" Pertanyaan Fira pada Dion, memecah keheningan yang sesaat tercipta tadi.
Kembali Dion mengangguk dengan pasti, "Insyaallah aku akan percaya neng," balas Dion, dengan yakin.
"Lantas, mau kamu bawa kemana hubungan kita nanti?" Tanya Fira dengan lugas, hingga membuat orang tua nya terkejut. "Aku enggak mau main-main dalam menjalani hubungan, dan menyia-nyiakan waktu ku untuk orang yang tidak serius," lanjut Fira, seraya menatap Dion dengan dalam... seakan hendak mencari kejujuran, dari mata elang tersebut.
Dion tersenyum lebar, "yang pasti, aku akan menjadikan neng Fira ratu di hati ku dan permaisuri di istana yang akan aku bangun nanti," balas Dion dengan sungguh-sungguh.
Hati Fira membuncah bahagia, mendengar jawaban romantis dari Dion. Bibir nya mengulas senyum termanis, dan mata nya berbinar bahagia
"Bagaimana neng Fira, apakah neng Fira bersedia menjadikan aku sebagai imam?" Lanjut Dion langsung bertanya pada inti nya, dia nampak sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Fira.
Fira menatap ayah dan bunda nya bergantian, untuk meminta pendapat.
Ayah Yusuf dan bunda Fatima mengangguk bersamaan, dan menyerahkan semua nya pada putri nya
"Ya, aku bersedia," jawab Fira dengan penuh keyakinan, gadis cantik berhijab putri ayah Yusuf satu-satu nya itu tersenyum manis pada calon imam nya.
Dan calon imam itu tersenyum lega, mendengar jawaban jujur dari sang pujaan hati.
to be continue,,,