
"Bang Dika,, kok bisa barengan sama kak Yura?" Salma mengernyit.
"Ya neng Salma," balas Dika, "boleh kami ikut duduk? Ada yang mau abang sampai kan," lanjut Dika.
"Ya, silahkan," balas Kevin tanpa merubah posisi mereka berdua, Kevin melanjutkan kembali memijat kaki sang istri.
"Mbak Yura, ayo duduk. Dan letakkan kopi nya di hadapan neng Salma," titah Dika pada Yura, yang masih mematung di tempat nya. Ym
"Eh, iya bang Dika," jawab Yura gelagapan,,, rasa nya jantung Yura yang sempat melompat karena terkejut, belum berada di posisi nya semula, begitu engetahui kenyataan bahwa big bos yang di maksud Dika adalah Kevin dan Salma.
Selama ini, Yura menutup diri dari segala informasi mengenai Kevin dan Salma yang banyak beredar di kampus. Hati nya sudah terlanjur membenci, sehingga berita yang sebenarnya pun dianggap nya angin lalu,,,, dan Yura tak pernah mempercayai nya.
Dengan grogi, Yura meletakkan kopi spesial di hadapan Salma. Dan mau tak mau, Yura kemudian ikut duduk lesehan di samping Dika. "Apa boleh buat, gue butuh pekerjaan ini.. dan gue juga butuh pinjaman uang secepat nya," bisik Yura dalam hati.
"Mau bicara tentang apa, bang Dika?" Tanya Kevin penasaran, karena tak biasa nya Dika membicarakan urusan kafe dengan diri nya dan juga Salma. Karena secara penuh pengelolaan kafe sudah diserahkan pada Dika, dan selama ini kinerja Dika juga sangat bagus dan bisa dipertanggung jawabkan.
"Ini Vin, mbak Yura ini calon karyawan baru di kafe,, dan hari ini adalah masa uji coba nya. Emm,, masalah nya,,," Dika menghentikan ucapan nya, dan melirik ke arah Yura.
"Mbak Yura sampai kan sendiri maksud mbak sama bos," titah Dika.
Yura menelan saliva nya, dia bingung harus memulai darimana? Tenggorokan nya seakan tercekat dan sulit bagi nya untuk mengeluarkan suara, "emm,, gini dik Kevin, dik Salma. Aku,, aku,, mau pinjam uang,,, untuk,,, untuk bayar,, semesteran," ucap Yura terbata, seraya menunduk kan kepala nya dengan dalam.
Kevin dan Salma saling pandang.
"Bukan nya,, kak Yura sudah punya ladang penghasilan yang menjanjikan ya?" Tanya dan sindir Salma yang mengetahui bahwa Yura adalah wanita panggilan, dan itu sudah menjadi rahasia umum di kampus nya.
Yura semakin menunduk.
"Bisa aja sih, kami memberikan kak Yura pinjaman.. kalau perlu bukan pinjaman, tapi pemberian cuma-cuma," ucap Kevin.
Mendengar ucapan Kevin yang bagai angin segar, Yura memberanikan diri mengangkat wajah nya dan menatap Kevin.
"Tapi ada syarat nya," lanjut Kevin, seraya tersenyum samar. Tangan Kevin masih berada di kaki sang istri, tapi bukan lagi memijat.
"Apapun itu syarat nya tampan, gue pasti akan dengan senang hati melakukan nya. Apa gue harus memijat lu tiap hari, dengan pijatan plus plus.. ah, tanpa lu minta, gue pasti akan lakukan itu tampan," batin Yura, senyuman manis terbit di sudut bibir nya.
"Kak Yura tak ingin bertanya, apa syarat nya?" Tanya Salma, yang membuyarkan lamunan Yura.
"Eh, iya. Apa syarat nya?" Tanya Yura yang sedari pandangan nya tertuju pada tangan Kevin, yang mengelus kaki mulus sang istri. Yura menelan saliva nya, membayangkan kalau itu adalah kaki nya.
"Kak Yura harus meninggalkan dunia malam, dan berjanji tidak akan kembali ke dunia hitam itu lagi," balas Salma dengan tegas.
Sejenak Yura terdiam, dunia yang selama ini digeluti nya bukan hanya menghasilkan uang tapi juga kenikmatan.. "apa gue sanggup, hidup tanpa se*ks?" Tanya Yura, pada diri nya sendiri.
"Aku akan mencoba nya," balas Yura pelan.
"Bukan hanya mencoba kak, tapi harus berusaha," tegas Salma kembali.
Yura mengangguk.
"Dan untuk mengantisipasi agar kak Yura tidak menerima job, kak Yura harus menginap di mess yang sudah disediakan untuk karyawan khusus wanita. Tempat nya di belakang kafe, dan di mess itu ada peraturan yang harus di patuhi yaitu tidak boleh keluar malam." Jelas Salma, "apa kak Yura bersedia?" Salma menatap Yura dengan tatapan tegas.
"Maaf kak Yura, jika kami menekan dan memaksamu untuk berubah. Karena untuk melakukan suatu kebaikan, seringkali kita harus memaksakan diri hingga lama-lama akan menjadi terbiasa," bisik Salma, dalam hati. Dan berharap banyak, suatu saat nanti Yura bisa benar-benar berubah menjadi gadis yang baik.
Dengan terpaksa, Yura mengangguk. "Tak mengapa gue kalah sementara, demi uang semesteran dan agar ibu tidak kecewa," gumam Yura dalam hati.
"Berikan nomor rekening kak Yura pada bang Dika, nanti saya transfer. Bukan pinjaman, tapi bentuk apresiasi kami karena kak Yura sudah mau berusaha untuk berubah menjadi lebih baik. Tolong jaga kepercayaan yang telah kami berikan, karena kami tak segan-segan menindak tegas pengkhianat!" Ucap Kevin dengan tegas, seolah bisa menebak isi hati Yura.
Kembali Yura hanya bisa mengangguk. Dia sama sekali tak mengucap kan terimakasih, apalagi meminta maaf atas kesalahan nya yang telah menyebar fitnah pada Kevin dan Salma.
"Mas,,, ini kenapa jadi di elus sih," protes Salma yang baru menyadari, bahwa tangan sang suami mulai menelusup kedalam rok panjang nya dan mengelus lutut nya.
Dika hanya tersenyum melihat pemandangan romantis yang sudah biasa bagi nya itu.
Sedangkan Yura, berkali-kali menelan saliva nya.
Kevin memberi kode pada Dika, agar segera keluar dari ruangan tersebut.
"Oke bos, suka-suka lu lah.. kantor-kantor lu," ucap Dika seraya beranjak.
"Ayo mbak Yura, kita harus segera pergi. Atau.. mbak Yura mau nonton secara live acara senam lantai?" Dika mengangkat kedua alis nya, dan tersenyum pada Kevin.
Kevin tersenyum seringai, sedangkan Salma mengerucutkan bibir nya. "Selalu aja, minta imbalan setelah memijat," gerutu Salma.
Kevin yang masih bisa mendengar sang istri menggerutu, membalas nya, "bukan minta imbalan baby, tapi sebagai tukang pijat professional.. aku harus maksimal dalam memberikan pelayanan, dan aku harus memberikan servis khusus buat kamu, baby,,," bisik Kevin.
Dika yang bisa mendengar bisik-bisik itu terkekeh, "bos tukang modus," ucap Dika dan segera berlalu yang di ikuti oleh Yura.
"Bang Dik, tutup pintu nya. Dan kalau yang lain datang, jangan ada yang naik dulu," seru Kevin sebelum Dika dan Yura mencapai ambang pintu.
"Siap bos," balas Dika, dan langsung menutup kan pintu nya dengan rapat.
Sedangkan Yura di buat gemas dengan kelakuan Kevin, "andai saja wanita nya adalah gue, betapa beruntung nya gue memiliki suami seperti si tampan. Udah tajir, royal, pandai menyenangkan wanita pula,,," Yura berandai-andai, tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri. "Aku yakin, aku bisa merebut nya." Batin Yura dengan penuh keyakinan.
"Kenapa mbak Yura? Kok senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya Dika dengan penuh selidik, "jangan pernah macam-macam sama bos dan istri nya, atau hidup mbak Yura akan berakhir mengenaskan!" Ancam Dika, yang seolah tahu pikiran Yura.
Seketika Yura menarik senyum nya, dan kemudian membuang pandangan nya menghindar dari Dika.
"Jadi orang itu, jangan suka memaksakan kehendak dan mengambil sesuatu yang bukan hak nya..." sindir Dika, ketika mereka berdua sudah berada di dalam lift. "Coba deh mbak Yura bayangkan, jika mbak Yura memiliki barang yang mbak sukai.. terus tiba-tiba ada yang merebut barang kesayangan mbak tersebut, apa mbak Yura akan diam saja? Apa mbak Yura tidak sakit hati?"
Yura terdiam, mencermati perkataan Dika. "Ya, selama ini gue kencan dengan laki-laki yang kebanyakan adalah suami orang. Dan gue tidak pernah berpikir sejauh ini, bagaimana perasaan istri-istri mereka jika tahu suami nya bermain dengan wanita lain di luaran sana? Gue juga enggak pernah membayangkan ada di posisi istri-istri tersebut... ah, pasti nya nyesek jadi mereka,," Yura mulai menyadari kesalahan nya.
Pintu lift terbuka, dan kedua nya kemudian keluar menuju bangku dimana Sesil masih menunggu.
Tepat disaat yang sama, Bayu dan yang lain nya datang. Mereka berempat langsung menuju lift.
"Woi tunggu,," teriak Dika yang langsung berlari ke arah lift.
"Ada apa bang?" Tanya Rahman, mewakili yang lain.
"Kalian langsung ke lantai empat saja, dan jangan ada yang ke lantai tiga," pinta Dika seraya tersenyum aneh.
"Kenapa memang nya bang?" Devi mengernyit.
"Biasa,, bos berdua lagi main senam lantai dan enggak mau di ganggu," balas Dika pelan.
"Huh,,, kebiasaan Kevin, enggak ingat tempat dan waktu," gerutu Bayu.
"Yey,,, sah-sah aja kali? Tempat-tempat nya dia, waktu kerja.. juga suka-suka dia," ucap Dion, yang membela Kevin.
"Yups, seratus persen lu benar bro.. suka-suka bos," timpal Rahman, yang setuju dengan Dion.
"Ya,, ya,, kakak dan adik ipar.. ya pasti lah kalian membela Kevin," ucap Bayu pura-pura kesal.
"Enak di kita juga kali Babay.. kita bisa selonjoran dan rehat dulu di atas," ucap Devi seraya menepuk lembut punggung Bayu, "yuk ah, kita naik," ajak Devi yang langsung masuk kedalam lift, dan segera diikuti yang lain.
to be continue,,,