All About KEVIN

All About KEVIN
Abang, Enggak Bisa Nahan



Keesokan hari nya, semua keluarga akan kembali ke kediaman nya masing-masing. Begitu pula dengan teman-teman Kevin, yang akan langsung pulang ke gedung kantor milik Kevin. Kecuali Dion, yang akan mengantarkan Fira terlebih dahulu sampai ke bandara.


Kevin dan Salma juga tidak langsung balik ke kantor nya, karena mereka berdua akan mengantarkan ayah dan ibu nya Salma beserta Azka ke apartemen opa Arman.


Ya, semenjak saat itu.. Pak Sulaiman dan keluarga kecil nya, diminta opa Arman untuk menempati apartemen nya. Dan pak Sulaiman juga diminta untuk menjadi pengawas di perusahaan keluarga besar nya yang di Jakarta, yang saat ini kepemilikan nya telah di atas namakan pada putri tunggal pak Sulaiman dan bu Widya, yaitu Salma.


Papi Vincent dan keluarga kecil nya, beserta oma Carla berangkat ke bandara dengan diantarkan oleh om Devan dan tante Lusi, karena om Devan masih merasa kangen dengan adik sepupu nya yang dulu sering dia jahili itu... siapa lagi kalau bukan mami Nina.


Sementara Bunda Fatima beserta ayah Yusuf, opa Sultan dan oma Sekar, diantarkan oleh daddy Rehan dan mommy Billa menggunakan mobil mewah milik mommy Billa yang dikendarai sendiri oleh daddy Rehan.


Sedang kan di mobil Dion, selain Fira,, ikut juga Zaki dan si bungsu Annas.


"Bro, gue aja yang nyetir.. lu duduk di belakang aja, sama dik Fira," pinta Dion penuh pengertian, seraya meminta kunci mobil dari Dion.


Dengan senang hati, Dion memberikan kunci mobil pada abang sulung nya Fira tersebut. Dan Dion kemudian segera membukakan pintu mobil untuk sang tunangan, setelah Fira masuk Dion pun ikut masuk dan duduk tepat di sebelah Fira.


Setelah semua nya masuk kedalam mobil masing-masing, mereka pun segera meninggalkan gerbang rumah utama untuk menuju tempat tujuan dengan melambaikan tangan kepada keluarga Antonio yang masih bertahan dan baru akan pulang ke rumah masing-masing nanti sore.


Om Ilham segera merayu sang istri agar mau diajak kembali ke kamar, "bund, ayah pijat yuk... kaki bunda pasti pegal, karena bunda rajin banget bantu-bantu di belakang dari kemarin," bujuk om Ilham seraya memohon.


Tante Jihan masih bersikap dingin, seolah tak ingin menanggapi permintaan suami nya. Padahal dalam hati, wanita cantik dan energik itu tertawa, karena telah berhasil mengerjai suami nya yang suka iseng itu.


Sementara om Alex dan opa Alvian yang mendengar rengekan om Ilham pada istri nya menahan tawa, pasal nya mereka berdua juga tahu akal-akalan tante Jihan yang ingin mengerjai om Ilham.


"Bunda sayang,,, habis ayah pijat, kita ke mall deh belanja untuk kebutuhan adik bayi sekalian bunda juga bisa pilih perhiasan yang bunda mau," lagi, om Ilham masih mencoba membujuk istri nya.


Mendengar sang suami menyebut perhiasan, tante Jihan bersorak dalam hati dan ingin segera mengakhiri drama nya.. tapi abang sepupu nya memberi isyarat, agar om Ilham jangan buru-buru dimaafkan.


Dan tante Jihan pun masih pura-pura marah, dan berlalu begitu saja meninggalkan om Ilham di ruang keluarga bersama keluarga nya yang lain. Hingga membuat om Ilham mengacak rambut nya dengan kasar, karena frustasi.


Tawa opa Alvian, om Alex dan pasangan nya yang mengetahui drama tersebut pun pecah seketika. "Kejar Ham, jangan cuma dikasih perhiasan.. kalau perlu, bilang saja sama Jihan kalau kamu akan membuatkan dia istana dalam satu malam," ejek opa Alvian dengan masih tergelak, tanpa dosa.


"Memang nya Ilham jin om, yang tinggal bilang bim salabim... prok,, prok,, prok,, jadi apa?" Gerutu om Ilham.


"Itu bukan jin nang, itu pak Tarno tukang sulap,," ucap tante Nisa, kembali tergelak.


Saudara-saudara nya yang lain pun ikut tertawa kembali, kecuali kakek Ilyas dan nenek Lin yang mengerutkan kening karena tak tahu apa yang di tertawa kan oleh adik dan anak-anak nya.


"Kalian pada bahas apa tho? Ibu ndak ngerti deh mbak?" Tanya nenek Lin menatap tante Nisa.


"Itu lho buk, dik Jihan marah sama Ilham gara-gara bang Rehan," balas Ilham mengadu pada ibu nya, dengan gaya nya yang kolokan. Om Ilham memang selalu manja pada ibu, dan juga pada kedua kakak nya.


"Kok bisa gara-gara abang kamu?" Tanya nenek Lin pada putra bungsu nya.


Terlihat tante Nisa mendekati ibu nya dan membisikkan sesuatu, nenek Lin nampak mengangguk-angguk.


Om Ilham kemudian menceritakan awal mula nya, hingga akhir nya sang istri ngambek dan memberi nya hukuman. "Jadi semalem, terpaksa Ilham tidur di sofa,," ucap nya seraya cemberut.


"Ya udah sana, susul istri mu." Titah nenek Lin pada om Ilham.


Om Ilham pun segera berlalu menuju kamar nya, menyusul sang istri.


*****


Sementara itu, Dion yang duduk di samping Fira terus saja mengajak gadis cantik yang sudah menjadi tunangan nya itu bercerita.


Dion menceritakan semua kegiatan nya, selama beberapa minggu ketika mereka tak bisa saling bertemu. Karena Dion tak ingin ada yang ditutupi, dari kegiatan keseharian nya kepada calon istri nya itu.


Begitu pun dengan Fira, yang juga bercerita dengan terbuka tentang aktifitas nya sehari-hari di seberang sana.


Sementara Zaki memutar musik dengan volume yang lumayan keras, hingga dia tak bisa mendengar kan suara di belakang nya.


Sedang kan Annas, sibuk bermain game online dan melanjut kan mabar bersama saudara-saudara nya.


"Neng Fira, memang nya enggak kangen kalau lama kita enggak ketemu langsung seperti ini?" Tanya Dion dengan tatapan nya yang penuh arti.


Fira tersenyum dan kemudian mengalihkan pandangan nya, "ya kangen lah bang," balas nya sangat lirih, meski samar namun Dion masih bisa mendengar nya.


Dion tersenyum lebar, "abang juga kangen banget neng, seminggu rasa nya seperti setahun," keluh Dion.


"Maka nya bang Dion cepat di selesaikan kuliah nya, biar bisa segera nyusul Fira ke sana," pinta Fira seraya menatap Dion untuk memberikan semangat.


Dion mengangguk, "akan abang usahakan, abang tiap semester akan ambil SKS yang banyak biar bisa cepat kelar dan bisa segera menikahi neng Fira," ucap Dion sungguh-sungguh, seraya menggenggam tangan kanan Fira. "Moga aja dalam waktu tiga tahun, kuliah abang selesai," lanjut Dion dengan antusias.


Di genggam seperti itu oleh pemuda yang telah mengisi penuh hati nya, membuat jantung Fira berdebar kencang. Gadis itu menjadi grogi, dan wajah nya yang putih bersih menjadi merona.


"Aamiin... dengan senang hati, Fira akan menunggu bang Dion," lirih Fira seraya menundukkan kepala tak sanggup menatap Dion yang posisi nya sangat dekat dengan diri nya, bahkan bahu mereka telah saling menempel.


Kembali Dion tersenyum, dan tangan Dion meremas jemari lembut yang berada dalam genggaman nya itu.. dan beberapa saat kemudian, Dion segera melepas nya.


Dion menyadari sepenuh nya apa yang dia lakukan saat ini, dan berpegangan tangan sebentar,,, Dion pikir itu masih hal yang wajar, meski dia paham betul bahwa ajaran agama nya melarang hal tersebut.


"Maaf, jika abang lancang menggenggam tangan dik Fira. Abang, enggak bisa nahan untuk tidak melakukan hal tersebut," ucap Dion dengan jujur, jantung Dion pun sama berdebar nya seperti jantung Fira.


Dan Fira yang juga memahami nya, hanya bisa mengangguk.


Zaki yang sempat melihat adegan itu dari pantulan kaca spion, tersenyum.. "gue yakin, lu enggak bakal berani bertindak lebih dari itu bro.. karena gue tahu, lu adalah cowok yang baik dan bertanggung jawab." gumam Zaki dalam hati, dan kemudian kembali fokus dengan kemudi nya.


Ya, meskipun Zaki memutar musik dengan keras dan tak ingin mendengar kan percakapan adik dan tunangan nya,, tapi Zaki tetap mengawasi adik kesayangan nya itu, dengan mencuri-curi pandang melalui pantulan kaca spion yang berada di depan nya.


Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Zaki memasuki area bandara Soetta beriringan dengan mobil daddy Rehan dan om Devan.


to be continue,,,