All About KEVIN

All About KEVIN
Masuk Dalam Jebakan



Mau tak mau, Kevin dan yang lain nya pun membiarkan Jonathan dan Monik duduk bersama mereka.


Monica yang duduk tepat di depan Kevin langsung memulai dengan drama nya, meminta maaf pada Salma dengan air mata palsu yang sekuat tenaga dia keluarkan untuk meyakinkan teman yang dulu duduk sebangku dengan nya itu. "Salma, please.. maafkan gue ya? Lu masih mau kan menjadi temen gue?" Monik menatap Salma dengan berlinang air mata, mengharap simpati dari Salma dan juga Kevin.


"Gue khilaf Ma,, gue akui gue cemburu dan gak bisa berpikir logis saat itu," lanjut nya, berharap Salma mempercayai dan memaafkan kesalahan nya.


"Gue benar-benar menyesal Ma,,," Monica kembali tersedu, "gue udah dapat ganjaran nya, gue udah di keluarin dari sekolah." Ucap nya pilu.


Salma menghela nafas berat, dan menoleh kearah Kevin, Kevin mengangguk dan mengedipkan mata nya.


"Iya Mon, gue udah maafin lu kok. Dah jangan nangis,," ucap Salma dengan lembut.


Monica tersenyum puas, "dasar gadis kampung yang bodoh! Dengan mudah nya dapat gue kelabui.." gumam Monica dalam hati.


Setelah Monica diam, kini giliran Jonathan yang terus saja banyak bicara. Sedangkan Kevin dan Salma serta ketiga teman terbaik nya, seakan tak perduli dan asyik mendengarkan story dari kawan mereka yang berdiri di depan sana.


"Kevin!" Seru Jonathan, yang merasa diabaikan sedari tadi.


"Ya," jawab Kevin mengernyit.


"Apa maksud lu tadi.. menyebut Salma adalah pacar halal lu?!" Tanya Jonathan mengintimidasi.


Yang di tanya nampak kalem dan tersenyum manis, "oh itu, iya.. Salma memang pacar halal gue, karena bukan hanya restu dari orang tua yang kami dapat tapi juga restu dari Tuhan kami," balas Kevin Santai, seraya memeluk pundak sang istri.


Jonathan mengernyitkan dahi, masih belum yakin dengan apa yang dia tangkap. "Restu dari Tuhan?" Gumam nya dalam hati, "ah,, gak mungkin mereka berdua sudah menikah." Jonathan tahu bahwa arti dari mendapatkan restu dari Tuhan dalam agama nya adalah pernikahan yang sakral, yang diberkati Tuhan dan tidak terpisahkan.


Acara inti telah usai, dan semua guru telah pulang. Kini berganti dengan hiburan music dance, sebagian siswa turun ke lantai dansa untuk berjoged dengan iringan musik yang menghentak. Namun Jonathan masih asyik dengan lamunan nya.


Hingga saat Dion datang mendekat ke meja mereka, dan mampu membuyarkan lamunan Jonathan. "Malam semua, mari kita nikmati pesta malam ini," ucap Dion yang membawa baki yang berisi gelas minuman berwarna merah, sepupu Devi itu meletakkan gelas-gelas minuman tersebut ke meja seraya melirik Devi dan memberikan kode.


Sedangkan Monica dan Jonathan yang melihat kedatangan Dion, tersenyum licik dan saling bersitatap. "Sebentar lagi kemenangan akan kita dapat kan," bisik Jonathan pada Monica, yang duduk di sebelah nya.


Monica mengangguk senang.


Dan Devi, yang mengetahui kode dari Dion langsung membuka ponsel nya. Devi memang tahu ada notifikasi pesan masuk di ponsel nya tadi, namun diabaikan karena dia pikir tidak penting... tapi ternyata pesan tersebut dari Dion yang memang sudah di tunggu nya sedari tadi, dan Devi langsung tersenyum membaca pesan tersebut seraya melirik sepupu nya itu.


Devi terlihat mengetikkan sesuatu di layar ponsel nya, dan kemudian mengirimkan nya pada Kevin. Setelah memasukkan ponsel nya kembali ke dalam tas, pacar Bayu itu segera membagikan gelas minuman itu kepada teman-teman karib nya.. termasuk Jonathan dan Monica.


Setelah semua nya kebagian, Dion pun ikut duduk di kursi yang masih tersisa. "Bro, sis, yuk kita bersulang.." ucap Dion seraya mengangkat gelas nya.


Rahman, Bayu dan Salma nampak ragu.. tapi Kevin yang sudah membaca pesan Devi segera mengangkat gelas nya.


"Ayo Man, Bay.. ini bukan anggur. Ini hanya minuman bersoda," ucap Dion meyakinkan.


Jonathan dan Monica nampak antusias mengangkat gelas nya tinggi-tinggi,,, Rahman, Bayu dan Salma akhir nya ikut mengangkat gelas nya. Dan mereka pun bersulang, "untuk merayakan kelulusan kita," ucap Dion penuh semangat.


"Untuk kemenangan," ucap Jonathan dengan mengangkat gelas nya yang sudah kosong seraya mengulas senyum licik nya, dan menatap Salma dengan penuh kekaguman. Jonathan mengangkat ibu jari nya tinggi-tinggi, seperti memberi kode pada seseorang.


Dan lampu ballroom itupun langsung berganti redup, dan musik semakin menghentak. Seiring redup nya pandangan Jonathan dan Monica, serta hentakan jantung kedua nya yang semakin cepat.


Bicara Monica mulai ngelantur dengan dibarengi gerak tubuh yang mulai kepanasan, begitu pun dengan Jonathan.


Dion memberikan isyarat pada Kevin agar membawa Salma pergi, sedangkan yang lain diminta untuk tetap tinggal dan membantu nya untuk membawa kedua orang yang mulai lepas kendali itu.


Sebelum Jonathan dan Monica benar-benar lepas kendali,,, Devi segera menuntun Monica dengan dibantu oleh Bayu, sedangkan Dion dan Rahman menyeret Jonathan untuk di bawa ke kamar hotel yang telah dia siapkan sendiri sebelum nya.


Sepanjang jalan, Monica terus meracau dan ingin membuka pakaian nya. Namun Devi dan Bayu memegang tangan Monica dengan kuat, dan mempercepat langkah dengan sedikit menyeret Monica agar cepat sampai ke kamar yang dituju.


Setelah melalui perjuangan yang cukup berat, akhir nya Devi dan Bayu berhasil membawa Monica sampai di depan kamar.. bersamaan dengan Dion dan Rahman yang menyeret Jonathan, dan kedua nya langsung di bawa masuk ke dalam kamar yang telah di siapkan Jonathan dan Monica sebelum nya.


Begitu kedua nya telah di bawa masuk ke dalam kamar, Devi dan yang lain nya buru-buru keluar kamar tersebut dan menutup kan pintu nya.


"Dion, emang nya enggak apa-apa mereka sekamar?" Tanya Devi dengan perasaan bersalah.


"Apa? Mereka di bawa dalam satu kamar?" Tanya Kevin yang tiba-tiba datang. Kevin memang sempat membawa Salma menjauh seperti permintaan Dion, tapi rasa penasaran nya membawa nya mengikuti Dion dan teman-teman nya.


"Enggak apa-apa, santai saja.. mereka sudah biasa melakukan nya," balas Dion santai, menatap Kevin dan Devi bergantian.


Devi nampak terkejut, begitu pun dengan Rahman dan Bayu,, serta Kevin dan Salma.


"Udah, jangan pada kaget gitu.. Monik dan Nathan kan memang terkenal player, dan free **** bagi mereka berdua itu sudah biasa." Ucap Dion menjelaskan.


"Oh ya Vin, kemarin gue minta bantuan sama Dion untuk menyelidiki rencana Nathan dan Monik. Dion kan cukup dekat sama mereka berdua, dan untung nya sepupu gue yang baik hati dan suka menolong ini mau jadi pengkhianat demi kebaikan," ucap Devi seraya terkekeh.


Dion menjitak kepala Devi pelan, "mana ada berkhianat demi kebaikan?' Dion menggerutu, "ini kalau bukan lu yang minta gue juga ogah sebenar nya, gue malas aja dari kemarin mesti bersikap manis sama Monik." Dion membuang nafas nya kasar, untuk meluapkan kekesalan nya mengingat sikap Monica yang manja dan arogan.


"Thanks Dion, lu udah mau bantu kami," ucap Kevin dengan tulus, "itu arti nya, setelah ini.. lu harus siap dong di musuhin sama Nathan dan Monik?" Kevin merasa bersalah.


"Santai bro.. udah lama sebenar nya gue enggak respect sama mereka berdua, tapi gue bikin santai aja selagi mereka tidak mengganggu gue dan orang-orang yang gue sayang." Balas Dion terlihat santai.


"Tapi mendengar cerita Devi kemarin, gue jadi tambah enggak suka dengan sikap mereka. Karena secara tidak langsung, dengan mereka menyakiti sahabat Devi.. itu artinya mereka juga telah menyakiti Devi. Dan gue akan lakukan apa pun untuk menggagalkan rencana mereka berdua." Lanjut Dion dengan menahan amarah.


"Dan kebetulan, mereka membutuhkan bantuan gue untuk melaksanakan skenario yang sudah mereka buat. Dengan senang hati gue bersedia dan tanpa mereka sadari, bahwa mereka sendiri lah yang akan masuk ke dalam jebakan yang telah mereka ciptakan... karena gue telah merubah skenario nya." Dion tersenyum puas.


to be continue,,,


"