
Pagi hari nya, kesibukan sudah mulai terlihat di villa milik keluarga Alamsyah tersebut. Khusus nya di halaman belakang yang luas, yang kini telah di sulap oleh om Devan menjadi taman bunga yang indah lengkap dengan kolam ikan dengan air mancur di atas nya yang sangat artistik.
Nampak om Alex dan papi Vincent tengah mengecek kesiapan untuk acara nanti malam, mereka berdua berbincang dengan pihak Wedding Organizer untuk memastikan bahwa semua nya sudah seratus persen fix.
Om Devan juga terlihat berjalan mengitari taman bunga tersebut bersama ayah Yusuf, mereka berdua meneliti setiap sudut untuk memastikan bahwa hasil karya om Devan benar-benar sudah maksimal dan tidak mengecewakan.
"Gimana bang?" Tanya om Devan, menatap suami dari sahabat nya sewaktu kuliah dulu.
"Bagus, gue suka dengan hasil karya lu Dev.." balas ayah Yusuf yang nampak puas.
Mereka melanjutkan berkeliling, sambil sesekali om Devan menjelaskan tentang konsep taman hasil desain nya kepada ayah Yusuf
Sedangkan opa Alvian, om Ilham dan daddy Rehan juga nampak berbincang santai sambil menikmati kopi di atas panggung yang berada di tengah taman yang nanti malam akan dijadikan sebagai singgasana mempelai.
"Ham,, gimana untuk semua villa yang kita sewa? Sudah disterilkan semua kan?" Tanya opa Alvian kepada keponakan bungsu nya, yang dia minta untuk membantu menyiapkan villa dan memboking beberapa kamar hotel untuk para tamu daddy Rehan yang berasal dari luar kota dan luar negeri.
"Beres om, untuk villa semua nya sudah ready. Penjaga dan para asisten yang akan melayani tamu juga sudah stand by di tempat masing-masing." Balas om Ilham.
"Kira-kira masih butuh tempat lagi enggak bang? Barangkali ada tamu abang dari luar kota yang belum terakomodir?" Tanya om Ilham, menoleh pada abang ipar nya.
Sejenak daddy Rehan nampak berpikir, "semalam rekan ku yang dari Sulawesi kasih kabar, kalau dia akhir nya bisa hadir dan mengajak ayah nya. Dan itu arti nya kita butuh tambahan kamar, minimal satu," balas daddy Rehan, "tapi disini juga masih ada yang kosong kan? Gue rasa, mereka menginap disini pun tak mengapa, karena kebetulan ayah nya itu sahabat baik papa," lanjut nya.
"Jadi, kita sudah enggak butuh tambahan penginapan lagi nih?" Om Ilham memastikan.
Daddy Rehan mengangguk pasti.
"Sejauh ini, semua nya sudah ready Rey,,," ucap om Alex yang bergabung kembali dan langsung ikut duduk, setelah berkoordinasi dengan pihak WO. Papi Vincent yang mengekor di belakang nya pun ikut duduk di sebelah opa Alvian.
"Good," balas daddy Rehan singkat.
"Brother,, sahabat-sahabat lu yang di Bali, serius enggak lu undang?" Tanya daddy Rehan, menatap papi Vincent.
Papi Vincent menggeleng, "gue udah lama enggak contact mereka bang," balas papi Vincent datar.
Sejenak hening menyapa.
"Siapa yang minum kopi gue?!" Suara om Devan yang baru bergabung kembali mengejutkan semua nya, dia mengangkat cangkir kopi nya yang telah kosong.
"Lah kan, tadi abang yang minum sebelum turun dan berkeliling," balas om Ilham mengernyit.
"Tadi masih ada Ham,,," kekeuh om Devan, yang yakin kalau tadi kopi nya masih ada.
"Bang Dev lupa kali..," balas om Ilham santai.
"Iya Dev, tadi udah lu minum kok,," timpal opa Alvian, membenarkan ucapan om Ilham.
"Udah pikun kali lu.. udah habis, bilang nya masih," daddy Rehan pun ikut menimpali.
"Enak aja lu Rey, ngatain gue pikun! Gue kan belum tua! Bang Al tuh yang udah tua,, udah dipanggil opa kan dia?!" Bantah om Devan, yang tidak terima dikatakan pikun.
"Lah,, kenapa jadi bawa-bawa gue?!" Protes opa Alvian,, seraya melotot kearah om Devan.
"Ya udah sih, minta dibikinin lagi sama bibi," ucap om Alex, ikut bersuara.
"Enggak bisa Lex,,, tadi kopi bikinan istri gue, kopi spesial,," om Devan nampak kecewa, "lu tahu kan kopi bikinan istri gue paling enak sedunia,,," lanjut nya dengan bangga.
"Kalau gitu, tinggal minta aja sama Lusi untuk buatin kopi lagi,,, apa susah nya Dev?" Titan Opa Alvian.
"Nah, benar banget itu,, sekalian buatin untuk gue," timpal ayah Yusuf, seraya mengambil tempat duduk tepat di sebelah om Ilham.
"Dia enggak bakalan mau bang, gue kan enggak boleh minum kopi lebih dari secangkir setiap pagi nya," suara om Devan terdengar lemah.
Om Alex yang ternyata menghabiskan kopi milik om Devan, pura-pura sibuk main ponsel.
"Pasti lu kan Lex, yang minum kopi gue?!" Tuduh om Devan, setelah dia mengamati wajah om Alex yang bersikap tenang itu.
Om Alex tersenyum, "sorry bro, berarti gue salah ambil kopi tadi," balas om Alex santai.
"Brengsek lu Lex, lu tadi duduk nya di mana... ngambil kopi nya di meja mana... kebiasaan lu, main samber aja!" Omel om Devan.
"Lus, lu bikinin kopi lagi gih buat suami lu.. ngomel aja dia dari tadi," pinta om Alex menatap kearah istri om Devan.
Tante Lusi menggeleng dan menatap suami nya penuh selidik.
"Honey,, kopi ku yang tadi di minum Alex semua," rajuk om Devan pada istri nya.
"Benar Lus, tolong gih buatin lagi. Untuk Yusuf juga ya,," pinta opa Alvian membenarkan perkataan om Devan, agar tante Lusi tidak memperpanjang masalah.
"Yang lain, mau dibuatin juga enggak?" Tawar tante Lusi, seraya mengedarkan pandangan.
"Boleh,, boleh,," balas om Ilham antusias.
Tante Lusi mengangguk, "oke, aku buatin untuk kalian semua," tante Lusi pun segera berlalu meninggalkan para suami tersebut, yang diikuti oleh mami Nina.
Ya, kopi buatan tante Lusi memang terkenal enak dan tidak kalah dengan kopi-kopi di cafe racikan barista terkenal. Dan karena itu lah, setiap keluarga besar itu berkumpul.. tante Lusi yang selalu membuat kan kopi untuk para suami tercinta.
Setelah kopi disuguhkan, mereka pun melanjutkan obrolan sambil menikmati kopi panas dan camilan ringan,,, hingga tanpa terasa siang sudah mulai menjelang.
"Dad, ada tamu untuk daddy," ucap Mirza yang berlari kecil menghampiri daddy nya.
"Siapa nak?" Tanya daddy Rehan penasaran.
Mirza mengangkat kedua bahu nya, tanda tidak tahu. "Mommy tidak mengatakan nya pada Mirza siapa tamu daddy," balas Mirza seraya mengikuti langkah daddy nya, yang langsung meninggalkan sahabat-sahabat nya.
Sesampainya di dalam villa, daddy Rehan langsung menuju ruang tamu. "Dad, ada tuan Irfan dan ayah nya," sambut mommy Billa, seraya berdiri menghampiri sang suami. Ternyata di sana juga sudah ada opa Sultan dan oma Sekar, yang tengah berbincang dengan salah satu tamu nya.
"Wah,, ternyata tamu jauh dari Makassar, pengusaha terhebat. Senang akhir nya kamu bisa datang Irfan," daddy Rehan memeluk salah seorang tamu nya yang lebih muda itu.
"Iya Rey, gue pasti datang. Kalaupun tidak bisa pas hari H nya, pasti akan aku usahakan untuk datang di hari yang lain," balas tamu nya yang bernama Irfan itu, setelah melerai pelukan daddy Rehan.
"Om Arman,, terimakasih om juga bersedia untuk ikut hadir," daddy Rehan menghampiri tamu nya yang lain, dan memeluk laki-laki seusia opa Sultan itu dengan hangat.
"Om pasti akan mengusahakan nya Rey, apalagi sudah lama sekali om dan papa kamu tidak bertemu. Jujur om kangen sekali bercanda bersama Sultan," ucap tamu laki-laki yang dipanggil om Arman oleh daddy Rehan itu, seraya melirik opa Sultan.
Opa Sultan mengembangkan senyum nya, dan mengangguk-angguk.
"Ayo Fan, duduklah kembali," daddy Rehan meminta om Irfan untuk duduk, dan suami mommy Billa itu pun ikut duduk bersama istri tercinta.
Mereka pun kemudian terlibat obrolan yang hangat, saling melepas rindu setelah sekian lama tak saling bertemu. Khusus nya opa Sultan, oma Sekar dan opa Arman.
Ya, opa Sultan, oma Sekar dan opa Arman adalah sahabat tatkala Mereka kuliah di Yogyakarta. Dan persahabatan tersebut berlanjut dengan kerjasama di bisnis yang mereka geluti, hingga kemudian kerjasama bisnis tersebut berlanjut ke anak-anak mereka yaitu daddy Rehan dan om Irfan.
Opa Arman termasuk salah satu pengusaha sukses di Makassar, beliau mengembangkan usaha milik ayah nya hingga menjadi besar seperti sekarang ini. Bahkan perusahaan nya memiliki cabang di beberapa kota besar di Indonesia, termasuk di Jakarta.
"Aku senang melihat kamu sekarang sehat seperti ini Sultan," ucap opa Arman menatap hangat opa Sultan. Ya, sebagai sahabat, opa Arman tahu tentang penyakit jantung yang di derita opa Sultan. Dan beliau beberapa kali mengunjungi opa Sultan, saat masih dirawat di rumah sakit di Singapura.
"Sejak Rey menikah, bang Sultan cepat sekali perkembangan nya. Dan Alhamdulillah, sekarang sudah terbebas dari obat-obatan," ucap oma Sekar dengan tersenyum lebar, seraya melirik pasangan yang selalu terlihat romantis itu,, siapa lagi, kalau bukan daddy Rehan dan mommy Billa.
Papa Sultan mengangguk-angguk, membenarkan perkataan istri nya.
"Begitu papa tahu kalau Rey mau mengadakan resepsi pernikahan putra nya, papa langsung pengin ikut kemari om," ucap om Irfan seraya tersenyum, menatap opa Sultan. "Pengin ngajak om, untuk pacuan kuda lagi," lanjut om Irfan.
Opa Arman terkekeh, "kira-kira kita masih mampu mengendalikan kuda seperti dulu apa enggak ya?"
"Jangan sampai kita yang terseret oleh kuda nya Man,," papa Sultan pun ikut terkekeh.
Tengah asyik mereka bercanda, nampak Kevin dan istri nya beserta nenek Syarifah dan bu Widya memasuki villa seraya mengucap salam. Mereka baru saja dari luar untuk mencari rujak buah untuk Salma, yang tiba-tiba pengin makan rujak. "Assalamu'alaikum,,,"
"Wa'alaikumsalam,," jawab mommy Billa dan yang lain bersamaan.
Kevin pun menggandeng istri nya masuk kedalam villa, yang diikuti oleh nenek dan ibu nya Salma.
Melihat siapa yang datang, opa Arman nampak langsung berdiri dan untuk sesaat tertegun.. "andi' Iphe'.." lirih opa Arman, menatap nenek Syarifah.
Nenek Syarifah yang masih bisa mendengar nama panggilan kesayangan nya disebut meski dengan lirih, menoleh kearah sumber suara. "Daeng Ammang,," ucap nenek Syarifah dengan bibir yang bergetar, air mata lolos begitu saja dari sudut netra teduh nya.
to be continue,,,