All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Buat Aku Melayang Abang...



Malam hari nya, di ruang perawatan Rahman,,, sepasang pengantin baru itu tengah asyik bercengkerama, dengan Rahman duduk di ranjang pasien dengan menyandarkan punggung nya pada head board sedang kan Malika duduk di kursi yang diletakkan tepat di samping kanan ranjang pasien.


Banyak hal yang mereka bicara kan, mulai dari kemana akhir nya mereka akan pulang esok hari, bagaimana kelanjutan kuliah Rahman dan bagaimana juga dengan perusahaan yang baru dirintis oleh Rahman itu.


"Besok, jadi nya kita pulang kemana bang?" Tanya Malika, seraya memainkan cincin berlian indah yang baru disematkan Rahman di jari manis nya.


"Kita ikuti apa kata mommy enggak apa-apa yank,, pulang ke rumah utama, biar bisa ikut ngumpul sama saudara-saudara kamu. Baru setelah mereka semua pulang, kita balik ke apartemen," balas Rahman, dengan tangan nya yang terus mengelus pipi putih nan mulus milik sang istri.


Malika mengangguk, "Tapi, tadi bang Kevin kan nyaranin agar untuk sementara kita tidur di kamar abang yang di kantor? Kata nya, biar kalau ada apa-apa ada banyak yang bantuin.. gimana menurut bang Rahman?" Tanya Malika.


"Abang sih terserah kamu yank,, kamu nya nyaman enggak kita tinggal di sana?" Rahman balik bertanya seraya tersenyum.


"Nyaman-nyaman aja sih, lagian benar juga apa yang di bilang bang Kevin. Jadi kalau misal bang Rahman butuh untuk ke kampus, kan ada bang Kevin atau bang Bayu yang bisa ngantar," balas Malika.


"Kalau cuma ke kampus, naik ojek atau taksi juga bisa yank.. enggak perlu ganggu kesibukan Kevin yang seabrek itu," ucap Rahman, "yang repot itu, kalau ternyata tugas akhir yang kemarin aku kumpulkan harus revisi? Atau di tolak? Kan musti ke lapangan lagi, untuk penelitian dan lain sebagai nya," lanjut Rahman, dengan menghela nafas panjang.


"Nanti Icha bantuin," balas Malika dengan yakin.


Rahman mengernyitkan kening, seraya menatap Malika dengan intens.


"Serius,, Icha akan minta cuti kerja sama bang Kevin.. agar bisa bantu bang Rahman," ulang Malika dengan yakin.


Rahman mengangguk dan tersenyum, "thanks my queen," ucap Rahman, masih dengan mengelus pipi lembut nan halus milik sang istri.


"Kalau untuk proyek-proyek abang, gimana? Icha enggak mau ya abang kenapa-napa lagi? Kalau bisa, selama abang belum pulih,,, jangan ke proyek dulu deh bang?" Larang Malika.


Rahman mengangguk, "iya, udah di handle semua sama pak Rendra." Balas Rahman, yang membuat Malika merasa tenang.


"Syukur lah," ucap Malika, sambil menahan tangan kanan Rahman agar tidak mengusap-usap pipi nya terus yang membuat tubuh nya meremang.


"Kenapa tangan abang di tahan-tahan gini?" Protes Rahman, dengan senyum nya yang mengembang.


"Ish,, abang nakal sih. Sedari tadi tangan abang bikin Icha merinding... Icha jadi pengin yang enggak-enggak," balas Malika dengan wajah yang merona merah.


"Yang enggak-enggak gimana maksud nya?" Tanya Rahman pura-pura tidak tahu, pada hal dalam hati Rahman tertawa senang.


Malika cemberut,


"Jangan cemberut,,, sini, naik sini," Rahman menggeser posisi nya ke tepi ranjang sebelah kiri, dan menepuk tempat di sebelah nya.


"Nanti kalau ada dokter atau suster gimana?" Tanya Malika khawatir.


"Enggak bakalan ada yang masuk," balas Rahman dengan santai.


Malika mengernyitkan kening,


"Tadi papa sudah pesen pada petugas jaga, agar jangan ada yang masuk.. kecuali jika kita yang manggil," terang Rahman, demi mendapati wajah Malika yang menuntut penjelasan.


Malika tersenyum,, "oh,, bilang dong dari tadi," ucap nya dan tanpa disuruh dua kali, istri Rahman itu langsung naik ke atas ranjang pasien yang cukup sempit itu. Merebahkan tubuh nya di samping sang suami, dengan lengan kanan Rahman sebagai bantal nya.


"Bilang dong, kalau mau di peluk. Pakai muter-muter ngomong nya," balas Malika dan langsung memeluk tubuh suami nya tanpa rasa canggung.


Rahman terkekeh pelan dan kemudian mencium puncak kepala istri nya itu. Aroma wangi shampoo menguar memenuhi rongga penciuman nya, dan menimbulkan perasaan yang membuncah bahagia.


Sementara Malika langsung menelusupkan wajah nya ke leher sang suami, yang menguarkan aroma maskulin yang sudah lama dia idam-idam kan.


Hembusan nafas Malika yang terasa hangat menyapu leher Rahman, membuat jiwa kelelakian nya meronta. Apa lagi Malika begitu ketat memeluk nya, hingga bukit kembar yang kenyal milik Malika yang sudah beberapa kali sempat di rasakan nya sekilas.. menempel sempurna di bagian kanan tubuh nya, membuat hasrat Rahman semakin membumbung tinggi.


"Sayang,," bisik Rahman dengan suara yang bergetar.


Malika mendongak, menatap Rahman.. yang juga tengah menatap nya dengan tatapan penuh damba. Tapi Rahman hanya menelan ludah berkali-kali, dan tak ingin mengatakan apapun.


Rahman sadar diri, meski saat ini diri nya begitu ingin memulai menyatu dengan istri nya.. namun kondisi nya saat ini tak memungkinkan untuk melakukan hal yang bisa membuat sang istri melayang dengan sempurna, hingga membuat Rahman memilih meredam nya. Rahman memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.. dan kemudian menghembus nya perlahan, dan Rahman melakukan nya hingga berulang-ulang.


"Abang,, kok malam merem?" Protes Malika, yang tadi jantung nya sempat berdegup kencang saat Rahman menatap nya dengan tatapan yang menginginkan diri nya. Karena jujur saja, Malika pun telah menyiapkan diri seutuh nya untuk sang suami tercinta.


"Kamu pasti capek kan sayang, bobok aja ya," balas Rahman dengan suara nya yang terdengar parau.


Malika kembali ke posisi favorit nya, mencari kenyamanan di leher sang suami dan membaui aroma maskulin Rahman yang menciptakan ketenangan jiwa nya.


Beberapa saat kemudian, Malika teringat obrolan nya dengan Salma tadi sesaat sebelum kakak ipar nya itu pulang. Yaitu di saat Bayu meledek Rahman, yang harus rela menunda malam pertama karena tak mungkin Rahman melakukan nya dengan satu tangan.


"Dik, jadi istri itu jangan hanya pasrah menerima, tapi kita juga harus memberi. Di saat suami tak bisa melakukan kewajiban nya dengan baik karena terkendala keadaan, tugas kita adalah membantu nya."


"Seperti saat ini, suami mu kan lagi sakit. Jika dia menginginkan mu, kamu harus bisa memberi nya servis terbaik." Sambil kakak ipar nya itu menunjukkan sebuah artikel yang berisi tentang bagaimana cara memuaskan suami dengan baik, Malika pun tersenyum mengingat artikel yang ditunjukkan oleh kakak ipar nya itu.


"Pantesan, bang Kevin enggak mau jauh-jauh dari kak Salma," bisik Malika dalam hati, "aku praktekin sekarang aja kali ya,, sebagai kado pernikahan yang paling berkesan untuk suami tercinta,," lanjut nya bergumam, seraya tersenyum lebar.


Malika yang memang selalu agresif jika bersama Rahman itu, sedikit beringsut dan kemudian mulai mendekatkan wajah nya pada wajah sang suami. Menempel kan bibir nya pada bibir Rahman, dan kemudian mulai menyesap nya dengan lembut.. gerakan kecil yang membuat Rahman langsung membuka mata nya lebar-lebar.


Mula nya pemuda tampan itu terkejut, tapi sedetik kemudian mulai menikmati sesapan istri nya. Tak perlu menunggu lama, Rahman pun membalas nya dengan lebih liar. Dan dalam sekejap, ruang perawatan president suite itu dipenuhi oleh suara-suara yang bisa membahayakan kesehatan jantung.


Malika tiba-tiba menarik diri nya, dan menatap suami nya lekat-lekat masih dengan deru nafas yang tak beraturan,, "hai tampan... I'll drive you beib,,, get ready now," bisik Malika, seraya mengerling nakal.


Rahman yang masih mencoba mengatur nafas nya, tak dapat menangkap jelas apa yang di bisik kan sang istri. Tapi demi mendapati istri cantik nya itu tengah melucuti pakaian nya satu persatu, senyum mengembang menghiasi bibir Rahman yang masih terasa panas. "my sexy wife,,," bisik Rahman, seraya menyentuh benda kenyal yang pernah berkali-kali menempel di dada nya meski hanya sekilas namun berhasil mengganggu tidur nya.


Remasan tangan Rahman pada benda padat nan kenyal yang menggantung tepat di hadapan sang suami, membuat tubuh Malika menggelinjang.. dan istri Rahman itu semakin bersemangat untuk memenuhi hasrat mereka berdua yang sama-sama telah mencapai ubun-ubun.


Rahman hanya bisa tersenyum puas tatkala diri nya berkali-kali di buat mengerang oleh sang istri, hingga tatkala tubuh ramping istri nya mulai menyatukan diri dengan tubuh nya.. Rahman pun tak tinggal diam, dan kemudian membalik posisi menjadi di atas. "I'll drive you crazy baby,,," bisik Rahman, ingin membalas kesenangan duniawi yang telah diberikan oleh istri nya.


Malika tersenyum dan kemudian mengangguk, "buat aku melayang, abang..." lirih Malika, sambil memejamkan mata ketika sesuatu milik Rahman yang keras mencoba memasuki inti nya dengan sangat perlahan.


Dan ranjang rumah sakit itu pun bergoyang, menjadi saksi bisu dari percintaan panas dua anak manusia yang telah disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,