
Menjelang matahari terbenam, Kevin dan sang istri tiba kembali di kediaman keluarga ayah Yusuf dan bunda Fatima. Kedua nya segera memasuki hunian mewah itu dengan mengucap salam, tapi tak ada satu pun anggota keluarga nya yang menyahut, "kok sepi, pada kemana orang-orang?" Gumam Kevin, seraya mengernyit kan dahi dan terus menuntun sang istri masuk ke dalam rumah.
Setiba nya di dapur, "bi, yang lain pada kemana? Kok rumah sepi?" Tanya Kevin pada bibi asisten rumah tangga bunda Fatima yang dia temui.
"Pada keluar semua nya sejak pagi tadi, tuan muda." Balas bibi tersebut.
"Opa sama oma juga?" Tanya Kevin penasaran.
Bibi asisten mengangguk, "benar tuan muda, nyonya Carla dan mertua tuan muda juga di ajak," balas nya dengan sopan. .
"Assalamu'alaikum,,," baru saja Kevin dan sang istri hendak meninggalkan dapur, dari arah depan terdengar suara orang-orang ramai mengucap kan salam.
"Itu suara mereka," ucap Kevin, "makasih ya bi," lanjut nya seraya bergegas meninggalkan dapur bersama sang istri.
"Abang,, kak Salma,, wih kalian keren.." ucap Mirza berlari kecil menghampiri Kevin dan Salma, seraya mengacungkan ibu jari nya ke hadapan abang nya.
Kevin dan Salma saling pandang, tidak mengerti arah pembicaraan adik nya.
Sedangkan keluarga yang lain senyum-senyum, begitu pun dengan kembar Malik dan Malika yang sudah mengetahui pernikahan abang nya dan Salma.
"Keren apaan sih dik?" Tanya Kevin menyelidik, dan melepaskan genggaman tangan nya pada sang istri karena ada Mirza dan si kembar bungsu.
"Tadi, yang waktu kak Salma berjalan sambil menari berputar-putar... dan kemudian abang menangkap kak Salma dan menggendong nya di punggung? Adik punya rekaman nya loh,," ucap Mirza seraya menunjuk kan ponsel nya, dan kemudian Mirza menunjuk kan video yang di ambil dari jarak yang cukup dekat itu.
Kevin dan Salma nampak serius menyaksikan video pendek tersebut, dan sedetik kemudian Salma tertunduk malu.
"Kalian dari Garden by the bay juga? Kenapa kalian tidak menyapa abang, dan mengajak abang bergabung?" Protes Kevin mengedarkan pandangan, menatap semua nya.
"Abang,,, kan tadi pagi abang bilang nya hanya ingin pergi berdua dan tidak ingin di ganggu sama adik-adik?" Mommy Billa membalas protes sang putra, seraya tersenyum menggoda.
"Iya, tadi adik sudah mau menghampiri abang dan kak Salma tapi dilarang sama mommy." Mirza membenarkan ucapan sang mommy, "eh, abang pacaran ya sama kak Salma?" Tanya Mirza mulai kepo.
"Bang Mirza naik ke atas dulu sana, cepetan mandi.. ayo yang lain juga," titah mommy Billa, mematahkan keingintahuan Mirza mengenai hubungan abang sulung nya dan Salma.
Mirza cemberut, tapi langsung nurut dengan perintah sang mommy sambil menggandeng Maira dan Maida... yang kemudian diikuti oleh saudara-saudara nya yang lain, termasuk Nadin dan Naomi.
Sedangkan Kevin dan Salma nampak salah tingkah, kedua nya masih berdiri terpaku di ruang keluarga tersebut.
"Abang dan kak Salma juga bersih-bersih sana, sudah mau maghrib ini," titah mommy Billa, mencairkan kebekuan kedua remaja tersebut.
"Iya mom,," Kevin tersenyum kearah mommy dan daddy nya, juga kepada keluarga nya yang lain. Dan Kevin kemudian mengajak sang istri untuk naik ke kamar mereka, di lantai tiga.
Para orang tua pun segera memasuki kamar mereka bersama pasangan masing-masing, termasuk pak Sulaiman dan bu Widya.
Sedangkan daddy Rehan masih berdiri di tempat nya seraya menatap kepergian putra dan menantu nya dengan menggeleng-gelengkan kepala, dan sedetik kemudian tersenyum kearah sang istri. "Putra kita romantis juga ternyata ya mom, daddy pikir dia itu anak nya serius," ucap Rehan.
"Yuk mom, daddy gerah nih udah pengin nyentuh air.. tolong mandiin daddy yah," pinta nya manja, seraya menuntun sang istri masuk kedalam kamar mereka.
Mommy Billa hanya bisa nurut dengan kemauan bayi besar nya, yang selalu lebih manja di banding anak-anak nya.
Pagi menjelang, keluarga daddy Rehan dan besan nya, sudah bersiap hendak kembali ke tanah air. Begitu pun dengan oma Carla dan keluarga kecil papi Vincent, mereka berlima pun sudah bersiap untuk bertolak ke negara asal nya yang terkenal dengan julukan The Hexagon.
Prancis dijuluki dengan nama The Hexagon, karena Prancis merupakan sebuah negara metropolitan yang memiliki bentuk yang rumit. Oleh karena itu, hexagon menjadi gambaran untuk negara yang identik dengan Menara Eiffel ini. Dan orang-orang juga mengenal negara tersebut sebagai negara mode, karena kota Paris merupakan kota pusat mode dunia.
"Mbak Billa, nanti seminggu sebelum resepsi insyaallah kami sudah terbang ke Jakarta.. dan kak Salma bisa fitting dulu gaun nya, jadi kalau misal harus ada pembenahan masih ada waktu." Ucap mami Nina pada mommy Billa, seraya melirik istri Kevin.
Ya, mami Nina semalam kekeuh pengin membuatkan gaun pengantin untuk menantu dari suami nya itu. Dia sendiri yang akan merancang dan menjahit nya, begitupun dengan pakaian yang akan dikenakan Kevin di hari resepsi pernikahan nya satu bulan lagi.
Sedangkan untuk busana keluarga, seperti biasa.. bunda Fatima lah yang akan men support nya, dan Tiwi sebagai desainer senior di butik nya sudah di kabari bunda Fatima untuk membuatkan pakaian sarimbit untuk keluarga daddy Rehan dan pak Sulaiman.
Salma tersenyum dan mengangguk pada mami sambung dari suami nya itu, "makasih mami," ucap nya tulus.
Mami Nina memeluk Salma, "sama-sama kak Salma, mami senang melakukan nya untuk kak Salma dan juga abang," balas mami Nina lembut, seraya melirik Kevin.
Kevin pun membalas tatapan mami sambung nya dengan tersenyum tulus, kini sudah tak ada lagi kecanggungan diantara diri nya dan keluarga papi kandung nya. Dan semua itu, berkat dukungan sang istri dan juga kebesaran hati sang daddy.
"Mami,, mami,, Mela di buat kan gaun juga ndak? Mela mau dong gaun yang puanjaaang... kayak punya puti Cindelella mami," Maira yang sedari tadi ternyata menyimak obrolan para orang dewasa tersebut merajuk, dan meminta agar diri nya juga dibuatkan gaun yang sama dengan punya Salma.
Celoteh Maira, membuyarkan lamunan Kevin dan juga mami Nina. Mami Nina segera melepaskan pelukan nya pada Salma.
"Iya deh, nanti mami buat kan buat Mela telsayang.. gaun nya dibuat kembal sama Maida ya," balas mami Nina seraya berjongkok, mensejajarkan tinggi nya dengan putri kembar bungsu daddy Rehan.
"Namaku Me - la- mami, bukan Mela,," protes nya ingin di panggil dengan benar.
"Iya Maira,, maaf, tadi lidah mami belipet," mami Nina tersenyum manis, dan kemudian memeluk gadis kecil yang lucu itu dengan gemas.
Mami Nina juga memeluk Maida, yang berdiri di samping kembaran nya. "Ini putri yang kalem, gaun nya mau warna apa sayang?" Tanya mami Nina, setelah melerai pelukan nya.
"Maida mau warna pink mami, kalau Maira suka nya warna peach," balas Maida dengan cepat.
"Siap tuan putri, mami akan membuatkan kalian berdua gaun yang indah." Ucap mami Nina seraya berdiri dan berputar, bak seorang putri yang tengah memakai gaun panjang.
Papi Vincent menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta, dia sangat bersyukur dicintai oleh wanita sebaik Nina.. yang bisa menerima diri nya apa ada nya, dan dengan segala kesalahan nya di masa lalu.
"Belalti Mela jadi Cindelella peach dan Meda Cindelella pink, holleeee..." seru Maira dengan riang nya, membuyarkan lamunan papi Vincent.
Semua yang mendengar celoteh Maira tertawa, dan papi Vincent pun ikut tertawa bahagia. Lengkap sudah kebahagiaan nya kini, memiliki keluarga kecil yang bahagia dengan dua orang putri yang sangat cantik dan sang putra kandung telah bersedia menerima kehadiran nya sebagai orang tua.
"Bocil,, mana ada putri yang nama nya Cindelella?" Ledek Mirza, yang tiba-tiba maju ke hadapan sang adik.
"Ada kok," balas Maira, "kalau bang Milza gak pelcaya, tanya saja sama daddy Leyhan.. ada kan dad, puti Cinde lella?" Maira meminta pembelaan sang daddy, dengan memanggil daddy nya seperti saudara sepupu nya yang memanggil dengan sebutan daddy Rehan.
"Iya ada, ayo kita pamit sama oma dan opa," titah daddy Rehan menghentikan perdebatan Mirza dan Maira.
to be continue,,,