
Waktu terus berlalu, tanpa terasa hari yang ditunggu-tunggu Dion setelah tujuh semester bergelut dengan dunia perkuliahan akan segera tiba,,, karena esok adalah hari yang paling bersejarah bagi semua mahasiswa, yaitu dengan dikukuhkan nya mereka sebagai sarjana dengan keahlian masing-masing sesuai dengan bidang jurusan yang telah di ambil sewaktu mengikuti perkuliahan.
Dan saat ini, Dion tengah berada di butik milik calon ibu mertua nya untuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan nya di hari bersejarah esok pagi.
Dion ingin, Fira dan mama nya memakai kebaya yang senada.. begitupun dengan diri nya dan sang papa, yang akan mengenakan setelan jas yang senada warna nya dengan kebaya yang dikenakan sang mama dan calon istri nya.
Fira yang telah mengantongi ukuran pakaian kedua calon mertua nya, saat ini sedang memilih-milih kebaya yang cocok untuk diri nya dan juga untuk mama nya Dion.
Fira memang tidak membuat pakaian nya secara khusus, karena Dion melarang.. lagipula di butik Putri Alamsyah tersebut selalu tersedia model terbaru dan limited, jadi Fira bisa memilih gaun ataupun kebaya yang pasti nya takkan ada yang menyamai model nya.
"Bang, kalau yang model ini gimana?" Tanya Fira, sambil memperlihatkan kebaya dengan model cantik berwarna silver.
"Atau yang warna gold ini?" Fira menunjuk kebaya di samping nya.
"Yang silver kayak nya lebih elegan neng, model nya juga lebih cantik," balas Dion, seraya memegang kebaya berbahan halus dan adem itu.
Fira mengangguk setuju, dan kemudian Fira mengambil kebaya dengan warna yang sama tetapi berbeda model nya untuk mama nya Dion.
Fira kemudian mengajak Dion untuk memilih setelan jas, "pilihkan saja neng, aku ikut aja," ucap Dion seraya mengekor langkah Fira, sambil membawakan kebaya yang telah Fira pilih tadi.
Fira mengangguk, "yang ini, suka enggak?' Fira menunjukkan koleksi terbaru di butik nya, rancangan desainer internasional.
"Wow, Brioni,,, cantik ya neng, aku suka," balas Dion, seraya memperhatikan Fira.
Setelan Brioni merupakan setelan yang terbaik dalam segi teknik penjahitan pakaian pria.
Fira mengernyit, "cantik??" Fira menoleh kearah Dion, "ini, cantik?" Tanya Fira, seraya mengangkat setelan jas di tangan nya.
Dion menggeleng, "kamu yang cantik," rayu Dion seraya mengerling.
"Ih,, bang Dion, enggak jelas banget sih! Dimintai pendapat tentang ini, malah pandangan nya kemana-mana?!" Gerutu Fira.
"Pandangan ku enggak kemana-mana neng, hanya fokus ke kamu," balas Dion masih sambil memandangi wajah cantik sang kekasih, yang semakin di pandang.. semakin bertambah kecantikan nya itu menurut Dion.
Hingga membuat Fira tersipu di buat nya.
Hubungan Fira dan Dion memang berjalan lancar, meski dua setengah tahun lama nya mereka berdua menjalani hubungan jarak jauh. Tapi bukan berarti, hubungan kedua nya tanpa ada hambatan ataupun masalah.
Masalah seringkali menghampiri kedua nya, baik dari diri mereka sendiri seperti mis komunikasi karena kesibukan masing-masing.. ataupun masalah yang datang dari luar, seperti ancaman hadir nya pihak ketiga.
Namun, karena masing-masing dari kedua nya dapat berfikir secara dewasa dan memiliki rasa saling percaya yang tinggi terhadap pasangan.. maka semua masalah yang datang menyapa, dapat diselesaikan dengan baik.
Seperti ketika Fira di kejar-kejar oleh pebisnis muda yang super tajir asal Taiwan, yang berdarah campuran melayu dan tionghoa.. Dion menyerahkan semua keputusan di tangan Fira, tak ingin mengintervensi tapi tetap menunjukkan dukungan nya.
Hingga Fira, yang memang sudah terpatri hati nya pada Dion seorang.. dengan mudah dapat menyelesaikan masalah nya secara baik-baik dengan pemuda tersebut, hingga pebisnis muda itu tak mendendam pada Fira dan keluarga nya. Bahkan hingga saat ini, pemuda tersebut masih menjalin hubungan baik dengan Fira dan juga Dion.
Pun demikian dengan Dion, tak sedikit cewek-cewek di kampus yang mengejar nya. Namun Dion bergeming, bagi nya Fira adalah segala-gala nya. Tak ada tempat lain di hati nya, untuk perempuan lain... meski hanya untuk sekedar iseng.
Berbeda dengan pasangan Rahman dan Malika, yang seringkali diwarnai keributan kecil,,, hal itu disebabkan oleh kecemburuan Malika yang tak beralasan.
Meski Rahman selalu mengalah dan mengingatkan pada kekasih nya itu tentang arti sebuah kepercayaan, namun Malika selalu saja mengulang kesalahan yang sama... cemburu buta, di tambah cara berpikir nya yang masih labil membuat Rahman kadang kesulitan berkomunikasi dengan kembaran nya Malik tersebut.
Pernah suatu ketika, Malika meminta di jemput di sekolah karena Malik masih ada les tambahan dan Malika tidak mengikuti les tersebut. Rahman yang sengaja datang lebih awal ke sekolah nya, karena tak mau membuat sang kekasih hati menunggu terlalu lama,,, kemudian ada adik kelas Malika yang menggoda Rahman dan di saat yang bersamaan Malika melihat kejadian tersebut, membuat Malika marah besar pada Rahman dan menganggap teman abang nya itu suka tebar pesona.
Dan di kantor, barulah Rahman berbicara dari hati ke hati kepada Malika bahwa gadis adik kelas Malika tersebut lah yang menggoda nya.. dan bukan nya Rahman yang memulai, toh Rahman juga tak menanggapi rayuan gadis kecil itu.
Kevin yang mendengar keributan kecil itupun ikut menasehati sang adik, dan mengatakan bahwa Rahman bukan kah cowok brengsek yang suka bermain dengan banyak cewek.. dan kejadian ngambek nya Malika terulang belum lama ini, tatkala Malika melihat Rahman turun dari mobil bersama Dian.
Dan sore ini, kembali Malika ngambek pada Rahman. Pasal nya, seharian ini Rahman mengabaikan nya dengan tidak menjawab chat dari Malika.. juga tidak mengangkat telpon nya.
Padahal Rahman sedang mengadakan penelitian di sebuah pabrik untuk melengkapi tugas akhir nya, dan kebetulan ponsel nya tertinggal di kantor.
"Abang kan bisa pinjam ponsel temen, dan chat Icha?!" Rajuk nya dengan wajah di tekuk.
"Maafkan abang dik Icha, abang tadi bener-bener lagi rungsing... lagi banyak pikiran,," bujuk Rahman dengan lembut, tapi Malika melengos tak mau menatap Rahman seperti biasa nya. Hingga membuat Rahman, mendesah pelan.
Kevin dan Salma yang juga berada di ruang tersebut saling melempar pandang, "mas, bantuin tuh si Rahman," bisik Salma.
Kevin menggeleng,, "biar mereka selesaikan sendiri cinta, Icha harus mulai belajar berpikir lebih dewasa.. dan enggak egois terus," balas Kevin.
Salma mengangguk dan tersenyum.
"Hari ini deadline terakhir, sedangkan bahan penelitian abang belum terkumpul semua nya dik. Udah gitu pihak pabrik kayak mempersulit ruang gerak kami, untung nya ada salah satu temen abang yang punya kenalan orang dalam dan om itu mau membantu kami," terang Rahman mencoba memberikan pengertian, seraya menepuk lembut punggung Malika.
"Tapi kan abang bisa.."
"Dik Icha,,," potong Rahman cepat.
Malika menatap Rahman, "apa?" Tanya Malika, masih dengan wajah nya yang cemberut.
Rahman menarik nafas dalam dan menghembus nya perlahan, "sekarang abang tanya sama dik Icha, mau dik Icha apa? Jika memang menurut dik Icha, abang enggak bisa menjadi cowok yang terbaik yang bisa ngertiin dik Icha sepenuh nya.. abang nyerah," lirih Rahman, seraya menatap netra kebiruan milik Malika yang sangat indah itu.
"Maksud abang, kita putus?!" Tanya Malika nampak terkejut.
Rahman menggeleng dan kemudian mengusap kasar wajah nya. Rahman sadar betul bahwa diri nya benar-benar mencintai Malika dan dia juga sudah paham dengan karakter adik nya Kevin itu, namun jika terus-terusan di curigai dan di cemburui tanpa tahu duduk persoalan nya,,, lama-lama Rahman merasa lelah juga.
"Sebaik nya, kita break dulu dik,, kita introspeksi diri masing-masing. Dan selama break, abang bebaskan dik Icha untuk bergaul dengan cowok lain. Dan jika nanti nya ada salah satu diantara mereka yang bisa membuat dik Icha nyaman, abang rela untuk mundur," Rahman mengusap puncak kepala Malika dengan lembut.
"Ayo, abang antar pulang sekarang.. udah mau maghrib, nanti mommy cemas," ajak Rahman seraya beranjak.
Sedangkan Malika masih terdiam, mencoba mencerna ucapan pemuda yang sudah berdiri menanti untuk mengantar nya pulang. Tanpa Malika sadari, air mata lolos begitu saja dari sudut mata nya.
Rahman mencoba untuk pura-pura cuek, padahal jauh di lubuk hati nya.. Rahman tak rela melihat gadis yang sangat dicintai nya itu menangis, tapi kali ini Rahman harus bersikap tegas agar Malika bisa memikirkan semua yang terjadi dan menyikapi nya dengan lebih dewasa.
Kevin dan Salma hanya diam, tak ingin ikut campur permasalahan pribadi adik dan teman baik nya itu. Meski di hati nya, Kevin tetap berharap bahwa Rahman lah yang akan menjadi pendamping hidup sang adik.
🌷🌷🌷🌷🌷tbc...
Kita juga break dulu yah, hari ini up 1 eps.
Karena kerempongan di dunia nyata 😊🙏
Makasih atas semua dukungan kalian..
Moga semua sehat2 selalu, aamiin 😇