
Waktu terus berlalu, hari pun berganti. Monica masih saja gencar membuat ulah dan mengganggu kenyamanan Salma, namun suami siaga Salma selalu bisa melindungi istri cantik nya itu dari jebakan-jebakan Monica di sekolah.
Orang-orang daddy Rehan, yang diberi tugas untuk melindungi keluarga Salma pun beberapa kali berhasil menggagalkan rencana Mr. Robinson melalui orang-orang nya yang ingin mencelakai bu Widya, ibu nya Salma dan juga menggagalkan rencana Mr. Robinson yang ingin menculik Azka, adik nya Salma yang baru duduk di bangku Taman Kanak Kanak.
Dan semenjak pagi ini, pak Sulaiman tak lagi memperbolehkan istri nya berjualan. Ayah dari Salma itu menyuruh bu Widya agar fokus memperhatikan Azka, mengantar dan menjemput Azka sekolah seperti dulu ketika Salma masih TK.
"Pak, kalau ibu tidak diperbolehkan berjualan lagi.. bagaimana dengan biaya sekolah Azka nanti pak?" Tanya bu Widya gamang.
"Nanti juga pasti ada jalan nya bu, ibu tidak perlu risau. Lagipula Azka masih kecil, belum butuh banyak biaya.. dan bapak juga masih sanggup kok untuk membiayai pendidikan nya. Dan ketika Azka nanti butuh biaya besar, Salma juga sudah selesai kuliah. Jadi, nanti kita hanya fokus mikirin ponakan kita itu,," balas pak Sulaiman, sambil mendudukkan diri nya di meja makan hendak sarapan.
Azka adalah adik sepupu Salma dari pihak pak Sulaiman, yang di asuh oleh orang tua Salma semenjak masih bayi merah. Ibu nya meninggal, beberapa hari setelah Azka lahir, sedangkan ayah Azka telah tiada semenjak Azka masih berada dalam kandungan sang ibu.
Karena itu lah keluarga Salma sangat menyayangi Azka, dan Salma pun menganggap Azka sebagai adik kandung.. Salma sangat senang dengan kehadiran Azka di dalam keluarga nya, sebagai anak tunggal kini dia tak lagi kesepian.
Bu Widya ikut membantu suami nya mencari nafkah semenjak Azka hadir di kehidupan keluarga nya, karena bu Widya ingin bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Azka. Sedangkan gaji pak Sulaiman sebagai penjaga sekolah hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah Salma. Kalau pun ada sisa, mereka tabung untuk pendidikan Salma kelak.. karena semenjak kecil Salma memiliki cita-cita yang tinggi.
Salma yang hendak ikut sarapan dan tidak sengaja mendengar obrolan kedua orang tua nya mendekat, "pak, bu, boleh Salma ikut bicara?" Pinta nya dengan sopan, sambil duduk di samping sang ibu. "Maaf, Salma dengar pembicaraan bapak dan ibu barusan," ucap Salma menatap ayah dan ibu nya bergantian.
"Maaf kak, jika pembicaraan bapak dan ibu membuat kakak jadi ikut kepikiran," ucap bu Widya dengan penuh penyesalan, sebagai orang tua.. bu Widya dan pak Sulaiman tak ingin anak nya tahu tentang keresahan serta kesulitan-kesulitan hidup yang dialami orang tua, mereka hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Salma dan Azka.
Salma menggeleng, "Salma sudah besar pak, bu, bahkan Salma sudah menikah. Salma juga ingin bisa membahagiakan bapak dan ibu, seperti bapak dan ibu yang selama ini telah berjuang untuk membuat Salma tidak kekurangan apapun dan bisa memiliki semua seperti teman-teman Salma yang lain."
"Dan saat ini, Salma insyaallah sudah bisa berdiri di kaki Salma sendiri. Salma sudah memiliki penghasilan pak,, bu,, dari hasil kerja Salma. Ijinkan Salma membantu bapak dan ibu," pinta Salma dengan memohon.
"Saat itu, Salma pernah mengutarakan pada ibu untuk membelikan ibu kios.. tapi ibu menolak nya dan bahkan ibu tertawa, Salma dapat uang dari mana? Tanpa memberi kesempatan pada Salma untuk menjelaskan nya bukan?" Salma menatap dalam netra teduh sang ibu.
"Iya kak, ibu ingat," balas bu Widya.
"Setahun terakhir, seperti yang dikatakan Kevin dimalam pernikahan kami.. Salma dan teman-teman dekat Salma membantu Kevin membangun bisnis nya, dan kami mendapatkan upah yang besar setiap bulan nya pak, bu," ucap Salma dengan mata berbinar.
"Tabungan Salma, mungkin cukup untuk membeli sebuah ruko.. bapak pernah bilang, kalau ada ruko di depan sekolah tempat bapak kerja yang di jual kan? Salma ingin membeli ruko itu untuk ibu, jadi ibu bisa tetap buka usaha dan tetap bisa fokus menjaga adik,, gimana pak, bu, Salma harap bapak dan ibu setuju dengan keinginan Salma," kembali Salma menatap ayah dan ibu nya dengan tatapan memohon.
"Kak, ruko kan mahal? Bapak enggak mau kalau kakak pakai uang mahar itu,," pak Sulaiman mencoba menolak nya dengan halus.
Salma menggeleng, "Insyaallah tabungan Salma cukup pak, kalau pun harus memakai uang mahar.. enggak apa-apa juga kan? Karena itu sudah menjadi hak Salma? Dan Salma juga mempergunakan nya di jalan yang baik," balas Salma diplomatis.
"Ruko itu kan dua lantai, dan seperti nya cukup luas. Kita bisa pindah ke sana, yang atas untuk rumah tinggal dan yang bawah sebagai tempat usaha. Dan rumah ini bisa di kontrak kan, jadi ibu juga dapat tambahan penghasilan dari mengontrakkan rumah kita."
"Lagi pula, tahun ini kan adik masuk SD. Adik bisa bersekolah di SD tempat bapak bekerja, jadi bapak juga bisa ikut bantu mengawasi adik juga kan? Dan kalau berangkat kerja, bapak juga enggak perlu bawa motor karena jarak nya dekat,,, gimana pak, bu?" Salma meminta persetujuan orang tua nya.
Pak Sulaiman dan bu Widya saling pandang.
"Boleh juga usul kakak, tapi kak.. kakak kan sebentar lagi kuliah, dan kakak butuh uang yang besar? Kakak pakai saja uang kakak untuk biaya kuliah,, bapak juga akan tetap membiayai kuliah kakak, karena itu adalah tanggung jawab bapak." Tolak pak Sulaiman dengan memberikan alasan.
"Maaf pak, bu,, untuk kuliah Salma, Kevin yang akan membiayai karena Salma sudah menjadi istri Kevin," tiba-tiba Kevin muncul mengagetkan semua nya, suami dari Salma itu kemudian menyalami ayah dan ibu mertua nya dan mencium punggung tangan mereka dengan takdzim.
"Kok enggak ngucapin salam, ngagetin aja," protes Salma.
"Nak Kevin, sarapan sekalian ya.. ibu ambilkan piring," bu Widya langsung bangkit dan mengambilkan piring untuk menantu nya, dan memberikan piring kosong itu pada Salma.
Salma pun mengambilkan makanan untuk sang suami.
"Dikit aja, tadi sudah sarapan di rumah," pinta Kevin, yang tak enak jika menolak ajakan mertua nya untuk sarapan bareng.
Mereka pun kemudian sarapan dengan tenang..
"Bapak sama ibu, tumben masih di rumah?" Tanya Kevin, sesaat setelah menghabiskan sarapan nya yang ke kedua.
Kevin sengaja berangkat lebih pagi, agar bisa berduaan dulu dengan istri cantik nya di rumah sang mertua,, tapi ternyata, ayah dan ibu Salma belum berangkat.
Pak Sulaiman kemudian menceritakan pada menantu nya tentang Azka yang hampir saja di culik kemarin, hingga pak Sulaiman melarang sang istri untuk kembali berjualan agar bisa fokus mengawasi Azka.
Salma juga menceritakan keinginan nya untuk membelikan ruko, agar ibu nya bisa tetap berjualan seperti keinginan sang ibu dan Azka tetap ada yang mengawasi.
"Kevin setuju sama Salma pak, bu,, Kevin akan urus semua secepat nya," ucap Kevin dengan antusias.
"Tapi nak,," pak Sulaiman nampak bingung, sebagai orang tua, beliau tak mau merepotkan anak nya.
"Pak, bu, apa yang kami miliki adalah milik bapak dan ibu juga. Bapak dan ibu enggak perlu sungkan, bapak dan ibu sudah menjadi orang tua Kevin sekarang.. dan Kevin juga mau yang terbaik untuk istri Kevin dan keluarga nya," tukas Kevin memotong perkataan ayah mertua nya.
Pak Sulaiman menatap putri nya, dan Salma mengangguk.
"Baiklah nak Kevin, terserah kalian berdua saja," akhir nya pak Sulaiman hanya bisa pasrah, dan dalam hati sangat bersyukur memiliki putri yang mandiri dan menantu yang sangat baik.
Pak Sulaiman kemudian pamit untuk berangkat ke tempat kerja nya, begitu pun dengan bu Widya yang akan mengantar kan Azka ke sekolah.
Azka yang sudah menunggu sang ibu sedari tadi di ruang tamu, nampak tidak sabar. Azka memang senang berangkat lebih awal, karena bisa bermain dahulu bersama teman-teman nya di area bermain di halaman sekolah nya.
"Bang Kevin, kak Salma.. Azka berangkat dulu ya," celoteh Azka, sambil mencium pipi kakak nya, dan menyalami Kevin.
Setelah kedua orang tua nya pergi beserta sang adik, Salma pun bergegas ke kamar untuk mengambil tas sekolah milik nya.
Salma terkejut saat hendak berbalik, ternyata Kevin mengekor di belakang nya dan ikut masuk ke dalam kamar,, "mau ngapain?" Tanya Salma gugup.
Kevin tersenyum manis, "kamu enggak kangen sama aku baby? Beberapa hari ini, kita kan enggak melakukan itu,," ucap Kevin ambigu.
Salma mengernyit kan dahi nya, "jangan sekarang Kevin, nanti kita terlambat," balas Salma kemudian, yang tahu arah pembicaraan sang suami.
Memang benar ada nya, beberapa hari ini.. mereka tidak melakukan hubungan suami istri. Sepulang sekolah seperti biasa, mereka disibukkan dengan belajar kelompok bersama teman-teman dekat mereka di base camp.
"Kalau begitu, berikan aku Vitamin C.. untuk mengawali hari," bisik Kevin sambil mendekatkan wajah nya, dan remaja tampan itu kemudian mencium bibir lembut sang istri dengan penuh perasaan.
to be continue,,,