
Rahman kemudian mengambil kursi di meja Salma, dan menggesernya mendekati meja Malika. Rahman mendudukkan diri tepat di samping sang pujaan hati, dan mengabaikan Bayu yang terdengar masih ngedumel tidak jelas.
"Ada yang belum paham dik?" Tanya Rahman, seraya mengamati wajah cantik sang kekasih yang sedang fokus di depan layar komputer.
Malika menggeleng, "sejauh ini, aman bang.. nanti kalau ada yang enggak Icha mengerti, Icha akan nanya sama abang," balas Malika, sekilas memandang Rahman yang juga tengah menatap nya dengan intens.
Malika kembali fokus dengan layar komputer di hadapan dan membiarkan sang pangeran tampan terus memandangi wajah nya. Sesekali Malika mengerling nakal seraya memberikan senyuman termanis pada pemuda tampan yang duduk di samping nya. Dan hal itu, membuat Rahman semakin gemas melihat nya.
"Dik, kok seharian tadi enggak ada telpon atau ngechat abang sih?" Tanya Rahman, yang ternyata merasa kehilangan dengan tidak ada nya kabar dari sang kekasih.. yang biasa nya setiap hari, tidak pernah absen dan selalu mengirimi nya pesan itu.
Malika menoleh, dan menatap Rahman dengan intens.. "abang kangen ya?" Goda Malika, "sebenar nya, Icha juga enggak bisa bang kalau sebentar aja enggak tahu kabar nya abang. Tapi Icha harus mulai belajar untuk memahami kesibukan abang bukan? Icha takut, jika telpon atau chat dari Icha mengganggu abang yang lagi sibuk kerja," balas Malika, sejenak menghentikan pekerjaan nya.
"Kan dik Icha bisa kirim pesan? Kalau abang udah ada waktu dan bisa pegang ponsel, pasti abang balas," protes dan pinta Rahman.
"Kenapa enggak abang dulu yang chat Icha?!" Malika balik protes.
Rahman tersenyum, "ini kan hari pertama dik Icha kerja, jadi abang milih datang ke sini untuk melihat langsung bidadari abang yang lagi kerja," balas Rahman, seraya tersenyum.
Malika tersenyum lebar mendengar perkataan Rahman.
Rahman tidak mengungkit, bahwa diri nya tadi sudah mencoba menghubungi sang kekasih.. tapi telpon nya tidak di angkat, bahkan chat dari Rahman pun tidak dibaca oleh Malika.
"Oh iya bang, dari tadi pulang kuliah tuh Icha belum pegang ponsel... Icha taruh di mana ya tadi?" Tiba-tiba Malika teringat dengan ponsel nya, yang masih tersimpan di dalam tas.
Malika buru-buru mengambil benda pipih itu, dan kemudian membuka nya. Malika terkejut tatkala mendapati ada chat dari sang pangeran tampan, juga beberapa panggilan masuk dari nomor yang sangat di hafal nya tersebut.
"Abang, maaf,,, Icha enggak tahu kalau.."
Rahman menggeleng, meminta Malika untuk tidak melanjutkan ucapan nya. Dan Malika semakin dibuat merasa bersalah pada pemuda tampan, yang masih terus memandangi nya itu.
"Bang Rahman enggak marah dengan kejadian ini, padahal ponsel ada di dekat ku. Tapi waktu itu, aku marah-marah sama bang Rahman.. dan merasa di abaikan, padahal ponsel abang memang ketinggalan. Ah,, aku jadi malu dan merasa bersalah pada bang Rahman,," gumam Malika dalam hati.
Malika kemudian membuka chat dari Rahman ;
"Assalamu'alikum dik, udah di kantor? Yang semangat ya kerja nya, abang yakin dik Icha pasti bisa." Disertai emoticon penyemangat dan love.
"Gimana dik? Ada kesulitan?" Dikirim sepuluh menit setelah chat yang pertama.
"Dik, abang mau bolos nih dari proyek.. pengin lihat, kalau bidadari lagi kerja tuh kayak gimana?" Dengan emoticon tersenyum genit, dikirim enam puluh menit yang lalu.
"Dik Icha mau di bawain apa? Abang udah otw nih, tiga puluh menit lagi sampai?"
Malika menatap Rahman yang masih setia memandangi wajah nya, dan gadis itu reflek memeluk Rahman dengan erat. "Abang,, maafin Icha,,,", lirih nya, dengan perasaan bersalah. Begitu besar perhatian Rahman pada nya, tapi selama ini Malika malah sering mencemburui Rahman tanpa alasan yang jelas.
"Eh,, apa-apaan ini! Peluk-pelukan di tempat umum! Ada Tasya tuh?!" Tegur Dion yang baru saja datang bersama Fira, mereka berdua kemudian mengambil kursi dan duduk dekat Rahman dan Malika.
Bayu, Devi dan Malik yang tadi nya fokus dengan layar di hadapan masing-masing.. sontak menoleh kearah Rahman dan Malika.
Tasya masih asyik bermain dengan putri nya Kevin, dan merasa tidak terganggu dengan keributan kecil tersebut.
Sedangkan Bintang dan bibi pengasuh nya, sudah kembali ke lantai empat sesaat setelah Rahman datang tadi.. karena putra Bayu dan Devi itu sudah mengantuk, dan harus tidur siang.
Yang lain pun ikut menggeser kursi nya, mendekat kearah Rahman dan Malika. Kedua nya seperti tertuduh, yang di kelilingi oleh penuntut umum, hakim dan jaksa.
Malika segera melepaskan pelukan nya seraya tersenyum manis, "hehe,, kak Fira, bang Dion.. Icha reflek tadi," ucap nya, tanpa merasa berdosa.
Sedangkan Rahman, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Sejenak hening menyapa ruangan tersebut.
"Bang Kevin dan kak Salma, kemana dik?" Tanya Fira seraya menatap Malika, memecah keheningan dan mengurai kecanggungan Rahman dan Malika.
"Lagi ada urusan orang dewasa sama istri nya di atas," balas Rahman mewakili Malika.
"Emang nya, lu tadi sempat ketemu sama mereka berdua?" Tanya Bayu, menatap Rahman.
Rahman mengangguk, "di depan lift, dan Kevin bilang.. jangan di ganggu," balas Rahman, "dia juga sempat nitipin Vinsa tadi, kata nya jangan sampai rewel," lanjut Rahman terlihat kesal.
"Padahal gue datang lebih awal kemari, niat nya kan mau ngapelin yayang.. eh, malah di suruh jagain anak abang nya," Rahman menggerutu.
Dion dan Bayu terkekeh, "sabar bro.. terima nasib jadi junior, harus ngalah sama senior." Ucap Bayu masih dengan terkekeh.
"Kan lu udah dapet upah pelukan dari adik nya,," bisik Bayu, yang mendapat pelototan dari Dion, Devi dan Fira. Sedangkan Rahman hanya senyum-senyum.
"Hehe,, peace,," ucap Bayu, seraya terkekeh pelan.
"Bro, kalau lu udah ngebet.. buruan di lamar aja si Icha nya, kalau perlu segera nikahin," ucap Dion, "jangan kesenangan menikmati kesempatan dalam kesempitan?" Lanjut Dion menasehati Rahman, yang terlihat sangat menikmati kekhilafan Malika.
"Bukan kesenangan bro.. tapi kata embah gue, enggak baik nolak rejeki nomplok,," balas Rahman asal, sambil tersenyum.
"Halah,, ngeles aja lu, Rahman Alvaro,,," cibir Bayu.
"Oh ya dik Icha, sebenarnya abang ke sini karena ada yang mau abang sampai kan. Tapi tadi begitu melihat dik Icha serius kerja, abang sengaja menunda nya." Rahman menatap Malika dengan nada bicara serius.
Malika mengernyit, "tentang apa bang?"
"Nanti malam, abang akan ke rumah sama papa dan mama," ucap Rahman.
"Abang,, kenapa mendadak? Icha kan belum nyiapin gaun? Icha juga musti perawatan dulu ke salon kan? Ah,, bang Rahman enggak lucu nih, prank nya?! Pasti lagi ngeprank Icha kan?" Rajuk Malika, yang menganggap ucapan Rahman adalah prank semata. Karena semalam saat menghadap sang daddy, Rahman tidak mengatakan bahwa akan secepat ini untuk melamar nya.
"Abang serius dik,,, bukan prank?! Papa dan mama udah tiba sejam yang lalu,, dan sekarang lagi sama kakak menyiapkan segala keperluan untuk nanti malam," balas Rahman sungguh-sungguh.
"Aaah,, kak Fira,,, ini gimana?" Rengek Malika.
Fira geleng-geleng kepala, melihat kelakuan adik sepupu nya yang suka berlebihan dalam menyikapi sesuatu itu.
"Lamaran enggak perlu pakai perawatan khusus ke salon dik, toh tiap bulan dik Icha juga udah perawatan kan sama mommy? Dan gaun, kenapa juga harus di permasalah kan? Gaun kamu kan seabrek dik? Kalau mau yang terbaru, tinggal datang aja ke butik? So simple dik, enggak usah di bikin rungsing deh," ucap Fira, mencoba menenangkan adik sepupu nya yang panik.
"Benar apa kata kak Fira dik,, lamaran itu bukan tentang apa yang kita pakai, dan apa yang di bawa oleh cowok yang melamar kita.. tapi ada pada esensi nya, pada kesungguhan dan keseriusan cowok tersebut terhadap kita," timpal Devi.
"Tahu tuh si Icha,, punya kembaran satu, tapi sikap nya enggak jelas gitu," cibir Malik.
"Awas kamu ya bang, Icha enggak mau bantuin kalau suatu saat nanti abang mau melamar Tasya!" Ancam Malika, menatap tajam saudara kembar nya.
"Ayo kak, kita ke butik sekarang?" Ajak Malika, menarik tangan Fira dengan tidak sabar.
"Dik, terus abang gimana?? Di anggurin aja nih? Enggak di peluk lagi??" Tanya Rahman seraya tersenyum, yang mendapat kan tinju dari Dion dan Bayu,, di lengan kanan dan kiri nya.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc..