
Hari berganti, semua telah kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing. Termasuk Dion dan Fira, yang sekembalinya dari Singapura seminggu yang lalu... kini ikut tinggal bersama di hunian lantai empat gedung perkantoran milik Kevin.
Ya, Fira dan Dion baru kembali ke Jakarta seminggu setelah pernikahan mereka. Karena bunda Fatima dan ayah Yusuf, masih ingin bersama-lama dengan putri satu-satunya itu.
Tadi nya, Dion ingin membawa Fira ke apartemen yang sudah di persiapkan.. yang berada tepat di sebelah apartemen Kevin, yang merupakan hadiah dari papi Vincent. Tapi Fira menolak, dengan alasan tak ada teman dan lebih enak tinggal rame-rame bersama saudara-saudara nya yang lain.
Dan pagi ini adalah weekend pertama bagi Fira di Jakarta, setelah Fira resmi menjadi nyonya Dion.
Jika pagi sebelum-sebelum nya, Fira akan bergegas bangun untuk menyiapkan segala keperluan suami,,, karena Dion harus mengecek pekerjaan nya di kantor meski hanya sebentar dan Fira juga harus pergi ke butik, yang sudah diberikan bunda Fatima kepada diri nya tapi pagi ini Fira ingin bermalas-malasan dan bermanja-manjaan dengan suami nya itu.
"Belum ingin bangun neng?" Tanya Dion, yang mendapati sang istri masih memeluk tubuh nya dengan erat.
Ya, mereka berdua kembali bergelung di bawah selimut yang tebal selepas sholat shubuh tadi. Bukan untuk kembali tidur, tapi untuk menyatukan diri dan menghangatkan tubuh di kala dingin menyapa di pagi buta.
"Fira masih ngantuk bang, semalem tidur nya kan cuma sebentar doang," rajuk Fira, sambil mengeratkan pelukan nya. Marasai hangat nya tubuh polos sang suami.
"Bukan nya selama dua minggu ini, tidur kita emang cuma sebentar ya? Dan biasanya, kamu tetap bisa bangun pagi kan neng?" Tanya Dion, seraya tersenyum penuh arti. Terlintas di benak nya, keinginan untuk menyatukan diri kembali dengan sang istri.. mumpung keduanya masih sama-sama polos.
"Itu karena abang yang maksa terus?!" Rajuk Fira.
"Tapi senang kan,,, di paksa?" Dion kembali mencumbui istri nya, mencium titik-titik sensitif di tubuh Fira.. hingga membuat Fira menggelinjang karena kegelian.
"Abang,,, udah dong, Fira capek bang,,," tolak Fira, tapi tidak dengan tubuh nya. Antara hati dan body ternyata tak sinkron,, tubuh Fira malah semakin merapat dan memberikan reaksi, hingga membuat Dion menjadi lebih bersemangat.
"Sekali lagi ya?" Pinta Dion, sambil menatap dalam netra sang istri.
"Enggak ah,," jawab Fira, tapi sambil mengangguk. Dan hal itu membuat Dion terkekeh pelan.
"Enggak mau sekali ya neng??" Goda Dion, yang semakin menjadi. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Dion kembali menyatukan diri nya pada sang istri, untuk merasai hangat dan manis nya cinta mereka berdua. Meluruhkan segala rindu, dan mereguk manis nya madu asmara. Mengayuh bersama, menuju puncak keindahan dan kenikmatan yang hakiki.
Peluh bercucuran membasahi tubuh sepasang suami istri yang baru menikah dua minggu yang lalu itu, Dion mencium kening istri nya dalam, "terimakasih bidadari ku,, love you much," bisik nya.
"Hemmm,," Fira hanya membalas nya dengan gumaman, dengan mata yang kini telah terpejam.
"Tidur lah, abang akan siapkan sarapan untukmu," ucap Dion sembari beringsut dari ranjang, dan kemudian beranjak untuk memunguti pakaiannya dan pakaian sang istri yang bakda shubuh tadi di buang nya ke sembarang arah hingga berserak kemana-mana.
Dion tersenyum sambil memunguti pakaian tersebut, membayangkan betapa tidak sabaran nya dia tatkala bersentuhan dengan istri nya.
Dion kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk mandi besar yang kedua kali nya, setelah sebelumnya memasukkan pakaian nya dan pakaian sang istri ke dalam keranjang pakaian kotor yang berada di samping pintu kamar mandi.
Sedangkan di luar kamar pengantin baru tersebut, keriuhan telah terjadi. Pasal nya, keluarga kecil Kevin ikut bergabung untuk sarapan pagi.
"Bang Dion sama kak Fira belum bangun ya?" Tanya Salma, setelah mengucap salam dan langsung nyelonong ke meja makan sambil meletakkan makanan yang di bawa nya. Sedangkan Kevin dan putri nya, memilih untuk duduk di ruang keluarga bersama Bayu dan Rahman.
"Belum ada keluar tuh dari tadi," balas Malika, "biasa nya sih pagi-pagi kak Fira udah bikin kopi buat bang Dion," lanjut nya seraya membuka makanan yang di bawa kakak ipar nya.
"Wah, kakak masak gudeg? Enak nih,," ucap Malika dengan mata berbinar,, dia teringat masakan kesukaan daddy nya itu, yaitu masakan favorit sang oma.
"Moga aja enak ya dik, resep nya dari oma itu," balas Salma, sambil membantu Malika menata makanan di atas meja makan.
"Paling karena weekend dik, biarin aja lah.. maklumin, pengantin baru," ucap Devi seraya tersenyum.
"Hemmm,, bener juga tuh, " tapi dulu gue waktu pengantin baru, tetep bangun pagi terus tuh.. gak peduli weekend?!"
"Untuk lu, pengecualian bund,,, karena lu married by accident," balas Devi, yang kini memanggil Salma dengan menirukan Vinsa.
"Eh, siapa yang MBA!" Protes Salma, yang tak terima dikatakan menikah karena sesuatu hal dalam tanda petik.
"Lah kan emang benar, lu menikah karena kena gerebek pak RT?" Balas Devi seraya terkekeh, "padahal belum pacaran, eh sudah kena gerebek... gerebek yang membawa hikmah dan nikmat pasti nya," lanjut Devi dengan tergelak.
Salma hanya senyum-senyum mendengar celoteh Devi, memang benar ada nya.. gerebek yang membawa hikmah karena dari situlah Salma tahu, bahwa perasaan nya kepada Kevin yang dia pendam sedalam-dalamnya sejak kelas satu ternyata tak bertepuk sebelah tangan.
"Ayo, kita panggil paksu untuk isi amunisi," ajak Devi, setelah menata ikan dan ayam goreng yang baru saja diangkat nya dari penggorengan. "Sebelum kita ajak mereka kembali untuk bertempur di kasur," lanjut Devi seraya terkekeh sendiri, mendengar kata-kata nya yang absurd.
"Udah sinting emak yang satu ini," gumam Salma, sambil berlalu meninggalkan meja makan. Dan mereka berdua pun terkekeh bersama, sambil berjalan menuju ruang keluarga.
Sedangkan Malika, hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. "Udah jadi emak, bicara nya masih pada enggak jelas gitu?" Lirih Malika, seraya ikut menghampiri para suami yang menunggu di ruang keluarga.
"Ayo kita sarapan," ajak Salma, sambil menghampiri putri nya.
"Mama, Bintang sudah bangun belum?" Tanya Vinsa, pada Devi.
"Sudah sayang, sana gih.. samperin ke kamar nya," suruh Devi, seraya menunjuk kamar Bintang yang berada tepat di samping kamar Devi dan bersebelahan dengan kamar Dion.
"Dengan senang hati," Vinsa mengangguk dan kemudian berjalan sambil melompat-lompat menuju kamar Bintang.
Tepat saat berada di depan kamar Dion, Dion membuka pintu kamar nya. Vinsa pun menghentikan langkah nya, "om Dion baru bangun? Selamat pagi om?" Sapa nya ramah dengan mimik yang lucu, hingga membuat Dion berjongkok dan kemudian mencium pipi gadis kecil itu dengan gemas.
"Pagi cantik,,, hemmm.. sudah harum ya? Siapa yang mandiin?" Tanya Dion, sambil menciumi pencak kepala Vinsa yang harum aroma khas balita.
"Mandi sendiri dong om, kan Vinsa sudah besar," balas Vinsa seraya berjinjit, seolah ingin menunjukkan bahwa dia kini sudah tumbuh tinggi dan bukan gadis kecil lagi.
"Iya,, iya,, Vinsa kan sudah besar ya," balas Dion, sambil mengacak lembut puncak kepala Vinsa.
Sudut ekor mata Vinsa yang melihat kedalam kamar Dion yang terbuka setengah, melihat ada pergerakan di dalam kamar sana. "Om, yang di dalam kamar om siapa?" Tanya Vinsa penasaran.
"Oh, itu tante Fira sayang,," balas Dion tersenyum, seraya menoleh kedalam kamar dan mendapati istri nya telah bangun dan sedang mengenakan handuk kimono yang tadi dia siapkan.
Vinsa nyelonong masuk, "Om jahat! Kok, tante Fira ada di sini?!" Tuduh Vinsa dengan suara nyaring karena terkejut, melihat tante Fira nya ada di kamar Dion.
Dion dan Fira saling pandang, sedangkan ayah bunda Vinsa beserta yang lain yang mendengar teriakan putri nya Kevin tersebut,,, segera menuju ke kamar Dion, untuk melihat apa yang terjadi.
Melihat teman-teman nya ikut nyelonong masuk kedalam kamar nya, Dion buru-buru menutupi istri nya dengan tubuh nya.
"Ayah, bunda,, om Dion nyulik tante Fira?!" Adu Vinsa kepada ayah dan bunda nya seraya hendak menangis, dan menunjuk Fira yang disembunyikan Dion di balik punggung nya.
Aduan Vinsa membuat semua orang yang berada di sana terkekeh, kecuali Dion dan Fira yang masih syok dengan jeritan Vinsa tadi.
"Kalian malah tertawa, bantu gue dong.. untuk menjelaskan pada Vinsa?" Pinta Dion.
Salma kemudian berlutut untuk mensejajarkan tinggi nya dengan sang putri, "sayang,, om Dion sama tante Fira kan sudah menikah, sama seperti om Rahman dan tante Icha. Jadi mereka sekarang sudah tinggal bersama di sini," ucap Salma dengan lembut, mencoba memberikan pengertian pada putri nya.
"Oh,, seperti ayah dan bunda, juga om Babay dan mama Devi ya bun?" Tanya Vinsa, "berarti nanti, om Dion dan tante Fira bisa punya adik kecil dong?" Lanjut nya bertanya dengan polos.
"Benar kak Vinsa, ini mereka lagi mau bikin adik kecil.." timpal Bayu, seraya terkekeh.
"Babay,,," Kevin melirik tajam pada Bayu.
"Horre,,, Vinsa mau punya adik lagi, bikin yang banyak ya om??" Pinta Vinsa dengan mata berbinar, karena akan segera punya adik kecil lagi selain Bintang.
"Dengan senang hati Vinsa,,," balas Dion, dengan tersenyum lega. Yang mendapatkan hadiah cubitan dari Fira, yang masih menyembunyikan tubuh nya di belakang Dion.
"Aw.. udah enggak sabar aja neng?? Sabar yah, biar mereka keluar dulu, baru kita lanjut bikin adik kecil nya," goda Dion, dan kembali Fira menghadiahi nya dengan cubitan di perut sixpack Dion berkali-kali.
"Yuk ah, kita keluar,,, " ajak Kevin, yang melihat pasangan pengantin baru itu malah bercanda.
Salma segera menutup mata putri nya, dan mengikuti sang suami keluar dari kamar Dion. Yang diikuti pula oleh Rahman dan Malika.
"Sarapan dulu bro, isi amunisi.." ucap Bayu, sebelum meninggalkan kamar Dion sambil menggandeng mesra tangan sang istri.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,