
Bagas langsung melajukan mobil nya kembali menuju kampus, sepanjang perjalanan Bagas terus mengeluarkan makian sumpah serapah nya yang ditujukan entah kepada siapa?
Yura hanya duduk terdiam di tempat nya, gadis seksi itu tak berani mengeluarkan suara. Yura memang sudah hafal betul dengan sikap temperamen Bagas, salah bicara sedikit saja.. maka Yura, harus siap untuk kehilangan tambang emas nya.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Bagas, tiba kembali di kampus yang di klaim sebagai milik orang tua nya itu. Setelah memarkir mobil nya dengan sembarang, Bagas segera keluar dan kemudian membanting pintu mobil nya dengan keras.. hingga membuat Yura yang masih berada di dalam mobil, menjadi sangat terkejut.
"Sialan Bagas, bikin gue jantungan aja!" Gerutu Yura seraya turun dari mobil, "dasar cowok temperamen! Egois! Kalau bukan karena uang nya, gue tak sudi jalan dengan nya!" Yura menyimpan kemarahan nya dalam hati, karena Bagas menghampiri nya.
"Pulang lah, tunggu di apartemen gue. Setelah ini, gue butuh servis dari lu," titah Bagas, sambil berlalu pergi meninggalkan Yura yang masih terpaku di samping mobil.
Yura kemudian meninggalkan area parkir kampus dengan menghentak-hentakkan kaki nya, hati nya dongkol setengah mati.. tapi Yura tak dapat berbuat apa-apa, kecuali menuruti perintah cowok yang menjadi ATM berjalan nya itu.
Sedangkan Bagas, terus berjalan dengan cepat menuju gedung rektorat. Hanya satu tujuan nya, yaitu menemui rektor kampus tersebut.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Bagas langsung masuk kedalam ruang khusus rektor. "Sore om," sapa Bagas, sambil melempar tas punggung nya ke sofa. Dan pria muda itu pun kemudian duduk di sofa, dengan gaya nya yang angkuh.
Sedangkan laki-laki paruh baya yang merupakan rektor di kampus tersebut, yang disapa dengan om oleh Bagas itu nampak terkejut dengan kehadiran Bagas yang tiba-tiba. Dan beliau kemudian berdiri dari tempat duduk nya, "nak Bagas, ada perlu apa nak Bagas menemui om?" Tanya rektor tersebut, sesaat setelah beliau ikut duduk di sofa di hadapan Bagas yang duduk bersedekap.
"Saya mau dua mahasiswa baru yang bernama Kevin dan Salma, di keluarkan dari kampus ini!" Titah Bagas, dengan sorot mata yang tajam menatap kearah rektor.
Rektor tersebut mengernyit, "siapa mereka? Dan kenapa mereka berdua harus di keluarkan?" Tanya nya penuh selidik.
"Om, apa saya harus memberi alasan untuk setiap perintah yang saya berikan?! Anda lupa siapa saya?! Saya adalah pewaris tunggal pemilik kampus ini!!" Teriak Bagas dengan emosi, karena dinilai nya rektor tersebut terlalu berbelit-belit.
"Tunggu sebentar nak Bagas, saya harus cari tahu dulu siapa mereka berdua? Sebelum saya mengambil sebuah keputusan? Karena salah sedikit saja, hal itu bisa mempengaruhi reputasi perguruan tinggi kita," ucap rektor tersebut memberi kan argumen, karena rektor tersebut sudah paham dengan karakter putra pemilik kampus yang arogan itu.
"Terserah om bagaimana cara nya, saya hanya mau mereka berdua out dari kampus ini!" Bagas masih terlihat berapi-api.
Rektor tersebut kemudian menelpon pihak yang menangani bidang kemahasiswaan, dan menyuruh nya untuk datang ke ruangan nya sekarang juga dengan membawa identitas Kevin dan Salma.. dua mahasiswa baru yang di maksud Bagas.
Setelah menunggu beberapa menit, seorang pria paruh baya yang merupakan wakil rektor tiga yang membidangi kemahasiswaan dan seorang wanita muda dari bagian administrasi masuk ke ruangan rektor setelah terlebih dahulu mengetuk pintu. "Sore prof," sapa pria paruh baya tersebut dengan ramah, sedangkan wanita muda yang bersama nya mengangguk hormat pada rektor dan juga Bagas.
"Silahkan duduk," rektor tersebut mempersilahkan kedua bawahan nya untuk duduk di sofa.
"Ini data yang tadi bapak minta," ucap wanita muda tersebut, seraya menyerahkan map biru kepada rektor.
Rektor tersebut menerima nya dan kemudian segera membuka map tersebut, netra nya membulat tatkala membaca data diri dua mahasiswa baru nya. "Kevin, dia ternyata putra tuan Rehan.. donatur terbesar di kampus ini," gumam rektor dalam hati, dan kemudian menutup kembali map di tangan nya.
"Nak Bagas, maaf.. ada masalah apakah nak Bagas pada dua mahasiswa baru tersebut, sehingga nak Bagas ingin mereka keluar?" Rektor tersebut mengulang pertanyaan nya tadi.
"Sebelum nya saya minta maaf, jika saya tidak bisa mengeluarkan dua mahasiswa yang berprestasi tersebut dengan tanpa alasan yang jelas," lanjut rektor tersebut, dengan tanpa mengungkap jati diri Kevin sebagai putra donatur terbesar.. karena dalam biodata tersebut di tulis kan kata private yang ditanda tangani langsung oleh daddy Rehan, sehingga tak sembarang orang bisa mengulik identitas Kevin termasuk Bagas.
Bagas yang sedari tadi nampak sudah tidak sabar, semakin geram mendengar perkataan rektor tersebut. "Brengsek, kalian ternyata tidak becus bekerja. Saya akan adukan kalian semua pada papa," ancam Bagas, sembari menyambar tas punggung milik nya dan kemudian berlalu meninggalkan ruang rektor dengan membanting pintu.
Rektor, wakil rektor dan tenaga administrasi tersebut hanya bisa mengelus dada, "saya harus menghubungi pak Soni," lirih rektor tersebut, seraya menuju meja kerja nya.
Sedangkan Bagas, berjalan dengan menendang segala sesuatu yang dilewati nya. Sesampai nya di mobil, Bagas langsung menelpon papa nya dan mengadukan sikap rektor yang tak bisa memenuhi keinginan nya pada sang papa.
Usai menelpon sang papa, Bagas nampak tersenyum puas seraya menutup ponsel nya,,, karena di seberang sana, sang papa termakan dengan aduan nya dan akan segera bertindak tegas.
Bagas segera melajukan kendaraan nya untuk pulang ke apartemen milik nya, pemuda arogan tersebut sudah tidak sabar ingin segera melampiaskan kemarahan dan kekecewaan nya dengan bercinta dan mencumbu Yura.. gadis seksi, yang selalu bisa memuaskan hasrat nya yang liar.
Lima menit berlalu, terdengar suara pintu di ketuk, "masuklah," titah nya dengan mengeraskan suara nya.
Rektor kampus dimana Kevin dan Salma baru saja kuliah, masuk kedalam ruangan khusu Dirut milik pak Soni.. orang tua Bagas, "selamat sore pak Soni," sapa rektor tersebut dengan hormat.
"Sore, silahkan duduk," ucap pak Soni dingin, dan tidak bersahaja.
"Siapa Kevin? Kenapa kamu sampai repot-repot datang kesini sendiri untuk membicarakan masalah sepele seperti ini?! Bukan nya mudah saja bagimu, untuk mengeluarkan mahasiswa?! Sehebat apa prestasi Kevin hingga kamu tidak mau mengambil resiko jika mengeluarkan nya?!" Cecar pak Soni pada rektor di kampus milik nya tersebut.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu! Kamu teman yang tidak bisa di andalkan!" Lanjut nya dengan nada marah dan kecewa.
Rektor tersebut hanya bisa menarik nafas panjang dan geleng-geleng kepala, "kamu baca sendiri biodata Kevin dan Salma, dan saran ku.. cari tahu lebih jauh tentang siapa Kevin? Karena aku sering melihat wajah pemuda itu di majalah bisnis Asia, dan setahu ku hanya orang-orang hebat dan mempunyai pengaruh kuat di dunia bisnis yang masuk ke majalah tersebut," ucap rektor tersebut, seraya menyodorkan map biru yang tadi diterima nya dari bagian administrasi kampus.
Pak Soni tak langsung membuka map tersebut, tapi laki-laki arogan itu terlihat menelpon asisten pribadi nya, "kamu cari tahu segala hal tentang Kevin dan Salma, dua mahasiswa baru yang kuliah di kampus ku," titah nya tegas.
Sambil menunggu asisten nya, pak Soni sama sekali tak mengajak rektor di kampus milik nya itu untuk berbicara. Papa nya Bagas itupun tak menyentuh map yang tadi di berikan oleh rektor, dua orang laki-laki paruh baya yang merupakan teman kuliah itu masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Hingga suara pintu yang dibuka dari luar, mengalihkan perhatian mereka menuju kepada orang yang baru saja datang.
"Bagaimana?! Apakah sudah kamu dapat kan informasi nya secara detail?!" Tanya pak Soni kepada asisten pribadi nya dengan tidak sabar.
Asisten pribadi tersebut mengangguk hormat, "sudah bos, sangat detail dan valid," balas nya dengan yakin.
"Jelas kan pada ku, siapa mereka?" Titah bos itu dengan angkuh.
"Kevin, menjadi mahasiswa di kampus dengan mendapatkan beasiswa karena prestasi nya tapi dia menolak beasiswa tersebut dan memberi kan hak nya kepada mahasiswa berprestasi lain yang membutuhkan," asisten tersebut mengawali membaca kan biodata Kevin dengan prestasi yang dimiliki nya.
"Cih,, sombong sekali dia!" Pak Soni nampak kesal, sedangkan rektor yang duduk di depan nya nampak mengangguk-angguk membenarkan informasi tersebut.
"Lanjut kan!" Titah pak Soni kembali.
"Kevin adalah tuan muda dari keluarga Alamsyah, donatur terbesar di kampus milik anda tuan." Ucap asisten tersebut dengan ragu-ragu, "selain itu, Kevin juga pemilik perusahaan K&V Company yang berkantor pusat di Bali. Dia juga founder dan CEO perusahaan e-commers terbesar kedua di Asia, dan nama nya menjadi top tranding selama beberapa bulan terakhir di majalah bisnis Asia." Asisten tersebut menatap bos nya dengan perasaan takut, asisten itu hafal betul dengan sikap bos nya yang tak bisa menerima keunggulan pemuda lain di banding putra nya.
"Apa kamu yakin, informasi yang kamu berikan valid?!" Gertak pak Soni.
"Iya tuan, ini sangat valid," balas nya.
"Dan tentang Salma, maksud saya nona muda Salma," kembali asisten tersebut menatap bos nya, wajah nya semakin terlihat ketakutan.
"Nona muda? Kenapa kamu menyebut nya nona muda?! Lanjutkan!" Bentak pak Soni dengan tidak sabar.
"Tuan Irfan, pemilik saham terbesar di perusahaan anda.. beliau telah menunjuk nona muda Salma sebagai pengganti nya sekaligus sebagai CEO di perusahaan tuan Irfan yang di Jakarta."
"Apa?! Jadi mereka berdua..."
"Ah... Bagas!!!
to be continue,,,