All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Ikatan Yang Pasti



Rahman dan Malika ngobrol di ruang tamu hunian Kevin, di lantai lima gedung perkantoran milik abang nya Malika tersebut. Setelah sebelum nya Rahman menghubungi dan meminta ijin pada mommy Billa, bahwa Malika akan telat pulang malam ini.


Dan ketika mommy Billa mengetahui, bahwa Malika dan Rahman berada di hunian milik Kevin.. maka mommy enam anak itu pun memberikan ijin pada putri nya tersebut.


Sedangkan Bayu dan Kevin, bermain bersama buah hati kedua nya di ruang keluarga. Bukan bermain bersama anak-anak tepat nya, tapi mengawasi teman baik mereka berdua yaitu Rahman.


"Dik, abang tadi sudah ngobrol sebentar sama abang kamu. Yah, inti nya.. kalau memang dik Icha ingin hubungan kita lanjut, abang berharap ke depan nya dik Icha bisa ngertiin abang." Rahman mulai membuka obrolan, seraya menatap Malika yang duduk di sebelah nya.


Malika mengangguk, "Icha akan belajar untuk bersikap lebih dewasa, maafin Icha ya bang.. jika selama ini Icha sering ngerepotin bang Rahman, dengan sikap Icha yang manja dan kekanak-kanakan," pinta Malika, dengan suara yang terdengar sudah mulai tenang.


"Kalau manja nya enggak apa-apa, abang suka. Tapi kekanak-kanakan nya harus di ilangin ya?" Saran Rahman, seraya tersenyum.


Malika mengernyit, "manja sama kekanak-kanakan itu kan satu paket?" Tanya Malika, tak mengerti.


Rahman menggeleng, "beda dik Icha, sesekali manja sama pasangan, itu diperlukan.. agar pasangan merasa sangat dibutuhkan, dan merasa begitu berarti bagi pasangan nya. Tapi kalau kekanak-kanakan atau childish itu lebih ke sikap yang kurang baik, dan bisa menjadi boomerang dalam sebuah hubungan.


"Sifat childish itu dapat dikategorikan sebagai gangguan kepribadian, jika semakin hari semakin parah. Gangguan kepribadian sendiri adalah penyakit mental yang melibatkan pola pikir dan perilaku jangka panjang yang tidak sehat. Perilaku-perilaku ini dapat menyebabkan masalah serius, baik yang berhubungan dengan pasangan atau pun dengan pekerjaan."


Malika mengangguk mengerti, "jadi, Icha masih boleh manja ya?" Tanya Malika polos, seraya tersenyum imut.


Rahman mengangguk, "tapi sesekali aja ya, dan lihat sikon," balas Rahman seraya mengacak lembut puncak kepala Malika, yang senyum nya sangat menggemaskan menurut Rahman.


"Tangan! Kondisikan!" Seru Bayu, dari ruang keluarga yang bisa melihat dengan bebas kearah ruang tamu.


"Ck,," Rahman berdecak kesal, sedangkan Malika tersenyum tipis.


Begitu pun dengan Kevin, yang sedang asyik mewarnai bersama putri nya.. ayah satu putri itu tersenyum, mendengar keisengan Bayu.


Terdengar pintu dibuka dari luar, "assalamu'alikum,," Dion dan Devi masuk seraya mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam,,," balas semua nya kompak.


"Eh, ada dik Icha,, tumben malam-malam masih di sini dik?" Tanya Dion, sambil mendudukkan diri di samping Rahman. Sedangkan Devi langsung menuju ruang keluarga, menghampiri putra nya.


"Bang Dion,, duduk sini,," panggil Bayu.


Dion mengernyit, "ada apa? Ngomong aja, gue di sini juga bisa dengar kok," balas Dion, yang enggan beranjak.


"Mereka berdua tuh lagi ngobrol serius tentang masa depan,, masak iya bang Dion mau nimbrung?" Terang Bayu.


"Lah, terus kalian duduk di sana.. kan bisa dengar juga, sama aja nimbrung kan?!" Tuduh Dion, yang memang benar ada nya.


"Beda bang, kami ini pengawas.." balas Bayu seraya terkekeh.


"Emang nya lu sekarang bucin akut ya bro, kayak si Babay.. pakai di awasi segala?" Dion menatap Rahman seraya mengernyit, sebab sepengetahuan Dion.. Rahman adalah cowok yang sopan dan tidak pernah berbuat macam-macam.


"Tahu tuh si Bayu,," kesal Rahman seraya melirik tajam Bayu.


"Rahman memang enggak pernah macam-macam bang, tapi kalau di pepet terus.. lama-lama mlehoy juga kan?" Canda Bayu.


Dion langsung memangku keponakan nya yang terlihat mulai mengantuk, "Bintang udah ngantuk ya sayang, sini peluk pakdhe."


Setiap malam, Dion memang masih selalu pulang dan tidur ke gedung perkantoran milik Kevin dan tidur di mess khusus di lantai empat bersama Rahman, Bayu dan keluarga kecil nya. Meski setengah tahun terakhir Dion sudah tak bergabung lagi di bisnis e-commers milik Kevin, dan bahkan Dion juga sudah membeli satu unit apartemen yang berada satu lantai dengan unit milik Kevin.


Begitu pun dengan Rahman, yang beberapa bulan terakhir mulai aktif menjalankan bisnis baru nya. Setiap hari Rahman pun pulang dan tidur di mess khusus tersebut, meski diri nya pun telah membeli satu unit apartemen yang sama seperti Dion.


"Dik, saat ini abang kan lagi sibuk mengerjakan tugas akhir. Dan beberapa bulan terakhir ini, abang juga sedang merintis sebuah usaha.. jadi mungkin ke depan nya, abang akan kesulitan untuk menyisihkan waktu buat kamu. Apa kamu tak masalah dik?" Rahman menatap dalam netra kebiruan yang indah milik Malika, mencoba mencari kejujuran dari jawaban gadis nya nanti.


"Kalau Icha udah tahu dari awal kayak gini, Icha enggak keberatan bang." Balas Malika, "jadi abang saat ini lagi buka usaha baru?" Selidik Malika, yang memang baru mendengar pertama kali dari Rahman.


Rahman mengangguk,, "maaf, abang sengaja belum cerita," balas Rahman, "abang membuka usaha itu niat nya untuk masa depan kita bersama dik, abang sadar kamu dari keluarga yang serba berkecukupan.. jadi abang harus mempersiapkan semua nya untuk kamu, sebelum abang mengambil alih tanggung jawab terhadap kamu dari daddy," lanjut Rahman dengan sungguh-sungguh.


Malika meleleh mendengar ucapan sang pangeran tampan pujaan hati nya, "abang, kenapa baru cerita sekarang,,, Icha jadi merasa bersalah, karena selama ini Icha sering minta waktu abang untuk menemani Icha melakukan hal-hal yang enggak penting," sesal Malika, seraya menyandarkan kepala nya di bahu Rahman.


Kevin berdeham, seraya menatap kearah Malika.


Dan Malika yang mengerti kode tersebut, buru-buru menegakkan kepala nya kembali seraya cemberut.


Bayu yang sedang nonton televisi terkekeh pelan. "Emang enak di awasi," goda Bayu, yang membuat Rahman menjadi keki.


"Dendam banget sih lu, ama gue Bay,,," protes, Rahman dengan bersungut.


"Enggak dendam bro,, cuma biar lu bisa ngerasain sedikit aja penderitaan gue," balas Bayu asal.


Hening sejenak menyapa ruang tamu, dimana Rahman dan Malika duduk.


"Lagi pula kalau abang cerita mau bikin usaha baru kan Icha juga bisa bantu bang,, Icha punya tabungan yang lumayan lah, bisa untuk nambah-nambah membeli keperluan yang abang butuhkan,,," lanjut Malika, seraya menatap Rahman.


"Rahman menggeleng, enggak perlu dik, ini tanggung jawab abang sepenuh nya sebagai lelaki. Abang harus bisa menunjukkan pada daddy dan mommy, bahwa beliau berdua tidak salah pilih calon menantu," ucap Rahman dengan tersenyum mesra.


"Dik, dari obrolan kita ini,, sebenar nya ada hal serius yang hendak abang tanyakan sama kamu," Rahman menatap intens netra Malika.


Malika mengernyit kan dahi, "apa bang?"


"Apa dik Icha bersedia jika abang melamar mu sekarang juga?" Tanya Rahman dengan pelan.


Malika terperanjat, meski kalimat ini yang selalu di tunggu-tunggu nya selama ini.. tapi demi mendengar nya secara langsung, tetap saja adik Kevin itu terkejut.


"Maksud bang Rahman, kita tunangan dulu?" Tanya Malika memastikan, bahwa diri nya tak salah dengar.


Rahman mengangguk,, "agar abang bisa tenang mengerjakan semua nya, dan agar dik Icha juga enggak perlu merasa was-was karena diantara kita berdua sudah ada ikatan yang pasti," balas Rahman.


Malika langsung memeluk Rahman saking senang nya, dan melupakan bahwa ada banyak satpam di sana.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...