
Keluarga besar Alamsyah dan Antonio hari ini kembali berkumpul, kali ini mereka berkumpul di hunian keluarga Antonio dalam rangka tujuh bulan kehamilan Salma.
Kakek Ilyas dan nenek Lin yang sudah menganggap Kevin sebagai cucu kandung menginginkan, agar acara tujuh bulanan dilaksanakan di kediaman nya. Dan keluarga besar Alamsyah menyetujui hal tersebut, mengingat keluarga Antonio sejak awal memang dapat menerima Kevin dengan tangan terbuka dan penuh kasih sayang.
Nenek Syarifah, juga jauh-jauh datang dari Makassar dengan di dampingi oleh opa Arman dan istri nya, juga om Irfan beserta sang istri. Dan kedatangan sang nenek disambut dengan suka cita oleh Salma dan Kevin, juga oleh pak Sulaiman dan bu Widya.
Teman-teman dekat Kevin seperti biasa, mereka juga ikut bergabung bersama keluarga besar Kevin dan Salma tersebut.
Saat ini para mama tengah sibuk mempersiapkan hidangan untuk acara nanti sore, meski untuk makan besar nya sudah pesan di restoran langganan keluarga besar mereka... tapi untuk jajanan, wanita-wanita cantik tersebut lebih senang membuat kudapan sendiri.
Mereka membuat kue-kue tradisional, seperti kue Sikaporo dan Jalangkote, yang khas dari makassar. Serabi oncom dan bandros, yang berasal dari Jawa Barat. Putu ayu dan klepon, jajanan khas dari Jawa. Roti pisang dan amparan tatak, dari Samarinda dan kue lekker serta selendang mayang khas Betawi.
Kudapan tradisional itu sengaja dibuat berdasarkan daerah asal para wanita cantik di keluarga besar tersebut, selain itu... mereka membuat jajan pasar itu dengan alasan, karena jajan pasar atau kudapan tradisional tersebut merupakan simbol kebhinekaan Bangsa.
Karena bahan dasar pembuatan jajanan pasar, biasa nya berasal dari bahan-bahan yang diperoleh dari daerah setempat yang menggambarkan hasil bumi tiap daerah di Indonesia dan menjadi cerminan suku dan etnis yang ada di Indonesia.
Cita rasa jajanan pasar, sejatinya mencerminkan cita rasa masyarakat lokal. Jika masyarakatnya menyukai rasa yang manis-manis, maka jajanan pasar yang dibuat pun didominasi dengan rasa nya yang manis.
Jajanan pasar juga merupakan simbol toleransi dan juga bergerak dengan mengikuti perkembangan zaman,,, mengikuti selera konsumen, dan mengikuti produksi bahan setempat.
Meski berbeda-beda rupa, rasa dan nama, jajanan pasar adalah cerminan bangsa. Ia beradaptasi dengan rasa, bahan, serta kesukaan penduduk di suatu daerah dan menjadikannya simbol toleransi antar suku dan umat beragama.
Setelah beberapa lama berkutat di dapur, sebagian jajanan tersebut sudah bisa dihidangkan. Mommy Billa dan tante Nisa segera menghidangkan kudapan tersebut kepada suami-suami mereka, yang saat ini tengah berkumpul di salah satu gasebo bersama geng nya. Ada juga om Ilham, ayah Yusuf dan papi Vincent di sana.
"Wah, enak nih.. ada klepon," seru om Ilham seraya mencomot satu klepon dengan garpu, "mbak, ini isian nya kurang.. rasa nya enggak manis," protes om Ilham setelah mengunyah klepon tersebut.
"Cara makan kamu salah kali nang?" Balas tante Nisa.
"Lah, emang makan klepon ada cara nya mbak?" Om Ilham mengernyitkan dahi, menatap kakak nya.
"Ada nang, kamu perhatikan ya?" Titah tante Nisa, dan om Ilham pun nampak serius melihat ke arah tante Nisa... yang lain pun diam-diam ikut memperhatikan.
Tante Nisa mengambil sepotong klepon dengan garpu, "mas,," panggil tante Nisa pada om Alex dengan lembut.
"Iya dik," om Alex menatap istri nya.
"Bunda suapin, a.." pinta tante Nisa ingin menyuapkan klepon tersebut pada suami nya, dan om Alex pun menurut dengan membuka mulut nya menerima suapan klepon dari istri tercinta.
"Gimana mas?" Tanya tante Nisa seraya menatap sang suami dengan tersenyum manis.
"Manis dik, seperti kamu," balas om Alex sambil tersenyum.
Yang langsung ditanggapi om Ilham dengan cibiran, "itu bukan klepon nya yang manis, tapi mbak Nisa yang manis?! Udah pada tua, masih narsis aja kayak abege," sungut om Ilham, yang lain pun terkekeh mendengar nya.
"Ada yang lebih manis lagi Ham,," ucap daddy Rehan yang mengalihkan perhatian semua nya.
"Mom,, ayo buka mulut," titah daddy Rehan pada mommy Billa, yang langsung menuruti permintaan sang suami.
Daddy Rehan kemudian menyuapkan sepotong klepon pada istri nya, dan baru saja potongan klepon itu masuk ke dalam mulut mommy Billa,,, daddy Rehan segera mengambil nya dengan secepat kilat dan meninggalkan gigitan kecil di bibir sang istri.
Daddy Rehan terkekeh, "ini benar-benar manis dan lembut Ham,,, kalau enggak percaya, coba saja sama dik Jihan," ucap nya masih sambil terkekeh, yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah absurd bos RPA Group tersebut.
"Nggak ingat umur dia,, sudah mau punya cucu juga, masih enggak jelas sikap nya," gerutu om Alex.
Sedangkan om Ilham hanya bisa garuk-garuk kepala, seraya tersenyum kecut... menyaksikan kemesraan abang ipar terhadap kakak nya.
"Kenapa Ham, Jihan masih marah sama lu?" Tanya om Devan mengernyit.
"Enggak sih bang, cuma kalau lihat Ilham,, perut nya langsung mual kata nya," keluh om Ilham, yang langsung disambut tawa oleh saudara-saudara nya.
"Kasihan banget sih nasib lu, Ham,,," ucap opa Alvian seraya terkekeh.
"Yaelah,,, tahu kalau adik bontot nya yang paling ganteng lagi sengsara, malah pada ketawa," kesal om Ilham, karena om dan abang-abang nya malah menertawakan kesengsaraan nya.
Sedangkan daddy Rehan masih sibuk menikmati makan klepon dengan cara nya yang ekstrim, hingga membuat ayah Yusuf yang tak sengaja melihat nya bersungut.
Sedangkan papi Vincent yang sedari tadi juga memperhatikan kedua nya, tersenyum simpul, "bang Rehan sweet banget sama istri nya,,, gue berharap, Kevin juga akan meniru perilaku bang Rehan yang baik," gumam papi Vincent dalam hati.
"Sialan lu Rey,, bikin gue pengin segera bertemu sama kakak lu aja," gerutu ayah Yusuf, melirik tajam pada adik ipar nya.
"Eh, kak Fatima nya lagi enggak mau di ganggu bang. Dia lagi bikin kudapan tradisional Brunei, spesial buat abang kata nya," balas tante Nisa, yang tadi melihat bunda Fatima dan oma Sekar berkolaborasi membuat jajanan khas Brunei untuk suami-suami tercinta yang memang berasal dari negara tersebut.
"Benarkah?" Netra ayah Yusuf berbinar, menguap sudah kekesalan di hati nya melihat kemesraan daddy Rehan dan mommy Billa,,, tatkala mendengar sang istri tengah membuatkan makanan kesukaan di masa kecil nya dahulu.
"Memang nya di Brunei ada kudapan tradisional juga?" Tanya om Ilham dengan polos.
"Ya pasti nya ada dik, tadi kak Fatima bikin pulut panggang sama kue apa ya nama nya? Kue curut apa celurut gitu, kalau enggak salah,,, iya kan dik?" Mommy Billa menatap tante Nisa untuk memastikan nama kue yang benar.
"Curut itu adik nya tikus mbak Billa.. mana ada kue nama nya curut," timpal om Ilham.
"Emang tikus punya adik Ham? Punya kakak juga dong?" Canda om Devan.
"Ya punya lah bang Dev, punya keluarga lengkap malah,,, kakak nya tikus nama nya Devan, om nya nama nya Alvian, nah kalau ipar nya nama nya..." om Ilham segera menutup mulut nya menahan tawa seraya menatap daddy Rehan, dan adik bungsu mommy Billa itu tak berani untuk meneruskan candaan nya.
"Apa Ham??" Tanya daddy Rehan dengan melembutkan suara nya. tapi dengan tatapan yang mengintimidasi.
Om Ilham menggeleng, seraya tersenyum kecut.
"Kue celurut Bill, yang dibungkus daun kelapa muda kan?" Ayah Yusuf meluruskan.
"Ya, benar bang,,, kue celurut. Hah, tadi pagi sampai muter-muter pasar nyari tuh daun kelapa muda." Balas tante Nisa, yang tadi pagi mendapat tugas belanja ke pasar tradisional bersama tante Lusi.
"Kenapa mesti repot-repot beli di pasar dik? Di depan komplek kan ada pohon kelapa, tinggal nyuruh Ilham untuk memanjat.. beres kan?" Om Alex menatap istri nya dan om Ilham bergantian.
"Dih, ogah,,, memang nya, Ilham bajing loncat?!" Gerutu om Ilham.
to be continue,,,