All About KEVIN

All About KEVIN
Itu Urusan Anak-anak...



Akhir nya malam itu, mereka semua ngobrol hingga larut. Canda dan tawa menghiasi obrolan om Ilham dan keponakan-keponakan nya, termasuk Rahman dan Dion,, yang bagi om Ilham, kedua teman baik Kevin itu sudah menjadi bagian dari keluarga Alamsyah dan keluarga Antonio.


Zaki, Rahman dan Dion, yang tadi nya hanya duduk di anak tangga.. mau tak mau ikut masuk dan duduk di dalam gasebo bersama om Ilham, Kevin dan istri-istri nya.


Sepanjang obrolan, om Ilham lah yang lebih banyak mendominasi. Keusilan dan kejahilan om Ilham, mampu mengorek isi hati Rahman terhadap Malika... begitu pun dengan Dion, yang tak luput dari sasaran nya. Bahkan Dion dibuat tersipu malu, karena bocor nya mulut om Ilham.


"Jadi, beneran kan bang Dion naksir kak Fira sejak pandangan pertama?" Cecar om Ilham, ingin menegaskan pengamatan nya saat mereka semua berada di ruang tamu.


"Iya om," balas Dion jujur.


"Kak Fatima, ada yang naksir putri kakak nih,,, di acc enggak?" Seru om Ilham tiba-tiba, berteriak kearah bunda Fatima yang duduk di gasebo sebelah bersama sang suami, daddy Rehan and the geng.


Dan hal itu, sontak membuat Dion panik. "Om, kenapa di bocorin sama bunda Fatima??" Dion hanya bisa menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Rahman pun terkejut, dan hanya bisa geleng-geleng kepala.


Begitu pun dengan Zaki, Kevin dan Salma, mereka hanya bisa mengernyit, tak habis pikir dengan kelakuan om Ilham.


Sedangkan tante Jihan, nampak terkekeh pelan. Dia tahu betul maksud sang suami, tak lain dan tak bukan adalah untuk memuluskan jalan Dion guna mendapatkan restu dari bunda dan ayah nya Fira.


Dan hal yang tak terduga pun terjadi, bunda Fatima dan ayah Yusuf langsung mendatangi gasebo mereka. Dan hal itu membuat Dion bertambah panik dan sedikit khawatir, dia takut perasaan nya terhadap Fira di tentang oleh ayah dan bunda nya Fira,, bahkan bisa jadi, ini semua akan berdampak terhadap hubungan pertemanan diri nya dan Kevin ke depan.


Dion hanya bisa menunduk, tatkala bunda Fatima dan ayah Yusuf duduk tepat di hadapan nya.


"Siapa om, yang naksir putri ku?" Tanya bunda Fatima to the poin, seraya melirik Dion yang masih menunduk.


Sedangkan Zaki dan Kevin hanya bisa menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. Mereka berdua juga khawatir, jika ayah Yusuf menentang keras kehadiran Dion.


Dengan santai Ilham menjawab, "itu kak, cowok ganteng di depan kakak," Ilham menunjuk Dion dengan dagu nya.


Mau tak mau, Dion mengangkat wajah nya dan mencoba untuk tersenyum pada orang tua Fira tersebut.


Bunda Fatima pun membalas senyuman Dion dengan tulus, tak ada kebencian ataupun rasa keberatan dari sorot mata yang indah nan teduh itu. "Emm,, bang Dion ya tadi nama nya kalau bunda enggak salah ingat?" Bunda Fatima mengawali obrolan dengan suara nya yang lembut.


Dion mengangguk, "iya bunda, saya Dion," balas Dion dengan sopan.


"Bang Dion, satu angkatan sama Kevin?" Lagi bunda Fatima bertanya.


"Benar bunda, kami satu angkatan dan baru lulus SMU," jawab Dion jujur.


Bunda Fatima nampak mengangguk-angguk, "tadi bunda dengar, bang Dion lagi pedekate ya sama putri bunda? Bunda dan ayah sih enggak masalah, siapa saja boleh kok berteman dengan putri bunda. Tapi,, apa bang Dion enggak malu tuh berteman dekat dengan gadis yang usia nya di atas bang Dion?" Selidik bunda Fatima, menatap netra hazel remaja yang duduk di hadapan nya.


Ayah Yusuf yang duduk di samping sang istri, nampak sangat tenang. Dan hal itu membuat Dion pun dapat berpikir dengan jernih, dan bersikap tenang pula.


"Bagi saya pribadi, hal itu tidak jadi masalah bunda. Dan saya berharap, bunda dan putri bunda.. juga sepemikiran dengan saya," balas Dion, "maaf bunda, jika boleh tahu, memang berapa tahun selisih putri bunda dengan Kevin?" Lanjut nya bertanya.


"Kurang dari dua tahun," balas bunda Fatima, apa ada nya.


Dion Mengangguk-angguk dan tersenyum, "jika demikian, selisih usia kami hanya satu tahun bunda." Ucap Dion jujur.


"Benar bro,, gue telat masuk SD setahun karena sakit keras," jawab Dion, kembali mengenang masa kecil nya yang memprihatinkan.


Bunda Fatima langsung membetulkan posisi duduk nya, "sakit keras? Bang Dion sakit apa?" Tanya bunda Fatima penasaran, sebagai seorang ibu dan mengetahui ada anak kecil yang sakit keras.. membuat nya ikut berempati, meski kejadian yang menimpa Dion sudah sangat lama berlalu.


Dion menggeleng, "mama saya tidak pernah mau menceritakan pada saya bunda, bagi mama dan papa itu adalah kenangan terburuk," balas Dion sendu, "saya tahu cerita ini dari om Gun, papa nya Devi.. emm, bunda sudah mengenal Devi kan?"


Bunda Fatima mengangguk, "ya, bunda sudah sering bertemu dengan Devi, hubungan kalian apa?"


"Devi, adik sepupu saya bunda. Om Gun dan mama saya kakak beradik, mereka hanya dua bersaudara," balas Dion, menjelaskan sedikit tentang keluarga nya.


"Lantas, papa nya Devi cerita apa tentang sakit nya bang Dion?" Tanya bunda Fatima, masih penasaran.


"Om Gun cerita, kalau saat itu saya tiba-tiba jatuh sakit. Sudah dibawa berobat ke dokter spesialis tapi tidak sembuh-sembuh, bahkan kondisi saya kala itu semakin parah. Saya juga sempat drop, hingga tak sadarkan diri dan oleh dokter dinyatakan koma. Saya koma hingga berminggu-minggu lama nya, dan mampu bertahan dengan bantuan alat-alat medis." Dion memulai cerita nya.


"Dokter selalu mengatakan bahwa kemungkinan saya untuk dapat bertahan hidup sangat lah kecil, tapi orang tua saya dan keluarga besar papa dan mama tetap kekeuh mengupayakan kesembuhan untuk saya. Hingga akhir nya dokter disini menyarankan, agar saya dibawa berobat ke luar negeri."


"Karena adik papa ada yang jadi dokter di Singapura, kemudian saya di rujuk ke sana.. saya di rawat di Mount Center Hospital selama beberapa waktu, sampai akhir nya saya bisa kembali sadar dari koma. Namun karena kondisi saya yang sangat lemah, saya diharuskan untuk menjalani perawatan intensif hingga beberapa bulan. Total, saya di rawat di rumah sakit di Singapura selama tujuh bulan," Dion mengakhiri cerita nya dengan menghembus nafas lega.


"Bentar nak Dion, tadi nak Dion bilang,, om nya ada yang jadi dokter di Mount Center Hospital? Siapa nama om kamu itu nak Dion? Siapa tahu sahabat saya mengenal nya, sahabat saya pemilik rumah sakit tersebut," Tanya ayah Yusuf.


"Om saya Rudiyanto Atmaja, beliau adik bungsu papa," balas Dion.


"Dokter Rudi,, spesialis penyakit dalam? Itu om kamu? Jadi kamu cucu nya tuan Wira Atmaja?" Cecar ayah Yusuf dengan banyak pertanyaan, untuk meyakinkan dugaan nya.


Dion mengangguk, "benar ayah, saya cucu nya opa Wira," balas Dion, "apa ayah Yusuf berteman baik dengan om Rudi?" Lanjut Dion bertanya.


"Iya,, Rudi sahabat terbaik saya," balas ayah Yusuf menatap Dion dengan tersenyum lebar.


"Wah,, langsung di acc dong? Kan bang Yusuf udah kenal keluarga nya bang Dion?" Ilham nampak antusias.


Kevin dan Rahman nampak tersenyum lega, begitu pun dengan Zaki.


"Kalau itu urusan nya bunda, sama Fira sendiri.. ya kan bun?" Ayah Yusuf memandang istri nya, dengan mengedipkan mata nya memberi kode.


"Ayah benar, itu urusan anak-anak.. jadi, biar Fira sendiri yang memutuskan." Timpal bunda Fatima, "Insyaallah, kami akan mendukung apa pun yang terbaik untuk kalian," lanjut bunda Fatima, mengakhiri obrolan malam itu.


to be continue,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat menunaikan ibadah sholat Shubuh,,,


Hayo,, sapa yang suka tidur lagi bakda shubuhan??


Cung... ☝😄😄