All About KEVIN

All About KEVIN
Bos Tak Pernah Salah



"Rey,, enggak bisa gitu dong, main tarik saham aja," protes Devan dengan memelankan suara nya dan dengan wajah memelas, "kami kan cuma becanda Rey," lanjut Devan dengan sangat menyesal.


Melihat wajah memelas Devan, Rehan menahan tawa nya dalam hati.


Sedangkan Alvian, Alex dan Ilham, mencebik.. mereka tahu bahwa Rehan tak sungguh-sungguh dengan ucapan nya.


"Bercandaan nya garing Dev,, karena gue enggak bisa menimpali," balas Rehan sambil mendudukkan diri di anak tangga gazebo, di antara sahabat-sahabat nya. "Enggak mungkin kan, gue ikut-ikutan absurd kayak kalian di hadapan menantu gue?! Bisa hancur reputasi gue sebagai daddy yang berwibawa," lanjut nya berbisik.


Sahabat satu geng nya pun dapat mengerti dan mengangguk-angguk, termasuk Ilham yang tak ingin mempermalukan abang ipar nya di hadapan istri Kevin.


Sementara itu, istri-istri mereka asyik bercanda sendiri bersama pasangan muda, Kevin dan Salma di dalam gazebo.


Hingga dering ponsel Lusi membuat mereka sejenak terdiam,,


Lusi segera mengangkat panggilan Video call dari adik sepupu sang suami, siapa lagi kalau bukan Nina. Ya, tiap mereka berkumpul, Nina akan selalu melakukan panggilan video call kepada kakak sepupu nya itu dengan tujuan untuk memantau perkembangan Kevin dan menjalin keakraban dengan remaja tampan itu.


"Halo kakak ipar," sapa Nina renyah seperti biasa, dan ada Vincent yang tersenyum hangat di samping Nina.


"Halo Nina,, papi bule,,," balas Lusi seraya mengedarkan kamera ponsel nya kearah mereka semua, dan Nabila, Nisa, Susan serta Jihan ikut menyapa Nina dan Vincent dengan melambaikan tangan.


"Wah, udah pada ngumpul ya.. yang lain mana? Kakak ku yang jahil kok enggak kelihatan?" Cerocos Nina dari seberang sana.


Lusi mengarahkan kamera nya pada Devan dan geng tampan, "Apa Nin, nyari gue?" Tanya Devan, sedangkan Rehan dan yang lain melambaikan tangan membalas sapaan Vincent.


"Nin, tumben lu VC nya jam segini, biasa nya malam? Kalian enggak ngantor?" Tanya Devan, kepada adik sepupu nya yang berada di Paris itu.


"Kerja kok kak, nih lagi mau keluar untuk makan siang. Terus si papi nya yang maksa minta VC sekarang.. pengin ketemu sama si abang juga," balas Nina terus terang.


"Dia ada tuh, lagi nempel sama pacar nya," ucap Devan, melirik Kevin yang duduk nya mepet sama istri tercinta.


"Sure? Mana?" Tanya Vincent antusias.


Lusi mengarahkan kamera nya, pada sepasang sejoli yang terlihat sering saling pandang itu.


"Halo son," sapa Vincent dengan tersenyum hangat pada putra kandung nya, "bagaimana kabar kamu dan Salma?" Vincent menatap Kevin dan Vincent bergantian, bibir nya terus mengulas senyum. Nina yang berada di samping sang suami pun tersenyum manis, pada remaja tampan yang menjadi anak tiri nya itu.


"Kami baik pi, mi," balas Kevin datar, suami dari Salma itu masih nampak canggung berhadapan dengan papi kandung nya. Sedangkan kan Salma mengangguk dan tersenyum ramah, menyapa Vincent dan Nina yang juga merupakan ayah dan ibu mertua nya.


Sedangkan Rehan yang mendengar obrolan mereka, juga merasa sedikit kurang nyaman. Apalagi mendengar, Vincent memanggil son pada Kevin.. karena itu adalah panggilan sayang nya pada putra dari Keyla yang dia asuh sejak masih bayi itu.


"Pi,, di sana lagi musim apa saat ini?" Tanya Salma mencoba mencairkan suasana antara anak dan ayah yang canggung itu.


"Lagi musim semi kak Salma, musim panas nanti datang ya kemari.. mami dan papi akan ajak kalian untuk liburan musim panas," balas Nina dengan antusias dan khas suara renyah nya mewakili sang suami, " kita akan menyusuri keindahan Sungai Seine dengan naik naik kapal pesiar, kita bisa lihat dengan jelas Menara Eiffel, Notre Dame Cathedral, dan Pont des Arts saat berlayar nanti.


"Ajak istri mu kemari yang bang?" Pinta Nina selanjut nya, menatap hangat netra biru Kevin yang sama persis dengan milik sang suami.


Kevin hanya mengulum senyum, dia tidak berani menjanjikan apa-apa pada Salma jika tidak minta ijin dulu pada sang daddy. Kevin ingin menjaga perasaan daddy nya, tapi bukan itu alasan utama nya.. Yang jelas, remaja tampan itu masih belum bisa menerima sepenuh nya kehadiran Vincent sebagai ayah kandung nya. Ayah yang telah menyakiti sang mommy hingga di akhir hidup Keyla, dan juga telah menyia-nyiakan diri nya.


Salma menatap dalam manik biru Kevin, mencoba menyelami isi hati dari suami tampan yang duduk di sebelah nya. "Kevin, apa kamu baik-baik saja?" Bisik Salma, sebelum nya remaja cantik istri Kevin itu telah meminta pada Lusi untuk mengalihkan kamera nya karena dia ingin berbicara berdua dengan sang suami.


Lusi pun mengikuti kemauan Salma, dan terdengar melanjutkan obrolan nya dengan Nina bersama yang lain.


"Kevin, bukan kah kamu sudah berjanji pada ku.. untuk bisa menerima papi Vincent sebagai ayah kandung?" Lanjut nya bertanya pada sang suami, dengan masih berbisik.


"Iya, aku ingat dengan janjiku baby,," balas Kevin dengan lesu, "dan aku sudah mengatakan nya pada mu bukan... kalau aku butuh waktu? Dan aku juga butuh dukungan darimu seperti ini baby,," lanjut nya menatap Salma, dan memohon pengertian sang istri.


Salma menggenggam tangan suami tampan nya, dan tersenyum tulus, "aku akan selalu mendukungmu suami ku," balas Salma lirih.


Rehan dan Nabila yang sedari tadi mengamati putra dan menantu nya berbisik-bisik, merasa penasaran. "Bang, kalian baik-baik saja?" Tanya sang mommy, dengan memelankan suara nya.


"Iya mom, kami baik-baik saja kok. Emm,, tapi bolehkah Kevin ijin ke kamar dahulu, ada yang ingin Kevin bicarakan pada Salma," pinta Kevin pada sang mommy.


Salma menoleh kearah sang suami dan mengernyit, Menuntut penjelasan. Tapi Kevin hanya menanggapi nya dengan senyum seringai.


Rehan yang bisa menebak jalan pikiran putra nya tersenyum lebar, dalam hati dia bergumam, "ada-ada saja alasan dia," Rehan menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Bentar lagi maghrib lho bang, nanti ajak istri mu untuk sholat berjama'ah di musholla," sang mommy mengingatkan putra nya.


"Siap mom," balas Kevin dengan mata berbinar, seperti ada jutaan bintang di netra biru nya. Kevin menoleh kearah sang daddy dan tersenyum pada daddy tampan nya itu.


Rehan pun membalas nya dengan senyuman.


Kevin pun mengajak sang istri untuk pamit kepada semua nya, termasuk pada papi nya dan mami Nina yang masih asyik ngobrol bersama yang lain.


"Hai abang bocil,, ingat, bentar lagi maghrib," ucap Ilham, "nanti malam aja di bikin malam panjang," lanjut Ilham mulai jahil.


"Karena mau maghrib itu om, maka nya Kevin harus siap-siap buka puasa kan?" Balas Kevin tanpa berdosa, membalas keabsurdan om nya tadi. Dan segera berlalu meninggalkan kumpulan orang-orang dewasa itu.


Semua yang mendengar jawaban Kevin terkekeh, tak terkecuali sang daddy, "sudah teracuni dia sama kamu dik," celetuk Alex, melirik Ilham.


"Yey,, kok Ilham. Bang Alex kan guru nya, kalau Ilham hanya asisten bang," balas Ilham, yang tak mau di salah kan.


"Gue kan hanya guru dik, yang punya andil besar membentuk sikap dan karakter tuh bocah.. ya guru besar nya lah, siapa lagi kalau bukan daddy nya," Alex pun tak mau di salahkah dan melempar nya kepada Rehan.


"Iya, gue yang salah.." balas Rehan mendesah pelan, dan sejenak terdiam.


Sedangkan yang lain masih menunggu dengan cemas, kalimat apalagi yang akan di ucap kan big bos itu.


"Tapi kalian harus tahu, bos tak pernah salah, asisten lah yang selau salah!" Lanjut Rehan, melirik tajam pada Alex.


to be continue,,,